Jumat, 11 Desember 2009

suasana siang di teras kostku

Jumat siang detik ini matahari masih memuntahkan panasnya dengan liarnya. Awan putih yang terlihat kabur membaur semakin silau ditelan biasnya. Tapi aku tak perduli dan tetap mengacuhkan semua hal itu, aku hanya dapat merebahkan badanku di pundak angin sepoi yang menelusup di antara sela-sela sang siang,agar aku tetap diam dan tak mengerang. Tiba-tiba aku teringat dongeng picisan mengenai harapan sang penggembala domba. Suatu saat dia meminta kepada Tuhan setangkai bunga indah yang belum terjamah. Tuhan memberikan kaktus kecil penuh duri beracun di batangnya,sang penggembala diam. Kemudian dia meminta lagi kepada-Nya binatang mungil nan cantik untuk menemaninya di saat dia kesepian. Tuhan malah memberikan ulat kecil berbulu menjijikan untuknya. Sang penggembala domba sedih,dia kecewa,dia berteriak lantang di ujung cakrawala mengenai betapa tidak adilnya Tuhan terhadap keinginannya. Si gembala berlari, memukul domba dan menghardiknya sebagai protes kepada Tuhan. Penggembala domba itu kini sendiri tanpa dombanya. Namun kemudian dia teringat kaktus dan ulat kecil yang dia sembunyikan di balik angan. Sesaat dia sadar,kaktus itu berbunga. Sangat indah sekali,dan ulat itupun menghilang,berubah menjadi kupu-kupu kecil bersayap pelangi yang teramat cantik. Penggembala sadar,itulah jalan Tuhan. Indah pada waktunya,Tuhan tidak memberi apa yang penggembala harapkan,tetapi Dia memberi apa yang penggembala butuhkan. Walau telah sedih,kecewa,terluka tapi jauh diatas segalanya Tuhan sedang merajut sesuatu yang terbaik untuk kehidupan sang penggembala. Ingatan itu sekarang tersimpan di alam raya yang indah ini. Apapun itu... Biarlah hidup berjalan apa adanya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar