Rabu, 09 Februari 2011

burung merpati di atas jembatan penyebrangan

hari ketiga dijakarta yang sibuk tengah berjalan baru separuh, suatu sore yang kacau aku dan bang tomas berboncengan menuju mampang dari CCF jakarta di daerah salemba. mengapa aku bilang sore itu kacau? yeah mungkin bagi orang lokal yang sudah bertahun-tahun di sana merasa keadaan seperti itu adalah keadaan yang normal, wajar dan apa adanya.

namun tidak bagiku, bagi seseorang pemuda berambut keriting yang berangkat ke jakarta demi workshop komik selama satu minggu.

tahun ini CCF atau centre cultural francais di jakarta mengadakan workshop komik selama satu minggu dengan mengundang komikus internasional dari prancis. simon hureau adalah komikus prancis yang menjadi mentor kali ini, dia adalah cowok jangkung (mirip pohon kelapa:D) dengan sikap yang sopan ala pemuda perancis. bisa dibilang dia komikus yang memiliki perhatian yang besar terhadap perjalanan dan petualangan. dari karya yang ditampilkan simon sangat mengandalkan setting dan background, menurut dia lokasi yang jelas bisa membantu pembaca untuk menyelami cerita apa yang ingin disampaikan pembaca. biasanya workshop selesai pada pukul 4 sore. jam 4 sore adalah salah satu neraka jahanam di kota jakarta, terutama buat penduduk yang memakai motor dan harus segera pulang ke rumah dengan cepat. salah satu manusia yang beruntung merasakan neraka itu adalah sesosok pria berambut kriting cepak bernama mujix.

jakarta adalah kota metropolitan dimana "lampu merah" dan jalan untuk bus way bebas dilanggar (maaf buat yang tinggal di kota jakarta, aku cuman curhat doang kok). pernah suatu pagi ketika aku berangkat ke AKSAM naik kopaja dari senin menuju mampang ada kejadian aneh nan nyebelin. kopaja P20 adalah kendaraan umum yang paling aku ingat ketika di jakarta, sebuah bis yang menurutku sudah tidak layak berwarna orange atau hijau muda dengan kursi keras di atasnya (sekeras hidup saya XD). sepertiga perjalan telah aku tempuh dan sampai di daerah menteng, saat itu lampu lalu lintas sudah menyala merah, tentu saja bang sopir kopaja (cukup muda, mungkin sepantaran atau lebih tua sedikitlah dari aku) menyetir kendaraanyan dengan cukup ngebut dan hampir menabrak mobil kijang berwarna perak kemewahan. sebuah suara klakson melengking dengan kejam dari mobil kijang tersebut, bang sopir dan si kernet langsung saja mengeluarkan kata-kata umpatan kasarnya. mulai dari "ngent****t, sampai beg****", kijang berwarna perak itu memang salah, saat itu aku tahu bahwa lampu penyebrangan sedang berwarna merah. dan itu simbol bahwa mobil haru berhenti dan memberi kesempatan untuk motor/ mobil di sebrang jalan untuk lewat.

dan itu kejadian itu sering aku lihat dua hari ini selama di jakarta.
kata bang tomas
"ironis memang"

kalian belum kenal bang tomas? akan kuceritakan sedikit tentang dia. nama lengkapnya tomas soejakto (kalo tidak salah). dia adalah pegawai AKSAM sebuah organisasi komik yang tengah eksist di dunia pergambaran di indonesia, sebuah lembaga komik yang bercita-cita menghidupkan aura perkomikan di indonesia. dia cowok jangkung berambut belah tengah dengan sikap yang ramah seperti anggota AKSAM yang lain, aku banyakbelajar dari dia. aku bertanya banyak hal mengenai apapun, mulai dari komik, alat, media gambar artwork, dan tentu saja kegilaan penduduk jakarta. bang tomas tinggal dijakarta dari kecil, dia menjadi sangat paham rute jakarta semenjak dikuliah semester tiga. setiap pagi dia datang dari cipete, kemudian menjemput sesosok cowok keriting untuk mengikuti workshop. aku ingat setiap datang menjemput dia selalu menenteng helm bergambar elmo, meletakkan tas rangsel di dpan jok, sekaligus membawa tas kamera di sampingnya, dan aku tahu itu sangat capek sekali. XD
rutinitas aneh itu terus berlangsung selama 3 hari ini. semuanya menurutku baik-baik saja, setidaknya kalau kami tidak pulang pada jam sibuk seperti sore kemarin.

di jakarta waktu terbagi secara tidak wajar, ada dua jam di situ. jam normal dan jam macet. jam normal adalah jam dimana para manusia berpergian kesuatu tempat dijakarta dapat sampai dengan tepat waktu, tanpa terjebak keadaan apapun yangberkaitan dengan lalu lintas. sedangkan jam macet adalah jam dimana manusia terjebak di uforia kesibukan dijakarta yang serba cepat namun tidak mau memperdulikan siapapun disana. berbagai macam manusia dapat bertemu di tempat yang bernama jalan, disana semua kepenatan dan kemarahan di lampiaskan dengan teriakan, klakson dan tentu saja umpatan penuh emosi kepada siapapun yang dia rasa mengganggu aktivitas mereka. bang tomas bilang bahwa semua orang jakarta itu individualistis, bahasa populernya adalah egois, bahkan dia samapai ngomong dia pun termasuk salah satunya. di suatu jalan layang menuju menteng (aku lupa namanya) kami seakan dapat lepas dari kuningan, di salah satu sudut kota jakarta yang sangat macet dan anarkis. di jembatan layang itu kami dapat menjalankan si motor dengan leluasa. saat itu aku ingat, langit sedikit mendung menggantung di sisi kananku, aku menoleh dan memperhatikan matahari sore yang membias kemudian memantul melalui kaca-kaca biru tua di gedung pencakar langit. dikejauhan terlihat cukup banyak gedung-gedung tinggi, seperti mimpi saja kala itu. bahkan aku dapat merasakan angin yang bertiup dari depan dan membuatku sedikit lega.

saat-saat itu adalah saat yang paling menyenangkan ketika aku pulang menuju AKSAM. keadaan akan berubah ketika ruas jalanan itu berganti menjadi jalan sibuk di daerah kuningan.

di daerah kuningan sama hancurnya dengan jalan salemba maupun cikini. sama macetnya, suasana saat sangat panas, pengap dan udara kotor gara-gara mikrolet tak layak jalan mengeluarkan asap berwarna hitam pekat (dan membuat mataku memerah sakit setelah sampai di AKSAM). ketika aku dan bang tomas bercerita tentang noraknya pengguna jalan raya yang egois, tiba-tiba mobil dan sepeda motor di depanku berhenti. sepertinya ada sedikit masalah dengan sopir kopaja dengan sopit inova hitam. suasana makin kacau ketika salah satu kernet turn dan mengomel entah apa, kulihat sekilas di bodi Inova terdapat bekas terserempet benda keras yang cukup banyak.

bang tomas dengan tertawa ironis berkata
sopir kopaja adalah sesosok sopir emosional yang tidak dapat di sentuh.
mereka berada tepat dimana mereka tidak dapat disentuh oleh pengendara apapun (kecuali polisi kali yaa^^).

titik jenuhku kala itu aku alihkan ke langit, walau mendung aku terus memandang langit. kubiarkan saja semua berjalan rumit, pengap, dan kacau. aku hanya memandang mega mendung kelabu yang tengah mengajakku untuk sedikit menikmati hidup.

dan saat itu aku melihat seekor burung merpati berwarna coklat hinggap di atas jembata penyebrangan, tidak ada pohon yang rindang, suasana sawah yang tenang, suara siulan petani yang bersenda gurau ataupun udara bersih yang menemani sang merpati.

yang ada hanya merpati coklat, penduduk jakarta yang egois, pohon gersang dipinggir jalan, suara umpatan pengguna jalan raya, dan tentu saja asap hitam knalpot yang menemani sang merpati.

ironis memang :(



mujix, jakarta selatan.
pada tanggal 8-9 februari 2011
di Akademi Samali bersama mas amed yang sedang
membuat komik strip Galau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar