Senin, 20 Juni 2011

cerita tentang aku, temanku dan masyarakat

Hari minggu ini aku mendapatkan sebuah cerita yang cukup menarik. Sepertinya sudah cukup lama aku tidak menuliskan postingan bermasalah, kurasa saat ini adalah waktu tepat untuk memulainya. Kemarin malam aku bertemu seorang teman lama, dia adalah mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri dikota Surakarta. Malam minggu yang lengang itu kami habiskan untuk bercerita tentang banyak hal. Dia masih seperti yang dulu, sangat antusias dan masih suka berkisah tentang mimpi muluk masa lalu. Di sebuah teras itu bermacam-macam cerita bermunculan, mulai dari kisah masa kecil, keculunannya masa remaja, hingga kegilaan-kegilaan jaman mahasiswa tahun lalu.


Yaa, dia masih menjadi mahasiswa tahun lalu, statusnya sekarang bukan mahasiswa atau sarjana, dia seseorang cowok yang sedang mengambil cuti beberapa tahun untuk bekerja sementara. Akhirnya topik perbincangan malam itu kemballi memanas, setelah kita tertawa dan bercanda beberapa saat dia mulai membuka obrolan yang lebih personal. Beberapa hari yang lalu kawanku itu mendapat teguran dari orang tuanya. Mereka sepertinya sangat tidak bisa menerima keputusan temanku itu, banyak alasan mengapa dia mengambil cuti tersebut. Perguruan negeri tempat dia kuliah adalah lembaga pendidikan yang cukup elite, memiliki banyak fakultas berkualitas di bidangnya. Kawanku itu bercerita tentang latar belakangnya sebagai sesosok anak yang sayang terhadap orang tuanya, dia nekad mengambil cuti tersebut dikarenakan kendala perekonomian. Dia berasal dari keluarga menengah kebawah, sebuah status sosial yang menurut banyak pihak tidak layak untuk mendapatkan pendidikan yang memadai.


Kedua orang tuanya adalah buruh pabrik di sebuah perkampungan kecil di kota solo. Temanku itu dalam setiap obrolan kadang menekankan bahwa orang tuanya juga termasuk dalam katagori “orang tua jaman dahulu”. Orang tua jaman dahulu adalah orang tua yang masih terjebak dalam persepsi masyarakat era masa lalu. Kita mungkin sering mendengar berbagai macam stereotip umum tentang kesuksesan seseorang yang dilontarkan oleh orang tua pada era itu (dan ternyata persepsi tersebut masih berlaku hingga hari ini di banyak lapisan masyarakat). Kesuksesan hidup adalah kesuksesan finasial, atau kesuksesan adalah ketika seseorang bisa memperoleh banyak uang dan harta hingga bisa memenuhi kebutuhan banyak pihak. Tidak ada yang salah dengan pendapat tersebut, hampir benar, hanya saja untuk beberapa orang deskripsi itu sama sekali tidak berlaku (salah satunya adalah temanku tersebut).


Masih banyak orang tua normal diluar sana terus terjebak dalam pemikiran semakin tinggi status pendidikan seseorang maka akan semakin mudah pula seseorang tersebut memperoleh keberhasilan (baik secara finasial maupun non finansial). Hal tersebut bertentangan dengan apa yang dia pikirkan, temanku tidak menyanggah bahwa keberhasilan di tentukan oleh banyaknya uang dan tingginya status di mata masyarakat. Dia mempunyai komitmen untuk hidup tidak sekedar tidur, bangun, kemudian makan bekerja, istirahat, memperoleh uang, kaya terus bangkrut, terjatuh, bekerja lagi dari awal,kemudian tidur, makan, dan seterusnya, dan seterusnya. Ada hal yang lebih menakjubkan daripada sekedar rutinitas sehari-hari, ada banyak misi mulia yang tuhan berikan ketika dia menurunkan kita ke dunia. Kurasa aku mulai sependapat dengan dia^^. Dia adalah seseorang yang bekerja di bidang kreatif, bukan seorang pegawai yang memiliki bos berduit segede “gajah”, dia adalah seorang FREELANCER di banyak perusahaan periklanan. Kalian tahu apa yang aku maksud kan? Sesosok karir yang Pekerjaan tidak rutin, Memiliki jam yang tidak terbatas, gaji yang ditentukan oleh kepandaiannya mengatur agenda, orang ini biasanya berpikiran kreatif dan mempunyai emosi labil dalam banyak hal. Freelancer bukanlah pekerja, lebih dari sekedar rutinitas, dan kadang masih disepelekan oleh masyarakat . dia berkata sambil tertawa tentang pandangan pekerjaan di lingkungannya “wong nyambut gawe kui mangat jam 8 esuk muleh jam 4 sore”, dari peryataan tersebut aku bisa mengambil kesimpulan “pekerjaan” yang mereka maksudkan adalah “pegawai negeri sipil dan teman-temannya”. Freelancer, sutradara, editor, pencipta lagu, penulis, wartawan lepas, aktris, pelukis, public relation, komikus, dan begundal-begundalnya bukanlah pekerjaan. Hahaha iya juga sih, memangnya ada di KTP (kartu tanda oenduduk) nama pekerjaan komikus lepas, paling banter yang sering aku lihat adalah buruh, pegawai negeri, pelajar dan mahasiswa (ini nih yang cukup konyol).


Melihat fenomena umum tentang pekerjaan kawanku itu kemudian memutuskan mengambil cuti, dia ingin menata karir dari bangku kuliah. Karir yang dia inginkan tentu saja tidak sekedar karir sejenis pegawai, buruh dan lain-lain. Dia ingin karir yang bisa membuatnya menjalani hidup sambil melaksanan misi mulianya sebagai manusia. Banyak hal menarik dari orang tersebut yang sebenarnya ingin aku tuliskan disini,dia adalah “serious guy” sesosok cowok yang sangat fokus dalam berbagai hal, bahkan terlalu serius:p satu hal yang cukup berkesan untukku adalah hobinya membaca dan menyikapi hidup. Dia sering menekankan untuk sering membaca, membaca apa saja. Dia memiliki perpustakaan kecil di rumahnya, banyak buku dan tulisan-tulisan mengenai banyak hal dikamarnya. Filsafat, sosial politik, senirupa, pengembangan diri, sastra dan banyak tema-tema yang sangat menyimpang dari jurusan yang dia ambil. Aku rasa gara-gara hobi itulah yang membuatnya memiliki pemikiran kritis dan “out of box” dari pada teman mahasiswa lainnya. Karya-karya yang dia hasilkan juga cukup berbobot, semiotika dan bahasa rupa yang iconic dia tonjolkan di setiap sudut, Hingga hari ini dia masih membuat karya. Aku kapan ya? Kok masih terjebak galau akut gini^^


Ketika dia memutuskan untuk menata karir dari bangku kuliah tentu saja akan banyak perbedaaan apabila dibandingkan dengan teman-teman mahasiswa lainnya. Dia sangat selektif dalam membagi kegiatan dan menata waktu. Banyak saat dia habiskan hanya untuk membaca buku, membuang malam hanya untuk menulis ide-ide garing yang bisa menggarong, mengurangi waktu bercengrama dengan kawan, hingga mengacuhkan cinta sampai hampir mati (yeah poin ini mirip sama penulisnya:D). Tidak ada yang salah, kesalahan itu akan menjadi “salah” ketika kita mengartikannya berbeda dengan “parameter benar” di masyarakat. Kesibukannya itu mengganggu banyak hal, kuliahnya bahkan hampir hancur oleh ambisi menata karir tersebut. Dia sering menggunakan logika dalam memandang pilihannya tersebut, dia juga tidak memandang bahwa “temannya yang menjalani hidupnya dengan biasa” itu salah. Pengalihan subyek dalam berpikir sering dia lakukan untuk sekedar memahami orang lain. Dan kadang kala malah orang lain itulah yang memandang kawanku itu dalam satu sudut pandang. Hidupnya sangat dramatis ya :O


Kuliah yang dia tinggalkan sempat membuat orang tuanya berang, kurasa itulah yang menjadi poin penting obrolan malam itu. Aku berpikir orang tuanya sangat sayang kepada kawanku itu, sebagai seseorang anak tunggal dialah sesosok laki-laki yang menjadi tumpuan keluarga. Kedua orang tuanya itu telah membebaskan kawanku itu untuk mengambil keputusan semenjak smp, mereka berprinsip sangat sederhana namun sangat vital. “apapun yang kamu ingin kamu lakukan, lakukanlah sampai selesai. Kemudian pertanggung jawabkan ” cukup simpel namun membawa rentetan hal-hal yang bersifat principle lainnya. Malam itu sebenarnya dia cukup stress, aku yakin itu. Dia butuh teman mengeluh, menceritakan hidupnya entah kepada siapapun (kebetulan aja malam itu aku khilaf dan berada di rumahnya). Orang tuanya mendesak agar dia segera mengurus wisuda. Padahal biaya untuk mengikuti ritual wisuda cukup mahal, dia sangat ketakutan kalau harus meminta sejumlah dana irrasional untuk mengikuti upacara tersebut. Sudah menjadi pengetahuan umum didalam bangku perkuliahan, pengeluaran dana terbesar adalah saat memasuki kampus dan akan meninggalkan kampus. Kala mendaftar menjadi mahasiswa kita akan bertemu banyak iuran-iuran aneh bin ajaib seperti biaya uang gedung, penjahitan almamater, persiapan alat-alat kuliah (kalo di tempatku membeli kamera dan video recorder dan lain-lain), menyewa kamar kost, pembelian sks dan lain-lain. Perputaran uang ketika akan meninggalkan almamater kampus juga cukup mengerikan, kita akan bertemu kerja profesi, penulisan laporan magang, pengajuan tugas akhir, menggarap karya, pembiayaan wisuda, mengurus surat resmi kampus, hingga acara perpisahan dengan teman-teman seangkatan. Mahasiswa yang membuang uang dengan sangat rakus itu akhirnya mendapat ganti rugi berwujud status sosial yang bernama sarjana.


Status sosial yang akan mengawali lahirnya anggota masyarakat mandiri dan baru, bertanggung jawab dan dewasa dalam menyikapi kebutuhan finasial maupun spiritual. Harusnya sih gitu, namun banyak juga sarjana yang sangat tidak siap untuk menghadapai dunia nyata. Dia juga memiliki kekhawatiran seperti itu, kawanku itu yakin ketika seseorang memiliki status “sarjana” maka akan ada segudang tanggung jawab yang masyarakat paksakan untuk dia wujudkan. Lingkungan di indonesia menurutnya sangat tidak sehat (terlepas dari nilai kultur yang positif tentunya), tidak sehat dalam teks ini bukan berarti mediskreditkan ras, atau suku tertentu. Namun lebih mendiskripsikan secara umum pola berpikir masyarakat yang berkembang di era saat ini (khususnya masyarakat jawa). Kita sudah sering mendengar hal-hal yang baik mengenai ungah-ungguh adat budaya jawa, namun ada baiknya kalau kita juga tidak menutup mata untuk melihat lebih dekat kelemahan kita (aku pakai kata ‘kita’ soalnya saya juga orang indonesia dan orang jawa). Orang jawa memiliki tenggang rasa yang besar dalam bersosialisasi, kurasa hal tersebut menjadi kelebihan unik untuk masyarakat jawa, namun Rasa tenggang rasa dalam sosialisasi itu terkadang diartikan terlalu berlebihan. Berlebihan dalam artian, terlalu ambil peran penuh dalam kehidupan seseorang dan seenaknya saja memasukkan suatu standarisasi yang sama dengan lingkungan mereka. Mungkin apabila dipandang secara masyarakat yang komunal hal itu tidaklah salah,namun apabila kita memandang untuk lebih dekat dengan setiap personal maka hal tersebut menjadi salah. Setiap manusia istimewa, setiap pribadi berbeda, dan kita tidak bisa memandang sesuatu yang berbeda dengan sudut pandang yang sama.


Permasalahan mengenai cuti perkuliahan itu belum mencapai kesepakatan, kawanku masih gigih mencoba menata karirnya di bangku kuliah, dan orang tuanya juga masih berpendapat untuk segera merampungkan dan menjadi sarjana agar bisa segera terjun di lingkungan masyarakat. Jika kalian bertanya siapa yang salah maka hanya akan ada pertentangan dari dua hal yang berbeda. Hingga saat ini aku merasa benar dan salah adalah dua di dalam kesatuan. Seperti yin dan yang, siang dan malam, dan peranoniman lainnya. Namuan yang paling benar saat ini adalah aku harus segera mengakhiri postingan ini, sori sepertinya aku terlalu banyak bercerita mengenai hal yang remeh. Intinya sih Benar dan salah tidak usah di perdebatkan lagi. Lakukan apa yang bisa kalian lakukan hari ini, jam ini, detik ini. Jangan menyerah^^


Mujix
masih suka galau, dengerin jason mraz dan berpikir bahwa hidup itu
lebih dari sekedar "menjalani"
solo, 20 juni 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar