Senin, 11 Juli 2011

aku dan Komisi Solo #4

Kalian tahu Komisi Solo? Komisi solo adalah sebuah komunitas komik yang aku dirikan bersama teman-teman ISI tiga tahun silam. Komunitas itu lahir gara-gara temen-temen komik (terutama cowok keriting berhati galau) tidak memiliki wadah untuk sekedar pamer karya, yah, pamer karya saja itu sudah cukup. Hari ini aku sibuk mengurus hajatan Komisi Solo edisi empat penjuru.



Sebenarnya juga gak sibuk-sibuk banget sih, namun kalo dikatakan ribet juga sangat ribet. Komisi solo kali ini judulnya “empat penjuru”, sebuah edisi gokil kompilasi komik dari berbagai kota di indonesia, terkumpul total ada 35 komikus yang ikutan. Rencananya sih aku dan teman-teman Komisi Solo akan mengadakan pameran komik di Stasiun Purwosari. Ya, mata kalian masih normal, aku menulis “pameran komik di Stasiun Purwosari





Jgerrr!!! duarr!!! Ide konyol itu tercetus tiba-tiba, tidak ada topan badai yang menerjang otakku, celana dalamku juga masih wangi, tidak ada sms dari Agnes Monika yang bilang ingin “di sun”, namun kenapa ide ini mencuat begitu saja? Kebiasaan umum teman-temen komisi adalah membuat pameran komik di galeri, atau ikutan stan-stan seni rupa (dan wajarnya emang gitu). Alasan aku memilih untuk membuat pameran di stasiun cukup lumayan banyak, yuk kita intip alasannya :D

Alasan.1. tema pameran. Kompilasi kali ini diadakan oleh komisi dan diikuti oleh banyak teman komik dari berbagai kota. Apabila kita berbicara tentang kota dan fasilitasnya, tentu kita akan berpikir mengenai sarana-sarana umum yang ada di dalamnya. Salah satu tempat publik yang menghubungkan banyak kota tersebut adalah stasiun. Aku bisa saja memilih terminal bis, namun tempat itu memiliki tingkat kerawanan kriminalitas yang sangat tinggi, belum lagi keribetan sirkulasi para pengguna terminal. Tempat alternatif lain adalah bandara, ini mah kagak mungkin banget, sangat susah untuk diakses secara umum, hanya segmentasi ekonomi masyarakat menengah keatas yang bisa ke bandara. Stasiun aku pilih karena tempat itu yang paling cocok dengan kriteria empat penjuru, selain kemudahannya dalam mencapai khalayak ramai, stasiun juga memiliki kerawanan yang cukup minim.



Alasan.2. mencari ruang baru. Berbicara soal tempat berpameran, mindset kita pasti tertuju ke gallery-gallery seni rupa pada umumnya. Tidak ada yang salah dengan pemikiran tersebut, namun apabila kita berbicara mengenai seni rupa rendah (merujuk kutipan Scott Mc Cloud di Understanding Comic) seperti komik, tentu tempat seperti galery seni rupa menjadi lokasi yang sangat prestisius. Namun apabila kita merunut kembali latar belakang komik dan perbedaan pemahaman masyarakat tentang seni rupa, maka komik sebenarnya bisa lebih bergerak lebih bebas dalam hal waktu, tempat dan masalah subyek yang diangkat. Komik sangat dekat dengan masyarakat urban, dan diperlukan tempat urban agar mereka bisa lebih dekat lagi. Seenggak-enggaknya masyarakat bisa tahu ada media lain untuk sekedar memandang dunia dari kacamata yang berbeda.


Alasan.3. asik. Yeah yang ini alasan pribadi sih, sepertinya sangat asik sekali jika kita bisa pameran komik di stasiun. Kalian tahu kan apa makna “asik” tersebut. Asik karena kita akan mendapatkan banyak hal baru, asik karena kita pasti akan mengenal banyak teman anyar, asik karena akan ada seru-seruan di tempat yang asik. Dan lagi ketika kita berbicara transportasi yang asik untuk jurusan antar kota, yang paling asik adalah naik kereta, akan ada pengalaman seru didalam setiap gerbongnya (terutama gerbong ekonomi gaya baru malam jurusan senen^^).


Tempat stasiun sebenarnya belum deal, kita masih mengurus banyak hal. Perijinan belum kelar dikarenakan kemalasanku yang makin kacau. Event kali ini sedikit sepi, soalnya hanya beberapa teman saja yang membantu untuk pra event kali ini. Siang ini aku menelepon Pak “B”, dia adalah orang penting di Stasiun Purwosari. Tanpa ijinnya kita tidak akan bisa pameran di tempat “asik” tersebut. Besok di Purwosari jam 10 siang kita akan mengobrolkan soal perijinan tersebut. Semoga saja bisa diwujudkan untuk bisa berpameran komik di stasiun Purwosari.

Ayo dong kasih ijin, kita ingin mendekatkan masyarakat dengan media alternatif lain bernama komik ni pak, please deh cint. Hrus buleh ea akko gag nakal ug...
wkwkkwkwkwkwkwkwk


~Solo. 11 Juli 2011~

kabar buruk, ternyata untuk pameran komik di stasiun kita harus menyiapkan uang 12 juta rupiah, keinginan khayal nan muluk seorang cowok keriting maniak komik itu pupus sudah. Minimnya ruang berkesenian yang kian minim, ternyata tidak mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak. Budaya 'wani piro' atau bahasa jawa dari 'berani berapa' masih mengakar kuat di berbagai sektor di Indonesia. Ah, ruang publik yang katanya untuk publik, sekarang telah menjadi tempat komersial nan individual.

Mereka tidak perduli dengan pergerakan komik, bagi mereka masalah media alternative pengalihan stress problem komunal melalui hal yang lebih positif sangatlah tidak penting, mengawasi kinerja para birokrat melalui seni bukanlah urusan mereka.

Terlalu rumit untuk merubah mind set warisan orde baru tersebut. Semoga saja kelak (entah kapan) akan ada sedikit perubahan yang bisa membuat bangsa ini lebih baik.
Yeah… ayo pameran komik di tempat laen :)

~Solo. 16 Juli 2011~

penulis adalah sesosok cowok penggila komik berambut
keriting yang katanya lebih suka dipanggil ‘mujix’ daripada
‘susi’ atau ‘yanti’. curhatan ini bisa dibaca juga di
KOMPILASI KOMISI #4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar