Selasa, 09 Agustus 2011

mimpi tadi pagi

Masa lalu adalah kisah imajinasi semu yang tak dapat kita ulangi lagi. Semuanya berubah, mengalir saja mengikuti ritme dan selaras seiring takdir yang terus berjalan. Sial, bahkan untuk menulis tentang hari kemarin saja aku masih harus berdiam sejenak untuk menenangkan diri. Beberapa hari ini aku terdampar lagi di tempat itu, sebuah tempat dimana kita dapat bertemu walau hanya tersipu dan terdiam membisu. Aku ingat keramaian, riuh rendah dari berbagai nyawa manusia mengisi semua celah di sekitarmu.sebuah adegan kompleks tanpa ada manusia yang menghiraukan kita, Kurasa Tak ada yang berubah, kau masih saja tersenyum memandangku dari ujung taman itu, hanya tersenyum saja itu sudah cukup.


Aku berlari menyongsongmu, mengabaikan sinar mentari esok yang kadangkala sering kali aku banggakan padamu.


Aku tidak memikirkan gadis berpayung pelangi pagi itu, tidak memikirkan wanita manapun, dan tentu saja tidak mengharapkan perempuan manapun selain kamu. Kita kemudian bertemu di tengah kebun bunga di kota bogor. Semua berubah, mengalir saja mengikuti ritme.



Kita terperangkap dalam banyak ketentuan, kita terjebak di banyak catatan namun Aku tidak perduli. Saat ini hanya kisah hidupku yang aku pikirkan. Kau ingat kisah tentang sebuah syair cinta yang aku janjikan dua tahun lalu? Sebuah syair tentang suka cita karena aku mengenalmu? Masih ingat bukan? Aku Ingat saat Kita berjalan menembus malam dengan berbagai rasa berkecamuk, menyembunyikan kepengecutan masing-masing. Malam sepi tanpa suara itu menyertai langkah kita, kurasa sungai bintang penuh pesona itu juga hanya terdiam melihat kita mendongengkan banyak hal.



Jejak-jejak tapak kaki itu kurasa masih terlihat andaikata kita bisa menengok masa lalu untuk sejenak. Perjalanan itu berakhir di sebuah rumah berlantai kayu berwarna biru di sebuah kota di jawa barat, sebuah bangunan sederhana terletak di suatu pagi yang bersuasana laut itu membuatku ingat ada kisah mengenai kita. Kursi tua disamping pintu masik itu tidak banyak berubah, masih reot seperti saat kita bertemu, lantai sederhana dari kayu, kamu dan tentu saja kerudung merah mudamu.


Kita duduk berdua menatap laut, aku bercerita tentang kisah hidupku yang lain, berkisah tentang pagi ini, bersenandung mengenai hari esok. Segera saja aku mengeluarkan setumpuk buku tentang masa kini, kuserahkan padamu.

Aku tidak berharap banyak, cukup kau simpan saja di ujung lemari buku di dalam kamarmu. Hari ini kamu terlalu banyak diam, tak bersuara, hanya memandangku seperti masa yang lalu. Aku harus segera bergegas, kurasa hidupku masih terus berjalan. Aku segera meninggalkanmu kembali, aku berlari menembus malam dengan berbagai rasa berkecamuk, aku harus segera sampai di pagi yang sama seperti pagi ini.


Sekilas pagi dimana aku bisa menuliskan tentang kisah cinta kita, Sebuah pagi dimana aku bisa menyeduh teh hangat dan mengingatmu seperti pagi ini. Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti….


Sampai jumpa, perempuan bersayapkan mentari…


Mujix
Sebongkah materi ciptaan Tuhan yang tengah
berhenti kelalahan
diujung persimpangan jalan.
Solo, 09 Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar