Jumat, 19 Agustus 2011

Namanya Pak Wagiman

Sedikit kebingungan aku dan bhayus memasuki sebuah gang kecil di balik Gapuro gajah Makam Haji. Sebuah sore yang damai, walau banyak masalah belum terselesaikan aku tidak perduli. Ada yang berbeda ketika kami sampai di depan rumah beliau, ada pagar bambu dengan kain perca tertempel berantakan. Kurasa benda itu mencegah agar ayam tidak bisa memasuki pelataran rumah tersebut.

“kulonuwun” Bhayus memecah keheningan sore itu,

“monggo” sahut sesosok bapak tua sambil bergegas membukakan pagar bambu . kami memasuki pelataran rumah itu dengan sungkan, Bapak tua itu hanya bertelanjang dada, kulitnya makin hitam kurasa.


“nggih ngeteniki mas, yen sonten kulo nyante kalih moco Jawa Pos ”
sambut bapak tua dengan gembira.


Aku menatap bapak tua itu dengan lekat-lekat, rambutnya sudah semakin memutih, hanya matanya saja yang makin terlihat memerah. Ingatanku menerawang ke masa tiga tahun lalu. Saat dimana aku masih beridealis ria dengan video dan film, waktu dimana aku masih disepelekan gara-gara persoalan materi.

“namanya Pak Wagiman” adalah judul sebuah film dokumenter yang aku buat bersama bhayus, sebuah video dokumentasi mengenai keseharian seorang banpol lalu lintas di daerah Makam Haji. Latar belakang pembuatan film tersebut kala itu adalah kompetisi PEKSIMIDA 2008 yang akan diadakan di kota Semarang.


“coba Mujix bikin video buat di lombakan di semarang, siapa tahu menang”
ujar dosenku yang bernama Citra. Tentu saja tantangan itu aku sanggupi, setelah berbincang dengan banyak teman, akhirnya aku memilih bhayus untuk menjadi partnerku dalam produksi kala itu.


“aku nyet ora pinter, gak iso editing, gak mudeng teori, tapi aku semangat yen di jak gawe karya” papar Bhayus dengan sangat berapi-api. Ceilah, kurasa itu kata-kata terkeren yang pernah aku dengar dari dia. Sebuah hendikem sony dan uang iuran secukupnya akhirnya kami resmi menjadi tim produksi film “Namanya Pak Wagiman”.
Kami memproduksi video itu selama 3 hari, tentu saja setelah berargumen labil tentang konsep film dan skenario.


“dalam film dokumenter ini aku ingin ngomongin tentang semangat seorang banpol yang tidak menghiraukan kelainan fisiknya untuk membantu sesama” kataku kala menjelaskan pesan moran sederhana dari film ini.


Subyek dari video ini memang sesosok banpol yang memiliki kelainan fisik. Pak Wagiman menceritakan tentang masa mudanya, masa ketika dia mengalami kecelakaan di tempat pemotongan kayu. dia kehilangan pergelangan tangan kiri dan beberapa jari di tangan kanannya. Kejadian tragis itu tentu saja membuatnya mengalami tekanan batin dan mental.


“kulo nggih putus asa mas, nanging nggih pripun malih, kulo kudu eling kabeh niku titipane gusti allah” pak wagiman berkata lirih. Akhirnya pak Wagiman memutuskan untuk menerima semuanya dengan lapang dada. Hidup terus berjalan kawan, begitu pikirku.


Pak Wagiman kemudian bekerja apa saja, mengesampingkan keterbatasan itu. Bekerja keras, berusaha dengan sebaik-baiknya, dan tentu saja bersyukur terhadap apapun.


“rumiyin tho mas, dalan niku kathah sing kecelakaan, polisi yo wagu. Gak pernah diawasi, wong macete jam 7 mosok jam 8 lagi teko” ujarnya dengan tatapan haru sambil mengisap rokok kreteknya.


Pak Wagiman merasa prihatin dan memantabkan niatnya untuk menjaga pertigaan palang Makam Haji. Tempat pertigaan itu memang sangat ramai, puncaknya adalah pagi hari saat para siswa dan pekerja berangkat ke sekolah atau pabrik. Kami akhirnya wawancara dan mengambil stok shot di rumahnya. Pak Wagiman bercerita banyak hal, kami mencoba memancing ke berbagai topik. Akhirnya dengan bantuan Noves (teman seangkatanku di jurusan televisi) video itu kelar.


Oh iya, sekedar tambahan film itu menjadi juara ke tiga tingkat Jawa Tengah.


Sore ini adalah tiga tahun setelah produksi tersebut. Selasa kemarin kami memutuskan untuk ke rumah pak Wagiman untuk sekedar mengucapkan terimakasih. Kesibukan masing-masing sepertinya membuat kami lupa, bahwa masih ada sedikit hutang yang harus kami selesaikan. Plastik putih berisi sirup, dua plastik gula pasir, sekaleng biskuit, dan sedus teh kami berikan kepada beliau sore ini.


Pak Wagiman menyambutnya dengan suka cita, mungkin memang tidak seberapa. Namun setidaknya pak wagiman telah mengajarkan kepada kami tentang mensyukuri hidup dan terus bersemangat. Beliau juga secara tidak langsung sudah menjadi bagian dalam masa muda kami yang menggelora, masa idealis yang tidak mungkin dapat di ulangi kembali.


Kalian tanya kok postingan kali ini tidak lucu? Maaf blogku bukan blognya pelawak. Ini blognya orang ganteng. Terserah aku dong soal lucu atau tidak :D
Salam luycuuuuu :)

Mujix
masih gila baca dan gila cinta
ayo belajar menata waktu
Solo, 19 Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar