Sabtu, 06 Agustus 2011

perjalanan menuju pulang

Pilek adalah penyakit yang menyebalkan setelah sariawan. Kalian tahu pilek? Itu tuh penyakit aneh bin ajaib dikarenakan perubahan suhu mendadak didalam tubuh. Ciri-cirinya adalah badan panas dingin (panas apa dingin?) gak karuan, dari idung keluar air mirip air jam-jam lengket yang multifungsi sebagai lem atau pelumas kendaraan (jangan mau dikibulin ya) . nah penyakit aneh itu gak terlalu jauh ama demam. Pokoknya pilek dan demam adalah pasangan homo serasi (aku bilang homo karena mereka berada di satu badan yang sama). Tanpa pergi ke psikolog maupun montir manusia aku tahu apa penyebab penyakit pilekku itu. Salah, tebakan kalian salah!! aku tidak lari-larian telanjang pada tengah malam kok, apa? Apa? Mandi es kembang tengah malam? Ngapain!!! Jangan samakan saya dengan Caca Handika, aku tidak sejadul itu. Jawaban yang benar aku beberapa hari ini baru balik dari boyolali, iya kota kecil yang tekenal akan susunya (ah, susu lagi? Kurasa postingan ini akan menuju arah yang lebih mesum daripada sekedar susu). aku berada di desa itu selama tiga hari dua malam. Iya, aku kecapekan secara psikis kurasa, makanya aku minggat ke kampung halaman. Rumahku berada di sebuah wilayah utara kabupaten boyolali, beralamat komplit di dukuh karang. Kecamatan simo, kabupaten boyolali, iya kota yang terkenal akan susunya. Bisa gak sih kalian tidak berfikir tentang susu walau sejenak? Bah... lanjut boi...



Tiga hari yang lalu di padepokan sebenarnya aku sudah terlalu pusing untuk mikir apa kegiatan berikutnya. Setelah event komik komisi yang maha alay minggu kemarin aku sudah bertekad untuk menjadi manusia ganteng, ups, bertekad untuk pergi berlibur ke pantai. Iya pantai, kalian tahu pantai? Apa gak tahu? Laut tahu? Eeeh gak tahu juga? Tahu hewan protozoa gak? Tahu alhmadulilah deh, kalian gak selabil yang aku kira ternyata. Sebelum menginap di padepokan aku sempat barter komik komisi dengan om Andre Tanama, dia kayaknya sih maestro grafis gitu. Aku kurang tahu masalah dunia penggrafisan, kalau mau nanya masalah dunia penggrafisan tanya saja sama pakdhe tugitu. Karya om andre tanama keren juga lho, ada sesosok karakter asik yang bernama “Gwen Silent”, sebuah karakter cewek pendiem yang memiliki seribu makna. Figur itu cukup berkarakter penuh simbolik semiotik andaikata kita mau melihat karya-karya om Andre Tanama lebih cerdas (serius, tanganku dari baris ke enam tadi ingin mengganti kata TANAMA menjadi PANAMA ). Ah jadi inget wajah absurd om andre, mas atok, lek sukidi, dan arumania saat mereka melakukan pose salam lucu. Benar-benar GAK LUCU, HARAM, menyeramkan.....^^a

ini dia pose-pose yang aku sarankan harus di haramkan oleh MUI. sangat mengkhawatirkan merubah mindset masyarakat indonesia.



salam lucu ini diperagakan oleh arumania dan sony




salam lucu ini diperagakan oleh arumania dan AC.Andre Tanama




masyarakat yang mulai terjangkiti virus salam lucu, semoga ada tindak lanjut dari PEMKOT kota Surakarta mengenai penyakit kejiwaan yang menular ini.





salam lucu ini diperagakan oleh jeky dan angga



salam lucu diperagakan oleh dedengkot mas fachmy kacamata studio




pose sebenarnya dari salam lucu. art.by. mas ryan

Pagi itu aku sempat bingung memutuskan satu hal, apakah aku harus kembali ke kost atau aku segera cabut ke simo naik bis kota. Setelah mimpi ekspresionisme malam itu aku memang memiliki dorongan yang kuat untuk segera pulang ke kampung. Apa? kalian tanya apa itu mimpi ekspresionisme? Bukan!! Bukan!! Bukan mimpi basah, aku tidak akan kebingungan kalau hanya mimpi basah, mimpi ekspresionisme itu semacam mimpi aneh penuh simbol dan memiliki arti yang absurd. Mimpi itu terjadi biasanya kalau ada sesuatu dengan kalian. Kejadian entah bapak sakit, akan menerima musibah, mendapatkan rezeki nomplok, ataupun sekedar perasaan kangen dari seorang nenek. Dan kurasa aku mengalami pernyataan terakhir. Kebingungan itu akhirnya aku serahkan pada Tuhan. Di ujung jalan SMK Bimando aku berasumsi, jika datang bis ATMO dari barat aku akan balik ke kost dan mengerjakan semua PR-ku, namun jika yang datang dari arah timur, maka aku akan segera cabut ke kampung apapun resikonya.



...dan bis ternyata muncul dari arah timur. Oke aku akan pulang menuju ke rumah, kutinggalkan dengan paksa semua masalah, urusan, kesenangan, dan apapun di kota yang kurasa mulai menyebalkan ini. Bis ATMO yang ditumpangi cowok berambut keriting itu mulai berjalan pelan ke barat...



Perjalanan ini cukup aneh, aku sudah sangat lama tidak pergi ke kampung menaiki angkutan umum. Biasanya aku kesana dengan kawanku yang bernama anang sholikin (dan nama SHOLIKIN yang soleh itu telah di ubah dengan paksa menjadi SILIKON sebuah kata yang membuatku berpikir tentang “banci” dan “payudara buatan”), aku suka berkendara sambil curhat colongan dengan dia. Tidak, kami tidak jadian, aku masih suka cewek tenang aja bung , seperti biasa curhat tentang galau, galau, dan keadaan perekonomian indonesia sekarang ini dalam era informatika yang kian disamarkan dengan berbagai isu global.


Wkwkwkkw yang terakhir bohong kok, tentu saja masih dengan topik cinta yaitu GALAU. Bukan silikon namanya kalau tema obrolannya gak jauh-jauh dari galau, galau, galau, dan kawin. ATMO adalah bis sedang berwarna putih biru yang sering aku tunggu. Kali ini aku menuju kartosuro untuk di oper menuju bus desa jurusan simo ataupun karang gede. Salah satu hal yahng kubenci ketika aku melewati kartosura adalah terciumnya aroma busuk bin gokil yang berasal dari kandang babi. Bah, baunya sangat tidak berperikebabian, sumpah masih aman aroma ketiakku daripada bau babi (kadangkala kalau kalian beruntung akan tercium aroma melati dan cocopandan dari ketiakku ini).keadaaan di sekitar terminal itu berbau yang rasanya sungguh ehm.. euhh..... ahh.....ngoik...... oh...ngoik... yes... (mendadak pingsan dan berubah jadi babi)



Setelah dari daerah Bangak aku baru bisa menikmati perjalanan, hal yang paling kusuka ketika berada di bis adalah sudut kursi di dekat jendela. Dulu aku sempat bertengkar labil dengan nenek-nenek gara-gara memperebutkan sebuah kursi bertebaran cahaya surga dengan posisi strategis di pinggir jendela di sebuah bis antar kota antar propinsi. Dan aku menang, yeah kurasa saat itu adalah momen terkeren dalam hidupku, sayup-sayup aku mendengar lagunya Queen yang “WE ARE THE CHAMPION”, dan si nenek memandang tak ikhlas kepada mujix kecil. Iya itu pengalaman saat kecil dulu. Gak bangga dong mengalahkan nenek-nenek dengan badan bontot gini^^. Didaerah bangak dan winong memang terkenal akan persawahannya, jika kalian beruntung dari bis yang berjudul BUDHI JAYA atau BUDHI RAHAYU akan terlihat dua gunung keren dari arah barat. Gunung merapi dan merbabu terlihat sangat eksotis. Kurasa perjalanan itu menghabiskan waktu selama tiga jam, alhasil selama tiga jam tersebut aktivitasku sangat monoton. Bengong labil gak jelas mau ngapain, melamunkan nikita willy, pesbukan, atau paling mentok adalah smsan sama fans-fansku (dan kebanyakan penggemarku adalah cowok-cowok kekar berotot yang gak jelas apa spesiesnya). Satu lagi, asiknya duduk di kursi pinggir jendela adalah tempat itu menjadi berkumpulnya semua inspirasi keren. Aku tidak menyangkal kalau banyak karya komikku terispirasi dan mengalami proses secara ajaib di kala aku duduk di kursi itu. So kalau kalian suatu saat naik bis cobalah duduk di pinggir jendela, biarkan saja pikiran kalian melayang entah kemana. Biarkan berjalan sampai tujuan, and everything in your trip can be good idea...



Sesampainya dipasar simo aku hampir berubah menjadi Dude Herlino, tau Dude Herlino gak? Kalau gak tahu coba deh disearch di google. Yup perjalanan tanpa kawan itu cukup untuk membuatku menjadi cowok super serius, seserius Dude Herlino.



Ini dia foto Dude Herlino,saya downloadkan dengan perasaan riang untuk anda semua :D

Pasar Simo adalah kotanya desaku (kalian paham soal “kota” didalam suatu “desa”? pokoknya menjadi sentral aktivitas dan tempat tergaul di desa pentur), sebuah pasar tradisional yang mendadak banyak dibangun minimarket, toko-toko ala Alfamart dan kawan-kawannya. Kurasa pasar konvesional itu 10 tahun mendatang akan berubah menjadi pusat transakasi yang seba cepat dan praktis. Pasar tradisionalnya? Gak penting, akan datang suatu masa dimana para birokrat hanya mementingkan diri sendiri. Tempat-tempat klasik penuh keramahan, interaksi antar konsumen dan penjual yang dinamis akan dipinggirkan dengan berbagai aturan PERDA atau apapun itu. Kalian tahu maksudku kan?



Bus DWI PUTRO adalah bus antar desa berwarna biru aneh yang aktif hanya sampai jam 4 sore. Jangan coba-coba pergi ke kampungku menggunakan bis itu jika kalian sampai disana jam 5 sore, kalian harus berjalan sejauh 7 km untuk mencapai desa karang, tempat dimana mujix bersarang dan berkembang. Tarif kendaraan tersebut 2000 rupiah, full musik, dan full AC (angin cepoi-cepoi). Aku bilang full musik karena apabila kalian menaiki bis tersebut kalian akan bergoyang layaknya biduan orkes melayu om sera dikarenakan jalannya yang hancur. Akses wilayah buruk itu hanya bisa di tempuh dengan motor yang waras, motor setengah memedi seperti SI JOJO sudah menjadi langganan macet di jalan menanjak sekitar desa karang. Hanya saja hari itu aku tidak menaiki SI JOJO, aku tiba di sumber pukul 13.00. sumber adalah pemandian kecil di ujung kampungku dengan banyak hutan disekitarnya. Tarzan? Kagak ada tarzan maupun gajah di sumber. Aku melalui tempat itu dengan penuh antusias (sama antusiasnya ketika syahrul gunawan menunggu dicipok agnes monika di sinetron pernikahan dini). Kadangkala aku berhenti sejenak memejamkan mata, mendengarkan dengan tenang gemerisik daun dan pepohonan ditiup angin, merasakan angin sepoi desa, membiarkan diriku tenggelam dalam harmoni alam yang damai. saat itu Aku benar-benar hidup kawan...



Setelah berjalan beberapa menit dari sumber aku sampai di perkampungan desa karang, masih lengang, di desa ini memiliki julukan desa perantauan. Latar belakang masyarakat yang kurang terpelajar membuat para penduduk desa ini mencintai yang namanya urbanisasi. Tidak dapat dipungkiri memang aktivitas ekonomi yang minim membuat mereka lebih memilih pergi ke kota besar dan membanting tulang disana. Aku dan keluargaku juga menjadi salah satu bagian dari mereka, orang tua dan adikku pergi melancong ke bogor, kakakku mengadu nasib dikota solo, dan si mujix, cowok kribo berhati galau itu mengadu nasib menjadi artis ibukota dan diperebutkan oleh para selebritis untuk menjadi peliharaan mereka. Hahaha bercanda... mujix masih tetap berkutat dengan komik, kerjaan, kuliah, dan galau dikota solo. Sesekali aku menyapa orang-orang desa, mereka ternyata masih mengenaliku, perubahan kegantenganku yang terlalu signifikan ini tidak mempengaruhi daya ingat mereka tentang seorang mujix. Dari kejauhan aku melihat bak berwarna abu-abu, yeah di belakang bak aneh itu terdapat rumah tercintaku, aku mempercepat jalanku. Melewati dan menyapa tetangga kemudian segera menghambur ke teras rumah joglo kecilku. Setelah menempuh perjalanan yang berat, dibingungkan oleh takdir di perempatan BIMANDO, penuh intrik, dihadang badai bau babi, bergoyang ngebor dengan bis DWI PUTRO, berjalan setengah kilo menembus setapak di sumber, akhirnya aku sampai di rumah...



And finally..... Sebuah perjalanan penuh arti jika kita mau mamandang semuanya lebih dekat. Aku telah sampai dirumah, nenekku datang dengan penuh haru. Ya, nenekku tinggal sedirian di rumah megah tersebut. Kurasa kedatanganku kali ini menjadi kebahagiaan kecil untuk beliau, semoga selalu sehat nek. Jangan lupa gigi palsunya jangan sampai copot lagi... hehehehe:)



Mujix,
Si cowok labil yang rambutnya makin
gondrong gak jelas entah akan menjadi
sarang hewan apa
Solo, 06 Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar