Minggu, 20 November 2011

ayahku yang apatis




walaupun berbadan kecil dan bermuka seram, ayahku adalah ayah yang paling hebat sedunia. Terlahir di jaman era 60-an tidak membuatnya menjadi penganut faham apatis terhadap orang lain. Kadangkala aku sangat suka mengingat ketika ayahku berjoget aneh kala menghibur bocah berambut keriting yang sedang meraung penuh tangis kala beliau belum bisa membelikan mainan robot-robotan untuknya. Jogetan ayahku sangat menggelikan, dan sangat ampuh untuk membuatku tertawa terkekeh-kekeh melupakan robot-robotan atau apapun. beliau mengempitkan kedua tangannya dan bertingkah seperti ayam kemudian melompat-lompat kearahku sambil berteriak “joget-joget-joget tak to dundang mbokmu”. Sebuah mantra lucu itu kurasa tidak akan kulupakan sampai kapanpun.


Semenjak kelas 1 SD aku mulai berpisah dengan beliau, berpisah dengan ibuku, tentu saja karena dikampungku mempunyai tradisi pergi ke jakarta untuk mengais rezeki. Pergi ke kota besar yang katanya tidak mempunyai skill apapun bisa mencari uang disana. Semenjak itu, aku dan orang tuaku mempunyai sebuah hubungan yang sangat romantis. Kami hanya bisa bertemu disaat idul fitri tiba, atau saat liburan panjang selama satu bulan caturwulan ketiga. kata kawan-kawanku saat kecil, ayahku orangnya egois, seorang apatis sejati. Ayahku bukanlah seorang ayah yang apatis. aku percaya itu, demi aku dan kehidupanku belaiu rela pergi merantau ke negeri asing nan antah berantah.


Ada banyak hal yang bisa aku ceritakan tentang ayahku kepada kalian, ada banyak sekali. Salah satu kebiasaan ayahku yang sangat mengganggu seantero rumah adalah kebiasaan mengorok di kala tidur. Sangat mengerikan, mirip suara dinosaurus yang kelaparan ,mencari mangsa. Setali tiga uang dengan suara diesel di tempat tetangga saat hajatan pernikahan. Saat itu aku sering berpindah tempat tidur dikarenakan suara “duet diesel dan dinosaurus” itu. Ibuku sering melempar bantal ke muka ayahku untuk menghentikan suara dengkurannya. Tentu saja dengkuran itu berhenti, oke berhenti sejenak. Kurasa hanya 5 menit, dengkuran itu kembali meneror seisi rumah, disambut tawa nenek dan kakakku yang melihat adegan lucu tersebut.


Pertemuan demi pertemuanku dengan beliau sangat mengesankan, aku selalu menikmati saat-saat tersebut. Dari dulu hingga saat ini tidak banyak berubah, beliau masih ayahku yang hebat. Tidak dapat digantikan oleh ayah-ayah manapun.
Kalian tahu? Kalau ayahku yang hebat dan mengesankan tersebut sekarang sedang berada tak jauh dari tempatku berada. Beliau tidak ada di jakarta atau di bogor, lebih dekat lagi. Hanya berjarak sekitar 25 Km dari tempatku menulis postingan ini. Ayahku rabu lalu telah sampai di Boyolali, berkunjung dan menghadiri perniakahan keponakannya. Rabu lalu ayahku berkendaraaan umum menempuh jarak sekitar 200 km hanya untuk bertemu rumah, pohon rambutan, nenekku tercinta, dan tentu saja dua anak kesayangannya.


Saat ini aku sudah melupakan robot-robotan yang dulu aku perjuangkan dengan tangisan. Dan sejak saat itu aku memang sudah jarang meminta apapun, hanya saja kali ini pertemuan mengesankan yang aku inginkan tidak berjalan lancar. Jarak sependek itu tidak dapat aku tempuh gara-gara tidak memiliki transpot untuk kesana.


Aku sudah bosan menunggu berjam-jam bus kecil berwarna hijau yang katanya bangkrut gara-gara tidak ada penumpang. Andai kata aku boleh memohon kepada Tuhan aku ingin agar ada robot yang bisa terbang dan mengantarkanku ke kampung. Untuk bertemu dengan ayahku, untuk bersua dengan dengkurannya yang mirip dinosaurus, dan tentu saja agar aku bisa yakin bahwa Ayahku bukanlah seorang ayah yang apatis.percayalah dia sangat menyayangiku sama dia menyayangi keluargaku.




Mujix
ayoo?ada yang
mau nganterin
aku sampai kampung?
Solo 20 November 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar