Jumat, 11 November 2011

aku dan Tuhan




me, God, and my life:)
kata orang-orang yang bersembunyi di balik kepercayaan mereka, hidup kita telah di tentukan semenjak kita belum terciptakan, semenjak alam semesta belum bermateri, semejak kata Tuhan di mengerti oleh orang-orang yang bersembunyi di balik kepercayaan mereka. benar tidaknya pernyataan tersebut aku tidak terlalu memperdulikannya. aku merasa masih ada lingkaran hidup yang belum aku selesaikan.
03 November 2011


Hidup itu tidak sesederhana surga dan neraka. Itu yang aku pikirkan ketika mendengarkan khotbah siang tadi. Pria berpeci putih di podium itu membicarakan banyak hal, tema-tema familiar seperti kematian, sebab akibat, dan ganjaran seakan-akan menjadi menu utama di setiap pertemuan. Setidaknya menu utama itu banyak membuat seluruh manusia disekitarku terkantuk-kantuk. Entah mengerti atau tidak aku tidak perduli dengan mereka, aku yakin beberapa dari mereka bahkan masih memikirkan bagaimana harus membayar tagihan listrik yang menunggak 2 bulan. Dari berbagai buku yang kubaca kemarin siang, (aku tidak yakin buku itu benar-benar sesuai dengan kenyataan atau hanya akal-akalan manusia saja) manusia mempertanyakan Tuhan semenjak hampir dari 4000 tahun yang lalu, dimana Charles Darwin masih membayangkan bagaimana dia tengah kebingungan setengah mampus untuk mempresentasikan teori ‘mata rantai yang hilang’ kedepan publik. Aku tidak akan membahas tentang teori evolusi ataupun sejarah Tuhan yang sangat berbelit-belit itu. Hanya saja siang tadi aku sedikit mempertentangkan makna Tuhan dengan kata-kata seseorang di sebuah buku yang saat ini tengah terletak dengan manis di sudut New Arrival di toko buku terkemuka di kotaku. Sedikit kata-kata tersebut adalah

“firman Tuhan telah membentuk kebuadayaan kita, kita harus memutuskan apakah kata “Tuhan” masih tetap memiliki makna bagi kita dimasa sekarang ini‘’.
~Karen Amstrong~

Sebuah kutipan yang sedikit menggangguku kala aku menyimak pria berpeci putih itu.
kata kawanku yang sedang menerima keuntungan dari jual beli saham “Tuhan hadir ketika aku bahagia, ketika kau sedih berarti Tuhan sedang tidak ada dan absen entah kemana”. Sangat berbeda pendapat sekali dengan pria berpeci putih itu; atau mungkin memang dua subyek itu tidak sebanding untuk di bandingkan. Tagihan listrikku memang tidak menunggak 2 bulan, dan aku tidak terkantuk-kantuk melihat dia berbicara, namun ketika dia memperbicangkan ‘Tuhannya’ dengan sangat lantang di seantero kampung tersebut otakku melayang dan jatuh di sebuah obrolan mengenai ‘manunggaling kawulo gusti’ sebuah ajaran yang menurut banyak pihak sesat dan sangat terlarang untuk di perbicangkan di tempat publik.
aku dan Tuhanku adalah satu kesatuan, atau mungkin inti dari obrolan tersebut adalah 'aku adalah Tuhan di dalam semesta kecil yang bernama manusia ini'. atau entahlah...
setidaknya melihat keruwetan diskripsi tersebut, aku jadi teringat kata-kata kakak sepupuku.


Kakak sepupuku yang sangat terobsesi sekali dengan wayang kulit berkata, "setiap manusia mempunyai tuhan kecil didalam dirinya. Tugas kita didunia ini adalah menemukan ’Tuhan kecil’ kemudian berdamai dengan Dia" hampir sama dengan pendapat om Bodhidharma. Untuk memperoleh nirwana kita harus bisa berkompromi dengan diri sendiri. Aku merasa apa yang cetuskan kakak sepupuku dengan om Bodhidharma cukup mirip; cukup mirip untuk dua orang yang kurasa belum pernah memperbincangkan Hidup dan Tuhan bareng disebuah wedangan pinggir jalan.


Semua teori mengenai Tuhan dan kebahagiaan kurasa menjadi PR yang sangat panjang untuk di kerjakan umat manusia. Apakah kita akan mengikuti ‘definisi Tuhan’ yang dicetuskan banyak pihak melalui beberapa tekanan dogma aliran tertentu, ataukah kita mencoba berdamai dengan diri sendiri dan berharap kita menemukan ‘dewaruci’ kita kemudian mencapai nirwana yang masih entah, aku rasa banyak pihak yang tidak perduli. Aku juga tidak memperdulikan pilihan kalian, namun yang pasti siang kemarin di kaca lawas di masjid dipinggir jalan itu bercerita lain. Saat itu wajahku yang pucat dan berantakan itu bertanya sedikit berbisik. ‘apakah aku telah berdamai dengan diri sendiri? Ataukah aku harus memprotes Tuhan besar mengenai permasalahan tentang susahnya berdamai dengan diri sendiri? Ataukah aku harus menelan mentah-mentah perkataan tentang definisi Tuhan pria berpeci putih itu?’


Aku segera saja memalingkan muka. Pergi kembali ke meja gambar dan menyesaikan sisa kerjaanku yang belum kelar gara-gara ketakutanku akan kemungkinan tagihan listrik kamar kost agar tidak menunggak 2 bulan.


Mujix
Sepertinya Tuhan tengah
tertawa terbahak-bahak melihatku
menulis sumpah serapahku di postingan ini
Solo 11 November 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar