Jumat, 18 November 2011

Pikachu I

Aku agak suka menulis. Okey aku bohong, aku sangat suka menulis. Walaupun awalnya curhat garing gak jelas namun beberapa waktu terakhir ini aku sangat kecanduan menulis (sama kecanduan liat video Mr.Taxi-nya SNSD). Menulis dan komik dua dunia yang cukup dekat denganku, walau kami belum sempat pacaran, komik ataupun menulis menjadi media yang ampuh untuk melampiaskan apapun. Tema komik sudah sering aku jabarkan di setiap postinganku, nah untuk kali ini aku akan bercerita mengenai dunia tulis menulis dari sudut pandang komikus amatir berambut kribo. Bagaimana dedemit bernama mujix bisa terjebak di dunia tulis menulis? Apa sajakah pengaruh secara positif dan negatif menulis dikehidupan mujix? Siapa sajakah yang mengispirasi makhluk kribo itu untuk terjun kedunia tulis menulis? Apakah benar isu Nikita Willy selingkuh sama Dude Herlino? Kita simak yang mau lewat ini. Wush.... (langsung ada cewek cakep berjenggot jarang yang berteriak-teriak labil “kyaa kyaaa kyaaa!!! Mujix!!! Balikin uangku dong!!!”, mujix langsung sembunyi nyamar jadi semak belukar).


Aku tidak ingat kapan aku menulis pertama kali, kurasa dari kecil (sekecil semut:p) aku sudah suka menulis, di pintu rumah nenekku yang berasal dari kayu kurasa masih ada beberapa napak tilas ketololanku saat SD (atau mungkin saat TK, walaupun aku tidak pernah sekolah di TK, pokoknya waktu dimana aku belum sekolah SD dan seusia anak TK namun tidak pernah mengikuti pelajaran di TK yang biasanya diikuti anak-anak sebelum masuk SD yang seusia aku saat itu. Bingung? kayang dulu). kayu berwarna coklat tua itu aku nodai, telah aku perkosa sangat binal dengan kapur putih dengan tulisan “YONA” (yang kemudian orang tua kayu coklat itu tidak terima dan memintaku untuk menikahi kayu coklatnya yang telah hamil 4 bulan).


Bukan, bukan, aku bukan mau menulis “BONA Gajah kecil berbelelai panjang”, ataupun mau menulis “Im Yoona-nya SNSD”, saat itu aku mau menulis namaku. Yup kalan benar, saat itu aku belum bisa membedakan huruf “O” sama “A”. Kata “YONA” dalam kayu tersebut aslinya adalah “YONO”, nama bekenku di kampung. Yah kalian bisa membanyangkan kekacauan yang terjadi ketika kalian salah menempatkan huruf “O” dan huruf “A”. Kala itu akan banyak sekali orang dewasa (terutama guru SD-ku ) yang bingung dan mengeryitkan dahi ketika membaca karanganku (sebagian tidak hanya mengeryitkan dahi namun juga langsung berteriak kesetanan mengucapkan ayat kursi sambil lompat-lompat).


“Suatu hari celana amir bolong dia minta tolong sama bambang untuk di tambal”

Menjadi

“Suotu hori celona amir bolang dio minta tolang sama bombang untuk di tambol”

Guru kelasku cuman nyengir sambil omong,

“yon, ntar dirumah makannya 3 kali sehari ya. Jangan lupa belajar”.



Kurasa itu salah satu kekonyolan terawal dari kehidupan tulis-menulisku. Setelah bersekolah selama 6 tahun di sekolah dasar akhirnya aku memahami fakta yang mengerikan. Huruf “A” itu seperti gunung merapi, huruf “O” itu seperti buah dada. Mengerikan bukan? Ternyata fakta itu aku terima dengan lapang dada dan sadar ketika aku menginjak SMP di pelajaran biologi bab Reproduksi. Semenjak itu aku makin yakin bahwa huruf “O” dan huruf “A” itu sangatlah tidak sama.


Ketika SMP semuanya berubah, permasalahan sekarang tidak hanya sekedar membedakan huruF “A” dan huruf “O”, saat usiaku beranjak ke 14 tahun aku mulai mengenal banyak dimensi tentang dunia tulis menulis. Amboooiiii, ternyata dengan mengunakan tulisan kita bisa merubah dunia, apabila menulis ternyata kita bisa meninggalkan banyak sejarah didunia, dengan merangkai kata-kata ternyata aku bisa membuat puisi galau absurd nan memalukan untuk seseorang.


Ya aku pernah membuat sebuah puisi tolol untuk seseorang teman sekelasku saat SMP, namanya PIKACHU, (tentu saja bukan nama sebenarnya). Dia adalah cewek super, super jenius, peringkat satu di kelas 3D, baik hati, dan tentu saja unyu-unyu banget. Aku memanggilnya pikachu karena dia selalu menggantungkan sebuah boneka kecil berwarna kuning salah satu karakter “POKEMON”. Entah sejak kapan yang pasti aku dan PIKACHU sering jalan bareng saat pulang sekolah. dulu jarak sekolah dengan rumahku cukup jauh, sekitar 3 km. Teman-teman sedesaku biasanya naik angkot dan berjejalan sampai atap hanya untuk segera sampai rumah dengan cepat, sedangkan bocah kriwil labil itu malah memilih jalan kaki sejauh 3 km hanya agar bisa berjalan bersama pikachu sesering mungkin. Kenapa aku rela melakukan hal seperti itu? Tentu saja karena aku cowok romantis. Ciyee ciyeee ihiiiirrrrrrr :D


Adegan tulis menulis ini terjadi ketika kami sudah akan berpisah dari bangku SMP ke SMA, yah saat-saat itu adalah waktu yang sangat emosional bagi kami (khususnya bocah kriwil penggila komik). Awal ujian akhir SMP perasaanku udah bergejolak, dan aku tidak mengetahui apa nama gejala itu. Kalo melihat si Pikachu pengennya nataaaaap melulu, pengennya disampingnyaaaa terus, pengen ngobrol terus, kalo lapar pengen makaaaaaaaaaan terus. Dan tentu saja waktu terus berjalan mendekati hari terakhir sebelum perpisahan dikelas.


Dua malam terakhir sebelum perpisahan tersebut, mujix kecil terdiam di tengah malam. Setelah sholat tahajud dia memandang bintang. Saat itu mujix kecil sangat takut dengan hantu dan sejenisnya, namun perasaan aneh tersebut memaksanya untuk keluar rumah dan menikmati halaman yang senyap. Dia bingung, menghela nafas panjang kemudian menyadarkan tubuh mungilnya ke tiang tak jauh dari pot kecil berwarna abu-abu. Sejenak dia meletakkan tangan kecil itu didadanya, ternyata mujix memang berdebar-debar keras apabila mengingat wajah Pikachu dan kemungkinan saat terakhir mereka. Siapa bilang urusan cinta hanya menyiksa untuk orang dewasa? Untuk dirinya saat itu yang bahkan belum mengenal cinta mujix kecil juga cukup tersiksa. Tersiksa oleh rindu, tentu saja kawan...



Satu hari berlalu tanpa penyelesaian, mujix dan pikachu masih berjalan menempuh rute pulang seperti biasanya. Hanya saja mereka hanya terdiam, berjalan tanpa kata dan mengacuhkan Teman-teman sedesaku di angkot dan berjejalan sampai atap yang meledek kami habis-habisan. Besok adalah hari terakhir bersamanya, apa yang harus aku lakukan Tuhan?

BERSAMBUNG...

Mujix
Akhirnya kesampaian juga
menulis tentang masa SMP
takutnya ilang ditelan waktu
Solo 18 November 2011

4 komentar:

  1. jix salah km...si pikachu itu klas 3C sekelas ama kita...

    BalasHapus
  2. oh iya, lupa kitakan kelas 3c ya? hehehehe

    BalasHapus
  3. kakak mujix. aku ngefans ama kakak lho!

    BalasHapus
  4. hatsuh
    owh mas mujikkk
    aku fans beratmu

    BalasHapus