Sabtu, 17 Desember 2011

Aku, Kamu dan Pagi

Pagi hari di sudut kota tua, aku berjalan pelan berharap dia masih ada sekitar bangunan berwarna kuning pucat tersebut. aku menyembunyikan tubuhku di balik tembok, berharap tidak ada seorangpun yang tahu bahwa aku berada disana. Kurasa keadaan ini sangat mirip dengan James Bond mengintai musuhnya, tentu saja aku James Bond-nya. Dan gadis berkerudung itu target operasiku hari ini (ya.. ya.. kalian gak usah cerewet, aku tahu kalo James Bond di Tipi gak ada yang berambut kribo dan segalau diriku).


Tak lama kemudian terdengar riuh rendah suara anak-anak dari dalam ruangan, yah kurasa mata pelajaran tersebut akan segera berakhir, aku merasa jantungku berpindah ke dengkul karena berdegup kencang, sekencang Suzuki Shogun, heh? Dilarang promosi? Ya.. ya... nanti aku ralat lagi. Aku mengintip perlahan, yup, dia muncul. Sesosok gadis berkerudung merah muda dengan dikelilingi anak-anak kecil yang masih polos, aku merasa dia seperti malaikat yang membimbing para Cupid ke dunia manusia. she is Wonderfull girl today...


Kurasa jaraknya sekitar 8 langkah dari tempatku berdiri sekarang, terlihat dia sangat menikmati menjawab setiap celotehan anak-anak kecil di sekitarnya. Kurasa keceriaan itulah yang mebuatku tergila-gila kepadanya, terkadang dia membetulkan Cardigan warna merah yang kadang kala berantakan di tiup angin. Tersenyum simpul dan sesekali menatap langit cerah di pagi hari itu. Aku, aku bahkan masih berdiri mematung di sudut bangunan dan berharap Doraemon memberikan sekantung pil keberanian agar aku bisa menyapanya.


“ehem, hei... ” aku meyapanya perlahan, sial tidak ada Doraemon dimanapun.

“hei... mujix!! Kapan datang?” dia menoleh dan melihat kearahku dengan sedikit kaget.

“baru aja kok, baru 10 menit yang lalu. Aku ngumpet di belakang”
kataku tersipu

“hihihihi kamu dari dulu gak berubah, suka bikin keget orang” dia tersenyum dan menarik tanganku segera.

“ayo pindah tempat, gak enak sama anak-anak”


Iya, aku terkenal sebagai maniak tukang bikin kaget hadapannya, ada sekantong apel merah nangkring di depan kost lah, mencegat dengan cuek di tengah jalan hanya untuk memberikan sebuah Kaset favoritlah, pergi menentang hujan deras demi sekotak kado ultahlah. Masih banyak ketololan yang mebuat dia makin paham dengan pemikiran acakku.


Dia menggandeng tanganku melewati kerumunan anak-anak berbaju hijau yang tengah bermain, aku melihat berbagai macam kesibukan di sana. Ada beberapa tukang mengecat tembok yang mulai luntur, ada kerumunan ibu-ibu wali murid sibuk membereskan perkakas untuk pesta drama, ada pula pemuda kribo yang bengong gak jelas mau di bawa kemana oleh seorang wanita berkerudung. Saat ini adalah akhir tahun, bisa dibilang banyak kegiatan yang bersifat pertunjukan di Taman Kanak-kanak ini, seseorang yang menggamit tanganku ini adalah seorang wanita luar biasa.


“tahun ini bakal banyak murid baru yang daftar, makanya mereka semua bersibuk ria ”
dia berkata seperti tahu apa yang aku pikirkan.

“yaa acara ini bisa dibilang pesta anak-anak di sini gitu, ada lomba, dan berbagai pertunjukan yang akan di tampilkan lusa malam nanti”

“hmm....” aku berdehem sekilas, kurasa cukup terjawab mengenai kenapa untuk sebuah Taman Kanak-kanak tiba-tiba bisa seramai berubah pasar sayur dadakan.


Kami akhirnya berhenti di sebuah bangku beton berbentuk jamur, lucu juga kursinya. Sebuah tempat yang rindang, kalian bahkan bisa mendengarkan gemerisik suara angin membelai daun.

“yeeeey ini tempat favoritku, oi kamu udah makan? ” dia mengangkat tangannya, aku hanya tersenyum melihat dia seheboh itu.

Aku duduk di kursi berbentuk jamur tersebut, belum sempat kujawab dia malah berlari ke arah seorang anak yang tengah menangis gara-gara terjatuh. Dia kemudian mengambil sebuah permen dari tas kecil di pundaknya, dan ajaib. Tangisan bocah itu berhenti, kurasa bukan hanya sekedar permen yang membuat dia berhenti menangis.

“maafin aku yaaaa, si Bino tadi emang suka gitu, lari kesana kemari kemudian jatuh dimana-mana, untung aja permen sisa tadi malam masih aku simpan hehehe”

“gak papa lagi,aku udah makan kok. emang harusnya gitu kan” kataku sambil tertawa lepas.

Suasana damai yang kurindukan itu terulang kembali, kita hanya berdua di pinggir halaman itu. Memandang berbagai macam polah tingkah anak-anak kecil, kadang kala dia tersenyum penuh misteri ketika aku menceritakan banyak hal, aku suka cara dia menatapku.


“Bulan kemarin aq gak jadi bikin komik lagi, aku galau mendadak. Kau tau apa yang aku lakukan? Aku ngembat Topeng Power Ranggers milik adik temanku dan langsung saja foto-foto labil gak jelas” aku menceritakan kekonyolan-kekonyolan bulan Oktober kemarin. Dia tertawa, bahkan malah balik mengejekku

“yeeeeey kamu tuh udah kribo nakal lagi, trus si adik temanmu gimana? Gak nangis tuh?”







Kita bercerita banyak hal. Cerita yang sangat biasa, namun sesuatu yang biasa apabila kita maknai secara berbahagia, maka hal tersebut menjadi cerita yang sangat luar biasa suatu saat kelak.

“trus kenapa kamu kesini?” dia menatapku lekat-lekat, Waktu seakan berhenti. Sebuah pertanyaan yang membuatku tahu bahwa alasan aku berada disini sangat tidak wajar baginya

“gpp” aku menjawab singkat.

“trus kenapa kamu kesini? Pasti ada alasankan kenapa kamu mengunjungiku pagi ini”

Aku masih diam, kemudian mengacuhkan pertanyaaannya dengan mengganti topik yang lain.
“hei katanya, Adachi Mitsuru membuat komik baru lhooo. Judulnya ‘Q and A’ ”



Dia hanya tersenyum tangannya tiba-tiba menyentuh wajahku. Mengusap perlahan dan menyentuh rambutku.

“kamu berubah ya, makin kurusan” dueng!! Kata-kata yang kubenci setelah kribo adalah kurus.

“kamu gimana sih, emangnya kapan aku gemuk? Emangnya sapii” aku berkata secara spontan.

“ahahahahaha iya yaa, kalo kamu gemuk dunia bakal segera kiamat tuh” dia tertawa terkekeh-kekeh Melihat ku bersungut-sungut.

“trus kenapa kamu kesini?” dia menatapku lekat-lekat, dia mendekatkan wajahnya ke mataku.

“kamu masih mencintai aku ya?” aku kaget, dia tahu apa yang bergemuruh di hati namun tak kuasa untuk dikatakan. Aku tidak menjawab pertanyaan tersebut, aku hanya menghela nafas panjang. Berharap semua ini akan segera berlalu. Dia menurunkan tangannya dari wajahku. Mundur sejenak dengan wajah tertunduk, aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dia rasakan.

“jangan gitu dong jix...” dia sesengukan sambik berkata lirih, dia menatapku sangat lambat. Matanya memerah, berkaca-kaca, dan beberapa bulir air jatuh membasahi pipinya. Aku dan dia sudah hampir satu tahun mengakhiri kisah cinta itu. Ada secuil kisah yang mewarnai cerahnya pagi ini.

“aku hanya ingin bertemu denganmu, aku tahu cinta datang di tempat dan waktu yang tepat. Dan saat ini dan di tempat ini aku ingin bertemu denganmu” kataku sambil memberikan tisu kering yang selalu aku bawa di tas Consina berwarna merah milikku.


“tadi subuh, kemarin sore, dan hari ini. Aku merasa menjadi pecundang, apa yang aku kerjakan dengan sungguh-sungguh semuanya sia-sia, aku menahan perasaanku selama ini hanya untuk memenuhi egoisku yang gak jelas juntrungannya” aku menghempaskan semua keluhanku padanya. Kita bercerita banyak hal. Cerita yang sangat biasa, namun sesuatu yang biasa apabila kita maknai secara berbahagia, maka hal tersebut menjadi cerita yang sangat luar biasa suatu saat kelak. Dia sepertinya juga butuh tempat sampah, mebutuhkan teman untuk berbagi. Seperempat siang sebelum tengah hari tak terasa telah kami habiskan berdua. Hingga akhirnya dia mengantarku ke gerbang sekolah bercat hitam, melepas kepergianku, tentu saja kawan.


“hei, thanks dah mau berbagai hidup denganku” ucapnya dengan suara perlahan, dia tersipu dan mendorongku keluar pagar.

“heh harusnya aku yang berkata seperti itu, kamu ngusir apa ngusir nih”
ucapku sewot. Dia tertawa kecil, iya tawa yang aku rindukan selama satu tahun ini.

“aku pergi yaa... kalo kangen kamu liat semak-semak dipinggir jalan aja. Tempel mukanya Sponsbob ntar mirip ma aku kok” candaku sambil melambaikan tangan ke arahnya.

“iya, kalo kamu kangen aku liat aja fotonya Saskia Mecca, mirip kok” dia membalas gurauanku dengan haru.

Aku hanya tersenyum, kemudian aku berlari agak menjauh dari gerbang, aku berhenti di ujung jalan dan berteriak


“HEIII!!! IYAAAA!!! MAAFIN AKUU!!! AKU MASIH SAYANG MA KAMU!!! SEHAT-SEHAT YAAA!!! SALAM BUAT CALON SUAMIMUU!!!!”



Dia tersenyum, dan mebalikkan badan seraya menghapus air matanya
kemudian berteriak “BODOOOHH!!!!”.

Aku melihat dia pergi dengan sangat dramatis, kamu tahu ketika kamu jatuh cinta maka akan ada hal-hal semacam luka, sedih, putus asa, bahagia dan cita-cita yang ikut bersamanya. Dia menghilang di telan riuh rendahnya anak-anak, lenyap di tengah siang hari yang berisik, pergi bersama angin utara yang berhembus entah kemana.

Aku berkata kepada diriku sendiri “Oke, saatnya berjalan lagi. Hidupku tak akan berakhir disini ”


Mujix
hidup itu hanya persoalan perjumpaan dan perpisahan
kalian percaya?
Somewhere in Indonesia, Desember 2011

4 komentar:

  1. yeyeyeyyye.... kalo disinetronkan pasti ada Revaldo, Zascia Mecca dan Baim kecil, abay,

    BalasHapus