Minggu, 11 Desember 2011

Balada wanita tua

Wanita itu termenung sejenak menatap pagi. Kurasa lebih separuh abad dia melihat pagi yang sama, dia tertawa ketika melihat rambut keritingku berantakan tertiup angin siang tadi. Sebuah siang damai di sudut terpencil desa yang selama ini aku acuhkan. Wanita tua itu tinggal di sebuah rumah bercat putih pucat yang cukup megah. Tak jauh dari sana terdapat bangunan lama terbuat dari bambu usang tergeletak begitu saja. Dia walaupun tua adalah wanita yg hebat. Tinggal sendirian tanpa kawan tak menyurutkan semangatnya untuk sekedar menyambutku dengan peluk cium akrab yg selama ini aku rindukan. Masa lalu kelam mengenai suami yg telah mati di era partai komunis itu tak membuatnya enggan untuk menyambut hari ini. Dia adalah wanita tua yg hebat. Pertemuanku hari ini dengan wanita tua itu kurasa telah terencana sejak dahulu. Tak ada yang tidak disengaja, tertulis dengan sangat rapi.

Ingatanku kembali ke dua hari yang lalu, dimana aku masih berada di jantung kota yang ramai. Aku muak dengan kota tempat dimana aku menuntut ilmu itu. Akhirnya semua masalah, cita-cita, cinta, dan apapun itu telah aku tinggalkan disana. Tuhan telah menegurku untuk segera menemuinya. Segera saja aku pergi meninggalkan kota busuk itu menuju ke sini. Hampir tiga jam aku terømbang-ambing di bis kota lawas berwarna biru, berpindah kendaraan dan kadang kala berhenti sejenak mencaci maki hari itu. Disepanjang perjalanan aku hanya diam menatap kosong di balik jendela. Sawah terhampar hijau, pohon mahoni, langit biru menemaniku saat itu. Di ujung jalan tak jauh dari sungai kecil itu akhirnya aku turun, kuhirup saja aroma angin siang hari jam 2. Aku berjalan pelan, kulayangkan pandanganku ke segala arah, sesekali aku berhenti kemudian diam mendengarkan gemerisik daun- daun yang bercumbu dengan teriknya hari itu. Cukup romantis bagaimana desa itu menyambut kepulanganku.

Aku tidak dapat mengingat kapan wanita tua itu muncul dikehidupanku. Mencongkel memori paling dalampun aku hanya menemukan adegan kecil dan terlihat sangat samar. Sebuah scene sederhana dimana aku terjebak di dalam kegelapan pekat, hanya ada lentera dari kaleng susu kental manis di meja tak jauh dari wanita tua yang sedang menimangku. Sebuah kidung tentang binatang ia nyanyikan perlahan membius malam, remang-remangnya langit dan lirihnya nyanyian itu membuat mujix kecil terdiam melupakan rasa rindunya akan ibu dan bapak. Wanita tua itu akan terus bernyanyi hingga mujix kecil terbuai mimpi, sampai pagipun wanita tua itu tidak perduli.


***

Pagi itu hidup berjalan seperti biasanya, langit esok di sebuah kampung kecil dimasa lalu itu mulai ternodai oleh semburat cahaya kuning dari sang surya. Hawa dingin nan pekat masih menyelimuti tubuh mungilku di depan teras rumah. aku berlari menuju rumah kecil berwarna abu-abu dan mengendap-endap perlahan. Kulihat wanita tua itu masih melumat ketan putih dengan air di dalam mangkok berukuran sedang. Aku mengalihkan pandanganku ke arah meja dapur kuno di belakang tungku tempat wanita tua itu menanak nasi, menjerang air, atau sekedar menghangatkan diri ketika subuh mulai menjelang. Ya, mataku tak dapat lepas dari sebuah benda cair berwarna kecoklatan beraroma sedap di sebuah gelas bening. Ketika dia lengah, aku segera menghambur ketempat benda cair tersebut dan meminumnya setengah. Wanita tua itu sangat pandai menyeduh teh panas, kadang kala diperlukan sedikit kecurangan untuk menikmati seduhan teh miliknya. Segera saja aku mengganti setengah teh yang tersisa itu dengan air panas di termos kecil dan menambahkan secara serabutab beberapa jumput teh dari bungkusnya tersebut, itu caraku mengkamuflase sisa cairan berwarna coklat agar tak di ketahui wanita tua itu. Setelah kurasa berhasil mengecohnya, aku menyodorkan piring lebar ke arah tumbu dimana ketan tersebut masih mengepul hangat. Itu adalah sarapan favoritku sepanjang masa, sepiring ketan dan beberapa potong tempe goreng. Ketan tersebut sebenarnya adalah bahan baku rengginang, makanan sejenis kerupuk yang berasal dari ketan dan perlu di jemur sampai kering. Wanita tua itu membentuk lingkaran-lingkaran kecil dan meletakkannya di sebuah nampan besar dan kemudian membawanya ke luar rumah. mungkin memerlukan waktu seharian untuk membuatnya benar-benar kering. Setelah sepiring ketan telah kutelan habis, aku biasanya menyalaminya dan bergegas berjalan 3 Km ke arah timur. Ya, sekolah SMP ku memang cukup jauh dari tempatku tinggal.
Selama 9 tahun itu, aku dan wanita tua itu sangatlah akrab. Walau sering memarahiku gara-gara lupa mencuci kaos kaki, setidaknya dia selalu menungguku di depan pintu ketika waktu pulang sekolah tiba. Hubungan sangat personal itu harus berakhir ketika aku memutuskan untuk mengambil sekolah di kota Surakarta. Aku ingat ketika suatu subuh awal tahun ajaran baru, aku berbincang sejenak dengan wanita tua itu. Aku berjanji pada dia akan pulang satu minggu sekali, setiap akhir pekan, dan tidak akan melanggarnya, itu sumpahku saat itu. Setelah mengecup pipinya aku berjalan menembus kegelapan dan berjalan cepat mencari kendaraan umum untuk mengantarkanku ke Kota Busuk itu.

***

Hari ini aku bertemu wanita tua itu lagi, perjalanan yang cukup memuakkan itu kurasa telah aku lupakan. Aku segera saja merogoh uang yang terselip di kantong jaket putih lusuhku, dia heran dan menoleh memperhatikan tanganku.

“mbah, iki duit gajianku. Nyooh, mang ge tumbas enjet kalih suruh hehehe” kataku sambil menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah bergambar pasangan presiden idolaku sepanjang masa.

“opo ki yon?”wanita tua itu masih bingung dengan wajah kaget.

“iki gajiku soko nggambar kartun mbah, ngge njenengan”

Wanita tua itu tiba-tiba memelukku dengan penuh haru, sangat erat, kulihat sekilas air matanya menggenang membasahi kulit pipinya yang mulai keriput. Yah cacian tentang hari ini, kemuakanku tentang takdir Tuhan, dan beberapa gelas teh yang aku curi ketika masih kecil semuanya terbayar sudah. Pertemuanku hari ini dengan wanita tua itu kurasa telah terencana sejak dahulu. Tak ada yang tidak disengaja, tertulis dengan sangat rapi.



NB: Enjet dan Suruh adalah bahan baku untuk kinang. Kinang adalah beberapa lembar daun sirih, sejumput kapur, sejumput gambir, sejumput tembakau. Manfaat dari kinang antara lain mencegah kerusakan pada gigi, mencegah pembekakan gusi, mencegah pendarahan geraham, dan menghilangkan bau mulut.

Rengginang adalah sejenis kerupuk yang terbuat dari nasi atau ketan yang dikeringkan lalu digoreng panas (deep-fry). Agak berbeda dari jenis kerupuk lain yang umumnya terbuat dari adonan bahan yang dihaluskan seperti tepung tapioka atau tumbukan biji melinjo, rengginang tidak dihancurkan sehingga bentuk butiran nasi atau ketannya masih tampak. Rengginang dapat digoreng tanpa diberi bumbu maupun rasa, asin atau manis.


Mujix
ini tulisan lama tentang Nenekku yang
baru sempat aku posting sekarang. nenekku
keren sekali yak :D
Solo, 11 Desember 2011

1 komentar: