Jumat, 15 Juni 2012

aku dan balon berwarna hijau


sore tadi aku melihat balon berwarna hijau, dia melayang-layang pelan membelah langit. aku yang biasanya pasti akan segera mengacuhkan balon tersebut dan segera berlalu untuk melanjutkan aktivitasku, namun tidak untuk sore tadi. aku menghentikan kehidupanku sejenak, melihat benda berwarna bulat dengan benang itu meliuk-liuk lemah mengikuti angin dan terus saja menuju keatas. angin memang bertiup cukup kencang, sesekali jaketku berkibar, dan tak jarang bersama angin yang bertiup itu akan ada selusinan debu bersemayam diantaranya. menyebalkan memang.

seketika aku berpikir, siapakah pemilik balon itu? jangan-jangan saat aku sedang bengong melihat benda tersebut ada seorang anak TK sedang menangis mencarinya, atau mungkin balon itu pemilik abang-abang penjualbalon kelilingyang tengah pusing memikirkan tunggakan kontrakan yang belum lunas. andaikata mau sedikit romatis, balon tersebut adalah tempat surat cinta milik seorang pemuda yang tengah di mabuk asmara. ah entahlah...

kalian tahu, walau terombang-ambing oleh angin balon itu terus saja melayang menuju keatas. angin dan debu hanya merubah arah dan membuatnya makin sulit di tebak kemana balon itu akan berjalan (atau terbang soalnya balon itu gak mempunyai kaki). okey, cerita kulanjutkan. suatu ketika balon itu tersangkut di sebuah palang besi di sebuah gedung berlantai empat, yah, tersangkut dan dalam keadaan terombang-ambing seperti itu membuatku sedikit berpikir tentang banyak hal. balon, dan tali tersebut hanya bisa bergerak senti demi senti, inci demi inci. cukup lama balon itu bergerak dalam pola yang statis, kurasa balon itu akan terus berada di titik itu untuk selamanya. namun aku salah, sejenak kemudian balon itu tiba-tiba bergerak liar. ya, angin besar datang lagi, angin yang menandakan akan ada hujan menyiksa sang bumi.

saat itu, balon berwarna biru itu bukanhanya bergerak senti demi senti, dia bahkan berpindah tempat secara ekstrem, dan tiba-tiba, pats, tali berwarna coklat itu terlepas sejenak. terlepas, dan balon itu segera saja membumbung tinggi meninggalkan tatapan mataku yang sedikit takjub. benda itu menghilang, semakin kecil, dan kurasa dia melanjutkan petualangannya di atas sana. aku hanya terdiam saja melihat persitiwa tersebut, sangat remeh, dan kurasa bagi dunia yang super sibuk itu, persoalan balon tersangkut dan terbawa angin bukanlah sesuatu hal yang penting.

namun, lagi-lagi insting kepekaanku untuk belajar dari kehidupan sekitar bangkit lagi, aku segera saja menganalogikan balon itu dengan mahkluk tuhan yang bernama manusia.

bukankah kita semua mirip balon itu? kita hidup terus menuju 'keatas', sesegera mungkin, dan kadangkala sesekali kita akan tersangkut di beberapa cabang pohon, atau mungkin yang paling ekstrim kita akan tersambar petir. ketika mengalami beberapa hal yang bersifat 'tersangkut' dan menunggu untuk terlepas, maka akan ada angin besar yang akan menerpamu hingga kau terjungkal dan berpindah situasi yang sangat berbeda. tentu saja, kita akan kembali kebawah, kembali ke atas tanah. semoga saja sebelum kita menjadi 'balon kempes' kita telah memberikan banyak keceriaan untuk pemilik balon, atau setidaknya memberikan ilmu seperti aku yang melihat balon tersebut.


mujix
ada mbak-mbak jualan balon
yang mukanya mirip anissa ceribel gak sih?
kalo ada aku mau pesen satu. gak pake saos ya :)
12 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar