Senin, 18 Juni 2012

All Iz Well!!

Manusia terlahir tanpa tahu untuk apa dia terlahir, tiba-tiba dia hidup di dunia yang serba pragmatis. Tiba-tiba dia dihadapkan dengan dunia yang hingar bingar akan keinginan manusia. 

Apakah kalian dapat mengingat fase-fase sebelum kalian berusia 2 atau 3 tahun. Kurasa cukup sulit. Sama sulitnya ketika kalian mencoba memahami dunia nyata. Tak dapat di punkiri, aku pun termasuk manusia yang mengalami fase dimana manusia terlahir tanpa tahu untuk apa dia terlahir. Cukup lama. Setidaknya hingga aku menulis tulisan ini, aku masih sering merevisi berbagai hal yang ada di dalam hidupku. Nafasku masih tergesa-gesa mencoba menenangkan alam semesta yang bergolak lepas kendali. Pintu itu aku banting tanpa sengaja, seakan menandakan emosi yang tak tertahan dan terluap dengan paksa. Kalian tahu? Kadang kala aku ketakutan dengan diriku sendiri. Sepertinya kutipan Sang Nabi tentang “Musuh terbesar” adalah diri sendiri benar-benar nyata beberapa hari ini.


“musuh terbesar” itu kadang kala berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Sesekali “Musuh terbesar”  itu berwujud kebisingan di malam hari, mereka mengacaukan harimu dengan menghilangkan ‘Flash dish’, ‘dompet’, atau semacam ‘seseorang yang mengacuhkanmu ’ hingga membuatmu muak untuk menulis sebuah postingan seperti ini. Dilain waktu “Musuh terbesar” akan menarik tubuhmu dengan tentakelnya yang berwarna hitam legam, namun penuh dengan cairan lender berwarna merah pekat, oh iya jangan lupakan dengan raungan negative semacam ‘dasar pecundang’, ‘brengsek’, dan kata-kata umpatan lainnya. Kalian tahu? Ketika tentakel tersebut berhasil menyeretmu kesebuah tempat yang gelap, maka tidak ada yang bisa menolong lagi kecuali “Kawan terbesar”-mu yang lain bernama diri sendiri. Bisa di bilang, hidup kita hari ini adalah pertentangan antara “Musuh terbesar” dengan “Kawan terbesar”.


Emosi dan perasaan tersiksa muncul karena ada keinginan yang tidak terpenuhi, kata-kata ini terngiang-ngiang semenjak aku mencoba belajar tentang Zen dan Budhisme (jangan tanya seberapa dalam ya). Asal mula penderitaan juga terpaparkan dengan jelas di berbagai kitab suci. Berbagai macam latar belakang, sebab, asal, komposisi, akibat, dan bla-bla-bla lainnya yang berkaitan dengan kesengsaraan manusia, pasti tak akan terlalu jauh dengan keinginan akan dunia. Semua agama mengamini itu.


“Musuh terbesar” dengan “Kawan terbesar” adalah sebuah mata logam yang berlainan, seperti siang dan malam, dosa dan pahala, yin dan yang, bla bla bla. Di dalam ajaran islam, ketika kalian merasa marah akibat pergolakan batin antara “Musuh terbesar” dengan “Kawan terbesar”, segeralah berwudlu. Ajahn Bram dalam bukunya ‘si Cacing dan Kotoran Kesayangannya’ menyarankan untuk hening dan bermeditasi. Bukan untuk mencari solusi antara “Musuh terbesar” dengan “Kawan terbesar”, namun lebih ke sebuah tindakan agar kita bisa mendamaikan mereka dalam satu benda yang bernama jiwa manusia.

Mujix
all iz well!!
terimakasih untuk semua hal yang telah terjadi
dan aku siap untuk semua hal yang akan terjadi
Solo,18 Juni 2012





Tidak ada komentar:

Posting Komentar