Senin, 19 November 2012

Tamu


“Hey!! Udah sarapan belum? Aku punya warung langganan baru yang akan membuatmu bersemangat hari ini” dia menunjukkan wajahnya di depan pintu. Terseyum, kemudian berdiri di depanku.

Okey, aku gak ngelindur, akan kupastikan. Kutusuk mukaku pake garpu. Yak, dan ternyata sakit. Berarti aku tidak bermimpi. Pagi ini mendung, berawan, dan segera akan turun hujan, namun kedatangannya yang tiba-tiba pagi ini membuatku tahu, betapa acuhnya aku terhadap hal-hal sepele semacam ‘pagi ini mendung’, ‘berawan’ ataupun sesuatu yang sering di sebut ‘segera akan turun hujan’.

Kalian masih belum tahu siapa dia? Iya sesosok manusia yang kusebut ‘dia’ itu telah membuatku jungkir balik selama 3 tahun ini. Cukup lama? Tentu saja cukup lama jika 3 tahun itu hanya kau gunakan untuk bengong kayak sapi ompong, meratapi masa lalu sambil joged ‘oppa gangnam style’, atau memacari banyak wanita hanya untuk menenangkan diri dari sesosok manusia yang kusebut ‘dia’.

Pagi ini dia berada di depan pintu kostku. Tersenyum, dan memandang mataku dengan penuh harap. Okey, kurasa aku benar-benar bermimpi. Kutampar mukaku pake sedotan. Yak, dan ternyata tidak sakit sodara-sodara. Kembali ke skenario semula. 5 menit yang lalu aku tersadar, ada 10 pesan masuk, dan 12 kali panggilan tak terjawab. Itu artinya dia berada di depan pintu kostku selama hampir 10 menit. Dan 10 menit itu dia sia-siakan hanya untuk menunggu makhluk primitive bernama mujix bangun dari tidurnya.

“Hey... Sorry tadi malam lembur, ada job komik dari dinas yang deadlinenya bikin gila nyampe pengen ber Henshin menjadi kamen rider kataku sambil melangkah keluar kost.

“Kamu gak menyuruhku masuk kedalam?” Dia menunjuk kearah kamarku.

“Jangan deh. Kasihan kamu malah. Kemarin abis ada orang utan lepas dan lari-larian di kost ini, kata si agung, orang utan itu ngumpet di lemari bajuku. Kan kasihan kamu.” Aku menakut-nakutinya sambil berpose seperti orang utan kena penyakit rabies.

Nguk!! Nguk!! Nguk!!!
Dia bengong.

“Ahahahaha bohongmu garing banget sih?
Kami terdiam untuk beberapa saat, sangat lengang. Dia adalah cinta matiku selama ini, aku pernah menganggapnya ‘tuhan kedua’ setelah tuhanku. Dia adalah sesosok wanita yang bisa menyebrangi alam semesta dan membuatnya penuh dengan pelangi.

“Aku minta maaf”
Akhirnya kata-kata itu meluncur dari mulutku. Matanya memandangku penuh dengan tanda tanya. Sepertinya kisah ini memang belum berakhir hingga hari ini.

“Minta maaf untuk apa?” Dia balik bertanya sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin.

“Aku minta maaf, karena mukaku masih ngantuk dan belum mandi”
Dia melotot. Dengan muka memerah dia mencubit lenganku.

“Aah!! Gak penting banget sih, sana gih mandi dulu!!”
Aku tertawa lepas melihatnya kesal.

“Gak adil kalo hanya aku yang berantakan. Rasakan ini!! Hiat!!!” Aku mengacak-acak rambutnya dengan liar, dia meraung-raung, sesekali mecubitku, kemudian mendorongku, kemudian kita tertawa bersama-sama. Pagi ini benar-benar menyenangkan. Okey, aku gak ngelindur, akan kupastikan. Kubenturkan mukaku ke tembok. Yak, dan ternyata sakit. Berarti aku tidak bermimpi.

“Hey, gimana? Udah sarapan belum? Yuk ke warung langgananku yang baru”
Aku terdiam sejenak, aku tahu dia adalah cinta matiku selama ini dan aku pernah menganggapnya ‘Tuhan kedua’ setelah Tuhanku. Namun semenjak dia memutuskan untuk menikah, aku bertekad untuk tidak bermimpi lagi. Setidaknya mulai hari ini.

“Maaf, aku udah sarapan. Tadi malam aku mendapat oleh-oleh pisang dari kawanan orang utan yang menumpang di lemari bajuku” ini adalah kebohonganku yang kedua hari ini. Bohong banget. Dan garingnya minta ampun.

“Kamu kalo bohong gak pernah lucu ya”

“Sory ye, sejak kapan aku jadi orang lucu. Aku kan orang yang sangat serius” kataku sambil mendenguskan nafas dan memandang ke langit.

‘Sangat serius’ adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kegilaanku padanya. Kurasa bukan hanya ‘sangat serius’, sudah sampai tahap galau akut yang setiap waktu bisa membuatmu kejang-kejang gara-gara kangen mendadak.

“Hahahaha iya, serius kalo sedang pingsan” dia tergelak penuh tawa
Mending pingsan dari pada galau akut terus kejang-kejang gara-gara kangen, pikirku.

“Iya deh, kalo kamu udah sarapan pisang. Aku gak maksa kok.”
Dunia ini mendadak bergerak perlahan kembali, tak ada senyap atau lengang yang sedari tadi menguasai. Kehidupan sepertinya hanya berlalu sekejap.

“Duluan ya, sampai ketemu di tempat kerja”
dia beranjak dari pintu kostku, melangkah kemudian menghapus air matanya yang mengalir perlahan. Aku sudah bilang kalau dia menyebrangi alam semesta dan membuatnya penuh dengan pelangi? Dan dia melakukannya lagi pagi ini.

Dia benar-benar pergi. Dia meninggalkan sepotong pelangi untuk diriku pagi ini. Kucubit pipiku. Yak, dan ternyata sakit. Berarti aku tidak bermimpi. Semuanya memang bukan mimpi.


Mujix
I need a Miracle now
Solo, November 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar