Minggu, 23 Desember 2012

Rainy Day Conversation


“ Dear, kamu beneran gak mau payungan ma aku?”

“Enggak”

“Kenapa? Hujannya lumayan deres juga lho”

“Gak papa”

“Kok gitu?”

“gitu gimana sih sayang?”

“iya itu, ngapain hujan-hujanan. Ntar sakit, banyak yang repot lho…”

“Gak papa, paling yang repot juga kamu”

“yeee… aku sih gak bakal mau direpotin. Sini cepet, payungan ma aku”

“ah…”

“yee.. Malah ngejauh gitu. Marah ya ma aku?”

“kok nyampe suku kata  ‘marah’ sih? ”

“trus, ngapain kalo kamu gak marah tapi ngejauh dan gak mau jalan bareng ma aku”

“…………………”

“ jangan diam dong, dear”

“aku ingin merasakan hujan”

“heh? Hujan ?”

“iya, hujan. ”

“emang kenapa dengan hujan?”

“kenapa ya? Bingung ngomongnya.”

“heh? Bingung? Kayak jawab soal ujian aja bingung”

“hmm intinya sih, ketika hujan itu jatuh di kulitku, aku merasa benar-benar hidup, ada ritme dari semesta, 
aduh.. Gimana ya ngejelasinnya”

“terus?”

“terus apanya? Soal hujannya?”

“iya iyalah, masa soal ujian mati-matika”

“hm…….”

“hm?”

“ada hidup yang terlimpahkan dari Semesta untuk manusia melalui hujan”

“bingung… jangan sok rumit gitu, dear”

“ada yang lebih rumit lagi, kamu mau tahu, sayang?”

“apa?”

“sebentar lagi kamu akan tahu”

“kok gitu?”

clue-nya adalah hujan di tengah matahari yang bersinar terik ini”

“hihihihihihi”

“kok ketawa, sayang?”

“enggak.”

“kok enggak. Itu tadi abis ngetawain aku ya?”

“enggak kok, suwer. Terus-terus, clue selanjutnya apa?”

the second clue you can find there, my dear

“owh…. Pelangi? Dear, itu pelangi kan? Kok aku bisa gak liat ya?”

“kamu sih, terlalu banyak sibuk ngurusin soal ‘payungan’ dan ‘Ntar sakit’”

“waaaah… walau cuman sepotong, udah hampir beberapa tahun aku gak liat pelangi”

“sama, aku juga gitu sayang”

“……………………………..”

“……………………………..”

“sayang, kok diem?”

“……………………………..”

“……………………………..”

“ hei? Kok nangis, sayang?”

“enggak kok dear, siapa yang nangis”

“mana tanganmu, hari ini aku sedang malas berbagi payung, tapi jika hanya untuk menggenggam tanganmu 
agar kamu bahagia, aku masih bisa”

“hihihihi, ngaco”

“sayang?”

“hmm? Beberapa hari yang lalu aku kepikiran soal pelangi”

“kepikiran? Ah, pasti gara-gara bab 4 komikmu yang sedang di kerjain itu ya”

“iya, bab 4 yang berjudul ‘somewhere over the rainbow’. Di depan compie, merasa semuanya sangat payah. 
Dan tiba-tiba berharap bisa melihat pelangi, sekejap saja ”

“dan akhirnya harapan itu terwujud sore ini?”

“iya”

“hihihihihihi, seperti biasa. Sok mellow. Keinget mantan ya?”

“iya, ah, belum mantan juga sih”

“kamu gak khawatir aku marah, dear”

“ngapain marah, aku kan udah mengerti kamu, sayang”

“ hihihihi”

“sayang? Menurut kamu, pelangi itu kelihatan gak dari Serang?”

“dari Serang? Serang yang ibukota Jawa Tengah itu?”

“ARRGH!!!  Itu Semarang tau, gimana sih?”

“Ahahahaaha, bercanda dear, jauh amat”

“gak kelihatan ya?”

“iyalah, jauh lho Serang, jaraknya bermil-mil dari sini”

“iya juga ya”

“kenapa dear?”

“tiba-tiba aja keinget seseorang yang ‘belum mantan’ itu”

“trus?”

“menurut kamu, apakah ini semua memang yang terbaik buat aku, dia, kita, dan alam semesta?”

“hm…..”

“yah… kadangkala aku benar-benar gak tau harus berbuat apa, usia kita sudah tidak muda lagi, sayang.

Pilihanku dimasa lalu kadang membuatku muak dan bimbang.”

“errrr kamu sedang Mind block, dear?”

“I don’t Think so. But today is very hard and stuck”

“kurasa semua hal ini memang harus seperti ini, bukankan hidup itu mengalir seperti hujan, my dear?

“ya”

“tadi kamu juga bilang bahwa ‘ada hidup yang terlimpahkan dari Semesta untuk manusia melalui 
hujan’bukan?”

“yup”

“kurasa walau dia gak bisa ngeliat pelangi itu, dia akan melihat pelangi yang lain dari dirimu ketika kau 
menepati janji yang telah kau ucapkan, dear”

“misalnya?”

“lemontea, bukan komik cinta”

“uhahahaha”

“kenapa ketawa?”

“mukamu lucu saat bilang ‘komik cinta’ sambil menirukan penari balet”

“aaaahhh kamu jahat, dear”

“khukhukhukhu….”

“jahaaaaat!!!!”

“iya deh aku gak ketawa lagi…hihihi”

“lha itu….?”

“ini namanya bukan ‘ketawa’ ini namanya ‘meringis’”

“Huh… ya udah deh, aku juga ingin merasakan ‘ritme dari semesta’ bersama kamu”

“heeeee? ”

“kok ‘heeee’? Okeh, nih payungnya kamu aja yang bawa, kita hujan-hujanan bareng”

“oke sayang, habis ini kita mampir ke‘ wedang ronde’ di depan sriwedari yuk”

“siap!! My dear”

“uoooohhhh berangkat!!!!”

“yaaah?! Kok ninggalin aku sih?!”

“yang nyampe duluan di tempat ronde dia yang wajib ditraktir”

“aaaah…. Tungguiiiin, kamu nakaal”

“hihihihihihi…..”



Mujix
di ujung pelangi itu
ada kisah cinta kita yang belum
terbaca oleh semesta
Solo, 23 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar