Selasa, 31 Desember 2013

Gulai Daging

Suasana stasiun kereta hari ini sangat penuh, padahal waktu telah menunjukkan  jam 9 malam. detail mengenai 'waktu' itu bisa kuketahui secara pasti karena ada jam dinding bundar berwarna putih yang tertempel di tembok tak jauh dari loket penjualan tiket.  Suasana jam 9 malam ini rasanya terlalu aneh, karena langit masih sangat terang benderang. Kurasa hal tersebut  disebabkan oleh terlalu banyaknya lampu kota yang memantul dan akhirnya membiaskan cahaya tersebut di langit. Terserahlah, bukan sesuatu yang menarik untuk dibahas lebih mendetail..

Aku berjalan menyusuri peron stasiun. Sesekali aku melompati garis-garis tajam berwarna orange di samping rel. Menurut mitos para masinis, garis orange itu bisa terlihat dari ketinggian tertentu dan sudah ditampilkan dalam peta rel kereta api seluruh dunia. Keren ya.  Tak jauh dari garis-garis orange itu terdapat kursi berwarna hitam legam. Segera saja aku berjalan kearah kursi itu dan memutuskan untuk istirahat. Aku merasa hari ini adalah hari yang melelahkan.

Beberapa jam sebelumnya aku berada di kota sebelah. Panitia sebuah festival senirupa bergengsi mengundangku sebagai peserta dan sangat diharapkan untuk bisa hadir dalam serangkaian acaranya. Aku masih ingat bagaimana kagetnya wajah teman-temanku saat aku menghadiri acara tersebut. Mereka bahkan sampai berkata dengan ketus tentang aku yang akan sangat merepotkan apabila tidak datang menggunakan kereta. Saat ini aku memang makhluk paling merepotkan sedunia. Aku maklum. Alasanku pergi ke kota sebelah menggunakan keretapun juga untuk menepis pernyataan ‘merepotkan’ tersebut. aku bisa mengurusi hidupku sendiri kali ini, hal itu aku buktikan dengan pergi ke kota sebelah dengan menggunakan kereta. perkataan kalian yang ketus tentang 'aku yang akan sangat merepotkan' itu aku patahkan hari ini.

Dari tempat ini aku bisa memandang datang dan perginya kereta. Di salah satu kereta aku bahkan bisa melihat aktivitas penumpang, dikarenakan pintu dan jendelanya rusak. Di kereta yang lain para penumpang bergerombol di pintu masuk perpindahan antar gerbong. Manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial. Manusia sudah memiliki kodrat untuk selalu berkerumun dan bergerombol. Mereka terus berkerumun dan bergerombol untuk memaksakan hal-hal yang bersifat pribadi agar bisa menjadi manusia idealis. Tentu saja idealis menurut persepsi mereka sendiri. Kacau.

Manusia-manusia yang berkerumun di gerbong kereta itu mengingatkanku dengan hidupku yang juga berkerumun namun belum tertata rapi. Setidaknya tak tarlalu rapi seperti kursi umum di stasiun. Kursi berwarna hitam legam ini kurasa telah menjadi pemberhentian ratusan atau ribuan penumpang. Aku bisa memastikannya dari cat di pegangan tangannya yang mulai hilang dan berubah tekstur menjadi sangat halus. Terlalu halus dan membuatku terlena dan tidak memperhatikan sesosok bapak paruh baya yang telah duduk di sampingku.

Bapak itu menyapaku dengan ramah, mengingatkanku dengan karakter kakak keponakan yang tinggal di desa. Bapak itu mengenakan jaket hitam yang tebal. Dia terus mengendong tas rangsel besar di pangkuannya. Di tangan kirinya dia menggenggam tas plastik hitam dengan sedikit noda-noda kecoklatan seperti kuah gulai ayam.

Kami akhirnya terlibat di sebuah obrolan kecil. Bapak-bapak paruh baya itu bercerita tentang temannya yang tiba-tiba menjadi menghilang setelah menyantap gulai daging yang mereka temukan di sebuah bis.  Aku kaget, bagaimana mungkin dengan menyantap gulai daging seseorang bisa menjadi menghilang.

Cerita tersebut katanya dimulai pada suatu malam di terminal di ibukota. Bapak tersebut dan kawannya memiliki rencana untuk pulang kampung lebih awal. Rencana dadakan itu ternyata tidak berpihak dengan jadwal keberangkatan bis. Malangnya jadwal bis untuk mereka sudah habis. Sudah terlalu larut untuk menunggu bis yang lain beroperasi. Mereka akhirnya memutuskan pergi ke perbatasan kota untuk mencari bis yang lain. Tiga jam mereka menunggu bis dan tak ada yang datang. Mereka terus menunggu beberapa menit hingga mereka melihat dua lampu bersinar di kejauhan. Mereka segera menaiki bis tersebut tanpa memperhatikan keanehannya.

Bapak paruh baya itu menghentikan ceritanya sejenak. Dia menyulut rokok kreteknya dengan gemetar dan memandangku dengan tatapan ketakutan.

“Cerita seramnya baru dimulai sekarang Mas.” ujarnya dengan sedikit bergidik.

Bapak itu mulai berkisah kembali tentang kedatangan bis yang mereka tunggu. Bis itu menurutnya sangat aneh. Bapak itu sebenarnya sudah memiliki firasat buruk namun firasat itu ditepisnya dengan alasan untuk segera pulang ke kampung.

“Kami menemukan sebungkus gulai daging di dalam plastik htam dicantolkan dekat jendela.” Bapak itu berkata dengan lirih.

“Gulai ayam?!” kataku dengan wajah kaget.

“Gulai daging. Gak tahu gulai ayam atau gulai sapi.” bapak itu mendelik sewot. Sepertinya dia tidak suka ceritanya dipotong. Aku hanya tertawa kecil dan kembali mendengarkan kisahnya.

Perut mereka yang kelaparan sepertinya tergoda dengan ditemukannya gulai daging tersebut. Bapak tua itu bimbang. Makanan yang tidak diketahui asal usulnya tidak layak untuk dimakan. Apalagi untuk sebuah gulai daging di tengah malam dalam sebuah perjalanan panjang menuju kampung halaman. Bapak tua itu akhirnya memutuskan untuk menahan lapar sampai esok hari, atau setidaknya menunggu tukang asongan lewat.

Namun tidak dengan kawannya. Gulai daging itu rezeki. Dan rezeki itu tidak boleh ditolak.

Semenjak temannya memakan gulai itu berbagai keanehan terjadi. Dia mulai meracau tidak jelas mengenai banyak hal. Sesekali temannya itu mulai tertawa tanpa alasan.

“Mas, kawanku itu tiba-tiba saja bilang gini, kenapa kita harus beribadah kalau hanya untuk mendapatkan surga atau sekedar ingin memperoleh sesuatu yang kita inginkan?”  Kata bapak itu memeluk tas rangselnya semakin erat.

“Kawanku bilang bahwa gulai yang dia makan sebenarnya daging dari potongan tubuh dari Pangeran Diponegoro, dan dia merasa semua arwah dan leluhur Pangeran Diponegoro merasuk di tubuhnya.” Suasana hening sejenak.

Cerita ini semakin tidak masuk akal.

Bapak itu melanjutkan ceritanya tentang kejadian yang makin buruk dengan ulah temannya yang  tiba-tiba berjalan kesetanan menuju kursi sopir. Plastik hitam dengan sisa gulai itu dimuntahkannya ke muka sang sopir dan mengakibatkan bis berwarna hitam itu oleng ke pinggir jalan dan menubruk pohon besar. Terdengar benturan keras. Semuanya berteriak. Tak terlihat apapun.

“Semuanya berwarna putih mas, aku pingsan. Tersadar di rumah sakit dengan luka-luka ringan”. Bapak itu katanya ditemukan oleh penduduk setempat tergantung disalah satu dahan pohon. Para penduduk setempat dan para dokter di rumah sakit itu kaget tetika dia menanyakan perihal tentang temannya dan bis yang kecelakaan.

“Mas-mas dirumah sakit itu bilang, tak ada kecelakaan bis di tempat aku ditemukan” aku diam dan mendengarkan ceritanya dengan perasaan aneh. Bapak itu berkata bahwa tempat dia ditemukan merupakan pohon beringin yang dikeramatkan oleh penduduk setempat.

“Aku tidak perduli tentang pohon beringin yang dikeramatkan, yang aku pedulikan itu temanku Mas, temanku tiba-tiba hilang dan hanya meninggalkan plastik hitam ini ” ucap bapak itu sambil memperlihatkan tas plastik hitam yang terus dia genggam sejak kemarin malam. Perlahan air mata kesedihan bapak itu mulai mengalir. Aku bergegas memberinya teh hangat dan menenangkannya.

Siapapun akan menjadi sangat paranoid ketika mengalami hal tersebut. Bapak itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Dia sepertinya memilih pulang menggunakan kereta. Kami berpisah setelah kereta yang aku tunggu datang. Di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan cerita absurd tersebut. Ternyata ada juga yang orang-orang yang mengalami kejadian misterius. 

Gulai daging itu rezeki, dan rezeki itu tidak boleh ditolak. Rezeki itu berasal dari Tuhan. Kesialan juga berasal dari Tuhan. Karena sama-sama dari Tuhan, rezeki dan kesialan itu tidak boleh ditolak.

Mujix 
tadi malam terlalu banyak mimpi yang aneh,
sepertinya harus segera beli jurnal deh.
Simo, 31 Desember 2013

Senin, 30 Desember 2013

Epic

Selamat pagi. Aku udah terdampar lagi di penghujung tahun yang awesome.  Sekarang tanggal 26 Desember 2013, sehari setelah hari natal dan beberapa hari lagi menuju tahun 2014. Oh iya selamat merayakan hari natal buat semua yang merayakannya. Aku fans beratnya Nabi Isa AS, pokoknya doi awesome banget.  Pagi ini kurasa pagi terkeren selama bulan Desember. Perlu kalian tahu, sejak dua mingguan yang lalu pagi hari isinya cuman mendung semua. Gak ada sunrise, adanya cuman mendung, mendung, mendung, dan mendung. Kalo gak mendung pasti hujan. Manusia-manusia di sekitarku ternyata payah. Kalau hujan dan mendung mengeluhkan dingin, dan aku inget beberapa bulan yang lalu, kalau cuaca panas dan terang benderang mereka mengeluhkan gerah. Rasah urip ae mas. 

Desember ini aku cukup sukses dalam belajar berpikiran positif. Berpikiran positif itu baik untuk tubuh dan mental, kalian coba deh. Kalo udah kecanduan, hidup tuh rasanya senaaaaang terus. Kerennya lagi aku bertemu dengan orang-orang yang membuatku tercerahkan. Kejadian-kejadian yang membukakan wawasanku tentang Tuhan.

Aku saat ini sedang membaca banyak buku. Salah satu buku favoritku bulan ini adalah bukunya Karen Amstrong, bukunya tebel banget. Buat ngelempar maling kayaknya juga bisa bikin pingsan. Kalo dilempar di selangkangan mungkin bisa menyebabkan impoten. Buku itu berjudul Masa Depan Tuhan. Profokativ banget. Pada awal bab buku ini menceritakan tentang tradisi melukis dinding gua dari suku lama, aku lupa nama sukunya. Dalam lukisan dinding itu terdapat ritual perburuan hewan yang bersinggungan dengan dewa-dewa. Satu persatu tradisi manusia dalam menerjemahkan Tuhan dijabarkan dengan sangat epic didalam buku ini. pembaca dituntun untuk berpetualang mengenal para Tuhan manusia dari satu bangsa ke bangsa yang lain dari satu benua ke benua yang lain dengan melintasi berbagai waktu. Kisah tentang Buddha, fenomena euforia disalibnya Nabi Isa, ditentangnya teori Coppernicus oleh pihak gereja, konsep Yudaisme hingga kisah terkumpulnya Al quran menjadi cerita-cerita bak dongeng yang menarik untuk disimak. Iya. Persepsi dan berbagai cara manusia mengenal Tuhan telah berjalan selama itu. Ah... buku yang keren, masih ada 200 halaman lagi yang harus aku baca.


Selain membaca buku aktivitas lainnya yang perlu diperhatikan adalah lemontea bab 5.  Storyboard buat bab ini aku gambar ulang semua. Satu persatu. Setelah teracuhkan gara-gara berbagai kesibukan akhirnya mulai minggu ini aku kerjakan lagi. Perubahannya sangat drastis, setidaknya adegan galaunya sudah aku kurangi dan aku ganti dengan masa lalu bocah tengil. Dark banget. Ada adegan Si Bocah Tengil nyaris tertabrak truk.  Di awal bab aku membuat prekual komik ‘Viva La Vida’, jadi ceritanya Pak Kipli dan Mbak Yani muak menjadi tokoh figuran di komik Lemontea. Mereka ngambek dan bertekad bikin duet maut untuk komik mereka sendiri. Komik duet maut mereka bisa dibaca sebentar lagi, beneran, kayanya sudah dicetak sama penerbitnya. Tapi gak tahu kapan nyampe toko buku. Di akhir bab ini aku memotong beberapa adegan dari Storyboard yang lama. 

Adegan munculnya Super Popok menjadi adegan klimaks akhir chapter ini. Super Popok siapa? Itu tuh karakter fiktif yang muncul di dunianya Bung Kribo. Super Popok muncul pertama kali di Bab 4 awal, cuman sekilas, dan kayaknya gak penting. Tapi jangan salah. Hehehe. Kurasa Popok yang sebenarnya bakal terbahak-bahak kalau membaca adegan Si Super Popok di komik lemon tea bab ini. eniwei Beberapa hari ini aku juga dipusingkan dengan cara untuk mengelola waktu. Kampret banget. Harus lebih tegas dan disiplin. 

Kabar yang lain Angga Tantama mau menikah akhir tahun ini. selamat yah. Soryy, aku sedang malas nulis. Tapi kalau udah komitmen buat nulis emang harus dipaksakan sih. Yah, kurasa segitu dulu. Selamat liburan akhir tahun. Tahun depan harus lebih sukses, bahagia, dan bisa belajar banyak hal lagi. 

Mujix
nulisnya kapan, nguploadnya kapan.
bodo teuing euy.
Simo, 30 Desember 2013

Minggu, 22 Desember 2013

Sepakbola

Halo, apa kabar buat para stalker maupun buat yang iseng-iseng gak sengaja main ke blog ini. ehem, kabarku sedang gawat, Keadaanku sama kritisnya dengan Tim Yamagata di komik Giant Killing Volume 20. Komik Jepang bertema Sport karya penulis Masaya Tsunamoto dan penggambar Tsujitomo ini telah menjadi pemenang Kodansha Manga Award ke 34,  dan telah memenangkan hatiku sebagai komik jepang bertema sepakbola paling favorit (setelah Lost Man). Di volume 20 ini, Masaya Tsunamoto dan Tsujitomo mengangkat cerita pertandingan Tim Yamagata melawan Tim East Tokyo United yang sangat sengit. Pertarungan tim sepak bola di Liga Jepang ini  mempertaruhkan stamina dan pikiran. Permainan adu otot dan otak bertebaran menghiasi banyak panel di berbagai halaman. Komik ini memang benar-benar untuk cowok dan maniak bola.

Ah… Cowok memang identik dengan sepakbola, bukan? Bahkan dulu sempat ada idiom seseorang cowok yang gak suka sepakbola bukanlah anak cowok, Yang terkena imbas dari idiom laknat itu adalah aku. Di jaman SD saat teman-teman bermain playstation Winning Eleven, aku malah sibuk bermain game Dragonball GT. Saat SMP  aku juga hanya ditempatkan sebagai pemain cadangan jika jam olahraga dan materinya sepakbola. Kalo gak cadangan biasanya ikutan bola kasti sama anak-anak cewek. Ah, benar-benar masa yang indah.  Aku memang gak pernah bisa suka bola.  Kecuali bola matanya Melody JKT 48. Eaaa. Keadaanku minggu-minggu ini memang sangat sibuk seperti pertandingan sepakbola di menit-menit terakhir. Beneran. Sibuknya minta ampun. Aku kayak bola yang ditendang kesana kemari sama alam semesta. Sedetik lalu masih di Solo nempel celana jeans di koper buat pameran, kemudian terpelanting sejauh 25 KM di daerah Simo buat ngelarin presentasi ujian Kerja Profesi sedetik kemudian mental sampai Jogja buat display koper untuk Festival Komik Fotocopy-nya Daging Tumbuh Award.

Badanku yang cuman satu dan kurus kering ini dioper kesana-kemari dan ditendang ke gawang. Ada yang Gol dan ada juga yang meleset ke pinggir lapangan. Selain urusan Koper dan Kerja Profesi, masih ada persoalan lay out kompilasi Komisi #5, atur skripsi bab 2, pergi kondangan, bikin komik sampel buat Pak Tofik dan Mas Fachmy, serta bonus hal-hal sepele semacam balikin komik ke Quantum. Huft. Capek banget. Disaat seperti ini nih biasanya aku kepengen bisa ilmunya Naruto.

Yaaah. Itu tuuh Kagebushin No Jutsu. Jurus dimana kita bisa meng-copy-paste tubuh menjadi seribu. Pokoknya agendaku kacau deh, Sama kacaunya dengan perseteruan adu otak antara Sakura dan Takeshi Tatsumi di komik Giant Killing Volume 20.

Pertandingan Tim Yamagata dan Tim East Tokyo United adalah sebuah pertandingan besar yang melibatkan dua pelatih hebat dengan latar belakang kehidupan yang berbeda. Pelatih Tim Yamagata bernama Sakura, seorang pelatih yang mendapatkan posisi tersebut dari kerja sambilan. Perannya diawali dari posisi terendah di suatu klub, serta dengan bekal tidak memiliki pengalaman sebagai pemain. Pelatih Tim Yamagata adalah pemikir sejati, walau payah sebagai pemain namun dia memiliki kekuatan konsentrasi menganalisa pertandingan sepakbola dari berbagai kejuaraan. Berbekal kejeniusannya dalam mengamati, Sakura bersama timnya berusaha untuk mengalahkan lawannya yang juga adalah tokoh utama dalam komik ini. Beberapa minggu ini juga banyak ‘pertandingan besar’ yang harus aku menangkan, atau setidaknya aku selesaikan.

Peristiwa-peristiwa itu terjadi satu persatu dan merongrong buku agendaku dengan sangat brutal. Misalnya peristiwa diundangnya Komisi Solo dalam ajang Festival Komik Fotocopy-nya Daging Tumbuh Award. Hari-hari menjelang festival berlangsung sangat mengerikan. Ada saat dimana aku pusing memikirkan bagaimana caranya agar koper yang menjadi materi pameran itu bisa terdesain dengan keren. Aku tahu iklim berkesenian jogja memang absurd, gak absurd gimana coba, masa mau pameran komik malah dikirimin koper. Anehnya Format materi pameran itu membuatku gak bisa tidur semaleman.  Itu kayak orang haus terus dikasih roti tawar. Keseleg bego!! 

Pertandingan lainnya adalah ujian Kerja Profesi, iya mata kuliah yang naudjubileh minjalik  ituh. Ujian itu terlaksana Setelah mengalami beberapa adegan semacam revisi laporan beberapa kali, nyariin dosen yang kadang hilang entah dimana rimbanya, galau cari buku referensi hingga bingung nyari almamater pinjeman kesana kemari. Semua konflik awesome diatas benar-benar sudah tertata dengan rapi oleh Sang Pembuat Takdir. Aku nyampe heran sendiri. Kok bisa ya serapi itu. Kurasa terselesaikannya Peristiwa-peristiwa besar itu tak lepas dari berkumpulnya orang-orang ‘terpilih’. Terpilih dan memiliki keterikatan dengan takdir yang kuat sama seperti terpilihnya pelatih  Tim East Tokyo United saat hampir bangkrut.

Manajer itu bernama Takeshi Tatsumi adalah mantan pemain muda berbakat yang ‘diculik’ dari luar negeri untuk memperbaiki Tim East Tokyo United. Bekas timnya dulu yang mulai kacau balau dengan prestasi yang terus merosot. Takeshi Tatsumi yang serampangan dan ogah-ogahan ini akhirnya mau mengelola Tim yang payah tersebut dengan syarat ‘ikuti aturanku dan jangan protes’. Ternyata syarat dari Takeshi tersebut sangat aneh dan tidak wajar untuk sebuah tim sepakbola di manapun. syarat ‘ikuti aturanku dan jangan protes’ membuat Tim East Tokyo United kelabakan dan makin berkonflik.  Yah, sepertinya semua orang berpikiran Tim ini bakal tamat dan turun hingga devisi paling rendah. Yah, semua orang. Kecuali Takeshi Tatsumi.

Ahem, ternyata bukan hanya Takeshi saja yang menerapkan aturan syarat ‘ikuti aturanku dan jangan protes’. Tuhanku akhir-akhir ini juga gitu. Suka ngasih ketentuan yang benar-benar gak bisa diprotes dan hanya bisa dijalani. Kalian nanya seperti apa? Misalnya seperti ini nih. Hujan datang tiba-tiba datang Ketika aku sudah prepare semua hal untuk mendisplay pameran di Jogja. Aku masih di Simo. Terpaksa nganggur sampai agak sore. Tentu saja Bis Sudah habis. Masih hujan deras, Aku kemudian nekat pergi ke perbatasan desa hanya untuk mendapatkan tumpangan. Sesegera mungkin  agar aku bisa ke Stasiun Balapan Solo kemudian berpindah kereta dan langsung ke TBY.

Namun hujan terus saja turun, hingga jam 4 sore, dan tak ada satu bis atau mobilpun yang sudi memberikan tumpangan. Aku hampir putus asa. Bayanganku untuk bisa berpameran dalam event Festival Komik Fotocopy-nya Daging Tumbuh Award bakal gagal total. Namun, aku mencoba untuk tidak terlalu sedih. Hanya sedikit mengumpat dalam hati. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Aturan Tuhan tentang ‘ikuti aturanku dan jangan protes’ itu mengantarkanku bertemu dengan kakak ponakan yang tiba-tiba berbaik hati mengantarkan ke Simo, kemudian mendapatkan jadwal bis yang terakhir, kereta kearah jogja yang terakhir, dan jreng-jreng-jreng takdir mengantarkanku ke sebuah cerita yang lain dan keren.

Sepanjang komik Giant Killing terbit dari volume 1 sampai 20 hampir tak ditemukan perubahan tema yang signifikan. Pokoknya hanya bola, pertandingan bola, dan pelatih tim sepak bola. Sangat melelahkan. Beneran, volume 20 ini juga sangat melalahkan. Kurasa pertandingan antara Tim Yamagata dan Tim East Tokyo United sudah berjalan 3 volume. Membaca volume yang melelahkan ini seakan-akan menjadi simbol kehidupanku beberapa minggu ini dalam menghadapi berbagai macam kegiatan yang ‘awesome’ gituh. 

Baiklah mari kita mengabsen beberapa kegiatan yang membuatku berani menganalogikan hidupku dengan kisah komik Giant Killing Volume 20. Hidup guweh juga gituh. Sepanjang aku hidup dari umur 0 sampai 25 tahun hampir tak ditemukan perubahan tema yang signifikan. Aku masih menjadi cowok ganteng berambut keriting. Kayaknya tahun depan perlu rebonding gitu kali ya, biar ada perubahan tema yang signifikan. Eh omong-omong signifikan itu apa sih? Yah walaupun keadaanku minggu-minggu ini memang sangat sibuk seperti pertandingan sepakbola di tahap menit-menit terakhir, tapi aku maklum kok. Walau ditendang kesana-kemari semuanya terbayarkan pada waktunya. Ada yang gol dan ada juga  yang gagal total.

Salah satu list yang gagal adalah Layout kompilasi komik #5, gara-gara kabar ujian magang yang mendadak, acara lounching komik itu terpaksa aku gagalkan. Gak mungkin banget dalam satu hari aku harus wira-wiri dari Simo ke Jogja kemudian nyangkut bentar ke Solo buat Ujian Kerja Profesi dan lounching komik. Pengaturan skripsi bab 2 cukup terselesaikan, aku sudah memberikannya pada pak dosen pembimbing. Enggak tahu bakal dibantai kayak apa. Mungkin bakal dijadikan rendang ala masakan Padang. Hu’um, yang enyak ituh. Pfft. Akhir dari acara pergi kondangan juga sangat absurd. Aku segera ngacir ketika tahu Sanasuke datang di acara itu. Humor banget. Oh iya, rambutnya Sanasuke sekarang panjang lhoooh. Kok malah jadi ngobrolin Sanasuke sih?

Lanjut ke topik selanjutnya. bikin komik sampel buat Pak Tofik berakhir dengan ganteng. Judul komiknya ‘Bobilicious’ gitu, total ada 4 lembaran. Terserah sampel itu mau diapain, sempet keliru ngasih judul dengan nama ‘booblicious’ yang apabila diartikan secara bego adalah ‘buah dada yang enak’ what the frog??!! 

Sampel komik buat Mas Fachmy udah aku pikirin. Tapi belum aku gambar. Itu sama juga bohong yaaa?! Enggak papa deh, tapi nanti yang jadi tokoh utamanya adalah Popok. Iyah, yang jadi gebetannya si Mujix dalam komik Lemon Tea itu tuuuh. Iya. Komik yang gak kelar-kelar dari jaman purba ntuuuuuh.  serta bonus hal-hal sepele semacam balikin komik ke Quantum. Dan ternyata eh ternyata, list ‘balikin komik ke Quantum’ gak berakhir dengan sepele. Komik yang aku pinjam kehujanan dengan sukses. Basah-basah dan hampir hancur. Sempet bingung juga. Setelah dipanasin di atas Magic Jar dan dijemur di atas genteng, akhirnya komik itu kering juga. Kering dengan keadaan yang mengenaskan. Walau terdenda 6.000 Rupiah untungnya pihak rental masih mau menerima komik tersebut. Yeeeey!!!

Yah, setidaknya dari peristiwa itu aku belajar untuk tidak menyepelekan sesuatu. Tuh kan, ilmu dari alam semesta tuh bekerja dengan sangat dinamis dan berkelas. Koper itu terselesaikan juga berkat bantuan Bang Arum dan Mas Feri. Tengyuuu dude. Kalian yo’i banget. Kegalauan selama mengdekorasi koper dan pontang-panting nyari kendaraan umum buat nyampe ke Jogja berakhir dengan kebanggaanku bisa berdiri di acara pembukaan pembukaan pameran Festival Komik Fotocopy-nya Daging Tumbuh Award. Keren banget. Apalagi acara itu adalah bagian Biennal yang kata kakakku ‘bergengsi banget’.


Oh iya ujiannya Kerja Profesinya seru banget. aku belajar banyak. Setidaknya aku jadi tahu jika pengujimu adalah dosen cewek semua maka ujian tersebut akan berlangsung dengan santai dan penuh humor. Halah.. Aku belajar banyak tentang materi dan beberapa format presentasi yang keren. Overall semuanya berlangsung dengan sangat lancar, kecuali balada ruang ujian yang ternyata gak ada fasilitas yang komplet. Terutama computer. Tengyu juga buat dek Joko Kalila yang udah bantuin guweh dalam ujian yang awkward itu. Kalo gak ada kamu mungkin guweh gak akan seganteng ini sekarang. pokoknya ujian Kerja Profesi ini juga berakhir dengan baik, eh, direvisi dengan sadis itu berakhir dengan baik gak sih? Aku sih menganggapnya baik. 

Karena berbaik sangka tentang sesuatu yang baik akan berbuah sesuatu yang juga baik. Cieeeh, sesuatu banget yah kutipanku di akhir paragraph ini. 

Nah, sekarang aku cukup pantaskan untuk sekedar menganalogikan hidupku dengan kisah komik Giant Killing Volume 20. Gak usah heran, hari-hariku terkadang memang serumit dan sedinamis permainan sepakbola. 


Mujix
adzan subuh itu
romantis banget yah
Simo, 22 Desember 2013

Rabu, 27 November 2013

Dompet

Aku berjalan terburu-buru mengejar bis Karunia Mulya yang tiba-tiba muncul mendadak dari pintu Terminal Tirtonadi. Bis itu berwarna biru tua dengan kondisi fisik yang sangat memprihatinkan, Seperti hidupku, pffft. Sudah layak untuk ‘pensiun’ dan beralih dimensi ke pembuangan sampah untuk didaur ulang menjadi sendok. Ah, jadi garpu juga gak papa sih. Yang penting  jangan jadi sempak.  Beberapa detik sebelum aku melompat ke pintu bis tersebut tiba-tiba aku tersadar sesuatu yang sangat penting. Dompetku tertinggal di kontrakannya Bang Arum. Ya, dompetku tertinggal. Aku ketik dengan huruf capital biar agak dramatis. DOMPETKU TERTINGGAL!!!!  Kayaknya sih terselip dengan aduhai di atas tabung LPG tak jauh dari pintu kamar mandi.

Jadi, Di dalam waktu yang sepersekian detik itu aku harus mengambl keputusan yang penting. Apakah aku harus kembali ke kontrakan dengan berjalan kaki ke suatu tempat yang jaraknya ‘cukup membuat kaki kram’ untuk mengambil dompet  atau aku nekat pergi ke kentingan untuk mengejar waktu untuk bertemu dengan klien bermodalkan uang 4.000 rupiah dikantong. Dan kalian tahu apa yang aku pilih? Aku mengambil opsi kedua secara spontan.

Aku melompat sambil memegang gagang pintu dan segera menghambur masuk kedalam bis dengan perasaan yang sangat bergejolak. Ya. Keputusan  mendadak yang sangat tidak masuk akal itu aku pilih untuk mempertahankan prinsip ‘bertemu klien dengan tepat waktu’.

***

Beberapa jam sebelumnya di sebuah kontrakan Bang Arum. Hari itu hari sabtu yang sangat aneh. Seharian dari pagi sampe siang kegiatanku hanya kentut, kebelet pipis, ingin buang hajat nikah . hanya kentut, kebelet pipis, ingin buang hajat nikah . hanya kentut, kebelet pipis, ingin buang hajat nikah .  terus gitu sampai hari Yaumul Akhir. Intinya, bagiku di hari Sabtu itu,  siksaan neraka jahanam adalah memakai celana skinny jeans cewek yang sangat ketat dengan aktivitas  kentut, kebelet pipis, ingin buang hajat yang datang secara rutin dan konsisten. Kenapa harus pake skinny jeans? Kata Raditya Dika, pake skinny jeans itu gaul.  Kenapa harus cewek? Karena aku cowok, normal dong kalo suka sama cewek.

Gerakan semacam ‘lepas ikat pinggang  dan celana sambil buru-buru ke toilet namun tangan sering nyangkut di dompet saku depan’ itu terus terulang dan terulang . beberapa kali. Terus menerus dan titik puncaknya adalah kulempar begitu saja dompet itu agar tidak nyangkut dicelana  ketika ‘kegiatan tersebut’ sudah tak tertahankan lagi.

Detik-detik saat aku mau melempar dompet itu terekam sangat jelas di otakku. Saat visual itu muncul, ada banyak suara bergema dipikiranku. Aku sangat ingat ketika semua suara-suara itu berakumulasi menjadi satu titah yang berbunyi ‘sudah  lempar saja dompet itu ke tabung Elpiji, nanti bisa kamu ambil lagi. Tenang saja tidak akan terjadi apa-apa kok’. Titah yang aneh. Kenapa juga nyuruh ngelemparnya ke Elpiji. Kenapa enggak di lempar kehatimu ajah.  Dan begitulah. Dompet itu aku lempar dengan sangat bernafsu ke arah tabung Elpiji dan aku segera berlari random ke kamar mandi. Simulasi  siksaan neraka jahanam itu akhirnya usai juga. Yeah.

Aku lega. Keluar kamar mandi dengan ganteng. Semua beres. Semua beres kecuali dompet yang masih terselip dengan aduhai di atas tabung Elpiji.

Terselip dan terlupa.
Yeah lagi.

***
Drama hari ini berjudul ‘Seorang pemuda berambut kribo bermodalkan uang 4.000 rupiah dikantong,  gara-gara dompet yang  terselip dengan aduhai di atas tabung Elpiji karena mempertahankan prinsip ‘bertemu klien dengan tepat waktu’.  Hanya orang  tolol yang berani melakukan hal tersebut.  Seberapa tolol? Mari kita obrolkan bersama.

Aku hanya memiliki uang 4000 rupiah di kantong. Tarif untuk naik bis rata-rata 2500 sampai 3000 rupiah sekali jalan.  Untuk bis VIP semacam Batik Solo Trans,  tarifnya 3500 rupiah. Saat itu aku hanya bermodalkan ingatan samarku bahwa tarif bis karunia mulya hanya 2000 rupiah. Aku akan sangat aman jika tarif itu sesuai dugaanku. Aku berharap dugaan itu benar agar prinsip ‘bertemu klien dengan tepat’ tidak terlanggar.  Sang klien mengajak bertemu di sebuah kantin yang cukup besar. Aku hanya akan menggunakan uang 4000 itu hanya untuk tarif transpot.

Kukatakan sekali lagi, UANG 4000 ITU  HANYA UNTUK TARIF TRANSPOT.

Impian untuk pesan kopi hitam atau teh hangat sambil ngobrolin projek, langsung aku buang ke laut. Enggak bisa beli pulsa juga. Rencananya di kantin tersebut aku akan berpura-pura menjadi  boneka ‘wini the puuh’  yang pingsan gara-gara keracunan makan ikan buntal  agar tidak memesan apapun. Catat, apapun, karena uangku mungkin hanya tinggal tersisa 2000 (atau malah 1000 rupiah). Kampret. Beberapa menit sebelum kernet menarik bayaran penumpang, aku galau. Memandang langit biru. Menghela nafas panjang. Berharap ada alien yang menginvasi bumi kemudian kiamat. Huft.

Jika dugaanku tentang tarif itu meleset 100 rupiah saja, maka sudah dipastikan aku akan kembali ke kontrakan dengan berjalan kaki sejauh 4 KM. Berjalan 4 KM gara-gara untuk menghargai sebuah prinsip diri sendiri yang sangat  bodoh.  Kegalauanku itu sangat beralasan. Sang kernet datang. Badannya yang hitam legam membuatku bergidik.  Aku menelan ludah. Terbayang adegan aku kelelahan berjalan 4 KM.

***

Setiap orang memiliki prinsipnya masing-masing, dan setiap orang bebas untuk mempertahankan atau mencampakkan prinsip tersebu. prinsip ‘bertemu klien dengan tepat waktu’ adalah salah satu dari banyak prinsip yang sedang kupertahankan. fokus sebenarnya adalah ‘tepat waktu’.  Adegan terburu-buru mengejar bis karunia mulya yang tiba-tiba muncul mendadak dari Pintu Terminal Tirtonadi itupun salah satu upaya agar aku bisa mempertahankan prinsip tersebut. Uang yang hanya tertinggal 4.000 rupiah dikantong merupakan sebuah manifestasi pikiran liarku untuk mempercayai prinsip tersebut, setidaknya untuk hari ini  aku ingin bermain-main dengan ‘hukum tarik menarik’ dan ‘sebab akibat’.  Aku belum tahu dengan apa yang akan terjadi.

Rasanya ngeliat kernet datang saat bawa uang yang dikit itu, kayak ngeliat gebetanmu tiba-tiba minta dibelikan smartphone saat tanggal tua, padahal kalian belum jadian dan belum gajian. pokoknya  ‘Pfft’  banget.

Aku khawatir. Aku be namun perlahan kekhawatiranku itu berubah menjadi perasaan bergairah. Hei, perasaan ‘deg-deg-an’ dan khawatir  ini mulai terasa  menyenangkan.

***

Sang kernet datang. Aku menelan ludah. Tanganku merogoh kantong dengan sedikit gemetar. Kupastikan uang yang terambil adalah 2000 rupiah. Kuserahkan dengan senyum formalitas ala Mbak-Mbak SPG di pasar malam. Sang kernet yang masih hitam legam itu mengambil uangku dengan dingin. Tak terseyum sedikitpun. Kerennya dia berlalu begitu saja. 

Sepertinya perkiraanku tepat. Bis ini masih bertarif 2000 rupiah. Alhamdulilah.

Bis Karunia Mulya ini berjalan menuju kearah timur dengan tenang.  Semua hal didalam hidup itu terkadang bersifat  mendadak dan sangat tidak masuk akal. Beneran. Seberapa banyak diantara kita sering terhenti dalam melangkah karena khawatir dengan apa yang akan terjadi depan nun jauh disana. Di sebuah masa yang tidak bisa kita mengerti. Tugas selanjutnya adalah menyamar menjadi boneka ‘wini the puuh’  yang pingsan gara-gara keracunan makan ikan buntal  agar tidak memesan apapun. Dikantongku hanya tersisa uang 2000 rupiah.  prinsip ‘bertemu klien dengan tepat waktu’ detik ini masih bisa kupertahankan.kurasa adegan  dompet yang masih terselip dengan aduhai di atas tabung LPG itu juga sebuah ketentuan takdir  yang harus terjadi. Seperti kelahiran, jatuh cinta, menikah, dan mati.

Uang dikantong masih tersisa 2000 rupiah. Masih ada jadwal bertemu klien di warung makan. Belum tahu juga ntar pulangnya naik bis apa.  Ahahaha sialan, perasaan ‘deg-deg-an’ dan khawatir  ini mulai terasa  menyenangkan.



Mujix
baru kali ini
aku loncat-loncat kegirangan
gara-gara dapat kabar yang baik.
Simo, 27 November 2013

Sabtu, 09 November 2013

Komik 'Viva La Indonesia', 'Si Amed' dan 'The Proposal'


Beberapa bulan belakangan ini aku benar-benar berasa menjadi komikus profesional. Gimana enggak. Setiap hari aku hanya bertemu dengan naskah komik dan naskah komik. Naskah skripsi? Lupakan. jahat gak tuh? Kurasa kesibukanku ini berawal dari tawaran sebuah penerbit di jakarta yang kemarin itu tuh. Iyah. Yang komiknya udah kelar dengan tokoh utamanya Pak Kipli dan Mbak Yani. Mereka berdua sebenarnya karakter  figuran dan hampir gak penting di komik Lemon Tea. Iyee, komik laknat yang gak kelar-kelar itu. Berisik amat sih. 

Komik dengan bertokoh utama Pak Kipli dan Mbak Yani itu berjudul ‘Viva La Indonesia’. Komik itu aku kerjakan selama 3 bulan. Satu bulan aku kerjakan di Kota Bogor sehabis magang, dan membuat kurus kering karena kebanyakan begadang.  

Serunya sih ‘Viva La Indonesia’ Berisi kumpulan komik bertema sosial politik tapi bernuansa Indonesia banget. Secara naratif aku mengambil karakter manga 4 koma, aku gunakan secara membabi buta dengan beberapa variasi type cerita. Ada yang konyol abis, absurd, namun terkadang sangat bijak dan bisa ngebikin komikusnya malu. Iya beneran malu. Tapi gak papa, asal gak malu-maluin.

Jika lancar dan tidak ada halangan yang melintang, akan segera tayang di toko buku kesayangan anda. Aduh jadi gak sabar. Enggak ding, aku bohong. Aku sangat sabar sekali. Soalnya masih banyak kerjaan yang harus aku bereskan.

Oke. Lanjut ke cerita berikutnya.

‘Viva La Indonesia’ udah kelar. Pengennya sih bengong gitu, namun  bengong kelamaan juga gak baik. akhirnya 17 Agustus 2013 aku membuat fanspage Si Amed. Komik ini tayang setiap minggu. Akan absen kalo komikusnya sedang rempong dengan urusan lain. Urusan lain itu misalnya pusing ngerjain laporan magang, ada job dadakan, maupun serangan galau tiba-tiba. Ahahahaha. Yang terakhir  tuh, keren. serangan galau tiba-tiba. Serangan ini sudaah tak sedahsyat dulu. Sekarang aku sangat sibuk. Terlalu sibuk untuk menggalau. Mending aku main-main sama Si Amed.

Eniwei Si Amed sudah sampai episode 8. Karakter sentral yang sudah muncul adalah: Si Amed, Pak Kipli (tokoh utama di komik ‘Viva La Indonesia’), Mas Towet-Towet (terinspirasi dari mukanya Angga Tantama), Pak Kepala Sekolah (dia jadi karakter Mr.President di komik ‘The Proposal’. Belum jadi. Sedang di pinsil. Abis ini aku ceritaiin deh) dan Mbak Yani (tokoh utama juga di komik ‘Viva La Indonesia’). 

Perlu kalian tahu, komik Si Amed ini malah susah banget untuk bikin ceritanya. Kebetulan karakternya adalah seorang anak SD kelas 3, berusia 8 tahunan dan sangat suka ayam goreng. Beberapa kali aku harus mendiskusikan cerita ini dengan Bang Arum. Menurutnya  Ada salah satu cerita yang aku buat terlihat sangat janggal. Intinya sih Si Amed kelihatan dewasa dan sotoy banget, kurang kekanak-kanakan. 

Alhamdulilah setelah diskusi kecil itu alur komik Si Amed menjadi lebih baik. aku banyak belajar dari kejadian ini. yah bikin karakter  tuh harus konsisten. Jangan nurutin mood. Kalo perlu dibikin detail latar belakangannya dengan sangat jelas. Agar gak pusing bikin cerita kayak kemarin.

Emang kemarin ada apaan?
jadi gini...

Kemarin aku pusing. Beneran. Artblock cukup parah. Aku maklum kok. Selama 4 hari sebelumnya aku mengejar target membuat storyboard dan pinsil ‘The Proposal’ dengan sangat ngotot. Ngotot parah, soalnya deadline tinggal satu minggu. Ini malah kurang 4 hari. Ampun deh. Aku menyebutnya sebuah proyek komik yang mustahil. 25 halaman dalam satu minggu dan full color. Itu sangat mustahil. Pada hari kedua aku pesimis. Sepertinya gak mungkin banget. 

Sekarang waktu yang tersisa tinggal 4 hari lagi. Baru sampai tahap pinsil. Dan baru kelar hari ini. hahaha. Kacau deh. Tapi aku seneng kok. Pastinya komik ‘The Proposal’ ini keren banget. Temanya tentang perjalanan. Tokoh utamanya bernama ‘Arumania’, dan lagi-lagi karakter ini hanya figuran di komik Lemon Tea. Si Mujix nongol di komik ini berperan sebagai Pak RT. Absurd abis. Demi komik ini aku masuk angin dan banyak begadang untuk riset lokasi, beberapa data kecil semacam ‘bagaimana cara bertemu presiden’ hingga mengobrak-abrik banyak referensi komik dari berbagai genre. 

Komik-komik yang sangat membantu dalam pembuatan ‘The Proposal’ adalah ‘Bull dan Bill’ karya Roba, ‘Casting Prod’ karya Cazenove &Bloz,’Benny dan Mice’ karya Benny Rachmadi & Mice Misrad, ‘Adventure Boy’ karya Adachi Mitsuru dan terakhir ‘ Bambino’ Sekiya Tetsuji. Banyak yak. Yang paling sering kepake adalah  ‘Bull dan Bill’ karya Roba. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sedang gandrung dengan komik Eropa. ‘The Proposal’ besok mulai masuk tahap Inking. Semoga aku bisa memenuhi targetku seperti hari-hari kemarin. Oh iya targetku yang kucapai kemarin adalah 1 hari harus mendapatkan 6 pinsil. Mengerikan.

Kalian tahu apa yang lebih mengerikan lagi? Disamping menjalani 1 hari harus mendapatkan 6 pinsil, aku masih mengerjakan proyek iseng seperti komik pendek bertema Caleg. Cuman beberapa lembar sih. Gak sebanyak ‘The Proposal’.  Setelah rempong dangdut mencuri waktu akhirnya komik pendek itu selesai juga hari ini. sedang aku upload nih, mau aku kirim. 

Alhamdulilah dengan sinyal yang sangat lambreta hingga jam 1.46 filenya belum terkirim juga, beneran aku jitak juga nih ni modem. Detik ini, saat tulisan ini terketik aku sangat capek. Butuh istirahat. Laper juga, tadi abis makan mie instan. Malah nambah laper. Ngantuk juga. Kakik udah mulai kedinginan. Jangan-jangan ntar beranak pinguin? Semoga aja enggak.

Oh iya, Kaffein hari  ini minim sih, cuman ngopi satu kali. Itu aja tadi pagi. Bagus malah. Jangan kayak minggu kemarin. Ngopi, ngeteh, sama nglembur kayak diguna-guna gituh. aku berjanji ketika file ini terkirim aku akan segera istirahat. Terus bangun jam 8 buat nonton Paman Gober di Global TV. Iyeeeeeeh. Walau melelahkan Hidupku memang benar-benar Awesome :)

Mujix
bekerja keras itu mungkin gak baik untuk jasmani
namun ketika semuanya terbayar
akan  sangat baik untuk rohani
Simo, 09 November 2013 

Minggu, 03 November 2013

Change Guy!!

Di dunia ini ada pria-pria yang  selalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Pria-pria itu  jarang berkerumun sambil minum kopi dan bercerita banyak hal. Mereka lebih suka berkerumun dengan berbagai hal di otaknya yang terus datang dan tidak kunjung pergi. Seluruh dunia sepertinya bersepakat bahwa pria-pria itu hanyalah fatamorgana semata. Mengesalkan memang.

Sekedar kalian tahu, ‘Pria-pria yang selalu sibuk dengan pikirannya sendiri’ itu terkadang mengalami malam-malam yang menyiksa. Mereka memandang dunia hanya hari ini dengan pertempuran-pertempuran yang tak kunjung usai. Tak ada hari ini. Hanya ada hari kemarin yang sepertinya masih saja kacau dan hanya ada hari esok dengan segudang rencana yang sepertinya masih belum terurus. Sebuah dunia yang isinya hanya dugaan semata saja.

Bagi mereka ‘malam-malam yang menyiksa’ adalah kesadaran akan semua olah cipta rasa karsa seorang manusia. Iya. Sedramatis itu. Dimalam-malam itu mereka menciptakan sebuah dunia yang tak terpikirkan oleh pria-pria yang suka‘berkerumun sambil minum kopi dan bercerita banyak hal’. Kesenangan dari banyak ‘pertempuran yang tak kunjung usai’ adalah bertemu dengan banyak ‘teman baru’ dari dunia lain.  Terkadang  ‘hari kemarin yang sepertinya masih saja kacau’ bisa bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih dari ‘fatamorgana’ semata. Menyebalkan memang. Dunia ini tercipta dari orang-orang seperti mereka.

Jika kalian ingin tahu dimana pria-pria itu berada, kalian bisa melihat kerumunan di sekeliling kalian. Apakah kalian menemukannya? Tak sesulit itu kok. Pria-pria itu terkadang aneh dimata orang banyak. Tak kasat mata, karena mereka memang memasang ‘lapisan pelindung’ bernama ‘diam’. Pria-pria ini terlalu sangat malu untuk mengatakan ‘hai’ kepada kalian. Jika kalian melihatnya katakan padaku. Apakah dia terlihat norak dan sangat payah? Kalo iya, kurasa kalian telah menemukannya.

Kalian boleh memandangnya sebelah mata, namun jangan sekali-kali meremehkan dia. Pria-pria ini mempunyai ‘bom atom’ yang  tidak kalian sangka-sangka. Berpuluh-puluh malam yang menyiksa telah membuatnya menjadi orang yang sangat tangguh untuk sekedar meledakkan dunia.  Penampilan luarnya yang terlihat ‘payah’ dan ‘norak’ itu akibat fokus mereka yang berbeda dengan pria-pria lainnya di luar sana. Namun percayalah, pria-pria yang berkawan dengan ‘teman baru dari dunia lain’ itu akan sangat menghargai kalian lebih dari yang kalian kira. Mereka tidak segan-segan mengatakan kepada kalian ‘segudang rencana’nya yang ada di otak. Kalian hanya perlu percaya saja, dan meluangkan untuk mengatakan ‘hai’ kepada mereka. Ya. Kurasa kalian telah menemukan ‘pria-pria yang  selalu sibuk dengan pikirannya sendiri’. Selamat.



Mujix
selamat pagi
dan selamat tidur
Boyolali, 03 November 2013

Selasa, 29 Oktober 2013

pahlawan

Dia bernama Ralph. Dia seorang penjahat. Bahasa kerennya ‘bad  guy’, tubuh setinggi 2,7 meter dan berat 291 kg. Ralph diprogram memiliki sifat pemarah akut yang hobi menghancurkan barang dengan profesional.  Ya, dia di program untuk mengikuti sistem. Dia hidup di sebuah game bernama Fix-it Felix Junior. Dia berperan sebagai seorang ‘bad  guy’ Di sebuah kehidupan yang statis dan selalu mengikuti aturan program game. Cerita film ini mulai berjalan ketika Ralph mengalami Hal yang paling tidak ingin dialami oleh orang adalah diacuhkan. Acuh tak acuh bisa dibilang perbuatan yang menyebalkan. Alam semesta tiba-tiba saja menghapus eksistensimu sebagai manusia dengan cara sepihak. Diacuhkan dan akhirnya dia dibenci sebagai penjahat. Setelah diacuhkan, dibenci, kemudian apa? Tentu saja dia akan melihat kehidupan sosok lain yang dia rasa lebih baik dari kehidupannya. Seorang bad guy yang di program sebagai penjahat dengan tubuh setinggi 2,7 meter dan berat 291 kg ini akhirnya melihat Felix. Seorang pahlawan, tokoh protagonis yang selalu mendapat penghargaan oleh semua penghuni game Fix-it Felix Junior. Felix adalah sosok yang ingin dicapai oleh Ralph.

Seminggu lagi sebelum aku berusia 25 tahun. Keadaanku sama seperti Ralph di babak awal film Wreck  It Ralph.  Aku juga memiliki sosok-sosok yang ingin aku capai. Sebuah kehidupan yang kurasa sempurna seperti Felix.  Hingga hari ini sosok-sosok tersebut masih cukup jauh untuk aku sentuh. Hingga berakibat ‘sering bisa tidur kalau hari sudah menjelang pagi’. Bahasa kerennya ‘insomnia’. Beberapa hari ini aku mengalami insomnia. Selalu baru bisa tidur diatas jam 12 malam. Apakah Ralph juga mengalami insomnia? Mungkin.  Kurasa berbagai permasalahan yang belum kelar menjadi biang kerok insomnia tersebut. Daripada disebut permasalahan, sebenarnya lebih tepat disebut pencapaian. Pencapaian yang belum selesai. Aku sering mengalami keadaan ‘berpikir berlebihan’ ketika menjelang tidur. Seperti banyak pepatah bilang ‘sesuatu yang berlebihan itu tidak baik’. Hingga tadi malam keadaan ‘berpikir berlebihan’ itu masih menjadi teman pengantar tidurku yang paling keren. Memikirkan apa sih? Banyak. Tapi secara umum memikirkan berbagai masalah yang belum aku selesaikan. Masalah-masalah berwujud tembok besar yang sangat tinggi. Hidup diusia berapapun aku akan menemui masalah-masalah yang serupa. Gak jauh-jauh sama eksistensi dan hakikat manusia. Sebuah pertanyaan itu  juga menjadi pondasi dalam film Wreck It Ralph.  

Wreck It Ralph adalah film animasi 3d dari perusahaan besar Walt Disney yang dirilis tahun 2012. Tokoh utama dalam film ini seorang penjahat di game Fix-it Felix Junior.  Di awal babak film ini ada peryataan unik yang menyangkut eksistensi seorang tokoh utama. Ralph yang seorang penjahat ingin menjadi pahlawan agar dia mendapatkan mendali untuk membuat semua penghuni game Fix-it Felix Junior menghargainya. Atau setidaknya mengakui keberadaannya sebagai elemen yang tidak terpisahkan dari sebuah game yang bernama Fix-it Felix Junior.

Ada benang merah yang terhubung antara aku dan Ralph. Benang merah itu juga dimiliki semua orang di dunia. Aku, mereka dan semua orang didunia menyebutnya ‘keinginan’. Untuk mewujudkan keinginan tersebut Ralph dengan segala kekacauannya menyebrang ke Game lain yang bernama ‘Hero’s Duty’ (Tugas pahlawan),  yang diplesetkan sebagai ‘Hero’s  doodie’ (e’ek pahlawan) oleh Venellope, karakter game Sugar Rush yang diasingkan gara-gara dia cacat. Pertemuan antara Ralph dan Venellope menjadi  awal takdir besar yang merubah hidup semua karakter yang muncul di film ini. Berbagai kejadian dan alur yang cepat membuat film ini menarik untuk disimak. Apalagi dengan penyajian visual yang sangat menyenangkan di berbagai sudut. Scene dengan visual terbaik adalah latar belakang dari video game sugar rush yang semuanya terbuat dari permen, es krim, kue, coklat dan semua hal yang bersifat manis.  

Sebuah takdir yang besar kadangkala harus diawali sebuah pertemuan kecil dengan orang yang tepat. Aku percaya itu. Pertemuan antara Ralph dan Venellope dengan semua kekacauannya membuktikan bahwa takdir itu benar-benar dijalankan dengann baik oleh semesta (atau kalian menyebutnya sutradara dan penulis naskah). Sesekali aku sering memikirkan hal tersebut, berbagai permasalahan yang belum kelar menjadi biang kerok insomnia tersebut kurasa akan teratasi dengan sangat keren apabila aku bertemu dengan orang yang tepat. Walaupun itu hanya sebuah pertemuan kecil dan sederhana. Terkadang ketika aku sedang dalam keadaan ‘waras’ dan ‘sadar’  ada keyakinan kecil bahwa Alam semesta tidak serta merta menghapus eksistensimu sebagai manusia dengan cara sepihak. Itu seperti membuang karakter Ralph dari film Wreck It Ralph. Kurasa kalian bisa membayangkan andaikata semua pemeran penjahat dihilangkan dari dunia film. Film itu akan sangat membosankan. Industri di Hollywood akan miskin mendadak. Para superhero akan berlomba-lomba menciptakan penjahat seperti di film Megamind agar mereka bisa tetap menjadi ‘Hero’ dan menjadi tokoh protagonis yang selalu mendapat penghargaan. Aku berharap (dan berusaha) agar keadaan  ‘sering mengalami keadaan ‘berpikir berlebihan’ ketika menjelang tidur’ segera hilang. Tentu saja agar aku bisa berubah menjadi sosok lain yang  lebih protagonis. Gak keseringan bingung gara-gara gak mau ngapa-ngapain karena pencapaian yang belum selesai. 

Keadaan tersebut seperti memandang di Timeline Twitter. Gak ada abisnya sampai yang punya akun mati dan gak minat buat ngetweet lagi. Kalau boleh berharap aku ingin segera bertemu dengan seseorang yang bisa menggerakkan semestaku ke arah yang lebih baik. Seperti pertemuanku dengan dunia komik, film Wreck It Ralph dan internet. Iya, seperti pertemuan kalian dengan postingan ini.


Mujix
Oh iya, gara-gara sering terkena insomnia, 
aku juga sekarang menjadi pahlawan. 
Pahlawan kesiangan. Kampret.
Simo, 29 Oktober 2012

Minggu, 27 Oktober 2013

Driving Slow to 25 years Old

Di dalam film-film arus utama, adegan kematian biasanya digambarkan dengan sangat dramatis. Kematian-kematian tersebut dikomposisikan sedemikian rupa untuk membuat penonton terhanyut dalam skenario cerita. Adegan kematian terkeren sepertinya masih dipegang Jack Dawson saat mengorbankan dirinya untuk Rose DeWitt di film Titanic. Di film yang katanya romantis tersebut bertebaran adegan orang mati saat kapal itu akan karam gara-gara menabrak gunung es. Kapal mendadak bocor. Air masuk kedalam kabin dengan sangat menggila. Panik. Dan tentu saja adegan kematian para tokoh satu persatu yang ditampilkan sangat epic. para kritikus dan reviewer film ini menyebutnya film epic romantic disaster. 

Scene-scene yang ditampikan  dalam film Titanic  adalah kematian terencana yang dibuat khusus untuk penonton. Adegan kematian dalam film tersebut menjadi titik klimaks dari semua persoalan para karakter.  Sang sutradara, James Cameron menggiring ke dalam satu statement. Kematian bisa datang kapanpun tanpa perduli apapun urusan kalian. Setelah kematian itu datang, kemana para awak dan penumpang Titanic itu pergi? Ke alam kematian. Tentu saja. Namun alam kematian bukanlah wilayah yang menarik untuk dibahas bagi James Cameron di film Titanic.

Adegan kematian yang menarik untuk diperbincangkan lagi adalah adegan kematian Paman Gober dalam buku komik The  Life time of Scrooge Mc Duck karya Don Rossa. Premis masalah dalam chapter 5 yang berjudul The New Laird Of Castle Mc duck ini adalah permasalahan pajak dari kastil keluarga bebek yang sudah jatuh tempo. Apabila pajak itu tidak dibayar maka  istana tua di Dismal Town tersebut terancam dijual ke pemerintah dan akan dikuasai keluarga Whiskervile. Gober Bebek muda yang telah mengantongi uang 10.000 Dollar yang berasal dari penjualan tambang tembaganya itu akhirnya harus kembali ke Dismal Town, Skotlandia untuk menyelesaikan krisis tersebut.

Krisis yang bemula dari pertentangan antar dua keluarga besar.  keinginan keluarga Whiskervile untuk menguasai Dismal Town yang sudah cukup lama ini berujung ke sebuah pertempuran (atau mereka menyebutnya ‘duel mempertahankan harga diri’) . Alam kematian ala keluarga bebek akhirnya dimunculkan setelah Gober Bebek tenggelam dan kepalanya terantuk batu hingga dia mati. Tak ada proses kematian yang dramatis seperti Film Titanicnya James Cameron.  Sebagai penggantinya, Don Rossa menampilkan serentetan adegan dunia lain alam akhirat ala dunia bebek. Sang komikus juga menggiring ke dalam satu statement.  Kematian bisa datang kapanpun tanpa perduli apapun urusan kalian.

5 hari yang lalu aku ulang tahun. tiba-tiba saja tema kematian muncul mendadak dan menjadi kado yang harus aku mengerti. Kematian itu pasti, angka dari sebuah ulang tahun kadang kala hanya menjadi count down kesebuah tempat yang misterius. Tak terkatakan. Dalam postingan yang lalu (baca: ichi-go-ichi-e) aku memaparkan beberapa tradisi prosesi kematian dari berbagai budaya. Beneran, isinya cuman mati, mati, dan mati. nulisnya aja sambil merinding dangdut. Ok, back to main topic...

Kematian itu menjadi sangat menakutkan karena kita tidak mengetahui kapan dan bagaimana kejadian itu akan terjadi. Ada banyak cerita ketika kematian menjemputmu, maka semua hal yang pernah kau lakukan akan ditampilkan secara kilas balik. Aku rasa aku bisa menebak kilas balik apa yang kira-kira akan muncul. Aku sangat yakin peristiwa-peristiwa itu akan muncul dengan sangat jelas. segala ketololanku selama ini, berbagai penyesalan, dan mungkin beberapa kisah bahagia dari kisah cinta, akan muncul silih berganti seperti film. mungkin saja sedramatis film Titanic. tapi aku gak mau kalo ada adegan kapal karamnya. soalnya aku gak bisa berenang. bisa berenangpun aku gak mau kelelep di lautan lepas kayak gitu. yang jadi persoalannya adalah apakah aku siap mengubah hari-hariku yang tersisa ini dengan prinsip untuk hidup sehidup-hidupnya? Untuk apa? Kurasa untuk mengurangi porsi peristiwa-peristiwa bodoh yang telah terjadi selama 25 tahun ini.

Iya kali ini aku berusia 25 tahun. Di dalam film-film arus utama, adegan kematian biasanya digambarkan dengan sangat dramatis. Perjalanan hidup manusia tak jauh berbeda dengan film arus utama. Kematian itu menjadi sangat menakutkan karena kita tidak mengetahui kapan dan bagaimana kejadian itu akan terjadi. bisa saja nasibku seperti Gober Bebek, mati konyol gara-gara kepalaterantuk batu hingga mati.Entahlah. Hidupku juga belum selesai. Aku masih berjuang untuk meruntuhkan tembok besar yang tinggi dan menjulang itu. Tembok yang sangat kokoh. Mengapa harus kuruntuhkan? Kurasa untuk mengurangi porsi peristiwa-peristiwa bodoh yang telah terjadi selama 25 tahun ini. agar suatu saat aku bisa berkata bahwa aku sangat bangga memiliki hidup seperti ini. agar suatu saat aku bisa mati tanpa penyesalan. Pertanyaannya adalah, apakah aku siap mengubah hari-hariku yang tersisa ini dengan prinsip untuk hidup sehidup-hidupnya?

embuh. sepertinya sih masih banyak kejadian tolol dan bodoh di depan sana.
hahahaha :D

Mujix
kado lain di hari ultah itu adalah
keinginan untuk segera nikah, sama siapa?
sama Kulkas kali
Simo,27 Oktober 2013

Kamis, 10 Oktober 2013

Pria Penghancur Tembok


Namanya Shogo Ban. Pertarungan pasta yang mempertaruhkan harga diri mulai memasuki titik puncak. Jilid 9 dari manga Bambino Secondo karya Sekiya Tetsuji merupakan babak dengan alur yang paling menguras energi pembaca, khususnya pembaca introvert berambut kribo sepertiku. Manga Bambino Secondo adalah manga bertema kuliner dengan setting sebuah restoran Italia dengan segmentasi pembaca dewasa. Babak pertarungan antar koki masakan Italia ini dipicu permasalahan mengenai wanita dan harga diri.  Karakter protagonis  yang muncul dalam babak ini adalah Shogo Ban, koki berdarah panas namun paling junior di dalam Restoran Legare. Tsuchiya menjadi tokoh antagonis  dengan sifat licik dan karakter yang akan segera mengingatkanmu dengan ular. Demi mendapatkan cerita yang penuh emosi, sang mangaka membangun prolog permasalahan hingga 10 chapter. Sebuah premis yang cukup panjang untuk menjadikan babak ini panggung pertarungan yang menawan namun penuh dengan konflik. Awalnya pertarungan ini dimulai karena Ban tidak bisa memaafkan Tsuchiya yang sudah membuat gadis dicintainya cedera. Tsuchiya  mendorong gadis itu dari tangga lantai dua dan mengakibatkan Asuka (nama gadis tersebut) harus dirawat dirumah sakit dengan kondisi yang sangat kritis.

Cerita diperburuk lagi dengan permasalahan janin di perut Asuka yang dikhawatirkan gugur. Asuka adalah janda muda yang ditinggal mati suaminya, yang juga senior di Restoran Legare. Sebagai junior yang baik, Shogo Ban bertekad untuk melindungi Asuka. Lambat laun niat ‘melindungi’ itu berubah menjadi perasaan cinta. Hal itu sejalan dengan prinsip orang Jawa ‘tresno ono jalaran soko kulino’. Kurasa kalian bisa menebak alur ceritanya, ketika gadis yang kalian cintai dicelakakan oleh orang licik yang suka menjilat. Konflik-konflik kecil terus berdatangan. Permasalahan semacam menyabotase bumbu pasta, menyewa penonton bayaran, hingga akhirnya diputuskan untuk membuat pertandingan menu antar koki agar Tsuchiya mau mengakui segala kesalahannya. Secara alur cerita, semuanya terlihat sangat kompleks. Premis permasalahan dimunculkan sepotong demi sepotong hingga klimaks pertandingan pasta itu berakhir.

Babak ini dimulai dengan amarah dan cinta, suara dari luar yang berada di sekitar Shogo Ban hanya terdengar bagi ombak yang bergemuruh.Karena saat ini dia tengah menjadi pria yang mau menghancurkan tembok. Tembok yang berwujud kelicikan Tsuchiya dengan segala tipu daya dan kemampuannya dalam memasak pasta.Jika Shogo Ban kalah, maka dia harus menjadi budak Tsuchiya. Jika Shogo Bang menang, Tsuchiya harus mengakui kesalahannya di depan semua orang di restoran Legare. Ceritanya seru kan? Seru dong. Komik Bambino Secondo adalah top ten komik yang paling aku tunggu rilisnya di toko buku. Jika ada yang bilang komik hanya bacaan ringan untuk anak-anak, maka orang itu adalah manusia purba yang hidup di gua dan tidak pernah mengenal apa yang disebut konsep media komunikasi massa. Jika orang itu bukan manusia purba, maka dia adalah alien. Alien yang tinggal di gua.

Oh iya, sekedar mengingatkan. Namaku Mujiyono dan aku calon sarjana (hampir) ganteng yang suka merangkai sabda semesta melalui komik, kadang tulisan, kalo lagi bete suka curcol lewat Twitter. Suka dipanggil ‘Mujix’ sama teman-teman kampus. Suka di panggil ‘Anjasmara’ sama teman-teman kampung. Saat ini sedang senang-senangnya menjadi mahasiwa yang masa aktifnya yang hampir berakhir. Iya baru hampir, dan belum berakhir. Sesekali suka belajar olah vokal  secara rahasia di kamar mandi, sebagai persiapan jika datang suatu masa dimana penyanyi Rock And Roll kembali berjaya. Padahal aku pendengar setia Didi Kempot. Ngapain harus jadi penyanyi Rock And Roll sih?Oke. Perkenalannya segitu dulu. Kembali ke topik utama.

Pria yang mau menghancurkan tembok. Istilah keren itu muncul muncul di jilid 9. Digunakan sebagai kiasan untuk pria yang ingin memperjuangkan keinginannya dengan mempertaruhkan harga diri hingga titik darah penghabisan. Terdengar sangat heroik bukan?

Definisi tembok adalah dinding dari batako, bata, atau adonan semen. Sebuah material yang tidak bisa kau hancurkan semudah membalikkan tangan. Ah, membalikan tangan yang tertindih tembok juga sulit sih. Intinya hal tersebut hanya Sebuah perumpamaan yang tepat untuk menggambarakan sebuah keinginan yang sepertinya terlalu mustahil untuk diwujudkan. Terlalu mustahil namun masih bisa dilakukan. Wujud tembok itu berbeda tergantung dari pemilik keinginan tersebut.

Bagi sebagian orang, tembok itu berwujud ‘susahnya untuk bisa bangun pagi  dan berlari kecil sepanjang gang agar bisa menjaga kesehatan  tubuh’. Terdengar sangat sepele bukan? Hal tersebut terlihat tak terlalu sulit untuk seorang nenek tua di tengah desa yang selalu bangun pagi. Nenek tersebut melihat ‘susahnya untuk bisa bangun pagi’ bukan sebuah tembok yang ingin dihancurkan. Itu hanya permasalahan yang kecil. Sangat kecil. Sekecil semut. Semut yang imut-imut kayak yang nulis postingan ini.

Orang-orang di belahan Planet Bumi yang lain, mungkin melihat tembok itu berupa perasaan traumatis dalam membina hubungan yang baru dengan lawan jenis. Tak sedikit pria-pria yang memilih untuk hidup sendiri dan tak mempercayai sebuah hubungan yang tidak masuk akal dengan wanita. Mereka mungkin menunggu waktu, seseorang yang tepat, takdir yang sedikit diubah, atau apapun itu. Setidaknya mereka masih percaya bahwa mereka terlahir dari wanita. Kalau terlahir dari batu namanya Sun Gokong.

Hal untuk ‘membina hubungan yang baru’tersebut,tentu tidak terlalu sulit untuk ‘orang yangsedang susah untuk bisa bangun pagi’ dari paragraf sebelumnya. Bisa saja Dia susah bangun pagi karena setiap malam ada kencan dengan pacarnya melalui telephone. Ya bagi ‘pria yang susah bangun pagi’ itu, membina hubungan yang baru dengan lawan jenis bukanlah sebuah tembok. Itu hanya permasalahan yang kecil.Sekecil semut. Semut imut-imut kayak yang nulis postingan ini. eh emang semut bisa nulis postingan?

Setiap personal memiliki temboknya masing-masing. Satu buah tembok, dua buah, tiga, empat, sepuluh bahkan ratusan tembok yang harus di hancurkan. Mungkin tidak akan ada yang menyangka, kalau tembok nenek tua di tengah desa yang selalu bangun pagi itu ternyata berwujud ‘tahi anak kecil yang tiba-tiba terijak tidak sengaja di depan rumah’. Tuh kan, terkadang memang seperti itu. Permasalahan yang terlihat sangat sepele bagi kita, kadang kala terlihat sangat besar bagi orang lain. nenek tersebut menganggap‘menginjak tahi’ adalah  penghinaan yang memaksanya untuk mengawali hari ini dengan meluapkan emosi melalui sumpah serapah.

Sumpah serapah yang dipicu tahi anak kecil itu, bagi seorang cowok kribo adalah sebuah hiburan diawal pagi. Beberapa kali Cowok Kribo itu menahan tawa melihat neneknya misuh-misuh sambil mengabsen semua hewan penghuni kebun binatang. Terdengar sangat kejam? Mungkin. Itu hanya persoalan bagaimana memandang suatu konflik dengan sedikit lebih santai.  Yah setali tiga uang dengan anekdot ‘duluan mana ayam sama telur’. yah duluan ayam lah, wong ayamnya udah disebut duluan sebelum telur.

Cowok kribo itu juga memiliki tembok tersendiri yng harus dihancurkan. Ketika dia menertawakan neneknya yang tengah emosi, sesungguhnya secara terselubung dia tengah menertawakan dirinya sendiri yang hingga hari ini belum bisa menghancurkan tembok. Entah tembok yang ketiga, keempat atau entah yang keberapa. Tembok yang harus dihancurkan cowok kribo itu berupa mengatur waktu agar bisa menjadi pribadi yang baik. Tembok yang kedua berwujud laporan magang yang harus direvisi sebelum minggu depan. Di belakang tembok ‘laporan magang’ masih ada tembok bernama ‘bab 2 skripsi berjudul ‘Kabar Bang One:KomikalisasiPolitikDalam Program Televisi(StudiAnalisisSemiotika Roland Barthes )’. Di belakangnya lagi masih ada tembok ‘Lemon tea comic’, tembok ‘menerbitkan komik Viva La Indonesia’, tembok ‘Unyil Other Story’ hingga tembok semacam ‘cari pacar cakep yang bisa masak rendang sapi ala masakan Padang’.  Kampret. Temboknya Banyak Amat. Berbakat Jadi Tukang Bangunan Tuh.

Setiap orang memiliki temboknya masing-masing. Pertama yang harus kalian pastikan tembok kalian bukanlah tembok yang terbuat dari batako, bata, atau adonan semen. Jika terpaksa tembok kalian memang seperti itu, akan kupinjamkan linggis deh. Linggis itu keinginan kalian untuk menghancurkan tembok. Linggis itu semangat. Linggis itu berupa besi keras. Kalo linggis kalian empuk dan lembek itu namanya bukan linggis, itu namanya buah manggis. Kampret suka buah manggis, kalian jangan tanya aku soal gimana kampret itu makan manggis. Aku tidak tahu menahu soal kampret yang suka makan manggis. Aku bukan kampret. Tapi Kalo cara makan linggis aku tahu. Linggis mana Linggis!!

Cara menghancurkan tembok menggunakan linggis harus dimulai dari satu titik dan terus menerus. Sedikit demi sedikit. Menghancurkan masalah tekniknya juga sama dengan menghancurkan masalah. Sedikit demi sedikit dari satu titik dan terus menerus. Jangan menyerah, tembok besar tidak akan bisa kalian hancurkan dengan linggis apabila kalian menyerah di tengah jalan. Ketika kalian menyerah kelak mungkin akan mengalami perasaan yang traumatis seperti para manusia yang enggan membina hubungan lawan jenis dikarenakan rasa percaya diri yang telah mati. Kampret. Paragraf ini kok jadi kayak motivasinya om Mario Teguh sih. Super sekali.

Pria yang mau menghancurkan tembok. Terdengar sangat heroik bukan? Demi mendapatkan cerita yang menguras emosi, sang mangaka komik Bambino membuat prolog permasalahan untuk Shogo Ban sebanyak 10 chapter.  Satu chapter rata-rata berjumlah 20 halaman, dengan membuat perkiraan waktu imajiner satu chapter didalam komik adalah satu minggu, maka memerlukan waktu kurang lebih 3 bulan untuk bisa melihat keseluruhan masalah tersebut dengan lebih jernih. Nah bagaimana dengan tembok kalian? Apakah kalian akan menghancurkannya pake linggis atau buah manggis? Tolong perhatikan langkah kalian, kali aja ada tahi anak kecil yang siap  terijak tidak sengaja di depan tembok. Mungkin saja tahi-tahi di sekitar kalian adalah sosok-sosok yang menyebalkan seperti Tsuchiya. Kalian bisa menghindarinya, menginjaknya kemudian membersihkannya. Jika sudah bersih segera bangkit lagi untuk menghancurkan tembok kalian. Jangan menyerah. Tidak ada yang sia-sia untuk semua hal yang diciptakan Tuhan didunia. Postingan ini aku tutup dengan pantun penyemangat buat kalian.

Makan kripik sama manggis di pasar baru.
Mas Mujix manis siapa yang mau.
Ah sudahlah.



Mujix
Salah satu Pria Penghancur Tembok
yang manis dan berambut kribo
Kartosuro,10 Oktober 2013

Selasa, 24 September 2013

Kembang Kocapan

Bulan september ini banyak isi hati yan tak bisa dikatakan. Mungkin terlalu personal dan tidak etis untuk di publikasikan dalam media apapun. Iya. Media apapun. Bahkan lewat ‘status’ ataupun ‘tweet’ di jejaring sosial. Aku hanya bisa memberikan  gambaran kasar tentang apa saja yang terjadi di bulan september. Tapi jangan berharap untuk menemukan sesuatu yang pribadi dalam postingan ini, beneran, aku menulis kali inipun hanya ingin mengikat peristiwa melalui tulisan. Tak lebih dari itu. Bulan September ini aku mengerjakan komik ‘Viva La Indonesia’. Komiknya sudah selesai. Belum aku kirim. Mungkin besok. Intinya komik ini Menghabiskan waktu kira-kira 4 bulan semenjak tawaran itu datang. Lama ya. Iya dong. Dikerjain sambil magang dan  ngerjain proposal skripsi sih. Belum lagi minimnya fasilitas. Pokoknya sudah selesai. Ngobrolin sesuatu yang sudah selesai, laporan magangku jugasudah selesai lhoh. Hebat. Aku mengerjakannya dengan sangat menyenangkan  dalam waktu 3 minggu. Sempat ada masalah komunikasi dengan dosen pembimbing. Sempet eneg juga. Tapi ya sudahlah, aku harus bergegas untuk mencetak laporan tersebut agar bisa segera ujian. Eniwei aku juga berusaha menepati janjiku untuk bikin fanspage ‘Si Amed’.Alhamdulilah setiap akhir minggu, kalian dapat membacanya di Facebook, banyak yang suka kok. Ceritanya random dan mengalir  gitu. Bikinnya kadang asal, suka gambar satu terus di kopi paste  doang.  Satu lagi nih, aku juga sedang mengerjakan lanjutan komik ‘Si Unyil Other Story’. Baru dapat 12 halaman sih. Gak bisa se-ekspresif chapter  0, soalnya ini cerita pembuka dan pengenalan karakter  gitu. Mungkin bakal selesai awal Oktober. Baru aja aku mengedit tulisan blog. Aku kumpulin yang (sekiranya) bagus. Entah nanti mau diapain, rencaananya sih mau di kompilasi bareng mas Fachmy. Tapi ya gitu deh. Pada sibuk masing-masing. Malah sempet aku bikin covernya juga. Ganteng sih covernya, tapi sayang isinya ngaco dan gak jelas.  Beberapa hari yang lalu aku membeli banyak komik. Sepertinya ada yang gak beres dengan otakku, aku membeli 3 komik religi dari 3 aliran yang berbeda. Yaitu ‘Ujaran Budha’-nya Tsai Chih Chung, ‘Komik Kitab  Sufi’-nya Ibod, dan ‘33 Hadist Nabi’-nya Vby Djenggoten. Komiknya keren semua.  Hei, sepertinya itu pertanda bahwa aku harus segera berteman lagi dengan Tuhanku.

Malam ini aku mencetak laporan magang. Ada hampir 60 lembar. Banyak yha. Tinta kuningnya habis. Baru bisa memegang komputer setelah dua hari disibukkan dengan manualnya Unyil Other Story. Aku mencetaknya dengan perasaan gamang. Ketika melakukan sesuatu dengan perasaan gamang, semuanya terlihat begitu buruk. Di saat-saat seperti itu biasanya otakku berkhayal yang tidak realistis. Khayalan semacam ‘membanting remote televisi ke kepala’, ‘menendang tembok dengan sekuat tenaga’, ‘lari-larian sambil telanjang’ dan hal-hal absurd  lainnya. Serius? Iya. Serius. Kadang kala aku sangat ketakutan dengan khayalanku sendiri. Aku cukup bersyukur masih mempunyai logika yang waras untuk menghalau semua khayalan itu. Sesekali aku memindahnya ke dalam komik. Sesekali aku menuliskannya dalam postingan. Lain kali biarkan ia menguap habis ditelan waktu. Ketika masa-masa itu datang, aku benar-benar membutuhkan tenaga ekstra untuk sekedar menjalaninya dengan baik-baik saja. Dua hari yang lalu di ujung pagi berturut-turut bermimpi buruk tentang ‘gadis berpayung pelangi’. Bermimpi tentang bikin materi ‘Stand up Comedy’. September sangat random sekali. Belum lagi kebiasaanku mendengarkan lagunya Didi Kempot sambil kerja. Hahaha. Lagunya keren banget. Apalagi yang berjudul ‘Omprengan’ dan ‘Kembang Kocapan’.

Maaf ya. Segitu saja dulu. Intinya, Bulan september ini banyak isi hati yan tak bisa dikatakan.

Mujix
Boyolali, 24 September 2013

Kamis, 05 September 2013

cerita tentang penghapus

Cerita tentang penghapus
Seberapa penting benda bernama penghapus untuk manusia? Kalian tahu penghapus? Itu lhoo benda berasal dari karet yang digunakan untuk melenyapkan noda pinsil yang tidak berguna. Arti sebenarnya memang seperti itu. Namun bagiku, arti penghapus lebih dari sekedar ‘benda dari karet’, dan ‘melenyapkan noda’.

Benda dari karet.
Beberapa tahun ini aku sangat sensitif dengan benda yang bernama penghapus. Aku yang saat ini cukup ‘rewel’ untuk sekedar memilih penghapus. Harus merek itulah, harus yang harga segini lah, harus beli di gramedia lah, dan harus terbuat dari karet yang lembut lah.

Terbuat dari karet yang lembut adalah syarat mutlak untuk bisa masuk ke disgrip kuning bergambar superhero. Sebuah tempat dimana peralatannya ‘komikus amatir kribo’ bersarang. Padahal dulu aku gak serewel itu soal milih penghapus.

penghapus pertamaku adalah penghapus ‘tambahan’ yang berada diatas pinsil. Penghapus kecil berwarna merah muda dengan alumunium berwarna keemasan di pinggiran bawahnya. Ingat enggak? Itu lho pinsil yang badannya warna-warni. Kadang dibadan pinsil yang muter itu ada gambar miki mosnya. Kadang ada gambar mini mosnya. Kalo beruntung kalian bakal nemu gambar miki mos dan mini mos ngedate dalam satu pinsil. Penghapus yang ada diatas pinsil itu empuk banget. Kalo kamu doyan gambar, penghapus itu bakal ludes hanya dalam tiga minggu. Kalo kamu doyan ngemil, penghapus itu bakal ludes dalam hitungan hari. Penghapusku gak pernah bertahan lebih dari beberapa hari. Soalnya aku adalah orang yang doyan nggambar sambil ngemil.

Perkenalanku dengan ‘jagat penghapus’ semakin beragam sejak saat itu. Setelah penghapus ‘diatas pinsil yang ada gambar miki mos dan mini mos ngedate’ itu hilang, aku lebih sering menghapus tulisan menggunakan air ludah. Menjijikan memang. Tapi harap maklum. Saat itu aku masih ‘anak kecil berwajah unyu yang intelektualnya masih suka tiarap’ kalo inget ada film kartun Dragonball setiap hari minggu pagi. Temanku lebih parah. Dia menggunakan ingus untuk menghilangkan noda pinsil yang tidak berguna. Kebiasaan menggunakan ludah sebagai penghapus berhenti saat aku berkenalan dengan penghapus bergambar ‘Tiger’. Penghapus seharga 500 rupiah yang biasanya banyak ditemui sebagai hadiah lotre.

Benda itu penghapus berbentuk kotak kecil berukuran 2 Cm dan 2.5 Cm dengan ketebalan 0.5 Cm. Penghapus itu berwarna putih dengan sedikit karet alot berwarna hijau. Benda itu dengan bodohnya kunamakan Tiger, karena ada gambar ‘Harimau’ disamping inisial huruf ‘T’. Keren. ‘T’ untuk TIGER dan ‘M’ untuk MUJIX. Kok gak kaitannya? Ada kok. Mujix kecil adalah seorang cowok yang ingin menjadi pemberani seperti ‘Tiger’. Keinginan itu masih ada hingga saat ini. Saat dimana mujix masih rewel soal  ‘penghapus dari karet yang lembut’.

Kembali ke topik penghapus bergambar harimau. Selain  keren karena bisa belajar bahasa inggris, penghapus itu menyimpan sebuah legenda turun temurun. Legenda bercerita tentang kemampuan ajaib lain dari penghapus bergambar harimau itu. Informasi umum bilang Karet yang berwarna putih bisa membersihkan noda dari pinsil, sedangkan mitos yang lain mengatakan bahwa karet yang berwarna hijau bisa menghilangkan coretan bolpoin, spidol, bahkan pinsil warna. Keren. Aku yang saat itu sangat percaya dengan mitos tersebut.

Kepercayaanku terhadap mitos itu tak bertahan lama. Dalam hitungan jam aku melakukan hal-hal yang berkaitan dengan legenda tersebut. Karet yang berwarna hijau itu tak bisa membersihkan coretan bolpoin, goresan spidol, bahkan sekedar mengurangi noda pinsil warna. Malah makin kotor. Semenjak saat itu aku sangat berhati-hati mempercayai mitos-mitos tak jelas yang beredar di sekitarku. Termasuk mempercayai mitos setiap manusia mempunyai cinta sejati.

Semua hal yang berkaitan dengan cinta sangat menarik untuk dibahas. Aku ralat. Semua hal yang berkaitan dengan cinta sangat MENYEBALKAN untuk dibahas. Kamu akan setuju denganku jika kalian dalam posisi dalam pencarian kejelasan dari mitos ‘Setiap manusia mempunyai cinta sejati’. Apalagi jika pencarian itu gak kelar-kelar, mentok, dan hanya berakhir dengan ucapan ‘entahlah’ sambil menghela nafas panjang seperti tadi malam.

Ya. Tadi malam. Malam dimana aku melarikan diri dari adegan bertemu seseorang yang mungkin akan menjadi cintaku selanjutnya. Atau mungkin tidak. Tidak benar-benar melarikan diri. Bisa saja aku berbohong tentang apa yang aku tulis kali ini. Terlalu banyak pendapat dari diri sendiri yang terkadang menjerumuskan akal sehat dan akhirnya memaksa seseorang untuk melarikan diri. Melarikan diri dari kenyataan. Mungkin.

Apanya yang ‘Mungkin’??!!! bego!!! Padahal cuman pengen bilang ke pembaca bahwa yang nulis sedang galau. Hush!!!

Iya deh, terus apa hubungannya dengan penghapus, cinta sejati, dan galau gara-gara ketemu cinta baru? Heh? Emangnya ada hubungannya? Adakan?!

Biasanyakan tulisan di blog ini suka gitu. Temannya muter-muter terus ;jeng-jreng-jreng’ muncul deh kata motivasi andalannya. Ahahahaha ketebak banget yak. Gak ada hubungannya kok. Beneran. Cuman kepikiran aja, andaikata ada penghapus yang bisa menghapus semua noda pasti keren yhaaa. Bukan hanya noda pinsil dikertas yang bisa dihapus, tetapi juga noda bolpoin yang gak sengaja nempel di kemeja putih, noda pinsil warna dan noda masa lalu yang ada di otak dan hati kita.


Iya, hari ini aku benar-benar ingin nemu penghapus yang bisa menghilangkan kenangan buruk di masa lalu. Agar aku bisa segera mempercayai mitos “manusia mempunyai cinta sejati”. Kayaknya sih gitu deh. kayaknya sih aku bohong.

Mujix
ayo!! semangat mas!! katanya mau
jadi orang sukses. disiplin dong mas.
Amed aja disiplin makan ayam goreng kok.
05 September 2013

Jumat, 16 Agustus 2013

Antara Aku, Namamu, dan Bang Rhoma Irama

Mungkin malam ini aku kangen kamu. Atau mungkin enggak. Aku juga gak tahu harus gimana mendiskripsikannya. Tapi. Hari ini sudah dua kali aku mendesiskan namamu. Pertama kali, Nama belakangmu aku desiskan saat menguras bak mandi. Saat yang aneh. Aku sendiri juga merasa aneh. Ada hubungan apa coba, antara nama belakangmu dengan menguras bak mandi. Kedua, aku mengucapkan nama belakangmu ketika sedang menggoreng telur ceplok. Ini makin absurd. Oi, seseorang di sana, tolong pake rambut di kepalaku untuk menguras bak mandi.

Sepertinya jatah postingan ini hanya untuk membicarakan hal-hal yang sepele dan gak penting. Se-gak penting apa sih? Se-gak penting adegan ‘seorang cowok berambut kribo rela pergi kehalaman rumah sambil bawa laptop demi mendapatkan sinyal internet buat kirim email’.  Di saat-saat seperti itu aku sangat mahfum dengan prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’. Yah... gak seadil aku me-mahfum-i “kadang dunia gak adil” juga sih. Eh? Mahfum itu apa sih? Intinya, di desa guweh sinyalnya banyak. Tapi gak ada yang nyamber ke modem. Entah sinyalnya yang aneh, atau modemnya yang perlu dibanting. Adegan kerennya adalah aku berhasil mengirimkan email itu sambil kedinginan menggigil di halaman rumah pada jam 12 malam. Yes. Aku gak jadi me-mahfum-i prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’.

prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’ sempat menjadi momok Piscine Molitor Patel saat dia terjebak di tengah Samudra Pasifik di atas kapal sekoci bersama Richard Parker, seekor Harimau Bengala seberat 225 kilogram dan terjebak selama lebih 7 bulan. Kisah yang sangat awesome. Baru kali ini aku membaca novel bisa se-excited ini. Buku novel ini karangan Yann Martel.  Seorang penulis yang berasal dari Kanada. prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’ itu aneh, seperti perjalanan Piscine dalam menemukan Tuhan dan menemukan cara agar ia bisa diselamatkan. Yah, seaneh aku gak mood menyelesaikan postingan gak penting ini gara-gara teringat adegan ‘mendesiskan Nama belakangmu saat menguras bak mandi’. Hey kamu. Iya kamu, kamu tertawa dong, senyum juga gak papa, pasti seneng ya ketika kamu men-kepo blog ini dan tahu aku berbuat setolol itu. Nah gitu dong. Kamu manis kok kalo senyum.

Kalo yang meng-kepo aku seorang cowok atau bapak-bapak, tolong jangan tersenyum.

Jujur. Aku tidak terlalu suka dengan ‘senyuman lelaki’.
Apalagi ‘senyuman lelaki yang sudah bapak-bapak.’

Pokoknya novel itu bagus. Tak usah terlalu banyak diobrolin. Nanti bakal jadi postingan yang ‘penting’ dan gak membahas ‘hal-hal yang sepele’.

Hal sepele selanjutnya, di bibirku bagian bawah ada sariawan membentuk lubang ‘crop circle’ yang sangat lebar. Ada dua, dan semuanya besar. Selain besar, ‘crop circle’ itu membuat lebaran ini kacau. Jadi gak doyan makan. jadi gak doyan makan, padahal di meja makan ada benda-benda semacam Ketupat, Opor Ayam, Bakso Kuah, Es Buah, Kolak, Nastar, Hawug-Hawug, Rempeyek, Roti Monde berkeju yang aduhai, dan berbagai makanan laknat lainnya. Itu gak lucu. Aku sariawan, sementara banyak makanan yang bisa dimakan. Sial. Padu wae!!

Banyak orang bilang, sariawan disebabkan kekurangan vitamin C. Apa benar? Padahal pada saat tanda-tanda ‘crop circle’ yang biadab itu mau muncul, aku sudah ngemil Jeruk, Vitamin C tablet, dan YOU C 1000 tiga botol. Kurang apa coba?! Perlu aku ngemil kulkas sekalian gituh?! Dan kalian apakah tahu, penyebab lain sariawan kecuali kekurangan vitamin C. Penyebab ajib yang aku ketahui setelah googling -pake modem yang lemotnya mirip keong mau berak- adalah Stress.

Iya. Penyebab sariawan adalah stress.
Iya. Sama dengan judul lagunya Bang Rhoma Irama.
Iya, Yang ada liriknya ‘obatnya iman dan taqwa’ itu. Jreeeeng cuiiiiing #suaramelodigitar
Heran. aku gak kaget kalo stress bisa bikin stroke. Tapi ini Aku baru tahu kalo stress bisa menyebabkan sariawan.

Kaget bener. Bayangin coba.

Tiba-tiba ada temenmu datang sambil bawa skripsi yang belum kelar, terus pegang kepala sambil omong “skripsiku belum kelar broh, padahal masih harus ngerjain laporan magang dan ngejar pinsil komik buat komik penerbit, aku stress broh. Nanti kalo aku ‘SARIAWAN’ gimana??”

“Nanti kalo aku ‘SARIAWAN’ gimana??”

Gimana apanya broh? kalo sariawan gara stress ya diobatin broh. refreshing kek (oh iya, Ingatkan aku untuk besok bisa refreshing pake videoklipnya SNSD). Di obatin stressnya biar gak sariawan. Harus dimulai dari ngobatin sariawannya dulu. Takutnya nyebar ke otak menjad stroke seperti tetangga sebelah. 

di kampungku ada tetangga yang sakit stroke gara-gara stress mikirin duit buat pencalonan lurah. Lebih parah dari sekedar sariawan di bibirmu yang berbentuk lubang ‘crop circle’ yang sangat lebar. Semoga cepat sembuh ya om.

Sakitnya saat stroke atau sariawan gara-gara stress mungkin buat sebagian orang adalah sesuatu yang jauh dan tak terpikirkan. Itu adalah hal-hal yang sepele dan gak penting. Tak terpikirkan sampai kita mengalami sendiri.

Ya, apalagi mendesiskan nama seseorang saat menguras bak mandi atau menggoreng telur ceplok. Itu bukan gak penting lagi. Itu bego. Sebego seseorang yang sedang jatuh cinta dan ingin memporakporandakan dunia dengan perasaannya. Tapi bagiku mendesiskan nama dia itu sangat penting. 

Apalagi kalau nama yang kau desiskan itu adalah nama seseorang yang kamu cintai. Sialan. Kenapa malah jadi sok sentimentil gini sih.

Sentimentil adalah cara terdekat menuju tahap galau. Dan tahap galau adalah fase yang paling rentan terhadap stress. Dari pada sok sentimentil dan nanti berkubang di jurang prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’, lebih baik menuruti sarannya Bang Rhoma Irama untuk mencari ‘obat iman dan taqwa’. Agar tidak sariawan, stroke dan tertular penyakit ‘mendesiskan nama seseorang saat menguras bak mandi atau menggoreng telur ceplok’. Uoooh.


Mujix
fanspage udah, pinsil udah,
laporan magang sedang dikerjain,
bab 2 skripsi belum kepikiran, pacar
hilang entah kemana, makan malam baru mau mulai.
errrr apa lagi yah?
Simo, 16 Agustus 2013