Jumat, 11 Januari 2013

Imaginary talks with... #1



“Hey Man, apa yang harus aku lakukan?”  pertanyaan itu akhirnya terlontar dengan sangat tolol. Dia hanya diam, wajahnya panik.

“Anda mengundang saya kesini hanya untuk menjawab pertanyaan sesepele ini?!”  dia sepertinya tidak mempercayai tentang apa yang aku tanyakan.  Matanya menelanjangiku bagai pecundang.

“kamu hanya perlu menjawab apa yang aku tanyakan” tanganku memegang belakang baju panjangnya yang berwarna hitam. Tak akan kubiarkan dia pergi.

“Oh shit!!anda menghabiskan waktu saya, Buddy!!?”  dia memegangi kepalanya dengan penuh kejengkelan, menghela nafas panjang kemudian kembali duduk di depanku.

“Begini, Saya beruntung, pertanyaan tololmu itu sudah saya temukan jawabannya saat saya berusia sangat muda” sebuah pernyataan ketus itu menampar kesadaranku dengan sangat telak.  Aku diam, memandangnya dengan tajam. Dia melirihkan suaranya dan berkata bahwa di usianya yang sangat belia dia telah dihadapkan pada kenyataan yang berat.

“Oh iya? Apa yang kamu temukan, Hingga membuatmu menjadi orang hebat seperti sekarang?” aku berusaha memancingnya dengan pertanyaan sederhana.

“Sekedar anda tahu Buddy, orang tua angkat saya, Paul dan Clara Jobs mengajari untuk memprioritaskan tentang ‘apa yang harus aku lakukan’…..” dia merentangkan tangannya dengan senyum sinis.

So…?” tanyaku sambil menatap wajahnya yang menyebalkan, tipikal orang yang keras kepala dan ngotot.

“The only way to do great work is to love what you do...”   orang itu berkata dengan sangat yakin.
aku menelan ludah, kata-katanya sangat mengerikan dan terkesan amburadul.


“Lakukan apa yang anda cintai. Apapun. Yakinlah kalau yang anda lakukan akan menjadi pekerjaan yang hebat” dia memutar tangannya dan menepuk pundakku perlahan.


“Seperti kamu keluar dari Reed College di Portland, Oregon?! Dan kemudian melanjutkan kelas kaligrafi?!” kutatap tajam dia dengan penuh keyakinan, dia bergemin dan mengkerutkan matanya.


“Ya!! Tentu saja. Yakinlah kalau semua yang anda lakukan akan menjadi sesuatu yang hebat dan besar” aku tak bisa mengelak, dia telah membuktikan seberapa berpengaruh ‘kelas kaligrafi’ di pekerjaannya.


Hey Man!!! aku sudah melakukan apa yang ku suka, tapi tahu apa yang ku dapatkan?! Tak ada yang berubah?! Semua orang mencibirku!! ” Aku berteriak kesetanan, tak terkendali.


“Teruskan….” Dia berbicara tenang, bersedekap dengan tangan menyentuh jenggot pendek di pipinya.


“Kau tahu!! Didunia ini banyak orang brengsek yang segera menendangmu hanya gara-gara kau tidak sepaham dengan mereka!!”  aku meloncat dan meraih kerahnya dan berkata dengan penuh amarah.


 “Khikhikhikhii……”  dia menertawakanku, sama seperti orang-orang brengsek diluar sana

 “Terserah tentang apa yang kamu pikirkan tentang aku, Man.”  Aku mundur beberapa langkah mengatur nafas.

Hei Buddy, saya beri tahu satu hal. Jika saya tidak menghadiri kelas kaligrafi di perguruan tinggi itu, maka Mac tidak akan memiliki beragam huruf cetak ataupun huruf dengan spasi sejajar.” Dia tersenyum, sedikit lebih ramah dibandingkan 10 menit yang lalu.

“Saya dan Steve Wozniak, menjadi Nerd Computer atau apalah istilahnya hingga bertahun-tahun. Rekanku, ia merancang hardware, desain papan sirkuit, dan sistem operasi untuk Apple”

“Kalian menenggelamkan hidup kalian demi benda bernama ‘Apple’ sebegitu kerasnya. Apa kau tidak perduli denga orang-orang tolol di sekitarmu, Man? ” tanyaku dengan nada sedikit menyindir pria paruh baya bercelana jeans tersebut.

No… Saya sudah berprinsip sederhana, Jangan biarkan omongan orang 'meredam suara batin Anda sendiri” dia menunduk sejenak dan merapikan ikatan sepatu New Balance 991-nya yang mulai kusut.

“Apakah kamu masih berpikir seperti itu ketika kamu di ‘tendang’ dari Apple? Aku bahkan sekarang percaya kalau kau adalah orang yang pemarah dan mudah berubah pikiran” sepertinya ucapanku barusan membuatnya memikirkan jawaban yang tepat untuk menjatuhkan ucapanku.

“Hmmm… yah kurasa saya tidak terlalu memikirkannya. Bukankah gara-gara kejadian itu saya bisa membeli Pixar dan Mendirikan NeXT?! ” dia tertawa, kemudian menepuk dadanya dengan cukup keras.

“……………….. ” aku diam, dan berpikir membeli Pixar adalah sebuah  pencapaian yang sangat keren, dia benar-benar gila. Sepertinya permasalahanku di hadapannya hanya menjadi camilan makan siang di alam semesta yang luas ini.

“Dan sobat, apakah anda masih butuh jawaban tentang pertanyaan ‘apa yang harus aku lakukan’ tadi? ” tanyanya sambil tersenyum bijak. Dia berdiri tepat di depanku. Maju perlahan dan memegang pundakku.

“ingat, Milikilah keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi” dia menghilang, melebur bersama udara.

hey Buddy, Remember Stay Hungry. Stay Foolish.  Kemudian lenyap di telan semesta yang makin gelap. 

sumber gambar: http://www.quotationsdiary.com


Mujix
apa yang harus aku lakukan,
adalah apa yang aku inginkan.
Simo, 11 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar