Jumat, 11 Januari 2013

monolog

Matahari tinggal sepotong di ujung pantai, dia menyisakan kilaunya di permukaan laut. Semuanya tak ada yang tak kebagian, bahkan pelipis wajah sang karangpun terhanyut warna merahnya. aku biasa menyebutnya ‘panggung dunia khayal’, sebuah Batu karang di pantai yang seakan mirip raksasa. Kadangkala aku berdiri di ‘panggung dunia khayal’ itu untuk mendamprat takdirku habis-habisan, di lain waktu aku hanya duduk bercengkrama dengan Tuhan membicarakan tentang indahnya hidup. Puncak ‘panggung dunia khayal’ tersebut tingginya sekitar  30 meter, berwarna putih pucat penuh lubang-lubang dengan sisa-sisa hewan laut kecil khas batu pantai. 

Beberapa tahun lalu, untuk mencapai tempat ini kalian harus berjalan kaki di jalan setapak yang cukup terjal. Sekarang jalan itu telah di renovasi menjadi tangga-tangga kecil dari kayu.


Tempat ini sering di sebut tempat terujung dari semua ujung, Tempat dimana pertemuan dan perpisahan sederhana sering terjadi. Setidaknya pertemuan kecil antara air laut dengan tanah pantai pulau menjadi rutinitas yang sering di cari para pelancong dari berbagai negeri. Hari sudah beranjak lebih dari separuh, sedikit lagi semuanya akan mulai mengabur di telan malam. Hari ini Masih tersisa beberapa menit untuk sekedar menikmati langit jingga di atas sana. Apakah kalian tahu? Langit jingga  sore hari adalah waktu yang tepat untuk mengingat rumah, sedangkan langit jingga sore hari di pantai adalah waktu yang tepat untuk mengingat diri sendiri. Percayalah teman, Cakrawala yang luas nun jauh di seberang lautan bahkan kadang kala tak cukup untuk menumpahkan semua hal tentang diri sendiri.

Di ujung seberang yang lain, kalian bisa menemukan perahu-perahu nelayan berukuran sedang. Perahu itu hanya di gunakan untuk mencari ikan di malam hari.  ketika pagi menjelang pada pukul 9, kapal-kapal nelayan tersebut di sulap menjadi pasar dadakan untuk menjual ikan. Di kala sore seperti ini, perehu-perahu tersebut biasanya teronggok dengan mesra di tepi pantai. 4 jam lagi perahu tersebut siap bertarung dengan kerasnya dunia nelayan di lautan lepas.

Masih tersisa beberapa menit untuk sekedar menikmati langit jingga di atas sana. Semuanya perlahan-lahan mulai menghilang di telan gelap. Angin pantai mendadak keras menerpa apa saja di sekitarmu. Udara asin yang bergerak mendadak menandakan bahwa senja di pantai akan segera berakhir, berganti dengan malam yang gelap gulita. Ketika malam mulai menjelang, tidak ada lagi pertemuan kecil  antara air laut dengan tanah pantai pulau. Suara gemuruh air berombak mengingatkan bahwa hidup akan terus berjalan. Matahari telah habis dan tenggelam di ujung pantai,  Senja kali Ini telah berakhir, berganti dengan malam yang datang lagi. 

Percayalah, Cakrawala yang luas nun jauh di seberang lautan bahkan kadang kala tak cukup untuk menumpahkan semua hal tentang diri sendiri.

Mujix
Cowok yang mendamba bulu dada
Simo, 08 September 2012 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar