Senin, 25 Februari 2013

Sejenak Saja Sudah Cukup


“ Mukanya Pak Ban menyebalkan, dia membantaiku dengan banyak hal, kemudian tertawa ketika ujian sudah selesai, sial”

Temanku memecah keheningan di kantin kampus Mojosongo itu dengan sebuah keluhan. Yak, keluhan di siang bolong yang memaksaku untuk sekedar memperhatikannya dengan seksama. Dia adalah kawanku satu angkatan. 10 menit yang lalu dia tengah bersitegang dengan beberapa dosen untuk mempertanggungjawabkan tugas akhirnya di hadapan khalayak akademisi kampus. Dia terus mengeluh dan berbicara kesana kemari.

Aku sedang bosan dengan segala keluhan hari ini.

“Hahaha pokokmen ndang lulus trus kerjo neng Jakarta!! Ndang minggat ben ra ketemu wong-wong kampus sing njellehi” oke, keluhan tersebut disambut dengan manis oleh seorang cowok berambut panjang, dan dia kakak tingkatku. Dia juga sama dengan temanku yang tengah mengeluh, terus berbicara entah sampai dimana.

Sialan. Segera kusimak pembicaraan kawanku yang lain.

“kamu tau dosen yang itukan, dia itu tolol atau bego sih. Tau udah mahasiswa lama masih saja ngasih birokrasi mbulen dan ruwet gak jelas gini. Belum lagi kasus uang Magang yang gak jelas juntrungannya”

Cih, kenapa isinya gak jelas semua sih. Aku mengumpat di dalam hati.

“Hahahaha kalian semua santai aja lagi, nikmati saja waktu kalian. Nih ada game terbaru buat Ipad kalian, sejenis Race gitu sih. Tapi asik lhooo untuk sekedar membunuh waktu.  hahaha”

Ya. dia tertawa. Tertawa keras bercampur dengan Obrolan mengenai keluhan tentang ujian, tentang minggat di Jakarta, dan dosen yang katanya tolol tersebut. Sepertinya semua ini bakal membuatku gila.
Mereka semua berbicara sangat banyak. Kesana-kemari mempersoalkan segala macam.

aku hanya diam.

Tenggelam dalam riuh rendah suara manusia.
Aku kelelahan.

Pandanganku kualihkan ke segala arah. Tatapanku berhenti dilangit biru siang hari yang sangat terang benderang. Walau panas dan sedikit menyilaukan, mega-mega berwarna putih itu melengangkan riuh rendah suara manusia itu untuk sejenak.

Sejenak saja sudah cukup.

Aku tersenyum simpul melihat Tuhan menurunkan firman-Nya melalui semesta.

“Didunia ini ada banyak hal yang tidak bisa kau kendalikan seorang diri, Nak. Semesta-Ku terlalu berat untuk kau topang seorang diri. Kesinilah, bermain dan bercengkrama sejenak dengan-Ku”

Mujix
Iya, aku akan segera
berkencan dengan-Mu
Punggawan ,25 Februari 2013

1 komentar: