Rabu, 24 April 2013

Drunken Biker

“MAS!!!! AWAS DI DEPAN SEPEDA MOTOR!!!!”
Aku berteriak dengan muka pucat sambil mempererat pegangan tanganku di pundaknya. Pemuda memutar stang itu kekanan dan mengerem dengan tiba-tiba. Motor yang kami kendarai hampir saja terpelanting ke tengah jalan. Suasana mendadak hening, kemudian dia tertawa dengan penuh kegilaan ala Joker di film Batman Dark Knight.

“HIKS!! TENANG SA..SAJA MAS!!! PASTI AMAN KOK KALO SAMA SAYA.. HIKS!!!”
Sialan, bagaimana bisa tenang kalau masih terjebak satu kilometer bersama pengendara mabuk seperti kamu, pikirku.

“SHANTAII… SAJA MASH!!! AKKU ORANGNYAAH BAIK HIKS… KOK HIKS!!!”
Oke. Aku juga orang baik, karena kebaikanku jugalah akan kuceritakan awal mula kejadian yang membuatku berteriak dengan muka pucat gara-gara hampir terpelanting ketengah jalan bersama pengendara mabuk ini. Perjalanan Horror itu belum berakhir.

“AYOO MASSH!!! NAIK LAGIIIIH HIKS….”
Oh Tuhan, skripsiku belum kelar dan masih ada jatah nikah yang belum terlaksana.


***

Beberapa jam yang lalu, di jalan Soepomo, Punggawan, Surakarta. Di sebuah Jalan lurus berjarak 500-an meter.  Apabila di musim yang tepat, kalian akan melihat ‘bunga sakura’ berwarna kuning berguguran di malam hari.

Hari ini sabtu malam, orang-orang yang TIDAK berstatus jomblo dan yang merasa hidupnya bahagia karena cinta menyebutnya ‘Malam Minggu’. Kenapa aku menyebutnya sabtu malam? Apakah karena aku jomblo dan merasa tidak… ah… lupakan, aku sedang tidak mood membahas hal itu dalam postingan ini. Intinya, sabtu malam ini menjadi sabtu malam yang cukup berat bagiku. Kalian tahu kenapa? Yang pengen tahu mana suaranyaaaaaaah!!!? Luarrh biasyaaaah #langsung berpose ala ariel peterpan.

Beberapa kali aku melewati jalan ini, namun ‘bunga sakura’ berwarna kuning berguguran di malam hari tak pernah lagi terlihat. musim hujan bukanlah musim yang tepat untuk  melihat ‘bunga sakura’ berwarna kuning muncul. Musim hujan musim yang paling tepat untuk bercumbu rayu dengan istri dirumah. Kalau tidak punya istri? Silahkan bercumbu rayu dengan kulkas di rumah. Kalau gak punya kulkas? Nyemplung laut saja sana. Yang tidak punya kulkas mana suaranyaaaaaaah!!!? Luarrh biasyaaaah #langsung berpose ala ariel peterpan sambil nyemplung laut.

Aku dan musim hujan adalah sahabat karib yang saling membenci untuk mencinta. ada ribuan kisah tentang hujan yang hanya bisa aku ingat apabila berjalan beriringan di tengah hujan gerimis seperti malam ini. Aku berjalan cepat dan terburu-buru agar segera bisa sampai di daerah Pasar Depok. Iya, pasar dimana banyak orang berjualan burung. Di tempat kontrakannya Bang Arumania. Segera sampai disana dan segera bisa beristirahat. Perpindahan kontrakan yang semula berada di daerah Punggawan dan kini berada di daerah Depok, otomatis membuat segala alur mobilitasku berubah. Banyak hal yang aku harus perhitungkan agar semuanya bisa terselesaikan.

Oh Man…. masih ada satu kilo lagi agar aku bisa mencapai kontrakan. Aku terus melangkah melintasi jalan Soepomo yang cukup ramai malam ini. Ada hal-hal yang bisa kamu lihat secara mendetail ketika kamu berjalan kaki. Salah satunya adalah ternyata kota ini untuk beberapa tempat tak terlalu bersahabat dengan pejalan kaki. Sering kali aku melewati jalan-jalan trotoar yang beralih fungsi menjadi kios-kios rokok atau warung makan. Belum lagi area parkir liar yang kadang tidak hanya memakai trotoar tetapi juga memakan jalan raya. Semua itu memaksa pejalan kaki ‘ganteng’seperti diriku ini untuk sekedar minggir ketengah jalan untuk bisa melewati tempat tersebut.

“BRUAAAAKH!!!”
Aku tiba-tiba mendengar suara benda jatuh tak jauh dari tempatku berjalan. Aktifitas mengamati trotoar dan hak-hak pejalan kaki tentu saja terhenti seketika. Beberapa detik kemudian menggeliding sebuah helm berwarna hitam. Aku segera mengambil benda tersebut dan beberapa detik sesudahnya di depanku berhenti sepeda motor berwarna biru.

Pengendara bermuka gak jelas itu menoleh. Benar-benar gak jelas, soalnya aku ngumpet di balik pohon sambil kayang. Pengendara itu kira-kira berumur 30-an. Berpakaian ala mas-mas di pinggir pasar yang biasanya berjualan alat-alat kesehatan sambil megang ular kobra. tahu kan maksudku? Itu lho yang kadang kalo berjualan suka ‘presentasi’ khasiat empedu ular kobra buat keperkasaan pria. Belum tahu? Coba deh main ke Pasar Depok saat minggu pagi.

Kembali ke pengendara bermuka gak jelas.

“WAAH!!! MATURNUWUN YA MAS!! SUDAH DIAMBILKAN HELMNYA HIKS!!!”
Sekarang mukanya udah jelas. Soalnya aku sudah gak ngumpet lagi. Pengendara motor itu berkata cukup keras dan mengambil helm tersebut dari tanganku.

“Sama-sama pak” aku berkata seperlunya dan segera melanjutkan perjalanan sambil naik elang. Eh, bukannya tadi aku jalan kaki? Ah iya. Tadi kan emang jalan kaki.  Pengendara tersebut memacu kendaraannya dengan sempoyongan, meninggalkan diriku yang rencananya naik elang namun kemudian ternyata jalan kaki.

Dia tiba-tiba berhenti 20 meter di depanku. Ada apa gerangan? Apakah masih ada barang yang jatuh, begitu pikirku.

“MAS!! AYOOH SAYAH ANTERIN, MASNYAH MAU KEMANAH!!” dia berkata seperti kawan lama yang tak pernah bersua.

“AH… saya cuman mau ke Depok kok, silahkan aja duluan” aku menolak dengan halus.

“AYOOOH, SAYA JUGA MAU KE DEPOK AKU BONCENGIN SAMPAI SANA YHAAA….” Pengendara itu sedikit memaksa.

“Tidak usah Mas, di tinggal aja gak papa…” aku kembali menepis ajakan tersebut. Aku sedikit khawatir kalau dia seorang penculik yang mengincar cowok-cowok kharismatik buat dijadikan boyband.

“AYOLAAAAHHHH NANTI SAYYAH KENALKAN MELODY-NYA JKT48 DEEEEEH…..” aku melotot. Dialog yang ini bohongan. Jangan terlalu dipikirkan.

“MAS!! AYOOH SAYAH ANTERIN” dia memandangku dengan mata berkaca-kaca. Kemudian muncul bunga mawar dimana-mana sambil menari-nari india, ngumpet di balik pohon, lalu muncul dan berkata ‘Kuch Kuch Hotahai’.

Aku berpikir sejenak, bukankah menolak kebaikan itu sama saja menolak rejeki? Bukankah menolak rejeki itu sama saja menolak kuasa Tuhan?

“Oke deh… terimakasih ya Mas”

Aku segera membonceng ‘mas-mas mirip penjual alat-alat kesehatan sambil megang ular kobra’ dengan penuh haru. Aku sering berjalan kaki melewati berbagai kota dan jarang ada yang mau berbaik hati untuk berhenti untuk sekedar memberikan tumpangan.

Masalahmu adalah masalahmu sendiri Jendral!!
Namun Apakah ceritanya berakhir begitu saja? Belum. 


***

Angin malam ini sangat dingin. Bertiup keras seiring kencangnya laju kendaraan ini.  aku memperkirakan dengan kecepatan seperti ini, kontrakannya Bang Arumania bisa dicapai dalam waktu 10 menit. Obrolan basa-basi ala pengendara motor akhirnya terjadi. Semuanya berjalan wajar, hanya arah laju kendaraan yang kadang terlalu tengah atau terlalu pinggir tak merisaukan obrolan kita malam ini.
“Asli mana mas?” tanyaku untuk membuka obrolan yang akrab.

“HEEH HABIS DARI SANAH… HIKS” dia menjawab sambil menunjuk kearah belakang. Heh? Dia menunjuk? Apakah stangnya di lepaskan? Tentu saja.

“ohh.. dari sana ya mas. Sekarang mau kemana?” aku kembali bertanya.

“MAU KESANAH… ERR… KEDEPAN SANNAAH…” dengan sedikit limbung. Iya iyalah, kalo naik motor ya ke depan sana lah, masak mau ke belakang.

“Maaf ya mas merepotkan sudah mau memboncengkan saya”

“THIDAK APAH-APAH… KITA HARUS TOLONG MENOLONG HIKS…” pengendara itu menjawab dengan sedikit sengau. Ketika dia berbicara tercium bau menyengat. Aku mengingat-ingat bau apakah ini gerangan. Ini bukan bau ketiak maupun bau naga. Sedikit berbeda, mirip bensin namun berbau sedikit manis.

“SAYYAH SUKA ORANG BAIK, KALO MASSNYAH TADI TIDAK MENGAMBLKAN HELM SAYAH PASTI TIDAK AKAN MENOLONG MAS!! HIKS….” Dialog Ini kok kalau di tulis jadi alay banget? Perduli setan.

Dia mulai meracau.

“HIKS!! KITTAH KAN TIDHAK PERNAH TAHU KAN MAS,, KALAU KEBAIKAN KITHA SUATU SAAT AKAN DI BALAS OLEH TUHAN!!!”
Racauan dan bau menyengat ini mengingatkan aku akan suasana gerombolan seniman nanggung yang tengah berpesta saat pembukaan pameran. Oh damn, sepertinya aku mulai paham situasiku sekarang.

“GAKS PAPAH MASS, SAYA TIDAK MABUK KOK, NIH LIHAT SAJA SAYA MASIH BISA MENAIKI SEPEDA MOTOR… HIKS” dia berkata dengan sangat sengau sambil sesekali menengok kebelakang menyemburkan bau aroma yang cukup menusuk hidung.

Enggak. Kamu memang mabuk.

 Yang bilang kamu gak mabuk berarti dia sedang mabuk. Persoalan kamu bisa naik sepeda motor atau tidak, itu bukan urusanku. Aku sendiri belum mahir naik sepeda motor.Pengendara yang baik hati yang memberikan tumpangan ini ternyata tengah mabuk minuman keras. Yes!! Beri applause yang meriah buat lemotnya daya ingatku ini.

“oh, iya ya mas, ahahahahahahaha” aku tertawa kecut untuk menutupi kecemasanku

Aku panik. Imajinasiku berpikir macam-macam. 

Tiba-tiba teringat adegan dimana pemuda di daerah Bogor tewas gara-gara menabrak pohon beringin lantaran mabuk. Tiba-tiba teringat adegan dimana seorang pria ‘di ciduk’ oleh petugas Satpol PP di karenakan mabuk sambil naik sepeda motor. Tiba-tiba teringat adegan dimana Anwar Fuady yang tengah berperan sebagai om-om tengah mengejar Indah gara-gara ‘kebelet horny’ di sinetron Tersanjung.

“ ahahahahaha… masnya hebat ya… untung masih bisa pake motor ahahahahaha…” aku juga mulai meracau. Semuanya berjalan tidak wajar, hanya arah laju kendaraan yang kadang terlalu tengah atau terlalu pinggir mulai membuatku gila malam ini. 

Tunggu sebentar? Kurasa jika motor hanya sedikit oleng bukan jadi masalah jika pengendaranya tidak mabuk. Mas? Boleh aku loncat sekarang?!


***

Begitulah, awal mula kejadian yang membuatku berteriak dengan muka pucat gara-gara hampir terpelanting ketengah jalan bersama pengendara mabuk itu.

“OKKEH MAS…TENANG SAJJJAH SAYA TIDAK MABUK KOK…”
Hebat. Bau mulutnya hampir membuatku sakratul maut.

“Ahaahahahahah…” Tidak mabuk kepalamu.

Aku sering melakukan eksperimen kecil jika bertemu kawan yang sedang teler gara-gara mabuk. Eksperimen kecil itu berupa pertanyaan simpel seperti ‘siapa namamu?’, ‘berapakah satu tambah satu?’ dan yang lebih ekstrim ‘kamu lebih suka pake celana dalam atau pake boxer?’.

Tentu saja eksperimen kecil ini tidak akan bisa kau lakukan dalam keadaan sebasurd ini.

 “HIKS!! KITTAH KAN TIDHAK PERNAH TAHU KAN MAS,, KALAU KEBAIKAN KITHA INI SUATU SAAT AKAN DI BALAS OLEH TUHAN!!!” dia masih meracau soal kebaikan dan Tuhan. Aku masih menanggapinya dengan tertawa gak jelas entah menertawakan apa.

“SAYYAH SUKA ORANG BAIK, KALO MASSNYAH TADI TIDAK MENGAMBLKAN HELM SAYAH PASTI TIDAK AKAN MENOLONG MAS!! HIKS….”

Dia mengulangi kata-katanya 2 menit yang lalu. Aku masih menanggapinya dengan sikap ‘bingung harus menjawab apa atau sebaiknya aku gampar saja’.

“ ahahahahaha… masnya hebat ya… untung masih bisa pake motor ahahahahaha…”
Oh Tuhan. Ingatkan aku untuk membeli sebotol air putih jika suatu saat akan mengalami kejadian seperti ini.


***

Perjalanan ini walau diliputi rasa was-was dan cemas akhirnya sampai tujuan juga. Aku mendengarkan obrolannya yang kesana-kemari itu dengan penuh perhatian. Pengendara baik hati itu menurunkan aku di depan Pasar Depok dengan raut wajah gembira.  Raut wajah yang kurasa semua orang pernah mengalaminya setelah melakukan sebuah kebaikan untuk orang lain.

“DULUAAANH YAHH MASSH!!! SAYA KENAL PREMAN DI DAERAH SINNIH, KALAU ADA APAH-APAH BILANG SAJJAH SAMA SAAAIAAAH HIKS!!!” oke, nanti aku mention di Twitter. Eh anu. Twitternya apan mas?

Dia berkata seperti itu kemudian memacu sepeda motornya dengan kencang, sambil sedikit oleng tentunya.
Aku berpikir banyak hal saat melihat dia lenyap di tingkungan seberang jalan. Setidaknya dia bukan seorang penculik yang mengincar cowok-cowok kharismatik buat dijadikan boyband. Masyarakat  berbicara tentang baik dan buruk. Kaum terpelajar di sekolah mengajakan soal prilaku. Calon Lurah berambisi berbuat baik untuk kampungnya. Namun ketika mereka bertemu dengan istilah ‘Masalahmu adalah masalahmu sendiri Jendral!!’, jarang yang bisa mengaplikasikan teori tersebut ke dunia nyata.

“HIKS!! KITTAH KAN TIDHAK PERNAH TAHU KAN MAS,, KALAU KEBAIKAN KITHA INI SUATU SAAT AKAN DI BALAS OLEH TUHAN!!!” aku masih ingat ketika dia meracau soal kebaikan dan Tuhan sambil mengendarai motor yang kadang limbung kesana kemari.  

Di luar sana banyak orang diluar sana yang berbicara soal kebaikan. Pengendara mabuk Bagi sebagian besar Masyarakat dan Kaum terpelajar adalah sampah masyarakat.

Namun buatku malam ini,  Pengendara mabuk orang baik hati yang mau untuk berhenti sejenak untuk sekedar memberikan tumpangan kepada orang lain.

Mujix
Hiks!!akkuh gag mabbuk ketika nulis postingan inni koook,
suwweer
Pasar Depok , 19 April 2013




Tidak ada komentar:

Posting Komentar