Jumat, 16 Agustus 2013

Antara Aku, Namamu, dan Bang Rhoma Irama

Mungkin malam ini aku kangen kamu. Atau mungkin enggak. Aku juga gak tahu harus gimana mendiskripsikannya. Tapi. Hari ini sudah dua kali aku mendesiskan namamu. Pertama kali, Nama belakangmu aku desiskan saat menguras bak mandi. Saat yang aneh. Aku sendiri juga merasa aneh. Ada hubungan apa coba, antara nama belakangmu dengan menguras bak mandi. Kedua, aku mengucapkan nama belakangmu ketika sedang menggoreng telur ceplok. Ini makin absurd. Oi, seseorang di sana, tolong pake rambut di kepalaku untuk menguras bak mandi.

Sepertinya jatah postingan ini hanya untuk membicarakan hal-hal yang sepele dan gak penting. Se-gak penting apa sih? Se-gak penting adegan ‘seorang cowok berambut kribo rela pergi kehalaman rumah sambil bawa laptop demi mendapatkan sinyal internet buat kirim email’.  Di saat-saat seperti itu aku sangat mahfum dengan prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’. Yah... gak seadil aku me-mahfum-i “kadang dunia gak adil” juga sih. Eh? Mahfum itu apa sih? Intinya, di desa guweh sinyalnya banyak. Tapi gak ada yang nyamber ke modem. Entah sinyalnya yang aneh, atau modemnya yang perlu dibanting. Adegan kerennya adalah aku berhasil mengirimkan email itu sambil kedinginan menggigil di halaman rumah pada jam 12 malam. Yes. Aku gak jadi me-mahfum-i prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’.

prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’ sempat menjadi momok Piscine Molitor Patel saat dia terjebak di tengah Samudra Pasifik di atas kapal sekoci bersama Richard Parker, seekor Harimau Bengala seberat 225 kilogram dan terjebak selama lebih 7 bulan. Kisah yang sangat awesome. Baru kali ini aku membaca novel bisa se-excited ini. Buku novel ini karangan Yann Martel.  Seorang penulis yang berasal dari Kanada. prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’ itu aneh, seperti perjalanan Piscine dalam menemukan Tuhan dan menemukan cara agar ia bisa diselamatkan. Yah, seaneh aku gak mood menyelesaikan postingan gak penting ini gara-gara teringat adegan ‘mendesiskan Nama belakangmu saat menguras bak mandi’. Hey kamu. Iya kamu, kamu tertawa dong, senyum juga gak papa, pasti seneng ya ketika kamu men-kepo blog ini dan tahu aku berbuat setolol itu. Nah gitu dong. Kamu manis kok kalo senyum.

Kalo yang meng-kepo aku seorang cowok atau bapak-bapak, tolong jangan tersenyum.

Jujur. Aku tidak terlalu suka dengan ‘senyuman lelaki’.
Apalagi ‘senyuman lelaki yang sudah bapak-bapak.’

Pokoknya novel itu bagus. Tak usah terlalu banyak diobrolin. Nanti bakal jadi postingan yang ‘penting’ dan gak membahas ‘hal-hal yang sepele’.

Hal sepele selanjutnya, di bibirku bagian bawah ada sariawan membentuk lubang ‘crop circle’ yang sangat lebar. Ada dua, dan semuanya besar. Selain besar, ‘crop circle’ itu membuat lebaran ini kacau. Jadi gak doyan makan. jadi gak doyan makan, padahal di meja makan ada benda-benda semacam Ketupat, Opor Ayam, Bakso Kuah, Es Buah, Kolak, Nastar, Hawug-Hawug, Rempeyek, Roti Monde berkeju yang aduhai, dan berbagai makanan laknat lainnya. Itu gak lucu. Aku sariawan, sementara banyak makanan yang bisa dimakan. Sial. Padu wae!!

Banyak orang bilang, sariawan disebabkan kekurangan vitamin C. Apa benar? Padahal pada saat tanda-tanda ‘crop circle’ yang biadab itu mau muncul, aku sudah ngemil Jeruk, Vitamin C tablet, dan YOU C 1000 tiga botol. Kurang apa coba?! Perlu aku ngemil kulkas sekalian gituh?! Dan kalian apakah tahu, penyebab lain sariawan kecuali kekurangan vitamin C. Penyebab ajib yang aku ketahui setelah googling -pake modem yang lemotnya mirip keong mau berak- adalah Stress.

Iya. Penyebab sariawan adalah stress.
Iya. Sama dengan judul lagunya Bang Rhoma Irama.
Iya, Yang ada liriknya ‘obatnya iman dan taqwa’ itu. Jreeeeng cuiiiiing #suaramelodigitar
Heran. aku gak kaget kalo stress bisa bikin stroke. Tapi ini Aku baru tahu kalo stress bisa menyebabkan sariawan.

Kaget bener. Bayangin coba.

Tiba-tiba ada temenmu datang sambil bawa skripsi yang belum kelar, terus pegang kepala sambil omong “skripsiku belum kelar broh, padahal masih harus ngerjain laporan magang dan ngejar pinsil komik buat komik penerbit, aku stress broh. Nanti kalo aku ‘SARIAWAN’ gimana??”

“Nanti kalo aku ‘SARIAWAN’ gimana??”

Gimana apanya broh? kalo sariawan gara stress ya diobatin broh. refreshing kek (oh iya, Ingatkan aku untuk besok bisa refreshing pake videoklipnya SNSD). Di obatin stressnya biar gak sariawan. Harus dimulai dari ngobatin sariawannya dulu. Takutnya nyebar ke otak menjad stroke seperti tetangga sebelah. 

di kampungku ada tetangga yang sakit stroke gara-gara stress mikirin duit buat pencalonan lurah. Lebih parah dari sekedar sariawan di bibirmu yang berbentuk lubang ‘crop circle’ yang sangat lebar. Semoga cepat sembuh ya om.

Sakitnya saat stroke atau sariawan gara-gara stress mungkin buat sebagian orang adalah sesuatu yang jauh dan tak terpikirkan. Itu adalah hal-hal yang sepele dan gak penting. Tak terpikirkan sampai kita mengalami sendiri.

Ya, apalagi mendesiskan nama seseorang saat menguras bak mandi atau menggoreng telur ceplok. Itu bukan gak penting lagi. Itu bego. Sebego seseorang yang sedang jatuh cinta dan ingin memporakporandakan dunia dengan perasaannya. Tapi bagiku mendesiskan nama dia itu sangat penting. 

Apalagi kalau nama yang kau desiskan itu adalah nama seseorang yang kamu cintai. Sialan. Kenapa malah jadi sok sentimentil gini sih.

Sentimentil adalah cara terdekat menuju tahap galau. Dan tahap galau adalah fase yang paling rentan terhadap stress. Dari pada sok sentimentil dan nanti berkubang di jurang prinsip ‘kadang dunia itu gak adil’, lebih baik menuruti sarannya Bang Rhoma Irama untuk mencari ‘obat iman dan taqwa’. Agar tidak sariawan, stroke dan tertular penyakit ‘mendesiskan nama seseorang saat menguras bak mandi atau menggoreng telur ceplok’. Uoooh.


Mujix
fanspage udah, pinsil udah,
laporan magang sedang dikerjain,
bab 2 skripsi belum kepikiran, pacar
hilang entah kemana, makan malam baru mau mulai.
errrr apa lagi yah?
Simo, 16 Agustus 2013



Tidak ada komentar:

Posting Komentar