Minggu, 27 Oktober 2013

Driving Slow to 25 years Old

Di dalam film-film arus utama, adegan kematian biasanya digambarkan dengan sangat dramatis. Kematian-kematian tersebut dikomposisikan sedemikian rupa untuk membuat penonton terhanyut dalam skenario cerita. Adegan kematian terkeren sepertinya masih dipegang Jack Dawson saat mengorbankan dirinya untuk Rose DeWitt di film Titanic. Di film yang katanya romantis tersebut bertebaran adegan orang mati saat kapal itu akan karam gara-gara menabrak gunung es. Kapal mendadak bocor. Air masuk kedalam kabin dengan sangat menggila. Panik. Dan tentu saja adegan kematian para tokoh satu persatu yang ditampilkan sangat epic. para kritikus dan reviewer film ini menyebutnya film epic romantic disaster. 

Scene-scene yang ditampikan  dalam film Titanic  adalah kematian terencana yang dibuat khusus untuk penonton. Adegan kematian dalam film tersebut menjadi titik klimaks dari semua persoalan para karakter.  Sang sutradara, James Cameron menggiring ke dalam satu statement. Kematian bisa datang kapanpun tanpa perduli apapun urusan kalian. Setelah kematian itu datang, kemana para awak dan penumpang Titanic itu pergi? Ke alam kematian. Tentu saja. Namun alam kematian bukanlah wilayah yang menarik untuk dibahas bagi James Cameron di film Titanic.

Adegan kematian yang menarik untuk diperbincangkan lagi adalah adegan kematian Paman Gober dalam buku komik The  Life time of Scrooge Mc Duck karya Don Rossa. Premis masalah dalam chapter 5 yang berjudul The New Laird Of Castle Mc duck ini adalah permasalahan pajak dari kastil keluarga bebek yang sudah jatuh tempo. Apabila pajak itu tidak dibayar maka  istana tua di Dismal Town tersebut terancam dijual ke pemerintah dan akan dikuasai keluarga Whiskervile. Gober Bebek muda yang telah mengantongi uang 10.000 Dollar yang berasal dari penjualan tambang tembaganya itu akhirnya harus kembali ke Dismal Town, Skotlandia untuk menyelesaikan krisis tersebut.

Krisis yang bemula dari pertentangan antar dua keluarga besar.  keinginan keluarga Whiskervile untuk menguasai Dismal Town yang sudah cukup lama ini berujung ke sebuah pertempuran (atau mereka menyebutnya ‘duel mempertahankan harga diri’) . Alam kematian ala keluarga bebek akhirnya dimunculkan setelah Gober Bebek tenggelam dan kepalanya terantuk batu hingga dia mati. Tak ada proses kematian yang dramatis seperti Film Titanicnya James Cameron.  Sebagai penggantinya, Don Rossa menampilkan serentetan adegan dunia lain alam akhirat ala dunia bebek. Sang komikus juga menggiring ke dalam satu statement.  Kematian bisa datang kapanpun tanpa perduli apapun urusan kalian.

5 hari yang lalu aku ulang tahun. tiba-tiba saja tema kematian muncul mendadak dan menjadi kado yang harus aku mengerti. Kematian itu pasti, angka dari sebuah ulang tahun kadang kala hanya menjadi count down kesebuah tempat yang misterius. Tak terkatakan. Dalam postingan yang lalu (baca: ichi-go-ichi-e) aku memaparkan beberapa tradisi prosesi kematian dari berbagai budaya. Beneran, isinya cuman mati, mati, dan mati. nulisnya aja sambil merinding dangdut. Ok, back to main topic...

Kematian itu menjadi sangat menakutkan karena kita tidak mengetahui kapan dan bagaimana kejadian itu akan terjadi. Ada banyak cerita ketika kematian menjemputmu, maka semua hal yang pernah kau lakukan akan ditampilkan secara kilas balik. Aku rasa aku bisa menebak kilas balik apa yang kira-kira akan muncul. Aku sangat yakin peristiwa-peristiwa itu akan muncul dengan sangat jelas. segala ketololanku selama ini, berbagai penyesalan, dan mungkin beberapa kisah bahagia dari kisah cinta, akan muncul silih berganti seperti film. mungkin saja sedramatis film Titanic. tapi aku gak mau kalo ada adegan kapal karamnya. soalnya aku gak bisa berenang. bisa berenangpun aku gak mau kelelep di lautan lepas kayak gitu. yang jadi persoalannya adalah apakah aku siap mengubah hari-hariku yang tersisa ini dengan prinsip untuk hidup sehidup-hidupnya? Untuk apa? Kurasa untuk mengurangi porsi peristiwa-peristiwa bodoh yang telah terjadi selama 25 tahun ini.

Iya kali ini aku berusia 25 tahun. Di dalam film-film arus utama, adegan kematian biasanya digambarkan dengan sangat dramatis. Perjalanan hidup manusia tak jauh berbeda dengan film arus utama. Kematian itu menjadi sangat menakutkan karena kita tidak mengetahui kapan dan bagaimana kejadian itu akan terjadi. bisa saja nasibku seperti Gober Bebek, mati konyol gara-gara kepalaterantuk batu hingga mati.Entahlah. Hidupku juga belum selesai. Aku masih berjuang untuk meruntuhkan tembok besar yang tinggi dan menjulang itu. Tembok yang sangat kokoh. Mengapa harus kuruntuhkan? Kurasa untuk mengurangi porsi peristiwa-peristiwa bodoh yang telah terjadi selama 25 tahun ini. agar suatu saat aku bisa berkata bahwa aku sangat bangga memiliki hidup seperti ini. agar suatu saat aku bisa mati tanpa penyesalan. Pertanyaannya adalah, apakah aku siap mengubah hari-hariku yang tersisa ini dengan prinsip untuk hidup sehidup-hidupnya?

embuh. sepertinya sih masih banyak kejadian tolol dan bodoh di depan sana.
hahahaha :D

Mujix
kado lain di hari ultah itu adalah
keinginan untuk segera nikah, sama siapa?
sama Kulkas kali
Simo,27 Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar