Kamis, 10 Oktober 2013

Pria Penghancur Tembok


Namanya Shogo Ban. Pertarungan pasta yang mempertaruhkan harga diri mulai memasuki titik puncak. Jilid 9 dari manga Bambino Secondo karya Sekiya Tetsuji merupakan babak dengan alur yang paling menguras energi pembaca, khususnya pembaca introvert berambut kribo sepertiku. Manga Bambino Secondo adalah manga bertema kuliner dengan setting sebuah restoran Italia dengan segmentasi pembaca dewasa. Babak pertarungan antar koki masakan Italia ini dipicu permasalahan mengenai wanita dan harga diri.  Karakter protagonis  yang muncul dalam babak ini adalah Shogo Ban, koki berdarah panas namun paling junior di dalam Restoran Legare. Tsuchiya menjadi tokoh antagonis  dengan sifat licik dan karakter yang akan segera mengingatkanmu dengan ular. Demi mendapatkan cerita yang penuh emosi, sang mangaka membangun prolog permasalahan hingga 10 chapter. Sebuah premis yang cukup panjang untuk menjadikan babak ini panggung pertarungan yang menawan namun penuh dengan konflik. Awalnya pertarungan ini dimulai karena Ban tidak bisa memaafkan Tsuchiya yang sudah membuat gadis dicintainya cedera. Tsuchiya  mendorong gadis itu dari tangga lantai dua dan mengakibatkan Asuka (nama gadis tersebut) harus dirawat dirumah sakit dengan kondisi yang sangat kritis.

Cerita diperburuk lagi dengan permasalahan janin di perut Asuka yang dikhawatirkan gugur. Asuka adalah janda muda yang ditinggal mati suaminya, yang juga senior di Restoran Legare. Sebagai junior yang baik, Shogo Ban bertekad untuk melindungi Asuka. Lambat laun niat ‘melindungi’ itu berubah menjadi perasaan cinta. Hal itu sejalan dengan prinsip orang Jawa ‘tresno ono jalaran soko kulino’. Kurasa kalian bisa menebak alur ceritanya, ketika gadis yang kalian cintai dicelakakan oleh orang licik yang suka menjilat. Konflik-konflik kecil terus berdatangan. Permasalahan semacam menyabotase bumbu pasta, menyewa penonton bayaran, hingga akhirnya diputuskan untuk membuat pertandingan menu antar koki agar Tsuchiya mau mengakui segala kesalahannya. Secara alur cerita, semuanya terlihat sangat kompleks. Premis permasalahan dimunculkan sepotong demi sepotong hingga klimaks pertandingan pasta itu berakhir.

Babak ini dimulai dengan amarah dan cinta, suara dari luar yang berada di sekitar Shogo Ban hanya terdengar bagi ombak yang bergemuruh.Karena saat ini dia tengah menjadi pria yang mau menghancurkan tembok. Tembok yang berwujud kelicikan Tsuchiya dengan segala tipu daya dan kemampuannya dalam memasak pasta.Jika Shogo Ban kalah, maka dia harus menjadi budak Tsuchiya. Jika Shogo Bang menang, Tsuchiya harus mengakui kesalahannya di depan semua orang di restoran Legare. Ceritanya seru kan? Seru dong. Komik Bambino Secondo adalah top ten komik yang paling aku tunggu rilisnya di toko buku. Jika ada yang bilang komik hanya bacaan ringan untuk anak-anak, maka orang itu adalah manusia purba yang hidup di gua dan tidak pernah mengenal apa yang disebut konsep media komunikasi massa. Jika orang itu bukan manusia purba, maka dia adalah alien. Alien yang tinggal di gua.

Oh iya, sekedar mengingatkan. Namaku Mujiyono dan aku calon sarjana (hampir) ganteng yang suka merangkai sabda semesta melalui komik, kadang tulisan, kalo lagi bete suka curcol lewat Twitter. Suka dipanggil ‘Mujix’ sama teman-teman kampus. Suka di panggil ‘Anjasmara’ sama teman-teman kampung. Saat ini sedang senang-senangnya menjadi mahasiwa yang masa aktifnya yang hampir berakhir. Iya baru hampir, dan belum berakhir. Sesekali suka belajar olah vokal  secara rahasia di kamar mandi, sebagai persiapan jika datang suatu masa dimana penyanyi Rock And Roll kembali berjaya. Padahal aku pendengar setia Didi Kempot. Ngapain harus jadi penyanyi Rock And Roll sih?Oke. Perkenalannya segitu dulu. Kembali ke topik utama.

Pria yang mau menghancurkan tembok. Istilah keren itu muncul muncul di jilid 9. Digunakan sebagai kiasan untuk pria yang ingin memperjuangkan keinginannya dengan mempertaruhkan harga diri hingga titik darah penghabisan. Terdengar sangat heroik bukan?

Definisi tembok adalah dinding dari batako, bata, atau adonan semen. Sebuah material yang tidak bisa kau hancurkan semudah membalikkan tangan. Ah, membalikan tangan yang tertindih tembok juga sulit sih. Intinya hal tersebut hanya Sebuah perumpamaan yang tepat untuk menggambarakan sebuah keinginan yang sepertinya terlalu mustahil untuk diwujudkan. Terlalu mustahil namun masih bisa dilakukan. Wujud tembok itu berbeda tergantung dari pemilik keinginan tersebut.

Bagi sebagian orang, tembok itu berwujud ‘susahnya untuk bisa bangun pagi  dan berlari kecil sepanjang gang agar bisa menjaga kesehatan  tubuh’. Terdengar sangat sepele bukan? Hal tersebut terlihat tak terlalu sulit untuk seorang nenek tua di tengah desa yang selalu bangun pagi. Nenek tersebut melihat ‘susahnya untuk bisa bangun pagi’ bukan sebuah tembok yang ingin dihancurkan. Itu hanya permasalahan yang kecil. Sangat kecil. Sekecil semut. Semut yang imut-imut kayak yang nulis postingan ini.

Orang-orang di belahan Planet Bumi yang lain, mungkin melihat tembok itu berupa perasaan traumatis dalam membina hubungan yang baru dengan lawan jenis. Tak sedikit pria-pria yang memilih untuk hidup sendiri dan tak mempercayai sebuah hubungan yang tidak masuk akal dengan wanita. Mereka mungkin menunggu waktu, seseorang yang tepat, takdir yang sedikit diubah, atau apapun itu. Setidaknya mereka masih percaya bahwa mereka terlahir dari wanita. Kalau terlahir dari batu namanya Sun Gokong.

Hal untuk ‘membina hubungan yang baru’tersebut,tentu tidak terlalu sulit untuk ‘orang yangsedang susah untuk bisa bangun pagi’ dari paragraf sebelumnya. Bisa saja Dia susah bangun pagi karena setiap malam ada kencan dengan pacarnya melalui telephone. Ya bagi ‘pria yang susah bangun pagi’ itu, membina hubungan yang baru dengan lawan jenis bukanlah sebuah tembok. Itu hanya permasalahan yang kecil.Sekecil semut. Semut imut-imut kayak yang nulis postingan ini. eh emang semut bisa nulis postingan?

Setiap personal memiliki temboknya masing-masing. Satu buah tembok, dua buah, tiga, empat, sepuluh bahkan ratusan tembok yang harus di hancurkan. Mungkin tidak akan ada yang menyangka, kalau tembok nenek tua di tengah desa yang selalu bangun pagi itu ternyata berwujud ‘tahi anak kecil yang tiba-tiba terijak tidak sengaja di depan rumah’. Tuh kan, terkadang memang seperti itu. Permasalahan yang terlihat sangat sepele bagi kita, kadang kala terlihat sangat besar bagi orang lain. nenek tersebut menganggap‘menginjak tahi’ adalah  penghinaan yang memaksanya untuk mengawali hari ini dengan meluapkan emosi melalui sumpah serapah.

Sumpah serapah yang dipicu tahi anak kecil itu, bagi seorang cowok kribo adalah sebuah hiburan diawal pagi. Beberapa kali Cowok Kribo itu menahan tawa melihat neneknya misuh-misuh sambil mengabsen semua hewan penghuni kebun binatang. Terdengar sangat kejam? Mungkin. Itu hanya persoalan bagaimana memandang suatu konflik dengan sedikit lebih santai.  Yah setali tiga uang dengan anekdot ‘duluan mana ayam sama telur’. yah duluan ayam lah, wong ayamnya udah disebut duluan sebelum telur.

Cowok kribo itu juga memiliki tembok tersendiri yng harus dihancurkan. Ketika dia menertawakan neneknya yang tengah emosi, sesungguhnya secara terselubung dia tengah menertawakan dirinya sendiri yang hingga hari ini belum bisa menghancurkan tembok. Entah tembok yang ketiga, keempat atau entah yang keberapa. Tembok yang harus dihancurkan cowok kribo itu berupa mengatur waktu agar bisa menjadi pribadi yang baik. Tembok yang kedua berwujud laporan magang yang harus direvisi sebelum minggu depan. Di belakang tembok ‘laporan magang’ masih ada tembok bernama ‘bab 2 skripsi berjudul ‘Kabar Bang One:KomikalisasiPolitikDalam Program Televisi(StudiAnalisisSemiotika Roland Barthes )’. Di belakangnya lagi masih ada tembok ‘Lemon tea comic’, tembok ‘menerbitkan komik Viva La Indonesia’, tembok ‘Unyil Other Story’ hingga tembok semacam ‘cari pacar cakep yang bisa masak rendang sapi ala masakan Padang’.  Kampret. Temboknya Banyak Amat. Berbakat Jadi Tukang Bangunan Tuh.

Setiap orang memiliki temboknya masing-masing. Pertama yang harus kalian pastikan tembok kalian bukanlah tembok yang terbuat dari batako, bata, atau adonan semen. Jika terpaksa tembok kalian memang seperti itu, akan kupinjamkan linggis deh. Linggis itu keinginan kalian untuk menghancurkan tembok. Linggis itu semangat. Linggis itu berupa besi keras. Kalo linggis kalian empuk dan lembek itu namanya bukan linggis, itu namanya buah manggis. Kampret suka buah manggis, kalian jangan tanya aku soal gimana kampret itu makan manggis. Aku tidak tahu menahu soal kampret yang suka makan manggis. Aku bukan kampret. Tapi Kalo cara makan linggis aku tahu. Linggis mana Linggis!!

Cara menghancurkan tembok menggunakan linggis harus dimulai dari satu titik dan terus menerus. Sedikit demi sedikit. Menghancurkan masalah tekniknya juga sama dengan menghancurkan masalah. Sedikit demi sedikit dari satu titik dan terus menerus. Jangan menyerah, tembok besar tidak akan bisa kalian hancurkan dengan linggis apabila kalian menyerah di tengah jalan. Ketika kalian menyerah kelak mungkin akan mengalami perasaan yang traumatis seperti para manusia yang enggan membina hubungan lawan jenis dikarenakan rasa percaya diri yang telah mati. Kampret. Paragraf ini kok jadi kayak motivasinya om Mario Teguh sih. Super sekali.

Pria yang mau menghancurkan tembok. Terdengar sangat heroik bukan? Demi mendapatkan cerita yang menguras emosi, sang mangaka komik Bambino membuat prolog permasalahan untuk Shogo Ban sebanyak 10 chapter.  Satu chapter rata-rata berjumlah 20 halaman, dengan membuat perkiraan waktu imajiner satu chapter didalam komik adalah satu minggu, maka memerlukan waktu kurang lebih 3 bulan untuk bisa melihat keseluruhan masalah tersebut dengan lebih jernih. Nah bagaimana dengan tembok kalian? Apakah kalian akan menghancurkannya pake linggis atau buah manggis? Tolong perhatikan langkah kalian, kali aja ada tahi anak kecil yang siap  terijak tidak sengaja di depan tembok. Mungkin saja tahi-tahi di sekitar kalian adalah sosok-sosok yang menyebalkan seperti Tsuchiya. Kalian bisa menghindarinya, menginjaknya kemudian membersihkannya. Jika sudah bersih segera bangkit lagi untuk menghancurkan tembok kalian. Jangan menyerah. Tidak ada yang sia-sia untuk semua hal yang diciptakan Tuhan didunia. Postingan ini aku tutup dengan pantun penyemangat buat kalian.

Makan kripik sama manggis di pasar baru.
Mas Mujix manis siapa yang mau.
Ah sudahlah.



Mujix
Salah satu Pria Penghancur Tembok
yang manis dan berambut kribo
Kartosuro,10 Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar