Rabu, 27 November 2013

Dompet

Aku berjalan terburu-buru mengejar bis Karunia Mulya yang tiba-tiba muncul mendadak dari pintu Terminal Tirtonadi. Bis itu berwarna biru tua dengan kondisi fisik yang sangat memprihatinkan, Seperti hidupku, pffft. Sudah layak untuk ‘pensiun’ dan beralih dimensi ke pembuangan sampah untuk didaur ulang menjadi sendok. Ah, jadi garpu juga gak papa sih. Yang penting  jangan jadi sempak.  Beberapa detik sebelum aku melompat ke pintu bis tersebut tiba-tiba aku tersadar sesuatu yang sangat penting. Dompetku tertinggal di kontrakannya Bang Arum. Ya, dompetku tertinggal. Aku ketik dengan huruf capital biar agak dramatis. DOMPETKU TERTINGGAL!!!!  Kayaknya sih terselip dengan aduhai di atas tabung LPG tak jauh dari pintu kamar mandi.

Jadi, Di dalam waktu yang sepersekian detik itu aku harus mengambl keputusan yang penting. Apakah aku harus kembali ke kontrakan dengan berjalan kaki ke suatu tempat yang jaraknya ‘cukup membuat kaki kram’ untuk mengambil dompet  atau aku nekat pergi ke kentingan untuk mengejar waktu untuk bertemu dengan klien bermodalkan uang 4.000 rupiah dikantong. Dan kalian tahu apa yang aku pilih? Aku mengambil opsi kedua secara spontan.

Aku melompat sambil memegang gagang pintu dan segera menghambur masuk kedalam bis dengan perasaan yang sangat bergejolak. Ya. Keputusan  mendadak yang sangat tidak masuk akal itu aku pilih untuk mempertahankan prinsip ‘bertemu klien dengan tepat waktu’.

***

Beberapa jam sebelumnya di sebuah kontrakan Bang Arum. Hari itu hari sabtu yang sangat aneh. Seharian dari pagi sampe siang kegiatanku hanya kentut, kebelet pipis, ingin buang hajat nikah . hanya kentut, kebelet pipis, ingin buang hajat nikah . hanya kentut, kebelet pipis, ingin buang hajat nikah .  terus gitu sampai hari Yaumul Akhir. Intinya, bagiku di hari Sabtu itu,  siksaan neraka jahanam adalah memakai celana skinny jeans cewek yang sangat ketat dengan aktivitas  kentut, kebelet pipis, ingin buang hajat yang datang secara rutin dan konsisten. Kenapa harus pake skinny jeans? Kata Raditya Dika, pake skinny jeans itu gaul.  Kenapa harus cewek? Karena aku cowok, normal dong kalo suka sama cewek.

Gerakan semacam ‘lepas ikat pinggang  dan celana sambil buru-buru ke toilet namun tangan sering nyangkut di dompet saku depan’ itu terus terulang dan terulang . beberapa kali. Terus menerus dan titik puncaknya adalah kulempar begitu saja dompet itu agar tidak nyangkut dicelana  ketika ‘kegiatan tersebut’ sudah tak tertahankan lagi.

Detik-detik saat aku mau melempar dompet itu terekam sangat jelas di otakku. Saat visual itu muncul, ada banyak suara bergema dipikiranku. Aku sangat ingat ketika semua suara-suara itu berakumulasi menjadi satu titah yang berbunyi ‘sudah  lempar saja dompet itu ke tabung Elpiji, nanti bisa kamu ambil lagi. Tenang saja tidak akan terjadi apa-apa kok’. Titah yang aneh. Kenapa juga nyuruh ngelemparnya ke Elpiji. Kenapa enggak di lempar kehatimu ajah.  Dan begitulah. Dompet itu aku lempar dengan sangat bernafsu ke arah tabung Elpiji dan aku segera berlari random ke kamar mandi. Simulasi  siksaan neraka jahanam itu akhirnya usai juga. Yeah.

Aku lega. Keluar kamar mandi dengan ganteng. Semua beres. Semua beres kecuali dompet yang masih terselip dengan aduhai di atas tabung Elpiji.

Terselip dan terlupa.
Yeah lagi.

***
Drama hari ini berjudul ‘Seorang pemuda berambut kribo bermodalkan uang 4.000 rupiah dikantong,  gara-gara dompet yang  terselip dengan aduhai di atas tabung Elpiji karena mempertahankan prinsip ‘bertemu klien dengan tepat waktu’.  Hanya orang  tolol yang berani melakukan hal tersebut.  Seberapa tolol? Mari kita obrolkan bersama.

Aku hanya memiliki uang 4000 rupiah di kantong. Tarif untuk naik bis rata-rata 2500 sampai 3000 rupiah sekali jalan.  Untuk bis VIP semacam Batik Solo Trans,  tarifnya 3500 rupiah. Saat itu aku hanya bermodalkan ingatan samarku bahwa tarif bis karunia mulya hanya 2000 rupiah. Aku akan sangat aman jika tarif itu sesuai dugaanku. Aku berharap dugaan itu benar agar prinsip ‘bertemu klien dengan tepat’ tidak terlanggar.  Sang klien mengajak bertemu di sebuah kantin yang cukup besar. Aku hanya akan menggunakan uang 4000 itu hanya untuk tarif transpot.

Kukatakan sekali lagi, UANG 4000 ITU  HANYA UNTUK TARIF TRANSPOT.

Impian untuk pesan kopi hitam atau teh hangat sambil ngobrolin projek, langsung aku buang ke laut. Enggak bisa beli pulsa juga. Rencananya di kantin tersebut aku akan berpura-pura menjadi  boneka ‘wini the puuh’  yang pingsan gara-gara keracunan makan ikan buntal  agar tidak memesan apapun. Catat, apapun, karena uangku mungkin hanya tinggal tersisa 2000 (atau malah 1000 rupiah). Kampret. Beberapa menit sebelum kernet menarik bayaran penumpang, aku galau. Memandang langit biru. Menghela nafas panjang. Berharap ada alien yang menginvasi bumi kemudian kiamat. Huft.

Jika dugaanku tentang tarif itu meleset 100 rupiah saja, maka sudah dipastikan aku akan kembali ke kontrakan dengan berjalan kaki sejauh 4 KM. Berjalan 4 KM gara-gara untuk menghargai sebuah prinsip diri sendiri yang sangat  bodoh.  Kegalauanku itu sangat beralasan. Sang kernet datang. Badannya yang hitam legam membuatku bergidik.  Aku menelan ludah. Terbayang adegan aku kelelahan berjalan 4 KM.

***

Setiap orang memiliki prinsipnya masing-masing, dan setiap orang bebas untuk mempertahankan atau mencampakkan prinsip tersebu. prinsip ‘bertemu klien dengan tepat waktu’ adalah salah satu dari banyak prinsip yang sedang kupertahankan. fokus sebenarnya adalah ‘tepat waktu’.  Adegan terburu-buru mengejar bis karunia mulya yang tiba-tiba muncul mendadak dari Pintu Terminal Tirtonadi itupun salah satu upaya agar aku bisa mempertahankan prinsip tersebut. Uang yang hanya tertinggal 4.000 rupiah dikantong merupakan sebuah manifestasi pikiran liarku untuk mempercayai prinsip tersebut, setidaknya untuk hari ini  aku ingin bermain-main dengan ‘hukum tarik menarik’ dan ‘sebab akibat’.  Aku belum tahu dengan apa yang akan terjadi.

Rasanya ngeliat kernet datang saat bawa uang yang dikit itu, kayak ngeliat gebetanmu tiba-tiba minta dibelikan smartphone saat tanggal tua, padahal kalian belum jadian dan belum gajian. pokoknya  ‘Pfft’  banget.

Aku khawatir. Aku be namun perlahan kekhawatiranku itu berubah menjadi perasaan bergairah. Hei, perasaan ‘deg-deg-an’ dan khawatir  ini mulai terasa  menyenangkan.

***

Sang kernet datang. Aku menelan ludah. Tanganku merogoh kantong dengan sedikit gemetar. Kupastikan uang yang terambil adalah 2000 rupiah. Kuserahkan dengan senyum formalitas ala Mbak-Mbak SPG di pasar malam. Sang kernet yang masih hitam legam itu mengambil uangku dengan dingin. Tak terseyum sedikitpun. Kerennya dia berlalu begitu saja. 

Sepertinya perkiraanku tepat. Bis ini masih bertarif 2000 rupiah. Alhamdulilah.

Bis Karunia Mulya ini berjalan menuju kearah timur dengan tenang.  Semua hal didalam hidup itu terkadang bersifat  mendadak dan sangat tidak masuk akal. Beneran. Seberapa banyak diantara kita sering terhenti dalam melangkah karena khawatir dengan apa yang akan terjadi depan nun jauh disana. Di sebuah masa yang tidak bisa kita mengerti. Tugas selanjutnya adalah menyamar menjadi boneka ‘wini the puuh’  yang pingsan gara-gara keracunan makan ikan buntal  agar tidak memesan apapun. Dikantongku hanya tersisa uang 2000 rupiah.  prinsip ‘bertemu klien dengan tepat waktu’ detik ini masih bisa kupertahankan.kurasa adegan  dompet yang masih terselip dengan aduhai di atas tabung LPG itu juga sebuah ketentuan takdir  yang harus terjadi. Seperti kelahiran, jatuh cinta, menikah, dan mati.

Uang dikantong masih tersisa 2000 rupiah. Masih ada jadwal bertemu klien di warung makan. Belum tahu juga ntar pulangnya naik bis apa.  Ahahaha sialan, perasaan ‘deg-deg-an’ dan khawatir  ini mulai terasa  menyenangkan.



Mujix
baru kali ini
aku loncat-loncat kegirangan
gara-gara dapat kabar yang baik.
Simo, 27 November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar