Selasa, 31 Desember 2013

Gulai Daging

Suasana stasiun kereta hari ini sangat penuh, padahal waktu telah menunjukkan  jam 9 malam. detail mengenai 'waktu' itu bisa kuketahui secara pasti karena ada jam dinding bundar berwarna putih yang tertempel di tembok tak jauh dari loket penjualan tiket.  Suasana jam 9 malam ini rasanya terlalu aneh, karena langit masih sangat terang benderang. Kurasa hal tersebut  disebabkan oleh terlalu banyaknya lampu kota yang memantul dan akhirnya membiaskan cahaya tersebut di langit. Terserahlah, bukan sesuatu yang menarik untuk dibahas lebih mendetail..

Aku berjalan menyusuri peron stasiun. Sesekali aku melompati garis-garis tajam berwarna orange di samping rel. Menurut mitos para masinis, garis orange itu bisa terlihat dari ketinggian tertentu dan sudah ditampilkan dalam peta rel kereta api seluruh dunia. Keren ya.  Tak jauh dari garis-garis orange itu terdapat kursi berwarna hitam legam. Segera saja aku berjalan kearah kursi itu dan memutuskan untuk istirahat. Aku merasa hari ini adalah hari yang melelahkan.

Beberapa jam sebelumnya aku berada di kota sebelah. Panitia sebuah festival senirupa bergengsi mengundangku sebagai peserta dan sangat diharapkan untuk bisa hadir dalam serangkaian acaranya. Aku masih ingat bagaimana kagetnya wajah teman-temanku saat aku menghadiri acara tersebut. Mereka bahkan sampai berkata dengan ketus tentang aku yang akan sangat merepotkan apabila tidak datang menggunakan kereta. Saat ini aku memang makhluk paling merepotkan sedunia. Aku maklum. Alasanku pergi ke kota sebelah menggunakan keretapun juga untuk menepis pernyataan ‘merepotkan’ tersebut. aku bisa mengurusi hidupku sendiri kali ini, hal itu aku buktikan dengan pergi ke kota sebelah dengan menggunakan kereta. perkataan kalian yang ketus tentang 'aku yang akan sangat merepotkan' itu aku patahkan hari ini.

Dari tempat ini aku bisa memandang datang dan perginya kereta. Di salah satu kereta aku bahkan bisa melihat aktivitas penumpang, dikarenakan pintu dan jendelanya rusak. Di kereta yang lain para penumpang bergerombol di pintu masuk perpindahan antar gerbong. Manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial. Manusia sudah memiliki kodrat untuk selalu berkerumun dan bergerombol. Mereka terus berkerumun dan bergerombol untuk memaksakan hal-hal yang bersifat pribadi agar bisa menjadi manusia idealis. Tentu saja idealis menurut persepsi mereka sendiri. Kacau.

Manusia-manusia yang berkerumun di gerbong kereta itu mengingatkanku dengan hidupku yang juga berkerumun namun belum tertata rapi. Setidaknya tak tarlalu rapi seperti kursi umum di stasiun. Kursi berwarna hitam legam ini kurasa telah menjadi pemberhentian ratusan atau ribuan penumpang. Aku bisa memastikannya dari cat di pegangan tangannya yang mulai hilang dan berubah tekstur menjadi sangat halus. Terlalu halus dan membuatku terlena dan tidak memperhatikan sesosok bapak paruh baya yang telah duduk di sampingku.

Bapak itu menyapaku dengan ramah, mengingatkanku dengan karakter kakak keponakan yang tinggal di desa. Bapak itu mengenakan jaket hitam yang tebal. Dia terus mengendong tas rangsel besar di pangkuannya. Di tangan kirinya dia menggenggam tas plastik hitam dengan sedikit noda-noda kecoklatan seperti kuah gulai ayam.

Kami akhirnya terlibat di sebuah obrolan kecil. Bapak-bapak paruh baya itu bercerita tentang temannya yang tiba-tiba menjadi menghilang setelah menyantap gulai daging yang mereka temukan di sebuah bis.  Aku kaget, bagaimana mungkin dengan menyantap gulai daging seseorang bisa menjadi menghilang.

Cerita tersebut katanya dimulai pada suatu malam di terminal di ibukota. Bapak tersebut dan kawannya memiliki rencana untuk pulang kampung lebih awal. Rencana dadakan itu ternyata tidak berpihak dengan jadwal keberangkatan bis. Malangnya jadwal bis untuk mereka sudah habis. Sudah terlalu larut untuk menunggu bis yang lain beroperasi. Mereka akhirnya memutuskan pergi ke perbatasan kota untuk mencari bis yang lain. Tiga jam mereka menunggu bis dan tak ada yang datang. Mereka terus menunggu beberapa menit hingga mereka melihat dua lampu bersinar di kejauhan. Mereka segera menaiki bis tersebut tanpa memperhatikan keanehannya.

Bapak paruh baya itu menghentikan ceritanya sejenak. Dia menyulut rokok kreteknya dengan gemetar dan memandangku dengan tatapan ketakutan.

“Cerita seramnya baru dimulai sekarang Mas.” ujarnya dengan sedikit bergidik.

Bapak itu mulai berkisah kembali tentang kedatangan bis yang mereka tunggu. Bis itu menurutnya sangat aneh. Bapak itu sebenarnya sudah memiliki firasat buruk namun firasat itu ditepisnya dengan alasan untuk segera pulang ke kampung.

“Kami menemukan sebungkus gulai daging di dalam plastik htam dicantolkan dekat jendela.” Bapak itu berkata dengan lirih.

“Gulai ayam?!” kataku dengan wajah kaget.

“Gulai daging. Gak tahu gulai ayam atau gulai sapi.” bapak itu mendelik sewot. Sepertinya dia tidak suka ceritanya dipotong. Aku hanya tertawa kecil dan kembali mendengarkan kisahnya.

Perut mereka yang kelaparan sepertinya tergoda dengan ditemukannya gulai daging tersebut. Bapak tua itu bimbang. Makanan yang tidak diketahui asal usulnya tidak layak untuk dimakan. Apalagi untuk sebuah gulai daging di tengah malam dalam sebuah perjalanan panjang menuju kampung halaman. Bapak tua itu akhirnya memutuskan untuk menahan lapar sampai esok hari, atau setidaknya menunggu tukang asongan lewat.

Namun tidak dengan kawannya. Gulai daging itu rezeki. Dan rezeki itu tidak boleh ditolak.

Semenjak temannya memakan gulai itu berbagai keanehan terjadi. Dia mulai meracau tidak jelas mengenai banyak hal. Sesekali temannya itu mulai tertawa tanpa alasan.

“Mas, kawanku itu tiba-tiba saja bilang gini, kenapa kita harus beribadah kalau hanya untuk mendapatkan surga atau sekedar ingin memperoleh sesuatu yang kita inginkan?”  Kata bapak itu memeluk tas rangselnya semakin erat.

“Kawanku bilang bahwa gulai yang dia makan sebenarnya daging dari potongan tubuh dari Pangeran Diponegoro, dan dia merasa semua arwah dan leluhur Pangeran Diponegoro merasuk di tubuhnya.” Suasana hening sejenak.

Cerita ini semakin tidak masuk akal.

Bapak itu melanjutkan ceritanya tentang kejadian yang makin buruk dengan ulah temannya yang  tiba-tiba berjalan kesetanan menuju kursi sopir. Plastik hitam dengan sisa gulai itu dimuntahkannya ke muka sang sopir dan mengakibatkan bis berwarna hitam itu oleng ke pinggir jalan dan menubruk pohon besar. Terdengar benturan keras. Semuanya berteriak. Tak terlihat apapun.

“Semuanya berwarna putih mas, aku pingsan. Tersadar di rumah sakit dengan luka-luka ringan”. Bapak itu katanya ditemukan oleh penduduk setempat tergantung disalah satu dahan pohon. Para penduduk setempat dan para dokter di rumah sakit itu kaget tetika dia menanyakan perihal tentang temannya dan bis yang kecelakaan.

“Mas-mas dirumah sakit itu bilang, tak ada kecelakaan bis di tempat aku ditemukan” aku diam dan mendengarkan ceritanya dengan perasaan aneh. Bapak itu berkata bahwa tempat dia ditemukan merupakan pohon beringin yang dikeramatkan oleh penduduk setempat.

“Aku tidak perduli tentang pohon beringin yang dikeramatkan, yang aku pedulikan itu temanku Mas, temanku tiba-tiba hilang dan hanya meninggalkan plastik hitam ini ” ucap bapak itu sambil memperlihatkan tas plastik hitam yang terus dia genggam sejak kemarin malam. Perlahan air mata kesedihan bapak itu mulai mengalir. Aku bergegas memberinya teh hangat dan menenangkannya.

Siapapun akan menjadi sangat paranoid ketika mengalami hal tersebut. Bapak itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Dia sepertinya memilih pulang menggunakan kereta. Kami berpisah setelah kereta yang aku tunggu datang. Di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan cerita absurd tersebut. Ternyata ada juga yang orang-orang yang mengalami kejadian misterius. 

Gulai daging itu rezeki, dan rezeki itu tidak boleh ditolak. Rezeki itu berasal dari Tuhan. Kesialan juga berasal dari Tuhan. Karena sama-sama dari Tuhan, rezeki dan kesialan itu tidak boleh ditolak.

Mujix 
tadi malam terlalu banyak mimpi yang aneh,
sepertinya harus segera beli jurnal deh.
Simo, 31 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar