Jumat, 26 Desember 2014

Preeet of December

banyak hal terjadi di masa-masa aku malas curhat. misalnya, hal pertama yang aku liat di dasbor blog ini ternyata 'judul pos'. entah sudah beberapa minggu aku tidak menulis di blog ini. aku benar-benar tidak bisa menulis apapun akhir-akhir ini, beneran, curhat juga malas. emangnya mau curhat apaan? curhat tentang 'seseorang' yang beberapa kali mimpi dan membuat galau seharian? ah basi. curhat tentang komik yang masih 'Work in Proggres'? ah dicurhati mulu tapi enggak kelar juga percuma, lebih tepatnya 'belum kelar' kali ya.

hari ini hari jum'at, aku menulis postingan ini disuatu sore yan gerahnya minta ampun. keadaanku hari ini cukup baik, cukup baik karena aku sudah menyelesaikan komik Proposal Man bab 3, horee!! #PelukDiriSendiri. bab 3 ini aku sedikit melakukan 'curhat colongan', kemarin aku mendapatkan ide untuk memberi judul chapter ini 'Alasan'. iya, chapter bab 3 ini berjudul 'Alasan'.

selama pengerjaan bab 3 ini aku bertemu banyak hal hal yang berkaitan dengan kata 'alasan'. gitu deh, terus aku plot aja tokoh utamanya (yang seorang wartawan magang) sedang galau gara-gara berbagai peristiwa disepanjang hidupnya yang ia rasa 'gak kelar-kelar'.

beneran gak kelar-kelar.
kalau para filusuf bilang, berbagai peristiwa disepanjang hidup bakal kelar kalo lo udah mati.
bwahahaha.
sarkastis banget.

bab 3 bisa kelar juga karena bantuan banyak orang, terutama Mas Ismanto, doi rela hati meminjamkan PC-nya untukku disela-sela kesibukannya melukis. perlu kalian ketahui, PC-nya Mas Joko rusak, laptop-nya mobile terus, mau pinjam Netbook temen urusannya ribet banget. alam semesta sepertinya memang menakdirkanku untuk meminjam PC-nya Mas Ismanto. bekerja di tempat orang lain itu benar-benar menempa aku baik secara mental maupun fisik. secara mentan ada dua keponakan yang enggak bisa diem. namanya Inu  dan Ipang. mereka kelas 4 SD dan 2 SD. Inu masih bisa diatasi, nah yang namanya Ipang, doi Nuakaaaaaalnya minta ampun. Marai emosi. polah tingkah dua anak itu membuatku tersadar, Komik Si Amed harus aku rancang ulang. anak-anak SD di komik Si Amed masih terlalu 'Normal', harusnya kelakuannya sedikit 'kelebihan tenaga' seperti Inu dan Ipang. yah, pokoknya mereka berdua setidaknya menjadi penanda terselesaikannya komik Proposal Man. semoga Mas Ismanto dan keluarga rezekine tambah okeh goro-goro  mbantu wong kribo iki,  lemah teles, gusti Allah sing Mbales. 

hal yang paling kampret dari minggu ini adalah gagalnya untuk nonton bareng film 'The Hobbit' bersama Angga, Arum, dan Bapak'e di Solo Square. komik Proposal Man bab 3 ini sangat tanggung untuk ditinggal, belum lagi keadaan keuangan di dompet yang kembang kempis. aku berjanji minggu ini akan menonton film The Hobbit sebagai reward karena telah menyelesaikan bab 3 dengan sangat gemilang.

Gantar, si keponakan itu sekarang sudah berusia 7 bulan, giginya udah tumbuh 3. tengil banget. sekarang doi benar-benar liar. suka merangkak kemana-mana. dari dia aku belajar banyak tentang yang namanya fokus. terkadang ada hari-hari dimana aku menjaga gantar ketika mama/simbah sedang sibuk. gara-gara aku tinggal menonton Naruto di Global TV, Si Gantar jatuh ketika merangkak. kasihan, padahal cuman aku tinggal meleng sepersekian detik. terdengar suara 'Dhuuuuk' gituh, sepertinya pertemuan antara kepala dan lantai itu terlalu keras. soryy ya Gan!

curhatku sebenarnya belum selesai. masih ada bannyak banget cerita yang ingin aku tuliskan, karena tanganku udah pegel, jadi aku akhir saja ya.
banyak hal terjadi di masa-masa aku malas curhat. ini baru sebagian saja.


Mujix
bersitegang dengan
ibu sendiri itu rasanya
sesek banget. met hari ibu
ya mak :)
Boyolali, 26 Desember 2014

Selasa, 25 November 2014

November Rain!

Sudah beberapa hari ini, studio tempatku mengerjakan komik sangat berantakan. Berantakan pake banget. Sama berantakannya kayak muka gue.  Sebenarnya yang berantakan cuman meja gambarnya sih, sebenarnya itu juga BUKAN meja gambar yang kayak di studio-studio komik gituh. Lebih tragis lagi, aslinya meja tempatku mengerjakan komik adalah meja makan. Setahun sekali saat lebaran, meja itu biasanya dikeluarkan buat tempat toples Rempeyek, Rengginang, Jenang, dan tentu saja makanan-makanan alien lainnya. Akhir lebaran tahun ini, meja makan itu dengan resmi bertransmigrasi dari ruang tamu menuju studio komik yang keren banget ini. Begitu.

Bulan November 2014 seminggu lagi bakal abis, Dompetku juga mulai menipis, harga BBM yang kemarin naik makin membuatku meringis. Terus aku kudu piye? Aku juga tidak tahu, namun yang pasti, aku harus mengerjakan beberapa halaman komik yang belum kelar. Hal itulah yang membuat studio tempatku mengerjakan komik menjadi sangat berantakan. Kertas HVS bertebaran dimana-mana, sisa jeruk dan buah pir tadi malem, komik-komik impor yang numpuk buat referensi nggambar, pokoknya ngangenin banget. Beberapa hari ini bukan hanya studioku saja yang berantakan, aktivitasku juga berantakan. 

Random banget!! Ada kerjaan ilustrasi yang gajinya belum turun separo, proyek tengyu yang entah berujung kemana, kopi darat sama komikus top, ngerjain Bab 3 komik Proposal yang ogah-ogahan, duet bersama The Mudub yang mempertaruhkan ‘harga diri’ demi sebuah nadzar kelulusan kuliah, sampai yang paling gress, rutinitas meng-lay out Majalah Kreasi yang bakal datang minggu ini. Pokoknya bulan November ini ‘berantakan’ banget. Aku enggak akan menceritakan detail aktivitas di bulan November di postingan ini. Aku cuman pengen curhaaaat! YeesssIt’s Curhat Time!!

Curhat pertama tentang Bab 3 komik Proposal yang ngerjainnya sambil ogah-ogahan. Walaupun ogah-ogahan, tetep dikerjain sih. Proses penintaannya sudah sampai halaman 10. Hal yang membuat Bab  ini terasa sangat panjang adalah proses riset yang cukup ribet, hingga detail-detail di setiap panel yang cukup rumit. Bab ini penuh dengan referensi. Bab ini banyak background yang harus digambar berdasarkan lokasi aslinya di Kota Cirebon. ini dia penampakan salah satu halamannya.
proses pemindahan
dari storyboard ke tinta
foto. Mujix. 2014

Semisal bagaimana riuhnya suasana Pasar Kanoman, asoeynya Alun-alun Kejaksaan, suasana ruang kerja Redaksi Koran, hingga mengkhayalkan pertemuan dramatis sang karakter di tengah konvoy segerombolan komunitas Vespa.  Banyak banget yang mesti aku gambar di Bab ini. Target bab ini untuk selesai di akhir bulan November sepertinya hanya omong kosong. Sorry Coy! Hal kerennya sih, dari Bab ini aku belajar untuk sabar dan bagaimana cara untuk mempertahankan mood. 

Belajar sabar banget men! ngerjain komik Full book dan single fighter itu sangar banget! Aku sering mikir gini ‘perasaan ni komik udah dikerjain, tapi kok enggak kelar-kelar ya’. Bwahahha, setidaknya hari ini udah nyampe bab 3. Ada progres kok. Intinya sih gitu.

Curhat kedua tentang radio. Beneran, udah beberapa bulan ini aku selalu mendengarkan radio saat mengerjakan komik. Radio favoritku adalah JPI FM. Isinya seru dan absurd abis, banyak acara dangdut sama campursari. Beneran jadi komikus yang bahagia di saat-saat seperti ini. Rutinitasku kira-kira seperti ini, aku biasanya sudah di meja gambar dari jam 7 malam, terkadang malah habis maghrib. Jam-jam segitu aku biasanya men-charge radio, suasana disabotase dengan acara Famili 100-nya Om Tukul Arwana hingga D-terong Show. 

Kalo lagi mood biasanya lanjut ke sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Nah pukul jam 9 malam biasanya semua udah pada tidur tuh, gantian deh aku yang nyetel radio. Aku paling ngefans sama acara JPI bergoyang, isinya lagu dangdut (beneran lagu dangdut semua! Kurang sangar apa coba gue!), kirim-kiriman salam, dan penyiar yang ‘kacau abis’ bernama Lek Bimo. Doi keren banget, baca SMS sama cuap-cuap aja bisa bikin aku ketawa ngakak-ngakak. Salut deh pokoknya. Acara ter-keren kedua adalah ‘Wingko Babat’ singkatan dari ‘Wengi Kongko Bareng Sobat’. 

Acara ini mengudara biasanya jam 11 malam, isinya duet maut penyiar mas Yoyon Aliando dan Mbah Sumo Siwon Suju. Mereka dalam acara ini dikisahkan sebagai cucu dan kakek yang ‘akur enggak akur’. Acaranya enggak kalah pecah sama ‘JPI bergoyang’, kacau balau, ada pantun, kirim-kiriman salam, lagu campursari dan kecroh-kecrohan dua penyiar yang sama sarap-nya. Dua acara ini keren banget, kalo luang sempatkan untuk mendengarkan mereka, lokasinya di sini niih 106.3 FM.

Curhat ketiga tentang Mbah Rembyung. Iya ini tentang nenekku yang paling awesome sedunia. Hari ini doi sakit. Katanya sih kena Herpes, bahasa gaulnya Dompo. Semacam penyakit kulit yang nyerinya minta ampun. Pagi tadi doi pergi ke klinik untuk periksa, dan tiba-tiba saja doi pulang membawa banyak obat. Ada obat salep, ada penurun darah tinggi, tablet pereda nyeri, hingga multivitamin penambah nutrisi. 

Aku tuh suka enggak tegaan kalau liat orang tua sakit. Apalagi kalau malam sering terdengar rintihan nenek yang menahan nyeri, itu hatiku udah cekot-cekot gak karuan. Cekot-cekotnya sama kayak ngeliat mantan udah dapat cowok baru, terus mereka selfie bareng dan ‘entah kenapa‘ foto itu kemudian nongol di beranda pesbuk. Sakitnya ituh di sini men!! Sambil nunjuk bulu ketiak, bulu ketiaknya Cita Citata. Aku berharap agar nenek cepet sembuh. Segera sembuh dan bisa ngajak Gantar lagi.

Curhat keempat tentang ponakan aku yang paling ganteng, Si Gantar. Dia sekarang udah bisa merangkak  coy. Kata mamanya sih usia-usia segitu dia paling seneng mempelajari hal-hal yang baru. Selain merangkak dia juga seneng nyethoti manuk, itu lhooh aktivitas ngajakin burung nyanyi pake tangan. 

Gantar dan ritual memanggil burung!
foto. Anna Subekti.2014

Aku enggak tahu bahasa Indonesianya sih. Semakin lama aktivitasnya makin enggak jelas bukan hanya nyethoti manuk, ayam, kucing bahkan kipas anginpun dia cethoti, gokil beuds. 

Beberapa bulan ini bermunculan anak  kecil disekitar rumahku. Ada si Eja, si Kayla, hingga yang paling Up date nongon bayi baru didepan rumah bernama Bilal. Ini kenapa pada punya bayi semua sih!!? Kacau! Sepertinya ini pertanda dari langit untuk diriku agar segera married. Sama siapa? Embuh. Mungkin sama radio. pfft.

Curhat kelima tentang diriku sendiri. Hei, hari ini umurku sudah 26 tahun lebih sekian. Aku sedang menjalani karir impianku sebagai komikus. Keren sih, cita-citaku akhirnya kesampaian juga, cita-cita dari SMP coy! Keren tapi kok pake kata ‘sih’? aku bingung ngomongnya dari mana, namun satu hal yang pasti karir ini sangat menantang. Komikus hampir sama dengan wirausahawan! Bossnya dalah dirimu sendiri. Kamu malas, isi dompet amblas! Kamu rajin, makan enak bisa rutin. Kata ‘sih’ untukku sangat kompleks. Intinya aku enggak ‘semalas’ itu namun juga tidak ‘serajin’ itu.

Terkadang aku bertemu malam-malam menyebalkan, di mana aku enggak yakin dengan apa yang sedang aku kerjakan. Kehilangan alasan untuk terus menggambar. Passion berkomik yang tiba-tiba lenyap entah kemana.  Terkadang aku bertemu malam-malam seperti itu. Jika malam-malam seperti itu datang, yang bisa aku lakukan hanya bertahan, bertahan dan terus bertahan. 

Aku tak pernah menyerah untuk menyemangati diri sendiri dengan mem-visual-kan berbagai keinginan yang kelak akan terkabul. Bagiku membuat ‘komik yang bagus’ itu seperti lelaku Bandung Bondowoso saat membuat Candi Sewu untuk Roro Jonggrang dalam semalam. kalian paham maksudku?
enggak? sudahlah. aku juga sedang males buat ngejelasinnya.

Mujix
Akhir Desember ini komik The Proposal harus kelaaarrr!!
Berubah jadi saiya supeeer!!
Solo, 24 November 2014


Kamis, 06 November 2014

Hujan Es Krim Corneto

Hal paling menyenangkan di awal bulan November ini adalah hujan yang turun tadi malam. Saat itu pukul 19.30 WIB (Waktu Indonesia Barat), aku sedang bengong berada di kamar tidur sambil istirahat sejenak dari rutinitas menggambar komik. Suasana petang itu gerah seperti biasanya, jendela di samping tempat tidur yang terbuka itupun tidak terlalu banyak membantu. Ijek sumuk, di saat seperti itu, biasanya aku merindukan benda semacam Es krim coklat Corneto.

Sayangnya rumahku sangat jauh dari peradaban manusia yang intelektualnya sudah bisa menghasilkan es krim. Atau setidaknya menjual es krim. untuk mendapatkan Es krim coklat Corneto, aku  harus pergi ke Alfamaret yang jauhnya 8 KM. Beneran, harus menempuh jarak  8 KM hanya untuk mendapatkan Es krim coklat Corneto yang akan habis dimakan dalam 8 menit, dan menurutku itu tidak fair. Alhasil di malam yang gerah dan ajigile itu, aku hanya bisa berkipas-kipas sembari guling-guling di kasur dan berharap ada Es krim coklat Corneto jatuh dari langit-langit.

Beberapa menit berlalu dalam kesia-siaan. Dari atas genteng tiba-tiba terdengar suara teng klothak, agak berisik dengan tempo yang tidak beraturan. Aku berpikir sejenak, itu bukan suara tikus yang sedang balapan lari, mustahil pula suara Es krim coklat Corneto jatuh dari langit.

Aku tersenyum kecil, kemudian aku bangkit dari kasur sambil berteriak lantang.
“Hujaaaaan!!!!!”

Aku berlari keluar kamar, menuju halaman rumah dan mendongakkan kepalaku ke langit yang hitam kelam itu. Beneran hujan Men! aku terdiam beberapa detik menikmati butiran air yang menetes di wajahku. Aku memandang toko kelontong milik tetangga yang ternyata masih buka. Segera saja aku menghambur ke ruang kerja, tempatku mengerjakan komik. Tas Consina berwarna biru tua itu tergeletak pasrah di samping lemari, aku segera merogoh kantong kecilnya dan mengambil uang 5000. Yess!! Malam ini aku bisa mengerjakan komik di tengah suasana hujan yang dingin sambil minum susu coklat panas dan ngemil roti rasa abon favoritku.

Hal paling menyenangkan di awal bulan November ini adalah hujan yang turun tadi malam. Berbekal uang 5000 rupiah itu aku berlari, sesekali melompat, dan mengangkat tangan untuk meraih air hujan yang turun perlahan. Sepertinya aku belum pernah segirang itu akhir-akhir ini. Uang sejumlah 5000 rupiah bisa aku tukarkan dengan dua roti wafer Tango rasa coklat, dua Roti Khong Guan Malkist rasa  abon sapi, dan dua sachet susu coklat Frisian Flag. Benda-benda itu mungkin memang tidak sebanding dengan Es krim coklat Corneto, namun benda-benda itu juga sama dahsyatnya sebagai teman lembur saat mengerjakan komik.
Ketika aku kembali dari warung, hujan benar-benar turun. Aku memandangnya dengan takjub.

“Tau gak sih Jan, elo ditungguin banyak orang akhir-akhir ini”  sapaku kepada hujan yang turun perlahan. sok romantis gituh ngobrol sama Si Hujan.

“ Woi Boi! Elu bukannya Sok romatis, Elu mulai gila gara-gara ngerjain komik yang gak kelar-kelar” tukas sang hujan menanggapi sapaanku. Bwahahaha, obrolan absurd nan imajiner itu akhirnya terjadi juga.

Yah karena hujan turun, aku enggak jadi berharap ada Es krim coklat Corneto jatuh dari langit-langit. Es krim coklat Corneto mungkin bisa kudapatkan dengan pergi ke Alfamaret yang jauhnya 8 KM. Nah, untuk mendapatkan hujan? Aku harus nungguin 8 Bulan, kurang lebihlah, belum lagi kalo molor dan delay di jalan. 8 KM sama 8 bulan jauhan mana sih? Jauhan 8 bulan lah! Lagian satu Es krim coklat Corneto di malam yang gerah dan ajigile itu, hanya bisa memuaskan nafsu seorang cowok kribo yang kepanasan, selama 8 menit. Air hujan yang turun perlahan itu bisa mendinginkan sejagat umat manusia yang tengah gerah dan memberikan kehidupan di muka bumi hingga hari ini.

Pastinya, air hujan tidak dijual oleh Alfamaret. Aku juga enggak rela sesuatu hal semenakjubkan ‘Hujan’ dimonopoli sebuah korporasi se-komersial Alfamaret. 
Hal paling menyenangkan di awal bulan November ini adalah hujan yang turun tadi malam. 
Beneran.

Mujix
benar-benar
ingin pergi travelling
ke tempat tang banyak
langitnya >___<
Simo, 06 November 2014

Rabu, 29 Oktober 2014

Lagu Santai

Bulan Oktober sudah hampir berakhir. Pagi ini aku berada di rumah menyeduh teh hangat sambil meluangkan waktu untuk sekedar istirahat dan enggak ngapa-ngapain. Enggak ngapa-ngapain saat ingin ‘enggak ngapa-ngapain’ itu memang surganya dunia. Satu hari di mana kamu bisa bangun siang, bengong, kemudian mondar-mandir di genteng rumah sambil  memakai celana pendek, terus bengong lagi. Hmmm... benar-benar hari yang menyenangkan.

‘enggak ngapa-ngapain’ akan menjadi surganya dunia, ketika kamu udah ‘ngapa-ngapain’ sampai rasanya kayak ‘nerakanya dunia’. Beberapa minggu ini aku benar-benar sudah paham benar rasanya  ‘nerakanya dunia’ gara-gara terlalu banyak ‘ngapa-ngapain’. Banyak ‘ngapa-ngapain’ itu diantara lain mengerjakan storyboard bab 3 komik The Proposal, mengerjakan 38 ilustrasi buku Tenaga Kerja Indonesia, pulang pergi Simo Solo dalam hari yang berdekatan, hingga harus terlempar dari satu kota ke kota yang lain hanya untuk sekedar menghadiri undangan pernikahan.

Minggu lalu, si Hendro menikah.  Dia menikah sama calon istrinya. Ya iyalah.  Acaranya malam hari, aku akhirnya bisa menghadiri acara pernikahan, setelah ada sedikit adegan drama gara-gara gak ada motor. Adegan drama itu berakhir ketika Cahya Surya datang dengan motor Mio-nya dengan sangat labil. Dia harus bolak-balik dari Solo ke Colomadu buat menjemput aku. Lumayan jauh lhoooh. Ketika aku bertanya kenapa dia mau menjemputku, dia gini jawab dengan muka gak jelasnya: “kita teman men,  kamu udah S.Sn., abis ini kita pasti bakal jarang ketemu dan sibuk dengan aktivitas masing-masing” Oh, dasar kampret. Ucapan itu benar-benar quotes of the day. Hingga hari ini aku sangat bersyukur memiliki banyak teman-teman yang baik.

Jagongan kedua juga gak normal-normal amat, aku melancong ke Sragen. Ke rumahnya Agus Tri Akbari, panggilannya Akbul, di panggil gitu karena badannya gembul.  Teman kuliah seangkatan yang doyan tidur dimanapun dan kapanpun setiap saat. Kayak Reksona. Adegan tidur yang paling epic adalah saat Akbul tertidur saat mengendarai motor. Kecelakaan dan kemudian dirawat di rumah sakit. Aku enggak tahu kalau ke Sragen  naik motor di siang hari adalah ‘neraka dunia’ level 45 setelah kehabisan uang di akhir bulan. Ke Sragen naik motor itu harus bertemu dengan truk-truk gedhe yang biasanya suka berhenti mendadak. Ah andaikata cinta ke mantan juga bisa semudah berhenti mendadak kayak truk itu, pasti generasi susah Move On bakal terhapuskan dari muka Bumi.

Selain truk gedhe yang suka labil, aku harus ber-jibaku dengan panasnya jalan raya Solo-Sragen. Panasnya itu minta ampun Coy, ngeliat gebetan diembat orang aja panasnya gak gitu-gitu amat. Ya sudahlah, sudah terlanjur diboncengin. Aturan mutlak diboncengin kan kita harus manut sama yang ngeboncengin. Aku sampai di Sragen jam 11 siang. Langsung ambil posisi sambil kipas-kipas pakai tanganya orang sebelah.  Buat Mas Hendro dan Mas Akbul selamat menempuh hidup baru ya. Semoga makin barokah. Doain aku bisa segera nyusul. Nyusul jagongan ke teman yang mau nikahan lagi maksudnya.

Saat ini aku sedang menunggu sisa gaji dari kerjaan buku saku TKI. Iya sisa gaji. Alhamdulilah. Memang kalau udah rezeki, endak tahu kapan datangnya. Kerjaan  ini berupa ilustrasi berjumlah kira-kira 40 gambar. Full color dengan detail level yang enggak terlalu susah. Sebagian manualnya aku kerjain di rumah , sisanya aku kerjain di Solo. Waktu di rumah aku mengerjakan ilustrasi ini dengan sangat brutal. Aku punya penyakit ‘kalo udah nggambar suka keterusan dan enggan buat istirahat’. Hari itu aku lembur sampai jam 12 malam, padahal aku mengerjakan gambar itu dari pagi lhoooh. Aku benar-benar menghentikan aktivitas tersebut saat tanganku sudah gemetar gara-gara terlalu lelah. Beneran gemeteran gituh. Bersyukurlah untuk aku dan kalian semua yang bisa mendapatkan uang dari passion. Ketika orang lain ‘bekerja mati-matian’, kita malah ‘bermain-main riang’. Alhamdulilah lagi. Semoga aku masih bisa terus bersenang-senang dengan menggambar. Uang dan popularitas sih bonus.

Storyboard bab 3 komik The Proposal udah kelar. Kelarnya benar-benar penuh keringet dan darah. Kacau banget pokoknya, bab 3 ini susahnya minta ampun. Otakku beberapa kali nge-hang dan harus di service ke Gramedia, ngapain ke sana? Numpang baca buku komik dong. Numpang? Iya numpang dulu, kalo ada yang bagus dan menggugah hati baru beli. Hehehe.  ‘Benda laknat’  itu udah aku email ke editornya. Ini sedang nungguin konfirmasi dan poin-poin apa saja yang harus direvisi. Semoga aja bisa segera kelar. Biar akhir Desember atau Januari 2015 udah bisa terpajang dengan manis di toko buku terdekat.

Bulan Oktober sudah hampir berakhir. Pagi ini adalah hari kedua aku berada di rumah, aku masih menyeduh teh hangat sambil meluangkan waktu untuk sekedar istirahat. Namun pagi ini aku mulai ngapa-ngapain, pagi ini aku sudah merendam satu ember besar pakaian kotor dan beberapa kaos kaki. Mereka semua harus aku cuci. Di meja kerja sudah menunggu beberapa sketsa dan naskah komik yang harus aku kerjakan. Beberapa hari kedepan kurasa aku masih bangun agak siang, nggambar komik, kemudian mondar-mandir di genteng rumah sambil  memakai celana pendek, namun yang pasti aku akan mengurangi sifat bengongku.

 Hmmm... benar-benar hari yang sangat menyenangkan.



Mujix
ada beberapa hal
yang tidak akan kamu
pahami selama kamu
belum melakukan hal tersebut.
misalnya menikah.
Simo, 29 Oktober 2014.

Senin, 27 Oktober 2014

Kejutan!

Beberapa orang menyukai kejutan, namun tidak denganku.  Aku tidak begitu suka kejutan, aku sudah terlalu lelah dengan banyak kejutan dari Sang Penguasa Jagad. Kejutan terakhir yang membuatku terpana adalah pertemuanku dengan seorang wanita, tentu saja wanita itu bukan perempuan yang biasanya ku tulis di blog ini. Dia perempuan yang lain. Sementara untuk paragraf ini aku akan menyebut ‘bukan perempuan yang biasanya ku tulis di blog ini’ dengan istilah ‘wanita itu’.

Aku berjumpa dengan wanita itu empat tahun silam. Di sebuah matakuliah tentang Tuhan yang terpaksa aku ulang sebanyak dua kali. Hahaha, mengulang mata kuliah agama sebanyak dua kali itu, sepertinya pertanda kecil tentang perjalanan spiritual rumit. Pertemuan itu terjadi begitu saja. Aku memandang seluruh wanita di kelas, menilai dengan sangat sombong, memilih yang paling manis, dan bum!! Kuputuskan untuk jatuh cinta dengannya.

Maaf kuralat. Sepertinya terlalu naïf jika aku menggunakan istilah ‘cinta’. Kata yang lebih sopan untuk menggambarkan situasi itu ialah ‘jatuh hati’. Lebih tepatnya, Jatuh hati tanpa menggunakan hati.  Situasi tersebut juga tidak terlalu banyak berkembang. Aku tidak mengupayakan hubungan tersebut menjadi sebuah hubungan yang serius. Sebuah perkara yang sangat mudah untuk tergilas masa. Aku juga tidak terlalu perduli.
Kejutan terakhir yang aku maksud adalah pertemuanku dengan wanita itu di perpustakaan. Beberapa minggu sebelumnya aku mencoba menghubunginya dengan maksud untuk mengenalnya lebih dekat. Dua minggu sebelumnya semua pesanku dibalasnya, dan seminggu sisanya tanpa kabar. Baiklah. Semua ini akan tetap berjalan walau ada atau tanpa wanita itu di sisiku.

Di seminggu tanpa kabar itu aku mengatur ulang rencanaku. Sekedar pemberitahuan, aku selalu mempunyai beberapa cadangan rencana. Selama 25 tahun ini aku belajar untuk tidak sepenuhnya menggantungkan kebahagiaanku di tangan orang lain. Situasi tersebut buak situasi yang sesulit itu. Semua rencana itu berakhir disebuah storyboard komik ‘The Proposal’ Bab 3.

Storyboard itu sudah 70%, di perpustakaan itu tiba-tiba saja dia muncul. Yah, begitulah pertemuan itu ternyata sudah ada yang mengatur. Pembicaraan kami mengalir begitu saja, aku mencoba menata ratusan kosakata diotakku, dan memilah yang pantas dan penting untuk disampaikan kepadanya. Hampir semua hal-hal yang penting telah aku sampaikan. Hampir semuanya. Sisanya tak perlu. Hanya tersisa sedikit, namun yang ‘sedikit’ itu adalah yang paling penting. Pokoknya, Hingga hari ini aku masih tidak mengupayakan hubungan tersebut menjadi sebuah hubungan yang serius. Sebuah perkara yang sangat mudah untuk tergilas masa. Aku juga tidak terlalu perduli.

Aku memang tidak perduli, namun Facebook sepertinya perduli. Wanita itu tiba-tiba muncul secara konstan di profil dan berandaku. Masih dengan senyumnya yang manis sama seperti saat aku berjumpa pertama kali di kelas. Wanita itu memberiku sedikit pelajaran penting. Jika kamu menjadi pria yang keren, maka suatu saat akan muncul banyak  wanita di kelas yang menilaimu dengan sangat sombong, memilihmu karena kamu yang paling manis, dan bum!! Mereka akan memutuskan untuk jatuh cinta denganmu. Kurasa seperti itu. Beberapa orang menyukai kejutan, namun tidak denganku. 

Aku tidak begitu suka kejutan, makanya aku tidak terlalu terkejut jika aku sering kepikiran tentang wanita ini namun tidak sampai jatuh hati. Mungkin. Namun percayalah, Semua ini akan tetap berjalan walau ada atau tanpa wanita itu di sisiku.

Mujix
beberapa kerjaan datang dan
beberapa telah terselesaikan
Simo, 27 Oktober 2014


Jumat, 10 Oktober 2014

Random dan Blunder

Males banget. Beneran enggak mau ngapa-ngapain nih. Intinya sih saat ini aku sedang berada di tahap paling menyebalkan dalam proses pembuatan komik. Woy cok! Nulis aja belum kok udah ngobrolin ‘Inti’ sih!? Padu waee Leee!! Tahap tersebut adalah ‘pembuatan naskah’. Pembuatan naskah bagiku tidak hanya sekedar proses ‘menulis cerita’. Lebih dari itu. Tahap ini baru saja aku mulai kemarin, dan ini adalah hari ke dua. Sudah dua hari berlalu naskah komik tersebut masih berupa ‘corat-coretan sketsa random’. 

Terlalu random hingga terkadang aku bingung dengan apa saja maksud dari coretan tersebut. Wheladalah, masak komikus bingung sama naskahnya sendiri. Belum selesai dibingungkan dengan naskah, aku masih harus dibingungkan lagi dengan beberapa masalah sehari-hari yang membuatku bad mood dan art block. Belum ada masalah aja bawaannya bad mood mulu, apalagi udah terjebak masalah. Hahahaha.

Satu masalah kecil yang membuatku malas untuk membuat naskah tersebut adalah riset. Sekedar info, kali ini aku mengerjakan komik ‘The Proposal’ Bab 3, dengan tokoh utama Archieva seorang  mahasiswi magang di sebuah media cetak di kota Cirebon. Hingga hari ini aku telah menemui beberapa narasumber untuk menguatkan cerita. Iya, udah mulai riset kecil-kecilan gituh. Aku menemui seorang wartawan media cetak yang sudah cukup joss bernama Niko. Doi pernah bekerja sebagai wartawan/reporter di berbagai media cetak semacam Koran Sindo, Warta Jateng, hingga media massa on line. 

Awalnya aku mempersilahkan dia untuk membaca storyline komik ‘The Proposal’, kemudian aku mencoba diam untuk memancing responnya. Dia kemudian berbicara tahap demi tahap sambil menyesuaikan storyline komik ‘The Proposal’.  Obrolan itu berlangsung dua arah, terkadang aku memberikan penjelasan mengenai detail-detail mengenai apa saja dalam naskah yang harus dia cermati.  Pertemuan tersebut berlangsung meriah di pendopo Sriwedari jam 16.00 WIB kemarin. Niko bercerita banyak mengenai pengalamannya dalam mencari berita, para wartawan senior, lika-liku mahasiswi magang, hingga pentingnya memahami posisi seorang wartawan dalam memandang suatu permasalahan. Beberapa kali kalimat yang aku tanyakan adalah “Apakah logis jika bla.. bla..bla.. menjadi sebuah bla.. bla.. bla..”, beberapa ‘bla.. bla.. bla..’ itu berupa adegan-adegan kunci dan karakter-karakter yang muncul di naskah komik bab 3.

Obrolan itu benar-benar membuat naskah komikku sangat berkembang. Beberapa scene dan karakter yang semula aku plot-kan muncul terpaksa  direvisi. Di bab ini aku sangat mementingkan logika bagaimana karakter dan cerita itu terjalin. Keren banget yak.  Intinya sih tulisan ‘corat-coretan sketsa random’ yang sudah random itu jadi semakin random gara-gara obrolan kami di Pendopo Sriwedari. 

Byuh, byuh, byuh, ra karu-karuan. Kabar baiknya random-nya naskah ini random ke arah yang lebih baik. Emangnya ada ya random kea rah yang enggak baik? Ada, dan aku baru saja mengalaminya di kampus  5 jam sebelum obrolan dengan Niko di pendopo Sriwedari.

5 jam sebelumnya aku berada di kantin kampus ISI Surakarta. Tepatnya di kantin sebelah akademik tempat di mana biasanya para mahasiswa S2 nongkrong. Pagi itu aku memulai ritualku yang paling sakral bernama ‘bengong mikir naskah komik sambil minum kopi hitam’. Ritual itu berjalan cukup lancar, hampir separuh naskah sudah terpetakan dengan baik. Terpetakan dengan hampir baik.  

Beberapa menit kemudian datang seorang mahasiswa S2 bernama Dhani. Dia temanku dan kita terlibat obrolan akrab ala teman lama. Perbincangan kami tiba-tiba saja mengkerucut ke persoalan ‘sedang apa aku diem sambil ngopi di situ’. Aku berusaha menjelaskan aktivitasku secara sederhana. Dhani sejurus kemudian membaca storyline komik ‘The Proposal’. Dia kemudian mulai berbicara kesana-kemari. Tanpa mempersilahkan aku untuk menjelaskan latar belakangnya, dia tiba-tiba saja mengkritik, memberi nasihat, membantai, dan mengarahkanku untuk mengubah naskah. Itu sangat menyebalkan sekali.

Obrolannya terus saja mengalir sampai jauh. Entah sudah berapa ratus kata terlontar dan hilang saja di telan angin. Hanya beberapa saja yang masuk ke otakku. Sepertinya aku terlalu tolol untuk memahami setiap hal yana dia katakan. Atau mungkin sebaliknya. Beberapa kali aku mencoba meluruskan namun terus saja pelurusanku itu tak berjalan baik. Kemudian aku segera bertekadn untuk menjadi ‘pendengar yang baik’. Aku berdiam diri sambil terus menyimak apa yang dia bicarakan. Otakku  memilah semua kata-kata penting atau kata-kata sampah. Perlahan tapi pasti obrolan tersebut aku arahkan ke tema yang ingin aku dengar, yaitu Trending topic di Twitter.

 Banyak hal yang menarik saat dhani menceritakan dunia internet tersebut (walau beberapa kali harus terjebak di tema yang gak jelas semacam ‘FPI’, ‘Sensor anti roket Israel’, hingga ‘Etika Flo saat menghina warga Jogja di Path’. Terserahlah, aku hanya merekam informasi yang aku butuhkan ). Dhani membicarakan trend  anak Twitter dalam membuat ‘Hashtag’ atau ‘Tagar’, anak ‘menengah ngehek’, membicarakan ‘keharusan’-ku mengganti karakter utama ‘The Proposal’, hingga membicarakan komitmennya dalam memandang ‘seni’ itu rumit dan kompleks. Sangat  menyenangkan mendengarkan seseorang yang berbicara dan terus berbicara. Aku mendapatkan banyak ilmu di sana. 

Obrolannya keren sih, Hanya saja Dhani membuat naskah komikku semakin blunder. Naskah komik yang blunder adalah bukti jika ada progress random ke arah yangtidak baik.

Hari itu aku belajar mengenai bagaimana attitude seseorang  dalam berkomunikasi.
 Dhani, sesosok mahasiswa S2, pandai berteori karena lama kuliah, namun sedikit payah dalam mendengarkan dan mengembangkan ide. Dia adalah seorang ‘what’s wrong-Man’. Ras-ras manusia yang selalu melihat ‘apa yang salah’ dalam suatu hal, hanya melihat ‘apa yang salah’ dan sayangnya belum cukup ilmu untuk membenarkan hal yang salah tersebut. Spesies ini sudah terlalu banyak di masyarakat.

Niko, sesosok reporter muda,  pandai meng-analogi-kan obrolan, sedikt payah dalam berteori, cukup pandai mendengarkan dan mengembangkan ide. Menurutku dia tidak termasuk dalam spesies ‘what’s wrong-Man’. Aku belum tahu dia termasuk spesies manusia yang mana, namun setidaknya naskah komikku berkembang menjadi lebih renyah dan siap diolah untuk menjadi komik yang aduhai. Spesies ini ada di masyarakat namun tidak terlalu banyak.

Tuh kan, proses pembuatan naskah memang menyebalkan. Naskahnya belum jadi ajah udah bisa nulis kayak gini gara-gara riset kecil-kecilan itu. Ahh, kacau deh. Sepertinya aku harus segera berbenah dan bergegas. Bukankah aku ingin komik ini selesai akhir tahun?

Mujix,
ayo coy! naskahnya dikerjain!
udah bulan Oktober nih.
Simo, 10 Oktober 2014

Rabu, 01 Oktober 2014

Time Slip

Di dunia ini banyak hal yang mutlak harus terjadi. Misalnya perpindahan waktu dari siang ke malam. Beberapa hal mutlak yang harus terjadi itu terkadang adalah menjadi momok menyebalkan bagi sebagian orang di sepanjang hidupnya, sebagian menjadi sesuatu yang indah serta patut dikenang, dan sebagian yang lain masih menjadi teka-teki yang belum terjawab hingga hari ini. Ini aku mau curhat tentang apaan sih? Kok muter-muter gini.

Aahh...  ngobrolin soal ‘perpindahan waktu dari siang ke malam’. beberapa minggu ini, waktu seperti air sungai  yang mengalir dengan tenang, hingga arus deras didalamnya tak tampak jika dilihat dari kejauhan. Jam kerjaku dalam membuat komik sebenarnya cukup mengerikan. Berbagai kesulitan, stress yang memuncak saat mengolah storyboard dan hal-hal fatal lainnya bagi orang lain hanya terlihat bias saja. Beberapa kali aku dikira pengangguran karena selalu ‘beredar’ dirumah. Kerja jadi komikus sampai mabuk deadline terus dikira pengangguran itu sakitnya disini men!! yah aku udah gak terlalu perduli juga sih.
Pada hari-hari biasa, Jam kerjaku dimulai jam 09.00 WIB sampai jam 12.00 WIB. Kemudian istirahat sejenak sampai jam 13.00 WIB, terus lanjut sampai jam 17.00 WIB. Jam segitu istirahat lagi buat mandi, makan, bengong, sampai jam 18.30 WIB kemudian terus bekerja sampai jam 23.00 WIB. Sangat menyenangkan, karena kerjaanku adalah menggambar komik. Iya beneran, udah berasa jadi komikus profesional gituh.

Ruang kerjaku saat ini masih sangat sederhana. Ada dua meja yang saling membelakangi  masing-masing menghadap dinding. Di salah satu meja ( yaitu meja tempatku menggambar komik) terdapat tumpukkan komik indonesia yang berjejer. Di meja yang lain terdapat monitor dan printer yang belum dipakai, punyanya Mas-ku sih, entah mau diapain. Diatas meja tersebut terdapat rak buku bikinan ayahku. Kerennya lagi dirak tersebut terdapat referensi-referensi keren untuk bikin komik. Buku semacam ScottMcCloud sampai komik Monika-nya Mauricio terjejer sok rapi di rak tersebut.

Berada di tempat itu seperti di sebuah Playground yang menyenangkan. Banyak komik, banyak gambar, dan banyak hal-hal sepele yang lucu. Ritual menggambar komik ditempat itu sepertinya berpengaruh dengan alur waktu yang berjalan didunia nyata. Hal-hal yang aku lakukan saat menggambar adalah menyeduh teh hangat sambil mendengarkan radio. Sesekali aku berpindah ke kursi tamu atau ndolani  Gantar, atau kemudian istirahat sejenak minum kopi di teras halaman. Gitu terus, Beneran men, kalo udah nggambar gituh, tau-tahu udah jam 12.00 WIB, tau-tau laper, tau-tau badan udah capek, tau-tau badan yang capek itu udah dipijitin sama Raisa Adriana. Hihihihi


Di tempat itu ‘perpindahan waktu dari siang ke malam’ benar-benar bias.  Aku yakin hal-hal itu bisa terjadi karena aku mengerjakan pekerjaan yang aku suka. Iya, aku sedang menjalani karir impianku sejak SMP, yaitu menjadi Komikus. Aku sudah tidak memiliki alasan lagi untuk mengeluh. Aku mencoba terus bertahan ketika Bad Mood dan Art block menghajarku bertubi-tubi.  Kurasa seperti itu. Di dunia ini banyak hal yang mutlak harus terjadi. Menjadi komikus mutlak harus bertemu banyak deadline dan menggores gambar diatas kertas. 

Mujix
sedang Bad Mood,
jangan diganggu dulu!
Simo, 01 Oktober 2014

Selasa, 30 September 2014

30 September 2014

Mak jegerrrrr!! Tiba-tiba aja udah akhir bulan September 2014. Bulan ini aku belum nge-post apapun di blog, jarang nge-tweet, dan hanya sesekali nyetatus di Facebook, pie jal? Ora pie pie sih. Hihihihi. Saat ini aku sedang menikmati karir impianku sebagai komikus. Beberapa project komik tengah menunggu untuk diselesaikan. Up date terbaru adalah proses pengerjaan Bab 2 dari komik The Proposal yang makin aduhai. Udah nyampe coloring lhoooh, hitam putih gituh, sesekali main screentone

Bab 2 hari ini sudah selesai dicoloring semua, ada beberapa panel yang belum aku isi latar belakang. Nungguin nemu warnet atau modem buat browsing gambar Kota Cirebon, Wonogiri, dan Jakarta. Sebulan kemarin (tepatnya beberapa hari sesudah wisuda), aku berkomitmen dengan banyak hal. Misalnya jam kerja, aku mengerjakan komik biasanya start jam 9 pagi dan segera aku akhiri jam 12 malam, hampir 11 jam aku bekerja, efektif bekerja mungkin hanya sekitar 8 jam.  Tidak boleh minum kopi hitam di malam hari, mencoba  untuk tidur, bangun, makan  di jam yang sama. Susah sih, tapi aku benar-benar mencoba untuk berkomitmen.

Ngomongin soal komitmen, aku jadi teringat dengan job illutrasi cover minggu kemarin. Semenjak lulus kuliah aku mencoba untuk lebih tegas dalam menerima tawaran pekerjaan, namun dua minggu yang lalu ketegasanku tiba-tiba gak jelas di mana rimbanya. Klienku awalnya membicarakan tarif dan desain yang jelas, namun semuanya berubah total saat pengerjaan berlangsung. Tarifnya hancur, dan briefnya acak adul. Selama beberapa hari aku terjebak di pekerjaan yang sangat menyebalkan.  Titik klimaks stressku akhirnya berujung kesebuah diskusi imajiner mengenai komitmen.

Aku diam beberapa jam, menghela nafas panjang, sesekali berpikir bahwa klien tersebut benar-benar  sangat Kampret. Setelah termenung beberapa jam aku akhirnya memahami bahwa solusi yang paling logis dari permasalahan itu adalah ‘Melanjutkannya sampai selesai’ atau ‘Menghentikannya saat belum selesai’.
Aku memilih opsi pertama. Mengurangi keluhan dan menahan diri untuk menikmati pekerjaan tersebut. Setidaknya aku masih berada di zona yang aku kuasai yaitu menggambar. Perlahan namun pasti pekerjaan itu akhirnya selesai, tentu saja setelah beberapa kali mengalami Trial dan Error di sana-sini.

Dari pekerjaan itu aku belajar banyak hal, salah satu yang paling keren adalah mengenai ‘perluasan zona nyaman’.
Pekerjaan yang aku benci, sesuatu hal yang tidak berjalan lancar, minimnya fasilitas, mobilitas untuk berpindah yang masih kacau dan tentu saja tekanan stress adalah ‘benda-benda’ yang bisa memperluas zona nyaman apabila dihadapi dengan kepala dingin. Beneran, kepala dingin dan disertai dengan semangat antusias untuk belajar hal-hal yang baru.

Beneran, minggu-minggu ini isiya cuman belajar hal-hal yang baru melulu. Seminggu pertama dibulan september aku habiskan untuk membuat pinsil bab 2 dari komik ‘The Proposal’. Di bab ini aku belajar untuk tidak menggunakan balon narasi untuk penceritaanya, yup, enggak ada narasi dan hanya permainan adegan demi adegan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan gaya penceritaanku biasanya yang suka banget mengumbar narasi di setiap panelnya. Selain gaya penceritaan, di bab ini aku mencoba untuk fokus ‘menghargai’ setiap tokoh yang aku gambar. Bukan hanya para pemain utama, namun karakter figuran yang nongol di sepanjang cerita. Kadang aku suka iseng menyelipkan karakter  terkenal semacam ‘Albert Einstein’. ‘Lady Gaga’, hingga ‘Sanasuke’ dari komik 'Lemon Tea'. Eh Sanasuke apakah  adalah karakter komik terkenal? Iya dong, komiknya sangat terkenal karena belum kelar padahal udah dikerjain sejak tahun 2010.  Wah mau nyaingin Nyonya Meneer yang merk jamu itu dong. Bwahahaha!

Minggu kedua dibulan september habis buat mengerjakan projek ilustrasi yang sudah aku singgung di paragraf dua, dan projek membuat peta Mojokerto. Dua projek itu berupa investasi yang uangnya belum cair dalam waktu dekat. Byuuh, uripku ra karu-karuan tenaan. Hahaha

Dua projek absurd itu alhamdulilah sudah kelar, saat ini sedang menunggu brief kedua dari peta batik store dari mojokerto. Katanya sih belum komplit gitu, terserahlah. Minggu ketiga dibulan September ini aku habiskan buat meninta komik The Proposal Bab 2. Dari projek komik ini aku makin yakn, bahwa meninta komik itu lebih sulit daripada membuat pinsilnya. Itung-itungan yuk. Saat proses pinsil ,dalam satu hari aku bisa menghasilkan 4 sampai 6 halaman. Kalo sedang mabuk bisa sampai 8 halaman.  Jadi pinsil satu bab komik berjumlah 30 halaman bisa aku rampungkan dalam 5 sampai 6 hari. Dua hari sisanya buat foya-foya ngabisin duit di Solo.

Namun kegilaanku mendapatkan jumlah yang sangat banyak itu enggak berlaku saat memasuki proses meninta. Proses penintaan komik itu berlangsung sangat dramatis, maksimal cuman bisa dapet 3 sampai 4 halaman. Apalagi kalo ketemu background yang rumit. Ampun deh. Satu panel aja bisa ngabisin 5 sampai 6 jam. Ajegile beud

Kabar baiknya, proses penintaan itu sudah selesai 90 %. Ada beberapa gambar yang aku tunda dulu karena kendala foto yang belum komplit. Iyah, jadi sekarang aku suka gambar background pake foto gitu. Biar detailnya dapet dan tentu saja menghasilkan suasana maknyuuus buat pembaca. Ahihihi, gak rugi deh kalian ngefans sama aku. Pokoknya muaknyuus.

Eniwei saat proses penintaan kemarin aku sempet demam 3 hari. Hal-hal semacam kepala kliyengan, pilek, hidung meler, bersin melulu ampe gemeter gara-gara panas dingin semuanya komplit mewarnai perjuanganku dalam menyelesaikan komik ‘The Proposal’  Bab 2. Mungkin aku terlalu ngongso  dalam beberapa minggu ini tanpa menghargai pencapaianku itu dengan sepantasnya. Maafin aku ya, diriku sendiri! Kamu keren banget kok. #sambilMenepukPunggungDiriSendiri

Hari ini adalah akhir dibulan september. Komik The Proposal bab 2 sudah sampai tahap lettering. 3 hari kemarin adalah proses pemberian warna dan tone, baru aja kelar hari sabtu kemarin terus langsung aku tinggal cabut ke semarang. Gituh, mainnya ke Pelabuhan Tanjung Mas sambil liat kapal laut. Ah jadi inget lagunya Didi Kempot yang ‘Stasiun balapan’. Eh, apa sih, geje banget, yang ‘Tanjung Mas Ninggal Janji ‘ lah. Piye toh.  Bwhahahaha!

Terus ngobrolin apa lagi yah? Oh iya soal hape, hapeku baru aja rusak (lagi), slot untuk pengisian listriknya mendadak patah gituh, kampretnya lagi aku enggak punya cadangan hape. Ini sedang bingung nyari solusinnya. Kegalauanku komplit sudah, hape rusak, pulsa hampir abis dan terjebak masa tenggang, kangen mantan, mantan gebetan. Ah sudahlah. Kalo kangennya sudah akut, suka terjadi fenomena-fenomena ganjil.  Misalnya, telinga mendadak damai saat mendengarkan Dangdut koplonya O.M Sera ata O.M Sagita. Suka galau ketika nyetel  radio karena  ngedengerin salam-salaman buat pacar-pacarnya dari para pendengar . absurd men, tak bisa dilogika, seperti lagunya Agnes Monika feat Didi Kempot, yang berjudul ‘Tanjung Mas ini kadang-kadan tak ada Logika’.  Ciye yang mau nglucu tapi gak lucu, ciyee-ciyee. Tapi kangennya beneran kok, suweer. Beberapa kali doi datang didalam mimpiku sambil ngelakuin hal-hal yang enggak penting. Semacam nyengir kuda gitu terus ngilang mendadak deh. Kampret!

Disela-sela proses coloring komik, aku menyempatkan diri untuk membalas kartu posnya Regina Sari Dewi. Dua bulan yang lalu dia mengirimi aku sebuah kartupos bergambar roket ala pixel art gitu, lengkap dengan kutipan aneh berbunyi ‘May The rocket spirit be with you’ yang artinya ‘ yen aku kangen kowe aku kudu piye’.  Bwahahaha ora lah, artine ora koyo ngono kui.

Doi aku kirimin kartupos bergambar ‘Amed dan Regina’ sedang naik ayam goreng berbentuk roket (atau roket berbentuk ayam goreng?) menuju bumi dengan gaya gambar kartun menggunakan media pinsil warna yang unyu. Iya, aku kerjain manual, soalnya bingung harus nge-print kemana. Aku enggak rela kalo harus ke Solo cuman buat nge-print satu lembar kertas berukuran Postcard. hahaha. 

Oh iya, maaf kalau beberapa minggu ini aku jarang up date blog. Bukannya sok sibuk atau gimana sih, hanya saja minggu-minggu ini aku benar-benar repot ngejar deadline komik ‘The Proposal’ dan kerjaan-kerjaan yang lain, masih freelance sih. Jadi komikus di desa itu lebih sering dikira pengangguran daripada pekerja kantoran, beneran. Entah sudah beberapa banyak orang dikampung yang bilang ‘Kok di rumah dan enggak kerja?’. Sakitnya itu kayak nemu mantan pacar yang ternyata sudah punya pacar baru. Aku akan mencoba untuk menulis sesering mungkin, minimal menceritakan kehidupanku yang ajaib ini. Bwahahaha.


Mujix
hang in there Buddy!
keep moving and always
awesome!
Boyolali, 30 September 2014 


Sabtu, 30 Agustus 2014

Wisuda Yono

Hallo semua, iyees, postingan kali ini berjudul ‘Wisuda Yono’. Hah!! (sambil gedek), Yono siapa?!! (nanya bego), Wisuda!!?? Uooohhh!! (kemudian kayang). Yono itu nama panggilan sayangku (kalo anak alay bilangnya ‘4y444NgQuuuEh’) di lingkungan keluarga. Ehm, terus, apa lagi ya? Pokoknya gini, Jumat kemarin, tanggal 15 Agustus 2014, aku wisuda di kampus ISI Surakarta. 

Iyaah, aku lulus kuliah, lebih tepatnya ‘akhirnya terpaksa harus lulus’ karena sudah berjuta-juta semester bengong, idup dan guling-guling di kampus tersebut dengan liarnya. Kadang sering dikira kuda lumping! Sepertinya rektor, para dosen, senat, dan para pegawai udah ‘eneg’ dengan hawa keberadaanku di kampus tersebut. Menurut kabar burung, mereka semua akhirnya berkonspirasi dengan kejam untuk ‘menendangku’ dengan paksa, agar aku sampai di tahap ini. Tahap wisuda yang super duper keren ini. Sebentar, aku mau nyium ijazah sarjanaku dulu. Muaaaach!!

Postingan ini aku bikin dengan alasan ‘bahwa moment wisuda perlu diabadikan dengan sangat ganteng’, iyaah, aku enggak doyan kalo cara mengabadikan moment adalah dengan meng-upload 50 hingga 100 photo wisuda kayak teman-temenku yang lain. Cara yang kampungan!! Ndesoo cooy!!!
Kayak aku dong, dibikin curhatan gituh, terus di-upload di blog dan jangan lupa, curhatan itu harus di-tag ke 50 teman lainnya di Facebook.

Eh, apah? Perilaku ‘Nge-tag curhatan blog ke 50 teman di Facebook’ Itu juga embahnya kampungan bin ndeso? Ah sudahlah. Yuk kita simak curhatanku di postingan berjudul ‘Wisuda Yono’. Here we go!!

Aku dan nenek
 (Foto By. Wawan.2014)

 Nenekku sudah cukup tua, umurnya hampir 80 tahun. Ini adalah foto sebelum aku berangkat ke Solo untuk wisuda. Tiga hari sebelumnya aku berdebat kusir (enggak sambil naik delman lhoo yaaaa) dengan beliau. Aku ngotot buat ngajakin nenek ikutan wisuda, aku pengen beliau eksist!! Terus beliau bikin akun Twitter biar aku bisa ‘mensien‘ kalo aku punya ‘nenek gaul’.

Tapi apa mau dikata,  beliau menolak dan terus menolak. Sepertinya beliau enggan jadi seleb tweet, atau kalo enggak, beliau kapok kecapekan setelah beberapa kali diajak wisuda oleh keluarga dan kerabat.

Iya juga sih, aku maklum setelah peristiwa gladi bersih wisuda berlangsung. Diwisuda itu lama coy, dua jam lebih. Apabila aku seorang kakek berumur 80 tahun, sepertinya aku juga malas buat diajak wisuda sama cucuku kelak. Apalagi yang namanya nemenin wisuda itu cuman bengong, sambil nungguin dipoto-poto doang. Terus udah. Terus cuman dapet capeknya.

Ahahaha, karena aku cucu yang paling guanteng seantero ISI SOLO pengertian, akhirnya aku benar-benar mengalah. Aku kasihan melihat nenek capek, aku juga enggak rela kalo nenekku jadi seleb tweet duluan daripada cucunya ini.  Sebelum berpamitan buat wisuda ke Solo, aku menarik tangan nenekku kemudian merangkulnya sambil berkata “ Mbah, sini foto dulu, buat dokumentasi. Nanti di edit pake ‘potosop’ juga gak papa!!”. Senyum mbah, doain aku jadi seleb tweet ya!
Foto selfie dengan Nenek setelah 
prosesi wisuda yang melelahkan di Kota Solo.
 (Foto By. Mujix.2014)

Wawan. Ini adik guweh yang semata wayang. Cuman satu, rambutnya sama-sama kribo,terus suka dikira kembaran. Pokoknya random banget. Beberapa minggu ini doi menemaniku wira-wiri buat ngurus wisuda. Pakai motor pinjaman, lampu sein sebelah kanannya mati, kalo mau belok kanan harus melambaikan tangan. Melambaikan tangan ke kamera sambil bilang ‘sudah mas! Menyerah!’, kemudian Harry Panca muncul dari kegelapan sambil bilang ‘Jangan menyerah kawan!! Hidup itu harus diperjuangkan! Semangaaat!!’ #ParagrafGakJelas #Ehhh #ApaSih

Wawan sedang baca komik 'One Piece'.
 (Foto By. Joko Narimo.2014)

Kita berdua berboncengan dari Simo ke Solo. Gitu terus selama beberapa hari. Parahnya tuh kalo udah boncengan pengennya curhaaaaat mulu, kebanyakan sih cerita-cerita soal problematika hidup (tsaaaaah!!!). Karena aku tahu kalo dia sedang ngefans sama komik ‘One Piece’ karya Eichiro Oda, aku pinjamkan komik rental itu sebagai sesajen. Terus kuajak dia jalan-jalan di seantero buat hunting foto dan kuliner.
Foto-foto di Balekambang, Ngarsopuro, sampe di Bandara Adi Sumarmo sambil berharap dikecengin dedek-dedek cabe-cabean yang naik motor Mio, tau kan?

Wawan saat di Bandara Adi Sumarmo
 (Foto By. Mujix.2014)

Terus hunting kulinernya juga keren, kita makan Nasi Kucing, Tempe Goreng, sama minum Es Teh. Eh? Kalo menu yang entu enggak perlu hunting? Di Solo bejibun? Iya Toh? Pokoknya Wawan adalah penyelamat wisuda dan kehidupan perkuliahanku di Kampus ISI Surakarta. Jadi inget rutinitas saat magang di Bogor dulu. Pokoknya Lemah teles yo wan, Gusti Allah sing Mbales!

Mas Jack. Ini adalah kakakku yang paling awesome, nama kompletnya Joko Narimo, udah nikah punya anak satu dan istri satu. Jangan nanya aku soal mau nambah istri atau enggak. Mas Jack adalah asal muasal paling absolut penyebab aku bisa kuliah di ISI Surakarta. 
Mas Jack
 (Foto By. Wawan.2014)

Aku inget banget, dulu waktu lulus SMA, dia yang paling ngotot tentang keharusanku untuk kuliah. Dia bilang aku harus kuliah dan enggak usah mikir kerja dulu. Dia berpikir bahwa kuliah itu bukan persoalan ’segera lulus dan bisa dapat kerja’, tidak sesempit itu. Dia memberikan pemahaman kepada aku, Mamak dan Bapak bahwa lingkungan kampus sangat tepat untuk membuat pemikiran seseorang berkembang. Saat itu aku sangat culun, Disuruh kuliah, ya udah kuliah. Manut ajah. Hari ini jika aku mengingat peristiwa perdebatan itu, aku sangat setuju kalau pendapatnya benar.

Lingkungan perkuliahan itu sangat kejam. Kejam, membuatmu muak, hingga memaksamu untuk mengenal siapa musuhmu, siapa kawanmu, dan siapa dirimu sendiri.

Jika aku enggak kuliah mungkin aku enggak akan mengenal passion, komunitas film, komunitas komik, struktur tiga babak dalam membuat naskah, kerja keras seorang sutradara, komitmen untuk merampungkan kuliah dan tentu saja gregetnya wisuda. Foto diatas adalah  sosok kakakku yang paling awesome!
Beneran, kuliah itu bukan hanya persoalan ’segera lulus dan bisa dapat kerja’.

Mamak dan Bapak saat tersesat 
di Wisuda Fakultas Pertunjukan.
 (Foto By. Wawan.2014)

Tersesat. Ini adalah foto Mamak dan Bapak yang tersesat di upacara pelepasan wisuda di Fakultas Pertunjukan. Beberapa menit setelah upacara wisuda selesai, aku bingung mencari mereka berdua. Ngilang kemana sih!! Berlari-lari pake beskap dengan keris di punggung itu mungkin siksa neraka dunia nomer 5 setelah kehabisan uang makan saat akhir bulan. Beneran absurd. Kampretnya lagi bapak enggak bawa hape, terus hapenya mamak di telfon enggak nyambung (yang ternyata ketinggalan di rumah).

Aku enggak sempat foto-foto, langsung ngacir nyari mereka berdua. Muter-muter bego kayak kipas angin di kerumunan wisudawan. Kecapekan, duduk di trotoar sambil terengah-engah. Beberapa menit kemudian Mamak dan Bapak datang bersama Wawan. Adikku bilang ginih:

“Mas, mamak dan bapak tadi nyasar ke bangunan itu! Untung aja mereka duduknya di pinggir pintu. Jadi kelihatan deh dari luar”

What!! Nyasar ke Teater Besar!! Terus dengan santainya bapak nyeletuk kalau pertunjukan gamelan dan pidatonya sangat enak didengar. Usut punya usut, mamak dan bapak ternyata hanya ikut mengekor para rombongan orang tua. Aku maklum sih, namanya juga baru diwisuda pertama kali, untung aja ketemu. Aku cukup bersyukur mereka hanya tersesat ke Teater Besar, coba tersesat ke cintanya mantan. Kan syusyaaah nemuinnyaa!!! Ahihihihiiiii #CurhatColongan

Bu Citra, aku dan teman-teman Seni Murni.
 (Foto By. Wawan.2014)

Gerombolan Siberat. Ini adalah gerombolan pertama yang aku ajak foto-foto. Mukanya kriminal semua (kecuali yang perempuan pake jilbab biru), apalagi Mas-nya sebelah kanan berambut kribo yang pegang pundak saya, pengertian dong mas!! Rambut kribo itu enggak baik buat kesehatan! Boros shampo!! Kalo enggak pake conditioner suka nyangkut di sisir!! RAMBUT NYANGKUT DI SISIR ITU ENGGAK ENAK MEEEEN!!!! BAKAAAR PARA COWOK BERAMBUT KRIBOO!!! BAKAAAR!!!!

Mereka adalah para mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain jurusan Seni Murni. Sejak semester satu, trackrecord-ku dalam berteman di dalam satu jurusan sangat payah. Tahun-tahun sulit tersebut memaksaku untuk keluar dari zona nyaman, yaitu dengan berteman dengan mahasiswa lintas jurusan hingga lintas kampus. Butuh beberapa tahun untuk memahami bahwa kecenderungan, orientasi, dan fokusku dalam berteman ternyata sangat berbeda dengan para mahasiswa Televisi dan Film. Iyah, banyak hal terjadi apabila ngobrolin soal ‘pertemanan’ saat kuliah di Kampus ISI Surakarta. Kisah rumit namun sangat awesome itu aku gambar di komik ‘Lemon Tea’.
Foto wisuda Aku dan John Lenn... eh A'an Sasmitra.
 (Foto By. Wawan.2014)

Intinya sih, aku menyayangi teman-temanku di Televisi dan Film seperti teman-temanku yang lain. Eniwei walaupun mereka mukanya kriminal, tapi hati mereka murattal kok. Aku bangga memiliki teman-teman kampus seperti mereka. Mari berteman baik!!

Ketika Yayuk dan Mbokde Tutik dikeroyok Makanan.
 (Foto By. Wawan.2014)

Makanan. Termos ukuran besar itu berisi nasi putih, ayam goreng, mie goreng, dan sambel  tomat. Isinya banyak banget, itu masih belum termasuk beberapa plastik berisi camilan berupa kacang telur dan roti-rotian. Mamakku hari itu bangun jam tiga pagi untuk memasak semua makanan di dalam termos biru tersebut. Aku bangun pagi dan  tiba-tiba saja makanan itu sudah tertata rapi di meja dapur.

Sayangnya makanan di termos biru maupun di plastik itu  tidak habis dimakan dalam satu hari. Undangan wisuda yang aku terima bisa ditukarkan dengan enam boks konsumsi. Enam boks men!! Makanan di termos biru itu hanya berkurang  sedikit, enggak nyampe separuh. Ah,, jadi inget ketika Si Mbah rewel nyuruh bawa termos, gula, kopi, sama teh ketika akan berangkat wisuda. saat simbahku ngeyel buat bawa termos aku sempet mikir gini  "ini mau wisuda atau mau bikin Wedangan sih!!??"

Sepatu yang aneh.
 (Foto By. Wawan.2014)

Foto sepatu ini katanya diambil dadakan  oleh Wawan. Aku enggak tahu apa maksudnya, tapi hasilnya keren banget. Sepatu coklat di sebelah kiri adalah sepatu Wawan bermerk Airwalk, saat pertama kali dia tiba di rumah, hal yang dipamerin pertama kali adalah sepatu ini. Sepatu pantovel coklat tua di sebalah kanan atas adalah sepatunya Mas Jack. Bisa dikatakan sepatu ini adalah sepatu resmi pertama dan satu-satunya di keluarga kami. Sepatu hitam ,atau sepatu slop di sebelah kanan bawah adalah alas kakiku saat wisuda. 

Sepatu slop ini adalah pinjaman dari kerabat semalam sebelum acara wisuda berlangsung. Pinjaman dan sangat dadakan. Maaf kedisplinanku di dalam banyak hal benar-benar diuji saat mempersiapkan wisuda ini.
Namanya Yayuk, pemudi gaul yang doyan foto-foto ini adalah kerabat yang aku repoti saat meminjam beskap dan sepatu slop buat wisuda.

Yayuk dan Rektorat ISI Solo. kenapa
fotonya harus di Rektorat sih?
 (Foto By. Wawan.2014)

Janjian buat minjam beskapnya sih udah cukup lama, cuman ngambilnya aja yang super duper mendadak. Baju beskap itu ribet Men! Tanpa yayuk aku enggak bakal bisa memakai baju beskap dengan seganteng itu saat wisuda. Tengyu ya yuk ya yuuuuk...

Aku, Mas Jack, dan teman-teman Televisi angkatan 20**,
tenang aja, aku sensor angkatannya guys!!
 (Foto By. Wawan.2014)

Mereka adalah anak-anak prodi televisi dan film. Beberapa semester dibawahku yang menyempatkan datang untuk sekedar melihat kakak-kakak tingkat, teman-teman, dan adik-adik kelasnya yang diwisuda hari ini. Aku beberapa kali ke wisudanya orang lain, rasanya awesome. Berbahagia melihat orang lain bahagia adalah esensi dari datang ke wisudanya orang lain. Datang ke wisudanya orang lain keren, aku sepakat dengan pendapat tersebut.
Aku dan Regina
 (Foto By. Wawan.2014)

Regina juga berpendapat yang sama soal berbahagia. Ah.. wisuda itu pokoknya bahagia banget deh... sensasinya melebihi rasa bahagia saat melihat komik buatan kita nangkring di rak buku Gramedia, beneraaaan.

Mamak, Bapak, dan Cinta.
 (Foto By. Joko Narimo.2014)

Foto ini termasuk ‘best awesome moment of the day’, Bunga yang diberikan Regina itu akhirnya berpindah ke tangan bapakku. Adegan itu berlangsung sangat cepat. Tidak terkontrol, tak terpredikisi. Bapak yang orangnya super serius itu tiba-tiba meraih bunga tersebut dan menyerahkannya ke mamak dengan cengengesan. Kayaknya sih buat gaya-gayan gituh, tapi tetep aja kejadian itu membuat aku shock dan kaget, tiba-tiba aja suasananya jadi romantis bin absurd gituh. Udah tua aja mereka masih bisa berbuat semanis itu jadi kepikiran semanis apa kisah cinta mereka saat muda? hampir mau nangis gueh liat adegan ini :")

Mas Jack, Mbak Anna, Gantar dan Si Kuda Lumping..
 (Foto By.Wawan.2014)

Gantar Bumi Mayangkara. Nama jawa yang sangat aneh ini aku pakai menjadi nama karakter komik ‘The Proposal’. Iyaah, komik yang rencananya bakal dicetak lagih. Iyees, baru nyampe storyboard bab dua sih. Tertunda beberapa minggu gara-gara ngurusin kelengkapan wisuda. Bab dua sangat random, banyak humor-humor gak jelas yang membuat komik ini makin meriah. Tokoh utama di dalam komik ini adalah Gantar Bumi Mayangkara dan Wira Dimedja. Up date terbaru dari si Gantar, doi sekarang sedang pilek. Kasihan liatnya. Hidungnya meler terus, matanya merah sembab gara-gara kebanyakan nangis. Semoga cepat sembuh ya Dek.

Mbokde Tutik yang sedang makan Mie Goreng. 
Beneran Mie Goreng, bukan Rambutku coy!!!
 (Foto By. Wawan.2014)

Ibu-ibu paruh baya yang sedang makan mie goreng ini namanya Mbokdhe Tutik, iya makan mie goreng. Bukan makan rambutku. Catet. Mbokdhe Tutik menjadi pengingat bahwa hari saat diwisuda adalah hari yang sangat melelahkan. Lelah, capek, dan hilang fokus gara-gara belum sarapan bersatu padu membuatku amnesia beberapa menit. Dalam beberapa menit itu aku lupa siapa nama mbokdhe ku ini. Aku memanggilnya dua kali dengan nama yang salah. Pertama kali aku memanggilnya ‘Mbokdhe Jumirah’ dan yang kedua aku memanggilnya ‘Mbokdhe Uyeg’. kacaaaauuu. Terimakasih sudah mau ikut nemenin keluarga kami buat wisuda, Ngapunten yo dhee...
Sarjana Seni-ne dipikir karo salto ae Lee.
 (Foto By. Wawan.2014)

Sang Sarjana Seni. Kalo udah sarjana seni terus ngapain? Jadi sombong karena udah ada gelar dibelakang namanya gituh? Foto ini diambil hidden oleh Wawan. Aku memandangi emblem bermotif logo ISI Surakarta itu dengan tatapan nanar. Memandang setiap detailnya dan berpikir sangat  dalam. Detik itu aku teringat kutipan di buku Biografi ‘Steve Jobs’ karya Walter Isaacson.

Sarjana Masbuk, Masbuk ra popo
sing penting ngguanteng.
 (Foto By. Wawan.2014)

“Perjalanan Ini adalah hadiahnya”...
‘Perjalanan’-nya Men, bukan ‘tempat dimana tujuan’ perjalanan itu berakhir. Bukan ‘Wisuda’-nya Meen!! Tapi proses bagaimana wisuda itu terjadi. Proses men!!! proses!! Bagi beberapa orang, membicarakan proses itu sangat enggak penting. Sangat enggak penting banget malah. Kalian bisa mengerti apa yang aku maksud? Perjalanan untuk berada di tempat ini sangat terjal. Mengubah banyak hal, meninggalkan jejak disana-sini. Bertemu dengan berbagai banyak orang. Terluka, jatuh cinta, bahagia, bahkan tersenyum kecut karena beberapa kegagalan yang tak terlupakan.

Intine, Dadi sarjana seni kui biasa ae, rosone koyo nglamar bojo terus entuk respon positip soko mertuo. jarene sih ngono. 

Mujix,
buat yang penasaran,
Rambut kribonya aku iket, mau di sembunyiin enggak ada tempat,
alhasil nglewer gituh dibawah blangkon.
Simo, 30 Agustus 2014



Kamis, 31 Juli 2014

Hello Ghost!

Haeei gaes!! Apa kabra? Jadi ginih nih, bagi aku, iya akuuuh, Idul fitri ini adalah idul fitri yang dramatis. Aku berpikir seperti itu setelah melihat tetanggaku. Iya, tetanggaku. Aku punya tetangga. Aku bukan jin botol yang terperangkap di tengah gurun Sahara. 

Tetanggaku itu, sebut saja namanya ‘Bunga’, menangis meraung-raung sambil memeluk bapak saat halal bi halal. Beneran, menangis meraung-raung layaknya kontestan pogram televisi ‘Masih Dunia Lain’ yang kerasukan roh astral macan tutul. Beberapa jam sebelumnya, tetanggaku yang bernama ‘kumbang’ juga melakukan hal yang sama. Di dapur saat dia sungkem dengan nenek, tangisan memecah heningnya pagi damai di hari nan fitri.

Ada apa sih idul fitri ini? Kok serba menangis gituh? Hari idul fitri ini yang harusnya menjadi momen untuk berbagi kebahagiaan antar sesama anggota keluarga. Harusnya seperti itu, namun untuk beberapa orang, perayaan hari raya Idul Fitri adalah momen krusial penguras emosi dikarenakan berbagai kejadian di masa lalu. Sebagian dari mereka adalah superhero yang tegar dalam menghadapi apapun yang terjadi, sebagian dari mereka yang lain adalah orang-orang biasa yang memasang topeng ‘baik-baik saja’ dibalik semua masalahnya, dan sisanya adalah sosok-sosok pemilik jiwa yang rapuh dan bisa patah karena hal-hal yang kecil namun memorable.

Beberapa hal memang memorable, namun beberapa hal lain sangat tragis. Pokoknya sesuatu hal yang bersifat tragis dan memorable sangat mudah untuk membuat seseorang menangis.
Begitulah.

Aku juga pernah seperti mereka. Aku juga pernah menangis. Aku manusia biasa yang hatinya bisa tersentuh karena hal-hal sentimentil. Aku bukan Sun Gokong yang tidak pernah menangis bahkan saat dia diusir gurunya gara-gara ulah siluman tengkorak.

Iya, siluman tengkorak!! Cieeeh, adegan itu memorable bangeeet. Kalian inget enggak sih ketika Sun Gokong ber-Kagebushin No Jutsu menjadi banyak dan bersimpuh untuk meminta maaf kepada Biksu Tong (buat yang mengira nama komplitnya Biksu Tong adalah ‘Tong kosong nyaring bunyinya’, nyemplung ke laut ajaaaaa!!). Adegan itu epic banget. Sangking epic-nya Bang Arumania pernah nangis bawang bombay gara-gara nonton serial kera sakti. Nangis bawang bombay, terus joget-jogetan dibalik pohon sambil nyanyi ‘Chori-chorii, chupkee-chupkeee’. Eniwei, kenapa aku bisa tahu? Soalnya dia pernah curhat soal adegan siluman tengkorak. Dia curhatnya joget-jogetan dibalik pohon sambil nyanyi ‘Chori-chorii, chupkee-chupkeee’.

Anu, kenapa malah jadi bahas Sun Gokong sama Biksu Tong, sih? Fokus!! Fokus!! Balik ke tema semula!!! Ciaaaat!!!

Ehem!Idul fitri ini adalah idul fitri yang dramatis. Enggak dramatis gimana, aku mau wisuda Men! Itu adalah adalah  (kata ‘adalah’ sengaja dibuat dobel agar terlihat dramatis) adegan ‘super duper absolutly awesome keren banget’ sepanjang masa perkuliahan abadiku selama di ISI Solo.  Haaah.... (menghela nafas panjang sambil menatap langit senja) ISI Solo Men! Ingatanku melesat di masa saat aku lulus SMSR, tau singkatannya? Si Mujix Sangat Romantis, eaaaa,  Kalimat akronim kayak gitu Kalo di twitter biasanya aku ketik pake Hashtag ‘Ehh’ dan ‘apa sih’.  

Banyak hal yang bersifat tragis dan memorable terjadi dari masa itu sampai sekarang. Aku adalah orang yang merasa memiliki ‘keteguhan hati’ yang dahsyat apabila dibandingkan orang-orang lain, maaf, aku memang sesombong itu. Banyak hal yang bersifat sentimentil dan menyentuh hati namun tidak banyak yang bisa membuatku bersedih bahkan menangis.

‘Tidak banyak’, namun ada.

Hal-hal yang ‘tidak banyak’ namun ada itu terkadang berupa hal-hal konyol dan sepele. Hal-hal yang ‘tidak banyak’  namun ada itu bisa berupa menonton film drama Korea, lelucon ‘gak jelas’ saat bercanda dengan teman, hingga ‘telfon’ ortu dari Bogor.

Hal-hal yang ‘tidak banyak’ namun ada nomer satu adalah film drama Korea. Sore hari yang damai dikontrakan Punggawan itu berjudul ‘sesosok komikus amatir ganteng berambut kribo menangis gara-gara menonton film drama Korea’.

Aku klarifikasi sebentar, aku enggak suka film drama  Korea, saat itu kebetulan aku ketularan ‘demam Korea’-nya Bang Arumania. Entah ada angin apa saat itu tiba-tiba di hardisk komputernya Bang Arumania menjamur puluhan film drama Korea. Catat men!! PULUHAN DRAMA KOREA!! Kalian bisa bayangin kan, horornya muka Bang Arumania yang kadang sering dikira kuli bangunan itu mengkoleksi PULUHAN DRAMA KOREA!!! Men! Don’t judge book from the cover, yang artinya ‘ kalo elo mabuk plis dong jangan ngileer’. Dari puluhan film drama korea itu akhirnya aku iseng-iseng menonton ‘Hello Ghost’. Dan iseng-isengku itu akan berakhir dengan bencana kiamat sughro

Btw cerita soal ‘dikira kuli bangunan’ itu juga dicurhatkan saat dia joget-jogetan dibalik pohon sambil nyanyi ‘Chori-chorii, chupkee-chupkeee’. Ah..
.
Kata om Wikipedia, Film Hello Ghost pertama kali ditayangkan di Korea Selatan pada tahun 2010 dan menjadi box office dengan lebih dari 3 juta penonton. Garis besar kisah dari film ini sebenarnya bego banget. Seorang pemuda galau nekat mencoba kali bunuh diri dengan terjun ke sungai namun gagal dan akhirnya memiliki kemampuan untuk melihat arwah. Bukan hanya satu arwah, sekeluarga arwah.  Pemuda yang bernama Sang-man (yang diperankan oleh Cha Tae-hyun) ini bukan hanya bisa melihat, namun juga berkomunikasi dan bahkan dihantui oleh sekeluarga arwah di sekelilingnya. Semacam kemampuan para mediatornya program televisi ‘Masih Dunia Lain’, gituh, bedanya Sang-Man enggak berkepala botak. Mungkin khawatir kalau dikira Pak Ogah. 

Hidupnya makin kacau balau. Alur dari film ini mulai bergerak dinamis saat para arwah tersebut membuat perjanjian. Mereka akan meninggalkan tubuh Sang-man (dengan segala terrornya, tentu saja) asal semua permintaan arwah penasaran itu terpenuhi. Perjuangan Sang-Man dalam memenuhi permintaan absurd itulah yang menjadi poin menarik dari film Hello Ghost.

Begitulah, Andaikata diumpamakan, film bagus itu seperti gebetan yang sedang diincer, sama-sama memiliki plot yang bagus untuk disimak. Enchiyeeeeh...

Hal yang paling kampret dari film ini adalah masalah dalam pembagian porsi dari alur cerita. Pada satu jam awal terdapat banyak adegan yang membuatku tertawa nguakak ampe guling-guling di kasurnya tetangga. Sang-Man sering terjebak dalam situasi heboh khas komedi film korea. Konflik-konflik yang dibangun para karakter arwah ternyata memiliki benang merah dengan masa lalu Sang-Man. Benang merah itu ditampilkan secara dramatis di penghujung film ini. Benang merah yang hanya berdurasi sekitar 7 menit ini lah yang membuatku tersentuh, mewek, kemudian menangis.

Kalo seorang cowok menangis gara-gara masalah cinta itu sangat dramatis, namun kalo seorang cowok menangis gara-gara film Korea.... ah sudahlah. kiamat sughro itu udah tau punya aib nangis gara-gara film Korea tapi masih nekat diposting di blog. Eluh, kacauu Jix.

Intinya hingga hari ini, Film ‘Hello Ghost’ adalah film korea paling bagus yang pernah aku tonton.  
Hal-hal yang ‘tidak banyak’ namun ada nomer dua adalah lelucon ‘gak jelas’ saat bercanda dengan teman. Memiliki teman-teman yang ajaib itu menyenangkan. Aku enggak harus nyewa VCD ‘Mr.Bean’ ataupun film Kartun ‘Tom and Jerry’ hanya untuk bisa tertawa terbahak-bahak ampe nangis. Kalo suntuk, kumpulin aja temen-temen dengan bermodalkan es teh dan gorengan. Membahas sesuatu tema yang up to date dan biarkan obrolan itu mengalir secara tak terkendali. Percayalah mereka akan mengeluarkan banyak lelucon yang garing sampe yang bikin girang.

Konsep spontan semacam sesuatu ‘ yang mengalir secara tak terkendali’ sama seperti pertimbangan Steve Jobs saat mendesain Studio Pixar yang baru. Dia menyusun beberapa lorong dari berbagai divisi studio untuk bisa bertemu di satu tempat semacam aula. Bertemunya berbagai orang dari berbagai divisi di satu tempat akan membuat kreativitas muncul dari pertemuan spontan dan diskusi acak. Keren ya. Eniwei cerita ini aku dapat dari buku biografinya Steve Jobs karya Walter Isaacson. Aku merangkum hal-hal keren dari buku itu di sini.Tweet tentang Steve Jobs by Walter Isaacson

Ini postingannya banyak banget sih. Huft.

Sekarang kita ngobrolin ‘lelucon ‘gak jelas’. Semenjak salah satu temanku yang ajaib ikutan stand up comedy di Solo dan UMS, yaitu (lagi-lagi) Bang Arumania, aku jadi sensitif banget apabila membahas mengenai ‘lelucon’. Di dunia stand up comedy bahasa kerennya ‘lelucon’ adalah ‘jokes’. Aku dan Bang Arumania mendadak menjadi sepasang komentator open mic dan komik humor paling ambisius seantero Surakarta. Gimana enggak, kita ngobrolin tentang komik humor yang bagus, lelucon yang paling satir sampe yang paling porno, set up dan puch line yang pecah, bahkan kita ngobrolin bagaimana dua disiplin ilmu itu bisa saling bersinergi.

Salah satu lelucon yang bikin aku ketawa ngakak sampai nangis adalah ketika Bang Arumania bernyanyi dan nge-jokes tentang Steve Jobs. Yuk kita bayangin aksinya:

Bang Arumania biasanya berpose bak gitaris handal. Dia berakting seolah-olah pegang gitar dan menatap tajam penonton. Kemudian dia akan berteriak ‘Jreng-jreng!! Jreng’, anggap saja suara ‘Jreng-jreng!! Jreng’ itu suara gitar. Dia membungkukkan badan kemudian bernyanyi dengan lirik seperti ini: 

“Kudapat JOB!!! ‘Jreng-jreng!! Jreng’, JOB-nya BL*W JOB, ‘Jreng-jreng!! Jreng’, dari STEVE JOB, ‘Jreng-jreng!! Jreng’ dia bilang GOOD JOB!!”

Kemudian hening. 
Pertama kali mendengar jokes itu aku hanya bisa bengong.
Beneran enggak tahu lucunya di mana. 
Sepertinya ada kata yang agak porno juga.

Namun setelah beberapa kali memikirkan maksud dan pose itu, aku kemudian tertawa terbahak-bahak ampe nangis. Waktu ketawa itu pun aku masih enggak tahu lucunya dimana. Pokoknya absurd abis. Nanti kalo kalian udah tahu bagian lucunya tolong aku di SMS ya? Dasar komika gila.

Beberapa paragraf yang membahas “Hal-hal yang ‘tidak banyak’ namun ada nomer dua” beneran enggak penting. Aku minta maaf. Aku akan segera mempaparkan Hal-hal yang ‘tidak banyak’ namun ada nomer tiga, yaitu ‘telfon’ ortu dari Bogor.

Semenjak SD aku sudah ditinggal merantau oleh ortu. Beliau berdua yang awesome itu membanting tulang ke Kota Hujan, yaitu Bogor. Bertahun-tahun kota Bogor menjadi saksi bisu kegigihan sepasang suami istri dalam mencari nafkah untuk keluarganya. Berpeluh menantang malam, bersinergi dengan semesta untuk merubah dunia. 

Dan hanya pulang ke tanah asal sekali dalam satu tahun, yaitu saat lebaran. Kurasa kisah ini keren sekali. Sebuah prolog yang sangat manis ini sudah aku gambar beberapa panel dalam komik Lemon Tea. Semoga segera selesai komiknya.

Terus ginih, dari jaman SD sampai SMP aku enggak pernah bisa berkomunikasi dengan mereka, kecuali saat mereka pulang, tentu saja. Jaman segitu mah enggak ada Handphone, mungkin udah ada, cuman aku enggak punya Handphone. Mungkin akan sangat mengerikan sekali kalo seorang anak SD jama segitu udah punya Handphone, itu anak SD atau ALIEN!? Kok revolusioner gituh?!!

Mungkin juga saat itu aku enggak paham apa itu ‘Handphone’. Kasihan. Nenekku memberi solusi alternatif. Beliau bilang aku bisa berkomunikasi dengan ortu di Bogor melalui gentong. Beneran, melalui GENTONG, kalian enggak salah baca sodara-sodara. AKU BISA BERKOMUNIKASI DENGAN GENTONG!!! tempat air yang berasal dari tembikar dan tanah liat itu. Entah nenekku yang terlalu pinter, atau akunya yang terlalu bego. Akhirnya aku ‘menelepon’ ortuku melalui gentong. Jika mengingat masa-masa itu aku menjadi trenyuh sendiri. Sedih, kasihan, keren dan memorable bercampur menjadi satu. Ketika berteriak melalui gentong apakah aku menangis? Iya, aku menangis. Bisa dibayangin enggak sih perasaan anak SD yang enggak pernah ketemu ortunya selama satu tahun? Gituh.

Jadi kesimpulannya hidup yang dramatis itu gak melulu harus terjadi pada hari raya Idul fitri. Pada hari yang biasa-biasa saja bagi orang lain mungkin saja hari yang dramatis bagi orang yang lain lagi. Mungkin bagiku saat ini, kisah dari ‘Bunga’ dan ‘Kumbang’ adalah kisah yang biasa-biasa saja. Namun bagi mereka, kisah mereka sangat dramatis, saat itu, ditempat itu, dengan siapapun itu. 

Bunga mengalami kesedihan yang mendalam karena suaminya meninggal karena penyakit stroke gara-gara memikirkan banyak hutang, saat ini Bunga harus menanggung biaya dua orang anak dengan beberapa hutang yang belum terlunasi. 

Kumbang memiliki kisah yang lain lagi, dia merasa kesepian karena terlahir dari keluarga broken home. Ayahnya bercerai minggat entah kemana. Sang ibu menikah lagi dan pindah ke desa lain mengikuti suami barunya. Kumbang merasa tidak memiliki ‘rumah’ dimanapun. Bukankah kisah mereka ‘biasa-biasa’ saja?

Postingan ini aku tutup dengan quotes keren film Hello Ghost, you'll never walk alone! Percayalah akan selalu ada orang lain di sampingmu saat masa-masa dramatis itu datang. Orang lain itu bisa saja bapakku dalam kisah Bunga, Nenekku di kisahnya Kumbang, ataupun bahkan hanya sebuah Gentong. Senyum.  

Mujix
masa-masa ini aku sering
berpikir mengenai hal-hal
yang fundamental dan sangat mendasar.
semoga segera tercerahkan!
Simo, 31 Juli 2014