Selasa, 21 Januari 2014

Burung Colibri

Burung Collibri

Aku memandang kosong kearah jalanan di daerah Rumah Sakit Moewardi.  Di sana banyak warung makan berjejer di trotoar. Penjual sate ayam hingga wedang ronde berkumpul menambah suasana riuhnya rumah sakit. Aku berhenti sejenak, memandang gedung rumah sakit itu dengan tatapan nanar. Terkadang disaat seperti itulah aku sangat mensyukuri anugrah yang bernama ‘kesehatan’. Malam ini aku sangat sehat sekali, terlalu sehat hingga bisa berjalan menempuh 4 KM hanya numpang  tidur di rumah teman. Beberapa jam berlalu, pergi dan menghilang begitu saja, padahal berbagai masalah yang membuatku pusing masih banyak yang belum terselesaikan. Udara dingin yang menyergapku kali inipun sepertinya sudah menjadi kawan akrab. Beberapa jam lalu aku berada di kampus. Beberapa jam yang sepertinya diciptakan khusus dari Tuhan untuk memberiku mata kuliah tentang ‘banyak hal yang tidak aku ketahui’ dan ‘banyak hal yang tidak bisa aku ubah’.

***

Beberapa jam yang lalu.

Cerita ini dimulai pada suatu malam di sebuah tempat bernama perempatan lampu merah Sekarpace, Solo. Aku berdiri di tempat itu selama setengah jam, dua kali di tolak bis antar kota antar propinsi, dan dua jam sebelumnya sudah 4 kali panggilanku juga ditolak takdir untuk bisa bertemu dosen pembimbing skripsi. Bah. Awal tahun yang menyebalkan.

Perempatan lampu merah Sekarpace adalah tempat yang seharusnya mudah menemukan Bis jurusan Solo-Jogja, Solo-Surabaya, Solo-Karangnyar, dan Solo-Zimbabwe.  Maaf, opsi yang terakhir sepertinya fitnah. Aku belum pernah tuh menemukan bis dengan kode Solo-Zimbabwe. Perempatan itu jaraknya tak terlalu jauh dari kampus 1 ISI Surakarta, namun sangat jauh dari pusat kota Solo. Yah bisa dikatakan kampusku memang terletak hampir di perbatasan kota.

Suasana malam kali ini sangat romantis, apalagi setelah seharian hujan. Udara yang dingin sepertinya membuat perempatan itu terlihat ramah dari biasanya. Seharian hujan sebenarnya bukan alasan utama yang mendorongku untuk membuat postingan ini. Pokoknya Ke-’gak-jelas’-an awal tahun ini memang jelas-jelas disebabkan ketidaktahuanku tentang jadwal turunnya hujan hari ini. Hujan sialan itu sepertinya sudah berkolaborasi dengan alam semesta untuk membuatku ngedrop.

Hujan yang turun gak jelas itu membuatku tersadar, Di dunia ini banyak hal yang tidak aku ketahui. Aku tidak tahu bagaimana  kinerja lampu merah di Perempatan Sekarpace yang  terus menyala dengan teratur dengan sangat tepat sepersekian detik. Aku tidak tahu mengapa dosenku benar-benar enggan untuk mengangkat telfonku untuk sekedar memberitahu dimana dia berada. Aku tidak tahu tentang jadwal turunnya hujan hari ini. Dan yang paling super duper paling penting, Aku tidak tahu  mengapa takdir harus memaksaku berdiri di tempat itu selama setengah jam. Setengah jam gak ngapa-ngapain itu lebih baik daripada hidup 25 tahun gak ngapa-ngapain. Anu… kita ngobrolin apa sih?

Intinya, Di dunia ini banyak hal yang tidak aku ketahui.

Januari yang harusnya awesome ini diawali dengan kekacauan jadwal bertemu dosen pembimbing. Ceritanya guweh mau konsultasi bab 1 dan 2 dari skripsi gituh, namun gara-gara doi enggan bales pesan singkat dari hape, tau-tau aja udah terdampar di mushola kampus ampe malem. Bener-bener gak habis pikir.  Apa sih susahnya ngebales sms. Ngetik teks kira-kira cuman butuh waktu gak nyampe 1 menit. Di suatu ‘penungguan yang entah kapan ketemu itu’ akhirnya masih dibumbui dengan hujan seharian sampai malam. Sampai malam hingga membuatku sangat galau banget. “galau” kalo dibaca terbalik jadi “ualag”, Apa sih.pokoknya  ilmu berpikir positif yang selama ini aku andalkan  perlahan-lahan juga mulai berkarat dan tak berguna.

Hey, apakah kalian tahu? Terkadang di dunia ini ada beberapa hal yang tidak bisa kita ubah. Aku sudah cukup ‘kenyang’ memahami kenyataan itu semenjak kelas 1 SD. Aku tidak pernah bisa mengubah kenyataan bahwa orang tuaku harus merantau ke Bogor untuk mencari nafkah. Waktu pertamakali ditinggal, guweh nangis bawang bombay ala sinetron gituh. yah maklum sih, aku masih kecil banget. sekecil semut. Saat SMP aku tidak bisa mengubah kenyataan tentang rambutku yang  kriting. Saat itu memiliki rambut keriting adalah aib, sangat mudah untuk menjadi sasaran empuk para genk labil saat SMP. Tau genk labil saat SMP? Itutuh segerombolan anak SMP yang suka nonkrong di depan gerbang buat malakin murid lain. Aku dulu sempet  menjadi bocah SMP berambut kriting yang ngidam banget punya rambut lurus. Tahun segitu juga belum musim rebonding. Pokoknya banyak banget didunia ini hal-hal yang tidak bisa kita ubah.  Apalagi jika hal-hal tersebut berkaitan dengan sesuatu yang lain diluar diri kita.

Aku sangat suka melakukan hal-hal yang absurd, ketika keadaan sudah tak bisa ditolong dengan ilmu berpikir positif.  Hal absurd yang aku lakukan saat itu adalah segera menerobos hujan dan pergi ke Perempatan Lampu Merah Sekarpace untuk menemukan Bis jurusan Solo-Jogja. Eh, hal tersebut gak absurd katamu? Masa sih? Menerobos hujan untuk mencari bis lhoooh. Biasa aja? Ya sudahlah. Biasa ajah juga gak papa. ckk. Pokoknya ini adalah awal tahun yang menyebalkan.

Malam itu aku masih terus menunggu. Bis malam yang datang sebenarnya juga lumayan banyak. Rasa lelah yang mendadak datang yang membuatku diam mematung cukup lama. Saat-saat seperti  itu biasanya sangat rentan stress. Entah sejak kapan, terkadang aku juga sering mengalami hari-hari dimana enggan untuk melakukan apapun. Aku hanya ingin stay dan membiarkan hidup berjalan biasa-biasa saja. Imbas dari keadaan tersebut  adalah munculnya pertanyaan-pertanyaan fundamental yang biasanya merongrong para filusuf di seluruh dunia. Iyah, pertanyaan semacam “kenapa dunia ini diciptakan” sampai pertanyaan yang paling gak jelas seperti  “kenapa kalo abis wudhu pasti kebelet pengen buang angin ”.  Kabar buruknya adalah keadaan tersebut sering terjadi akhir-akhir ini, dan kabar baiknya keadaan seperti itu biasanya hanya berdurasi beberapa jam saja, atau bahkan beberapa menit.  Ketika  aku masih mencoba menelaah pertanyaan fundamental tersebut, tiba-tiba saja terdengar  teriakan seorang teman.  

“Hey!! Mujix!! Ngapain  di situh” wanita itu berteriak lantang. Aku menoleh ke arah jalan, terlihatlah sosok mas-mas dan mbak-mbak yang sedang menaiki Vespa berwarna biru gelap. Mereka adalah sepasang pengantin baru yang juga menjadi teman satu kampusku. Mbak Dwi dan Nano. Mbak Dwi adalah kakak kelas di jurusan Televisi, teman gayeng-gayengan sama Mbak Norma, dan biang kerok penyebab guweh kacau balau 3 tahun yang lalu. Nano adalah merk permen yang rasanya manis asam asin rame rasanya.

“Aku nungguin bis Mbak, mau pulang” kataku singkat.

“Masih ada toh? Kan udah malam banget..” tanya mbak duwek dengan sedikit kaget.

“Ada kok, hehehe ” jawabku  sambil tersenyum. Ngobrol ketika bertemu di perempatan lampu merah itu enggak enak. Selain berisik terkadang ada efek asap yang menyembur kayak film action. Pokoknya gak enak. Makanya aku hanya menjawab singkat dan sekenanya.

“Hei, kamu di cariiin sama Sanasuke tuh” tiba-tiba mbak duwek merubah obrolan. Dia tertawa genit menunggu reaksiku yang biasanya kikuk kalau nama ‘sanasuke’ disebut.

“Oh iya? Ya udah salam aja buat dia, Mbak” reaksiku tak sekikuk biasanya. Mbak Duwek dan Nano tertawa kecil kemudian pamit untuk melanjutkan perjalanan. Aku menatap laju motor mereka yang mulai menjauh.

Aku tersenyum kecut.

Permasalahan tentang kekacauan jadwal bertemu dosen pembimbing tiba-tiba hilang entah kemana. Tak ada lagi pertanyaan fundamental yang hinggap di kepalaku saat itu. Ramainya malam di perempatan Sekarpace mendadak lengang.

Cerita ini dimulai pada suatu malam di sebuah tempat bernama perempatan lampu merah Sekarpace, Solo. Aku berdiri di tempat itu selama setengah jam, dua kali di tolak bis antar kota antar propinsi, dan dua jam sebelumnya sudah 4 kali panggilanku juga ditolak takdir untuk bisa bertemu dosen pembimbing skripsi. Di saat semuanya sudah tak terkontrol itu, nama Sanasuke muncul lagi. Sanasuke adalah salah satu dari beberapa hal  tidak bisa kita ubah, pemicu dari berbagai pertanyaan fundamental yang sedang kucari jawabannya hingga hari ini. Bah. Awal tahun yang menyebalkan.

Apakah Aku sudah bilang tentang hal-hal yang absurd, ketika keadaan sudah tak bisa ditolong dengan ilmu berpikir positif? Detik itu terjadi lagi. Hal absurd yang kulakukan kali itu adalah berhenti menunggu bis antar kota antar propinsi dan berjalan kaki sepanjang 4 KM hanya numpang  tidur di rumah teman. Langkah pertama untuk menempuh jarak sepanjang 4KM tersebut aku mulai dengan bersiul-siul mengikuti nada  lagu Oasis yang berjudul Don’t Look Back In Anger.

***


Begitulah, beberapa jam yang melelahkan. Jarak antara Rumah Sakit Moewardi dengan perempatan lampu merah Sekarpace kurang lebih 2 KM.  jalanan di daerah ini sangat terang benderang. Cahaya yang berasal dari lampu jalanan terkadang kurang merata di beberapa daerah. Beneran. Di daerah sebelum Rumah Sakit Moewardi ada tempat yang tidak tersentuh dengan lampu. Siulanku yang tadinya mengikuti nada  lagu Oasis yang berjudul Don’t Look Back In Anger, entah kapan mulai berganti dengan khayalan tentang masa depan. Berjalan di tempat gelap sambil mengkhayalkan masa depan  yang terang benderang itu sangat menyenangkan. Terang benderang? Iya dong. Masa depan yang aku khayalkan selalu terang benderang. Mata kuliah tentang ‘banyak hal yang tidak aku ketahui’ dan ‘banyak hal yang tidak bisa aku ubah’ itu membuatku tersadar bahwa proses belajar itu benar-benar tidak akan pernah berakhir hingga ajal menjemput. 

Oh iya, mengenai hal‘ yang tidak aku ketahui’ kemarin aku bertemu hewan kecil. Semacam burung yang suka mencari madu. iya, Burung Colibri. Aku bertemu burung itu di suatu tempat yang cukup gelap. itu pertama kalinya aku meliat burung Colibri, kecil banget. Burung itu terbang pelan dipinggir jalan yang ramai menerobos semak-semak. Burung itu terus terbang, hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain.

Hey, aku seperti melihat diriku sendiri di dalam sosok Burung Colibri tersebut. Malam itu aku juga sendirian, mungkin memang bukan mencari madu, mencari diri sendiri yang terkadang pergi entah kemana ditenggelamkan air hujan. Yeah, perjalanan ini akan sangat menyenangkan. soalnya mendadak galauku hilang gara-gara Si Burung Colibri. seperti mendapat teman seperjalanan.
Masih tersisa 2 KM lagi, Semangat!

Mujix
Selamat Tahun baru 2014.
telat 20 hari gak papa yah?
Kentingan, 21 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar