Senin, 31 Maret 2014

chit chat

“pola pikir penduduk suatu bangsa bisa dilihat dari tayangan televisi mereka #televisi #mujixtoday #opini”, 7 Maret 2014.

Beberapa hari ini aku kepikiran kalimat  yang dulu (atau mungkin sekarang masih ada) sering diucapkan para guru dan orang tua mengenai komik.  Kalimat yang gini nih “Jangan membaca komik, nanti kamu jadi anak yang bodoh”. Aku rasa kalimat itu gak akan berlaku untuk anak jaman sekarang. 

Seberapa kampret tayangan televisi jaman sekarang menentukan asupan gizi pemikiran seseorang. Tweet di atas aku tulis saat empet melihat salah satu acara kompetisi dangdut. Kompetisi dangdut  yang sedikit lagu dangdutnya dan kebanyakan ngegosipnya. Pesertanya satu jurinya banyak, nyanyinya sebentar ngebacotnya lama. Pindah channel, juga gak lebih baik. Isinya cuman sekumpulan orang yang joget-joget gak jelas. Pindah channel lagi ada kampanye terselubung oleh salah satu (atau salah dua dan tiga?) para pemilik stasiun televisi yang kampanye untuk laga pemilihan presiden. 

Pindah channel lagi isinya sinetron dengan drama yang terlalu susah untuk dipikir dengan logika. 
Capek. Akhirnya gak jadi nonton televisi.

Aku mengambil kertas dan kemudian membuat komik. Apakah komik yang aku buat akan membuat anak bodoh? Kurasa enggak. Aku bisa mengontrol konten dan materi dari komik tersebut. Bai te wai sebenarnya di toko buku terdapat ribuan komik edukatif yang mendukung kecerdasan sang anak, tergantung dari para orang tua untuk bisa memilih dan memilah komik dengan bijak. Ortunya kurang gaul tuh. Jangan malas bertanya keada petugas untuk mencari komik yang baik dan mendidik.

Lagian  mengenai “bodoh” atau enggak, kurasa lebih banyak pengaruh dari lingkungan dan bagaimana orang tua tersebut dalam mengasuh anak. Iya kan?


“banyak ide itu gak berguna kalo gak bisa merealisasikannya #mujixtoday #creativetalks”, 10 Maret 2014

Bohong, Kalo ada orang yang gak bikin karya karena gak punya ide. Mereka bukannya gak punya ide, mereka hanya malas untuk mewujudkan ide. Aku adalah manusia yang mempercayai bahwa ide itu ada di manapun di sekitarku. Beneran, ide itu sangat buanyaak. Aku sering berada di situasi kebanyakan ide namun gak ada waktu untuk merealisasikannya. Solusinya adalah mememilih ide yang paling logis untuk diproses.

Terkadang ide yang paling logis itupun jumlahnya puluhan. Terus gimana dong? Gini nih, Permasalahannya adalah, mau gak sih kita memproses semua ide yang paling logis tersebut dan menyeleksinya untuk menjadi sebuah karya yang awesome. Kebanyakan para pemalas mempunyai kebiasaan ‘menunggu ide yang sangat super briliant’ untuk menghasilkan karya yang juga briliant

Biar aku kasih tahu, ide briliant itu enggak ada. Kebanyakan karya briliant yang beredar di pasaran itu berasal dari ide yang sederhana, namun dieksekusi dengan kerja keras oleh banyak orang yang briliant. Jangan malas, malaslah di waktu dan tempat yang tepat.  So, dikau jangan nunggu ide yang briliant, jadilah orang yang briliant. 


“andai Tuhan punya twitter, aku akan mensien gini '' polbeek ea Kaakaaaak'' #filusufamatir #mujixtoday”, 10 Maret 2014

Tuhan, ini nih sosok paling invinsible yang pernah diciptakan oleh peradaban manusia. diciptakan oleh peradaban manusia? Kata  Nietzsche sih gitu. Nietzsche bilang ma guweh, kalo saat itu masyarakat yang muak sama hukum rimba berkumpul menjadi satu menciptakan agama. Masyarakat ini sebenarnya memliki rasa iri dengki terhadap pemenang dari sistem ‘siapa yang kuat dia yang menang’. Soalnya pada jaman dulu kala, manusia yang terkuat dan terpandai dalam tiap masyarakat secara alami menjadi pemimpin/ pemenang. 

Dengan berbagai jenis agama yang muncul, mereka (manusia yang muak dan iri dengki sang pemenang hukum rimba) menciptakan sosok supranatural yang tidak nyata, sosok yang sangat kuat melebihi Superman, sosok hebat yang bisa menggulingkan sang pemenang. So, sejak saat itu sang pemenang menjadi pecundang kelas wahid. Penciptaan Tuhan telah membuat sang Superman kehilangan kepercayaan atas keberadaannya.  Katanya sih gituh. logis juga sih, tapi sori deh om Nietzsche, aku udah punya pemahaman sendiri mengenai Tuhan.

Pemahamanku lebih sederhana, aku cukup sepakat dengan pendapat St. Thomas Aquinas mengenai 5 bukti keberadaan Tuhan. Kesimpulannya ajib banget, buat yang bingung bisa di-googling deh. Mungkin ketika iseng-iseng googlin, kalian akan menemukan akun twitternya Tuhan. What?! Apakah Tuhan punya twitter?! Adaloh akun Twitter berjudul ‘God’ followernya jutaan, dan kampretnya lagi akun ‘God’ itu hanya men-follow Justin Bieber, jadi bukan akun ini yang aku maksud. 

Tuhan yang lain, Tuhan yang lebih personal, Tuhan yang kalian sebut ketika ada rezeki. Tuhan yang kalian agungkan namanya ketika kalian beribadah. 

Tuhan memiliki beberapa ‘akun Twitter’ bernama agama, Dia memang gak mem-follback kalian, tapi Dia selalu men-kepo kalian di manapun dan kapanpun. Beneran kok. Yakin aja deh. Maling aja selalu dikepo dan di beri rezeki, masa kalian (dan guweh) enggak.


“akan ada malam dimana kamu benar-benar mengacuhkan kesehatan demi ambisi dan cita-cita #mujixtoday #menjelangpagi”,  17  Maret 2014

Tweet ini aku persembahkan buat para pecandu malam yang masih berkutat dengan ide untuk masa depan yang lebih baik. Kalian sering gak sih? Terjaga di tengah malam kemudian terus bangun mengerjakan tanggungan yang belum kelar? Aku sering. Beberapa malam di pertengahan bulan Maret banyak diisi dengan membuat komik religi. Komik kali ini sangat guanteng sekali, soalnya aku berkolaborasi dengan penulis jayus bernama Casofa Fachmy. Doi bertugas di naskah, dan guweh harus menyulap naskah tersebut menjadi sebuah komik yang keren.

Kalau boleh jujur, penggambaran naskah kali ini terbilang cukup sulit.
Naskah yang masih mentah tersebut aku pecah lagi menjadi naskah komik yang benar-benar siap untuk digambar. Pertimbangan naskah yang baik biasanya ditentukan seberapa jelas sang komikus menangkap maksud dan tujuan sang penulis. Nah ini nih, beberapa kali aku mengerjakan job dengan mengadaptasi naskah, belum menemukan satupun penulis yang bisa mendiskripsikan idenya dengan sangat jelas. 

Aku cukup maklum sih, terdapat jarak yang cukup lebar dalam dunia tulisan dengan dunia rupa. Bisa dimaklumi lagi kenapa penulis komik di Indonesia sangat sedikit sekali. Penulis naskah komik dituntut memahami dunia penulisan dan dunia seni rupa, atau minimal dunia komiklah. Begitu juga sebaliknya, komikus yang baik adalah komikus yang mengerti mengenai dunia tulis menulis, hal tersebut akan sangat berkaitan dengan dialog di balon kata, gaya penceritaan, pembagian alur, hingga pemunculan karakter dari setiap tokoh  dan latar belakang  di dalam komik. 

Yuk deh belajar lagi, aku temenin.  Soalnya aku juga masih perlu banyak belajar mengenai komik dan dunia tulis menulis. Belajar dengan senang namun jangan sampai mengacuhkan kesehatan kayak guweh di beberapa minggu yang lalu.


“akan ada masa di mana skripsi tiba-tiba kelar gara-gara dikerjain dengan sungguh-sungguh #mujixtoday #alhamdulilah”,  19 Maret 2014

Nah ini nih benda paling kampret di bulan Maret. Skripsi. Energi kehidupanku benar-benar terkuras habis untuk mengurusi benda bernama skripsi. Kabar baiknya benda itu sudah tergeletak dengan ganteng di meja pengajaran ISI Surakarta. Minggu depan tinggal ujian gituh. What!!? Tinggal ujian!!? Belum bikin presentasi Power Poin-nya nih #sambilliatkalender. 

Ah sudahlah, dibikin abis nulis postingan ini deh.

Banyak suka duka ketika mengerjakan skripsi ini, ribetnya nyari referensi membuat rambutku mendadak keriting, belum lagi permasalahan ‘bingung mau nulis apa’ yang biasanya berimbas bengong kelamaan. Tanggungan hari ini adalah membuat slide show buat presentasi ujian kelayakan minggu depan. Enggak susah sih cuman meringkas 120 halaman menjadi 20-an slide, enggak susah kok. Beneran enggak susah #menyugestidirisendiri #sambilpegangkepala.

Skripsi itu benda yang sangat ajaib. Ajaibnya gini, semua beres ketika semua tulisan diperiksa di laptop, tapi ketika sudah diprint dan dijilid, satu persatu kesalahan demi kesalahan muncul tiba-tiba. Gak mungkin bisa direvisi lagi, harus ngeprint ulang, fotokopi ulang, menjilid ulang, aduh kasihan dompetku. Pokoknya gitu terus.

Beberapa kesalahan kemarin aku acuhkan, biarkan dibantai saat ujian saja, biar pengujinya punya kerjaan, gak seru juga kalo saat ujian skripsiku sudah sempurna, 100% benar semua, dan langsung lulus jadi sarjana, iya kan, kan, kan. Pokoknya gitulah. Pokoknya skripsiku sudah selesai, tinggal ujian, dan aku mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. 

Banyak yang salah? Biarin, kata Pak Ustadz “manusia adalah tempatnya salah dan lupa”.


“selain kebelet boker, hal yang bisa membuat hidung kembang kempis adalah jatuh cinta #mujixtoday #love”, 25 Maret 2014

Seyogyanya manusia itu sangat mudah jatuh cinta, selama cinta itu tidak dibenturkan dengan logika. Beneran, hingga hari ini, entah sudah berapa puluh cewek jomblo yang naksir guweh (yuk bareng-bareng bilang ‘ciyeee’. Ciyeeeeee!!!!!) namun selalu berakhir dengan PHP, ditolak, adik-kaka’an, kamu terlalu baik buat aku,  maupun gak jadian. Bentar, aku menghela nafas panjang dulu. Huuuft.....

Pokoknya gini, ketika kalian jatuh cinta usahakan agar logika kalian dibuang dulu entah dimana. Aku enggak bilang kalau logika dalam bercinta itu buruk, namun akan ada masa di mana logika benar-benar bukan kawan yang baik untuk urusan mencinta dan dicintai. Contoh mudahnya, kalian tidak akan bisa bercinta dengan menghitung panjang suatu segitiga dengan rumus pyhtagoras. 

Saat ini aku sedang jatuh cinta dengan seseorang, tenang aja, bukan Popok ataupun Sanasuke kok, dia orang yang baru. Udah sampai mana? Udah sampai mau aku kado komikku tapi belum kesampaian (yuk bareng-bareng lagi  bilang ‘ciyeee’. Ciyeeeeee!!!!!). sampai kalimat ‘sampai mau aku kado komikku’ rasa cinta masih menguasai, namun ketika sampai di kalimat ‘tapi belum kesampaian’, di situ tuh logika mulai main. Main gimana sih? Ya gitu deh. Logika itu bisa berupa informasi bahwa ‘doi udah punya cowok’, gak punya nyali, terjebak dalam kalimat ‘memantaskan diri’ ataupun ketakutan untuk nge-gebet gara-gara belum jadi komikus kondang.

Oi, oi, kenapa jadi negatif gitu sih? 
Bukan negatif kok, aku hanya menjelaskan bagaimana logika itu mulai membenturkan cinta dengan kenyataan. Pokoknya cinta itu gak pernah salah.

Andaikata kisah cinta kalian sangat burukpun itu bukan salah cinta, yang salah adalah bagaimana kalian mengelola rasa cinta itu. Ciyeee, keren banget yah kalimatku barusan. Udah ah, curhat soal cinta kali ini di akhiri dengan menghela nafas panjang, Huuuft...


“Compose new pray... #creativetalks #komikreligi #SelamatTidur”,  26 Maret 2014

Kualitas diri seseorang ditentukan oleh hal-hal apa saja yang ada di dalam doanya. Sosok-sosok semacam Bung Karno memiliki materi doa yang berbeda cakupannya dengan doa pemilik tambal ban di depan kontrakannya Bang Arum. 

Bung Karno pada masanya berdoa tentang kemerdekaan, menggagas hidup yang manusiawi untuk para penduduk indonesia, hingga martabat seorang negarawan untuk menyambut kehidupan yang lebih makmur. Ya, doa Bung Karno seluas itu. Bagaimana dengan doa pemilik tambal ban di depan kontrakannya Bang Arum? Dia berdoa semoga ada ban yang bocor dari para pemilik sepeda motor (sepertinya doa yang buruk buat para pemilik sepeda motor), hidup yang selalu sehat agar bisa menghidupi keluarganya, hingga berdoa agar bisa menghadapi esok hari yang masih menjadi misteri. 

Apakah boleh diperbandingkan? Apakah doa Bung Karno terlalu agung apabila sandingkan dengan doa pemilik tambal ban? Mana yang lebih remeh? Maaf kita tidak mencari doa siapa yang lebih remeh. Tidak ada doa yang remeh di hadapan Tuhan Yang Maha Pengabul Doa.

Tuhan menciptakan hal-hal yang remeh di dunia ini untuk menjadi pembelajaran kaum-kaum yang mau berpikir. Gak percaya? Gini deh, Tuhan menciptakan media bernama komik lengkap dengan idiom  “Jangan membaca komik, nanti kamu jadi anak yang bodoh”. Untuk para komikus yang tergelitik dengan kalimat tersebut, tentu akan memikirkan cara agar idiom tersebut bisa runtuh. 

Para komikus spesies ‘kaum yang mau berpikir’ itu bahu membahu menciptakan komik yang bisa mendidik namun juga menyenangkan untuk dibaca. Mereka menciptakan komik-komik yang keren dengan muatan ilmu yang tidak kalah dengan buku diktat di sekolahan. Apakah ada komikus yang tidak termasuk kaum yang berpikir? Banyak. 

Apakah hal tersebut juga berlaku di dunia televisi? Tentu saja.

Di saat maraknya kompetisi dangdut yang gak jelas, kampanye yang terselubung, joget absurd satu studio, hingga sinetron kacangan yang menjamur, yakinlah bahwa ada teman-teman kreatif di dunia televisi yang sedang berkutat dengan ide-ide yang bisa segera meledakkan dunia, ide-ide briliant yang mungkin akan memajukan dunia pertelevisian agar lebih baik dari hari ini.

Tentu saja ide-ide itu bukan untuk para pemalas yang tidak mau mengakui kekuasaan Tuhan dan semesta. Walaupun invisible, Doi yang membangun peradaban melalui manusia. Tuhan itu nyata. Percayalah Dia akan selalu meng-kepomu.

Kita hanya perlu memahami bagaimana ‘naskah dari  Tuhan’ itu beroperasi. Bukankah setiap alur cerita mempunyai sebab dan akibat yang jelas? Mungkin Seperti komikus yang mencoba memahami naskah rumit dari penulis amatir. Perlu kerja keras dan pemahaman. 

Tuhan adalah hasil persangkaan hamba-Nya. Hidup itu terkadang memang harus dipersiapkan seperti membuat skripsi. Dirapikan, dijilid dengan bagus, bukan berharap agar dapat nilai yang bagus, namun berharap agar skripsi kita bisa memberikan sumbangan keilmuan yang relevan untuk orang banyak. Mengacuhan surga dan neraka? Hampir seperti itu, tetapi tidak seperti itu. 

Seperti jatuh cinta? Bisa jadi. Tak semua hal yang ada di Dunia ini bisa dilogika, terkadang perlu dirasa dengan cinta. Bagaimana caranya? Hal yang paling sederhana dan mudah untuk dilakukan adalah berdoa. Berdoalah. 
Teruslah berdoa. 
Wujudkan doa itu. Bekerja keraslah. 
Malaslah dengan baik dan benar.

“definisi malas adalah..... #malesngejelasinnya #pikirsendiri” 31 Maret 2014


Jika kalian membaca sampai kalimat ini berarti kalian bisa mendefinisikan tweet di atas:)



Mujix
masa depan adalah milikmu,
hiduplah sesukamu!
Simo, 31 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar