Jumat, 10 Oktober 2014

Random dan Blunder

Males banget. Beneran enggak mau ngapa-ngapain nih. Intinya sih saat ini aku sedang berada di tahap paling menyebalkan dalam proses pembuatan komik. Woy cok! Nulis aja belum kok udah ngobrolin ‘Inti’ sih!? Padu waee Leee!! Tahap tersebut adalah ‘pembuatan naskah’. Pembuatan naskah bagiku tidak hanya sekedar proses ‘menulis cerita’. Lebih dari itu. Tahap ini baru saja aku mulai kemarin, dan ini adalah hari ke dua. Sudah dua hari berlalu naskah komik tersebut masih berupa ‘corat-coretan sketsa random’. 

Terlalu random hingga terkadang aku bingung dengan apa saja maksud dari coretan tersebut. Wheladalah, masak komikus bingung sama naskahnya sendiri. Belum selesai dibingungkan dengan naskah, aku masih harus dibingungkan lagi dengan beberapa masalah sehari-hari yang membuatku bad mood dan art block. Belum ada masalah aja bawaannya bad mood mulu, apalagi udah terjebak masalah. Hahahaha.

Satu masalah kecil yang membuatku malas untuk membuat naskah tersebut adalah riset. Sekedar info, kali ini aku mengerjakan komik ‘The Proposal’ Bab 3, dengan tokoh utama Archieva seorang  mahasiswi magang di sebuah media cetak di kota Cirebon. Hingga hari ini aku telah menemui beberapa narasumber untuk menguatkan cerita. Iya, udah mulai riset kecil-kecilan gituh. Aku menemui seorang wartawan media cetak yang sudah cukup joss bernama Niko. Doi pernah bekerja sebagai wartawan/reporter di berbagai media cetak semacam Koran Sindo, Warta Jateng, hingga media massa on line. 

Awalnya aku mempersilahkan dia untuk membaca storyline komik ‘The Proposal’, kemudian aku mencoba diam untuk memancing responnya. Dia kemudian berbicara tahap demi tahap sambil menyesuaikan storyline komik ‘The Proposal’.  Obrolan itu berlangsung dua arah, terkadang aku memberikan penjelasan mengenai detail-detail mengenai apa saja dalam naskah yang harus dia cermati.  Pertemuan tersebut berlangsung meriah di pendopo Sriwedari jam 16.00 WIB kemarin. Niko bercerita banyak mengenai pengalamannya dalam mencari berita, para wartawan senior, lika-liku mahasiswi magang, hingga pentingnya memahami posisi seorang wartawan dalam memandang suatu permasalahan. Beberapa kali kalimat yang aku tanyakan adalah “Apakah logis jika bla.. bla..bla.. menjadi sebuah bla.. bla.. bla..”, beberapa ‘bla.. bla.. bla..’ itu berupa adegan-adegan kunci dan karakter-karakter yang muncul di naskah komik bab 3.

Obrolan itu benar-benar membuat naskah komikku sangat berkembang. Beberapa scene dan karakter yang semula aku plot-kan muncul terpaksa  direvisi. Di bab ini aku sangat mementingkan logika bagaimana karakter dan cerita itu terjalin. Keren banget yak.  Intinya sih tulisan ‘corat-coretan sketsa random’ yang sudah random itu jadi semakin random gara-gara obrolan kami di Pendopo Sriwedari. 

Byuh, byuh, byuh, ra karu-karuan. Kabar baiknya random-nya naskah ini random ke arah yang lebih baik. Emangnya ada ya random kea rah yang enggak baik? Ada, dan aku baru saja mengalaminya di kampus  5 jam sebelum obrolan dengan Niko di pendopo Sriwedari.

5 jam sebelumnya aku berada di kantin kampus ISI Surakarta. Tepatnya di kantin sebelah akademik tempat di mana biasanya para mahasiswa S2 nongkrong. Pagi itu aku memulai ritualku yang paling sakral bernama ‘bengong mikir naskah komik sambil minum kopi hitam’. Ritual itu berjalan cukup lancar, hampir separuh naskah sudah terpetakan dengan baik. Terpetakan dengan hampir baik.  

Beberapa menit kemudian datang seorang mahasiswa S2 bernama Dhani. Dia temanku dan kita terlibat obrolan akrab ala teman lama. Perbincangan kami tiba-tiba saja mengkerucut ke persoalan ‘sedang apa aku diem sambil ngopi di situ’. Aku berusaha menjelaskan aktivitasku secara sederhana. Dhani sejurus kemudian membaca storyline komik ‘The Proposal’. Dia kemudian mulai berbicara kesana-kemari. Tanpa mempersilahkan aku untuk menjelaskan latar belakangnya, dia tiba-tiba saja mengkritik, memberi nasihat, membantai, dan mengarahkanku untuk mengubah naskah. Itu sangat menyebalkan sekali.

Obrolannya terus saja mengalir sampai jauh. Entah sudah berapa ratus kata terlontar dan hilang saja di telan angin. Hanya beberapa saja yang masuk ke otakku. Sepertinya aku terlalu tolol untuk memahami setiap hal yana dia katakan. Atau mungkin sebaliknya. Beberapa kali aku mencoba meluruskan namun terus saja pelurusanku itu tak berjalan baik. Kemudian aku segera bertekadn untuk menjadi ‘pendengar yang baik’. Aku berdiam diri sambil terus menyimak apa yang dia bicarakan. Otakku  memilah semua kata-kata penting atau kata-kata sampah. Perlahan tapi pasti obrolan tersebut aku arahkan ke tema yang ingin aku dengar, yaitu Trending topic di Twitter.

 Banyak hal yang menarik saat dhani menceritakan dunia internet tersebut (walau beberapa kali harus terjebak di tema yang gak jelas semacam ‘FPI’, ‘Sensor anti roket Israel’, hingga ‘Etika Flo saat menghina warga Jogja di Path’. Terserahlah, aku hanya merekam informasi yang aku butuhkan ). Dhani membicarakan trend  anak Twitter dalam membuat ‘Hashtag’ atau ‘Tagar’, anak ‘menengah ngehek’, membicarakan ‘keharusan’-ku mengganti karakter utama ‘The Proposal’, hingga membicarakan komitmennya dalam memandang ‘seni’ itu rumit dan kompleks. Sangat  menyenangkan mendengarkan seseorang yang berbicara dan terus berbicara. Aku mendapatkan banyak ilmu di sana. 

Obrolannya keren sih, Hanya saja Dhani membuat naskah komikku semakin blunder. Naskah komik yang blunder adalah bukti jika ada progress random ke arah yangtidak baik.

Hari itu aku belajar mengenai bagaimana attitude seseorang  dalam berkomunikasi.
 Dhani, sesosok mahasiswa S2, pandai berteori karena lama kuliah, namun sedikit payah dalam mendengarkan dan mengembangkan ide. Dia adalah seorang ‘what’s wrong-Man’. Ras-ras manusia yang selalu melihat ‘apa yang salah’ dalam suatu hal, hanya melihat ‘apa yang salah’ dan sayangnya belum cukup ilmu untuk membenarkan hal yang salah tersebut. Spesies ini sudah terlalu banyak di masyarakat.

Niko, sesosok reporter muda,  pandai meng-analogi-kan obrolan, sedikt payah dalam berteori, cukup pandai mendengarkan dan mengembangkan ide. Menurutku dia tidak termasuk dalam spesies ‘what’s wrong-Man’. Aku belum tahu dia termasuk spesies manusia yang mana, namun setidaknya naskah komikku berkembang menjadi lebih renyah dan siap diolah untuk menjadi komik yang aduhai. Spesies ini ada di masyarakat namun tidak terlalu banyak.

Tuh kan, proses pembuatan naskah memang menyebalkan. Naskahnya belum jadi ajah udah bisa nulis kayak gini gara-gara riset kecil-kecilan itu. Ahh, kacau deh. Sepertinya aku harus segera berbenah dan bergegas. Bukankah aku ingin komik ini selesai akhir tahun?

Mujix,
ayo coy! naskahnya dikerjain!
udah bulan Oktober nih.
Simo, 10 Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar