Kamis, 31 Desember 2015

Kilas Balik 2015

Akhir tahun bulan desember 2015 ini aku akhiri dengan keren mengerjakan revisi komik ‘Lemon Tea’. Aku belajar banyak dari terbitnya komik ‘Proposal Untuk Presiden’. Bagian paling vital yang aku revisi adalah warna komik dan teks. Baru beberapa jam lalu kok kelarnya. Setelah beberapa menit istirahat aku akhirnya memutuskan untuk menulis postingan ini. Bisa dibilang ini adalah postingan terakhir di tahun 2015.  Aku mencoba untuk me-review semua aktivitas di tahun ini. Baiklah. Kita mulai saja ya.

Januari.
Malam ergantian tahun baru 2015 aku habiskan di Solo bersama Suryo. Sempet mati lampu juga, kemudian nongkrong di wedangan Bu Gendut. Bulan-bulan ini aku disibukkan dengan mengerjakan komik ‘Proposal Untuk Presiden’. Karena tidak memiliki computer, aku mengerjakannya di tempat Mas Ismanto. Pada bulan ini aku juga sedang sok sibuk rapat dengan para mahasiswa kampus UNIVET untuk menjadi juri lomba komik. Kesibukan lain up date komik Si Amed.

Februari.
Aku belajar (lagi) naik motor di bulan ini. Bersama Kak Feri, di Gedung Kesenian Solo. Peristiwa ini cukup penting  untuk ditulis, banyak hal yang berubah semenjak aku bisa naik sepeda motor. Sayang aku belum memiliki sim. Di bulan ini aku menjadi juri di UNIVET. Honornya sempat membuat kaget, acaranya sangat menyenangkan.  Komik Proposal Untuk Presiden sudah selesai. Tinggal mengirim di penerbit.

Maret.
Bulan ini tidak terdeteksi di Blog. Sepertinya galauku kambuh lagi. Proses penerbitan buku di Dastan Books. Melihat bang Arum dan Hipzy SUCI 4. Sayang mati listrik. Katanya sih epic abis. Hal yang keren, aku jatuh dari motor di depan rumah saat musim hujan. Saat itu aku belajar banyak hal.  Komik Si Amed masih tetap berjalan walau pelan.

April.
Random abis. Bulan ini juga tidak terdeteksi. Hanya sekeping ingatan tentang Gantar yang tergila-gila sama sapi. Keuangan sepertinya tidak aman. Aku menamatkan komik Bakuman. Komik Proposal Untuk Presiden tertunda didistribusikan. Progress komik religi bersama om Fachmy belum ada titik temu. Masih rajin mengunggah komik Si Amed.

Mei.
Lagi-lagi Bulan yang tidak terdeteksi di Blog, Twitter  dan di Buku SMS. Beberapa bulan ini sepertinya aku sedang berada di titik jenuh. Komik Si Amed masih terus beraksi. Komik Proposal Untuk Presiden sudah nongol di Togamas, dan bisa di beli On line, kesibukan lain Mendesain majalah Kreasi bersama Mbak Dwi.

Juni.
Aku mulai mengerjakan Komik Lemon Tea Bab 5 Across The Universe. Merapikan studio tempat kerja. Menyebar isu dan Promo komik Proposal Untuk Presiden. Ramai banget, dan menyenangkan.  Up date Si Amed dengan komik dan Artworks. Bikin wadah komik baru berjudul ‘Forum Komik Solo’. Di bulan ini masih berupa Grup tertutup. Bikin komik Humor Horror bersama Suryo. Membeli Komputer dari uang royalty. Bertemu Chiva dan aktivitas menulis buku SMS berakhir. Waduh Gawat.

Juli.
Aku kenalan dengan Saitama, dari manga One Puch Man dan Komikus Shoujo Nozaki. Komikku ramai di timeline. Banyak review dan respon yang positif. Hanya saja beberapa di beberapa toko buku, komik itu belum nongol. Sepertinya Lemontea Bab 5 sudah masuk tahap tinta. Forum Komik Solo ngumpul untuk pertama kalinya. Idul Fitri. Ngumpul bersama keluarga. Tidak terdeteksi di Blog, hanya ada satu postingan saja.

Agustus.
Mengerjakan pinsil halaman akhir komik Lemon Tea bab 5. Komikku Proposal Untuk Presiden udah nongol di toko buku. Sampai matipun aku enggak bakal lupa sama kebahagiaanku hari itu. Apalagi saat melihat setumpuk buku sendiri nangkring di depan new release dekat kasir. Buku komik Negara ½ Gila pindah format menjadi E-Book. Aku dan Komikku nampang di halaman depan Koran Solopos. Si Amed masih terus up date bahkan sempat berduet dengan Bang Pandji. Bulan ini Sanasuke wisuda. Muncul gagasan untuk membuat komik kompilasi berjudul ‘Pikolo’.

September.
Membaca manga ‘Prison School’, menonton Bakuman, Up date Si Amed dan ada satu postingan yang viral banget, dan Ngerjain komik lemon tea Bab 5. Mencoba mencari uang tambahan lewat kompetisi. Sayang belum beruntung. Dikasih saran soal penulisan sama teman, katanya sih terlalu random, bener juga sih. Mulai mengurusi kompilasi Komik Pikolo. Aku sedang sedang mengalami quarter life crisis.

Oktober.
Aku berusia 27 tahun, dan tentu saja masih banyak pekerjaan rumah. Ikut kompetisi gajah, dan maskot SNI. Sayangnya lagi-lagi kurang beruntung. Mulai kecanduan anime One Puch Man dan Dragon Ball Super. Bulan ini aku juga menelan pil pahit kekecewaan soal dunia penerbitan. Rasa pahit itu ternyata masih membekas hingga akhir tahun. Aku banyak menulis di bulan ini, soalnya ada tantangan Writingtober di FB. Detailnye cek saja di blog ini. Menamatkan manga Beelzebub.  Pak Raden meninggal dunia, duh jadi keinget komik Unyil Other Strory yang belum selesai. Pergi ke Mangafest, Jogja.

November.
Komisi solo mengadakan event workshop bersama Simon Huereau, koordinatornya cowok berambut keriting. Diundang menjadi pengisi acara di Festival Komik dan Animasi, Semarang. Saat itu aku sakit-sakitan. Tapi acara sangat menyenangkan sekali. Gara-gara acara ini aku mendapatkan banyak rezeki. Alhamdulillah. Up date komik si Amed. Komik Lemon Tea di edit ulang. Aku mulai membuat Instagram dan akun Whats-Up. Ciyee yang udah pake smartphone. Dragonball Super, One Punch Man dan Silver Spoon semakin menggila.  Kompilasi Pikolo udah kelar coy! Sedang marathon menyaksikan Star Wars episode 1-6. Bwahahaha.

Desember.
Mulai berkarya di Instagram, fokusnya sih manual pakai pensil warna. Aku menjadi pembicara di workshop anak-anak DKV UNS. Up date Si Amed. Belanja buku, Nongol di profil Koran Jitu, satu halaman gede. Prepare buat jadi juri lagi di kampus UNIVET bulan februari depan. Merapikan agenda tahun depan dengan jurnal baru. Menonton Star Wars episode VII dan menamatkan anime Gekkan Shoujo Nozaki-kun. Mendesain majalah Kreasi lagi bersama Mbak Dwi H.  Aku membeli Scanner seharga 800an ribu, iyeeeeeah!! komputer rusak ganti main board 350an ribu, iyeaaah lagi!! Dan berita gembira akhir tahun ini, aku sudah kembali menemukan passion.

Awalnya postingan ini tidak ingin aku bikin. Apalagi jika mengingat hal-hal yang membuatku mual. Peristiwa yang nyenengin dan membuat empet silih berganti datang. Namun setelah berpikir beberapa kali dan dilandasi keinginan untuk berubah, yah tertulis saja semua hal dengan sangat mudah. Kira-kira seperti itu. Ternyata aktivitasku tahun ini memang cukup banyak. 

Beberapa hal memang belum berhasil aku lakukan, namun ya sudahlah. Peristiwa menyebalkan memang harus bersanding mesra dengan kejadian yang membuat bahagia. Oke. Kurasa kilas balikku di tahun ini sudah cukup. Kira-kira seperti itu.

Mujix
Resolusiku untuk 'bangun pagi'
gagal di hari pertama
tahun baru. Bwahaha
Simo, 1 Januari 2016



Minggu, 27 Desember 2015

Rumah

Kesepian itu seperti puing-puing rumah yang hampir roboh. Tak disentuhpun suatu saat akan jatuh dengan sendiri kembali ke bumi. Sepahit apapun kesepian masih ada diri sendiri yang selalu menemani. Diri sendiri itu bisa kau peluk dengan lembut, bisa kau caci maki sampai mati, atau bisa kau ajak untuk sekedar menulis prosa sederhana tentang hari ini.


Terkadang aku merasa iri dengan waktu yang bisa berjalan lurus tanpa tergelincir apapun. Tak pernah kulihat dia tersandung rasa rindu akan langkahnya di masa lalu. Bagiku, waktu adalah sesosok pria paruh baya bermuka masam yang sedang berkendara menuju ke suatu tempat. Mungkin ke suatu tempat dimana kesepian tidak seperti puing-puing yang hampir roboh.Tempat dimana sepi dan sendiri bisa berjalan bersama menuju rumah sederhana yang bernama bahagia. 

Mujix
lelaki yang masih
bisa bernapas lega
ketika mengetahui
masih memiliki rumah
bernama Blog.
Simo, 27 Desember 2015

Sabtu, 26 Desember 2015

Balada Telur yang Berpindah

Yon! Kowe wingi nggoreng ndog’e sopo?” Tanya simbahku siang ini.

Heh. Aku sedikit bingung. Bentar-bentar. Telur!? Ingatanku kembali ke hari dimana aku terakhir kali menggoreng telur. Hmm... Kapan ya? Oh... Iya... Kemarin malam. 

“Ndog? Wingi aku nggoreng ndog sing tak tuku neng nggone Mbokde Marni, Mbah!” jawabku setelah benar-benar memastikan apa yang sudah terjadi. Kemarin malam memang aku menggoreng telur. Nah. Pertanyaan berikutnya, ada apa dengan telur? kenapa harus telur? duluan mana, ayam atau telur? Terus, kenapa para pria di dunia hanya memiliki dua 'telur'? 

“Ngopo to mbah!? Kok takon soal ndog” Akhirnya aku menanyakan tentang apa yang terjadi kepada simbah.

Siang itu simbah mengeluhkan ‘perilaku kurang terpuji’ anggota baru keluarga kami. Perilaku kurang terpuji  itu sebenarnya hanya 'menyembunyikan makanan'. Iya. Hanya menyembunyikan makanan, agar aku (atau simbah) tidak ikut mengambil bagian makanan tersebut. Perilaku kurang terpuji itu sebenarnya bagiku gak buruk-buruk amat, tapi bagi simbah, perilaku kurang terpuji  itu mempunyai banyak sekali arti. Bukan perilaku yang buruk bukan? Walaupun kita satu keluarga. Nah. Entah sejak kapan keadaan per-lauk pauk-an keluarga kami sangat absurd sekali. 

Sebenarnya aku agak ragu untuk menulis postingan ini. Mau ditulis, kok kasusnya sepele banget. Enggak ditulis, namun kok rasanya ada yang kurang. Aku kembali mengingat apa tujuan saat membuat blog ini. Oke, apabila fungsi blog ini adalah menyimpan serpihan kenangan penting di seluruh hidupku, maka aku harus menulis postingan ini. Catat, aku menulis postingan ini dengan sadar. Tentu saja setelah mempertimbangkan banyak hal. Oke, kita kembali ke permasalahan ‘telur’, kenapa para pria di dunia hanya memiliki dua 'telur'? Ups sorry.

Sudah sejak lama keluarga kami selalu meletakkan telur di bagian rak atas 'benda mirip lemari yang bisa membuat dingin banyak hal di dalamnya', untuk memudahkan pengucapan kita sebut saja benda itu dengan nama 'kulkas'. Kurasa sejak pertama kali memiliki kulkas. Siapapun yang memiliki telur mentah, otomatis akan diletakkan di tempat itu. Keluarga kami tak selalu membeli telur, kadang kami sering mengambil benda itu dari ayam-ayam peliharaan simbah. Seumur hidup di keluarga kami sepertinya belum pernah ada masalah yang serius tentang makanan.

Ah. Paling sesekali aku bosan sama menu yang bernama 'Jangan Gori'. Kalian tahu Jangan Gori? 'Jangan' artinya 'Sayur'. Kalau 'Gori' adalah istilah untuk menyebut buah Nangka muda. Ah. Simbah sangat suka membuat Jangan Gori. Soalnya sekali memasak sayur ini, seminggu lebih jangan harap ada pergantian menu untuk sayur, Sekali dimasak, akan dihangatkan setiap hari. Kenapa aku malah bercerita soal Jangan Gori sih!? kembali ke topik telur.

Keberadaan telur di keluarga kami sejak dulu sangat sederhana. Kalau ada ya digoreng, telur habis ya beli lagi. Kalau ingin beli tapi enggak punya uang, ya udah kita nungguin ayam jantan tetangga horny, terus bersenggama dengan ayam nenek, hamil, terus bertelur deh. Selalu seperti itu. Intinya sih, telur hanya sebuah ‘telur’. Titik.

“Ngene Yon, ndog sing eneng kulkas mau kok reneng!? Opo dipindah maneh yo!?” ujar simbah sambil memasang muka serius.

Duh. Kenapa permasalahan sekecil ini harus merisaukan simbah sih. Aku memperhatikan raut wajah simbah yang sudah keriput. Rambutnya yang sudah memutih,  kerutan-kerutan di sekujur tubuhnya. Sial. Hingga hari ini aku belum bisa membahagiakan beliau.

Jika beliau berada di sebuah keadaan ekonomi yang mapan, pastilah simbahku tidak memikirkan benda bernama 'telur yang berpindah'. Keadaan ‘ekonomi mapan’ yang kumaksud di postingan ini benar-benar mapan, kalo Anthony Robbins, bilang sih ‘bebas secara finansial’, yaitu suatu kondisi keuangan dengan pencapaian investasi yang cukup banyak, relatif aman, dan hasilnya mencukupi kebutuhan kita untuk hidup dengan gaya hidup yang kita inginkan.

Jadi, motivasi simbah curhat padaku siang ini dikarenakan telur yang berpindah. Pindah kemana? yang jelas bukan pindah ke hatimu. Awalnya telur tersebut pindah ke laci di kulkas bagian bawah. Sejak anggota baru di keluargaku itu datang, banyak hal yang berubah. Banyak banget. Ada yang berubah menjadi lebih baik, dan ada juga yang berubah menjadi lebih buruk. Aku tidak akan menuliskan semuanya, di postingan ini aku hanya membicarakan telur yang menjadi momokku hari ini. 

Aku tidak sadar saat pertama kali tempat telur itu berpindah. Beneran. Setahuku, kalau rak kulkas tidak ada telur, berarti telurnya telah habis. Fakta kalau telur itu pindah tempat aku ketahui dari simbah. Daripada dipindah, mungkin kosa kata yang lebih tepat untuk menggambarkan keadaan itu adalah ‘disembunyikan’. Benar, telur itu disembunyikan agar aku (dan nenek) tidak bisa ikut memakannya. Duh. Semoga saja ini hanya asumsi pikiran burukku.

Beberapa waktu berlalu semenjak perpindahan pertama lokasi telur. Ternyata perpindahan itu memang disengaja. Lokasi dari rak atas berpindah ke laci kulkas bagian bawah, dan biasanya ditutup dengan sesuatu. Entah itu plastik hitam, sayur mayur, atau apapun. Perpindahan itu adalah sinyal sederhana yang mudah untuk aku pahami. 

Sinyal itu aku artikan dengan makna 'Heh Kribo!! Ini Telurku aku beli dengan uang kerja keras!! kamu tidak aku ijinkan untuk makan telur ini!! Aku enggak rela!! aku akan menguasai dunia dengan telur ajaib ini!!! Gyahahahahaha!!!!!"

Maaf. Sepertinya memang terlalu berlebihan. Pantaslah kalo kemarin ada seseorang anonim yang memberi komen 'lebai amat luh' di blog ini.

Oke. Sejak saat itu aku hampir tidak pernah mengambil telur yang berada di kulkas. Iya. Hampir. Kecuali kalau di tengah malam buta tiba-tiba ada moster bernama rasa lapar yang mendera. Sesekali aku colong deh telur itu. Anggap saja upah buat aku yang selalu repot menjaga keponakan.

Sejak saat itu aku selalu membeli telurku sendiri. Ingin makan telur, langsung deh meluncur ke warung sebelah. Begitu terus. Aku, Simbah, ortu, dan adik di Bogor sudah hapal perilaku kurang terpuji tersebut. Namun aku mencoba untuk memakluminya. Terkadang, perilaku kurang terpuji tersebut kami jadikan guyonan dan media pengingat untuk diri sendiri.

Seiring berjalannya waktu aku sudah tak terlalu menggubris telur yang berada di kulkas laci bawah. Beneran. Fokusku sudah teralihkan oleh kegiatan dan kerjaan yang sangat bejibun. Kerjaan yang akhir-akhir ini baru kelar adalah workshop komik di acaranya UNS pertengahan desember ini, kerjaan sebelumnya adalah lay out majalah kreasi, dan beberapa kesibukan lain seperti up date komik si Amed. Oh iya. Aku udah bikin akun Instagram juga. Udah Follow belum? Segera deh meluncur ke link ini: Instagramnya Mujix

Hidupku akhir-akhir ini sangat menyenangkan.

Dan hidupku yang sangat menyenangkan ini terusik lagi gara-gara permasalahan telur.

“ Uwis mbah, rasah dipikir. Yen mung endog kan iso tuku maneh” aku mencoba menenangkan simbahku yang sedang risau. Iya. Risau gara-gara telur.

“Yo ora ngono Yon, mosok karo keluarga dewe wae tegel! Ket mbiyen kok kowe disio-sio terus karo dek’e!” ujar simbah sambil memandangku dengan penuh rasa khawatir.

Duh. Sepertinya aku harus meluruskan banyak hal. Beberapa peristiwa (gak penting) di masa lalu sepertinya terlalu berlebihan bagi simbah. Aku terus mencoba memberi pengertian bahwa tidak ada siapapun yang diintimidasi. Lagian itu hanya salah satu masalah bernama telur. Bukan supermie, gulai kambing, lele, ayam, dan semacamnya. Bujubuset! sepertinya peristiwa (gak penting) di masa lalu itu selalu berhubungan dengan makanan! Apa salahku Tuhaaan!!!

Jadi intinya, telur itu lagi-lagi berpindah tempat. Dari rak kulkas bagian atas, menuju laci kulkas bagian bawah, dan sekarang berpindah lagi entah dimana. Simbah bilang, telur itu dipindah lagi gara-gara aku mengambil telur milik anggota keluarga baru tersebut. Yah semacam, tertuduh menjadi pencuri telur gituh. Duh. Semoga saja ini hanya asumsi pikiran buruk simbahku.

Dari peristiwa ini aku memahami satu hal. simbah ternyata sangat sayang kepadaku. Beliau ternyata diberi tawaran untuk tinggal di salah satu rumah milik anaknya yang lain, yaitu tanteku. Sepertinya simbah khawatir insiden telur ini akan merembet ke banyak hal yang lain. Simbahku di masa tuanya masih memegang teguh prinsip,  keluarga yang baik adalah keluarga yang bisa berbagi apapun.

“Yon, suk maneh yen kowe tuku lawuh ojo akeh-akeh. Tukuo terus panganen dewe wae.” Tegas simbah sambil beranjak menuju dapur. Sebuah nasihat yang sangat dramatis. Sepertinya beliau mengingat kalau aku sering membeli lauk pauk dan menaruhnya di meja makan. 

Ya, aku kalau membeli sesuatu entah itu ayam goreng, sate, ataupun bubur kacang hijau, selalu untuk semua anggota keluarga. Catat. SEMUA ANGGOTA KELUARGA. Apakah aku menyembunyikannya di suatu tempat? Tidak! Aku selalu menaruhnya di meja makan dan menawarkannya ke semua orang. Aku juga memegang teguh prinsip, keluarga yang baik adalah keluarga yang bisa berbagi apapun. Apalagi itu cuman makanan.

Nasihat terakhir simbahku tersebut sebenarnya sangat ironis. beliau khawatir, Prinsip yang teguh itu sepertinya  mulai terkikis oleh benda bernama ‘telur yang berpindah tempat’. Aku merasa akhir-akhir ini 'keluarga yang baik' itu hanya omongan muluk-muluk di pelajaran moral saat mengeyam bangku sekolah. Simbah meninggalkanku dengan sedikit kebimbangan. Itu bukan sebuah nasihat yang bijak. Aku termenung beberapa saat mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Telur bagi nenekku mungkin sebuah elemen yang mewakili rasa tenggang rasa dan saling berbagi di sebuah keluarga. Telur bagi anggota keluarga baruku itu mungkin memiliki makna yang lebih rumit. Apa ya? Aku masih belum bisa mendeskripsikan makna telur dari sudut pandang anggota keluarga baruku itu. Mungkin sama berharganya dengan uang. Atau mungkin lebih bernilai lagi, hingga membuat telur itu beberapa kali berpindah tempat.

Apapun itu, telur bagiku tetaplah telur. Sebuah benda bulat yang sangat enak untuk digoreng atau dicampur dengan mie rebus. Hanya saja makna telur untukku hari ini sepertinya sedikit mengalami sedikit pembiasan. Pembiasan untuk membenarkan untuk menuliskan sikap kurang terpuji orang lain.

Maaf. Sepertinya gara-gara telur tersebut aku juga harus segera berkaca. Setidaknya untuk membenahi sikap-sikap kurang terpujiku yang mungkin mengganggu orang lain. Gituh.

Mujix
beberapa menit kemudian
nenek berteriak dari dapur.
Beliau menemukan lokasi
tempat dimana telur itu berada.
Di kaleng roti dibawah meja
dekat kotak bumbu.
Eurekaa, Mbaah!! Eurekaaa!!!
Simo, 26 Desember 2015

Rabu, 23 Desember 2015

Beruang dan Burung Hantu

Dahulu kala hiduplah seekor beruang yang selalu bersedih. Satu persatu hewan penghuni hutan menghampirinya agar dia berbahagia.

Burung murai berkicau dengan merdu. Si Beruang hanya diam.

Gerombolan kelinci membawakannya wortel dan bayam. Si Beruang hanya cemberut.

Monyet dan kera menari-menari mengelilinginya dengan riang. Si Beruang hanya menghela napas panjang dan bersedih.

Seluruh penghuni hutan telah mencoba untuk berbagai cara agarSi Beruang dapat gembira, namun semuanya gagal.

Si Beruang  masih bersedih. Malam sebentar lagi datang. Seluruh penghuni hutan pergi ke rumahnya masing-masing. Mereka meninggalkan Si Beruang sendirian yang masih bersedih.

"Kruyuuuuk" perut Si Beruang itu berbunyi. Dia lapar. Si Beruang sebenarnya masih ingin bersedih di tempat itu, namun apa daya, rasa lapar memaksanya untuk segera beranjak.

Si beruang berjalan dengan gontai memasuki hutan. Walau bersedih dia terus berjalan dan mengais-ngais makanan. Sesekali beruang ini berhenti untuk meratapi nasibnya. Pelan tapi pasti dia terus berjalan untuk mengatasi rasa laparnya.

Keadaan hutan malam ini terang tersinari cahaya bulan. Si Beruang berjalan sambil memakan buah yang telah dia temukan di sepanjang jalan. Malam ini Si Beruang berjalan lebih jauh dari biasanya. Tidak terdengar lagi suara perut yang kelaparan. Si Beruang ini telah kenyang dan siap-siap kembali ke sarangnya untuk bersedih.

"Hoooo... Hoooo... Hoooo...."
Belum terlalu jauh Si Beruang meninggalkan tempat tersebut tiba-tiba saja terdengar suara yang menyayat hati. Si Beruang berjalan pelan mengikuti arah suara sedih itu. Cahaya bulan menerangi jalannya malam ini. Sesekali Si Beruang ini memandang ke langit memperhatikan bulan dan bintang yang selalu setia menemani malam-malamnya. Sudah lama dia tidak menjelajah hutan sejauh ini. Di lubuk hatinya yang paling dalam, Si Beruang sebenarnya merasa cukup berdebar-debar. Si Beruang dihinggapi sebuah kekhawatiran yang cukup serius. Apakah selamanya dia akan bersedih?
Hingga malam ini Si Beruang masih belum menemukan jawabannya.

Si beruang yang bersedih ini akhirnya menemukan sumber suara pilu tersebut. Di atas ranting pohon jati itu bertengger seekor burung hantu. Burung hantu ini berbulu cukup tebal dan sedang sibuk menyanyikan lagu sedih dengan wajah gembira. Si Beruang berjalan pelan menuju ke arah burung hantu tersebut. Berhati-hati sekali sambil sesekali memperhatikan sosok burung hantu itu dari bawah pohon.

Si beruang dengan sedikit ragu akhirnya mulai bertanya kepada burung hantu.
"Wahai burung hantu, mengapa kamu menyanyikan lagu sedih dengan wajah gembira?"

Sang burung hantu menoleh. Matanya berkilat memantulkan cahaya bulan. Wajahnya yang teduh lambat laun mulai terlihat. Dilihat dari raut wajahnya, burung hantu ini sepertinya telah berusia cukup tua.

"Hallo, Nak"
Sang Burung Hantu sepertinya sudah menyadari kehadiran Si Beruang. Tanpa menoleh Sang Burung Hantu kembali bernyanyi sambil memperhatikan bulan.

Mereka berdua terdiam dengan jeda waktu yang cukup lama. Suasana hutan yang gelap dan sepi semakin hening dibumbui lagu pilu Sang Burung Hantu.

"Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku menyanyikan lagu sedih dengan wajah gembira?"
Ujar sang burung hantu sambil berpaling lagi ke Si Beruang.

Si Beruang sedikit terkejut. Tidak biasanya ada hewan penghuni hutan yang memberikan pertanyaan serumit itu.

"Maaf!" ucapan permintaan maaf itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut Si Beruang.

"Hoo... Hoo..  Mengapa kamu harus minta maaf, Nak!?" tukas sang burung hantu

" Tidak ada yang perlu dimaafkan"
Mereka terdiam sejenak memandang bulan di atas langit. Suasana sangat syahdu. Desau angin dan aroma hutan menggamit suara serangga membuat masa seperti enggan beranjak.

"Nak, sebenarnya aku menyanyikan lagu gembira dengan berwajah sedih" sedikit bergetar saat Sang Burung Hantu ini mengutarakan perasaannya.

Si Beruang sedikit bingung. Rasa penasarannya tiba-tiba saja menenggelamkan gundah gulananya. Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Belum sempat si beruang akan bertanya, sang burung hantu melanjutkan ceritanya.

"Aku sedang merindukan istriku."
ujar Sang Burung Hantu dengan sedikit tersenyum simpul.

"Istri?"
Si Beruang bertanya sambil mencoba memanjat pohon tersebut agar bisa duduk di dahan dekat Sang Burung Hantu bertengger. Tak perlu waktu yang cukup lama Si Beruang telah berhasil duduk di samping Sang Burung Hantu. Dia mungkin payah dalam urusan bergembira ria, namun dia sangat pandai dalam urusan memanjat.

"Iya Nak, Saat ini dia berada di bulan"
jawab Sang Burung Hantu.

"Dia ada di bulan untuk waktu yang sangat lama. Namun aku percaya suatu saat dia akan kembali. Karena aku percaya cinta kami akan menyatukan segalanya"

Lagu sedih yang dia nyanyikan ternyata ditujukan untuk Istri Sang Burung Hantu. Sang Burung Hantu terus bernyanyi di tengah malam agar istrinya mengetahui bahwa dia masih setia untuk menunggu. Sedangkan sang istri terus saja membuat bulan terus bersinar agar rasa cintanya tersampaikan untuk Sang Burung Hantu.  Entah bagaimana Sang Istri Burung Hantu bisa ada di sana. Mungkin suatu saat Si Beruang akan mengetahuinya.

Malam itu Sang Burung Hantu bercerita banyak hal. Kisah demi kisah Sang Burung Hantu tuturkan di sela-sela nyanyiannya. Si Beruang sedikit demi sedikit bisa memahami kesedihannya. Waktu beranjak semakin larut. Si Beruang memutuskan untuk segera pulang. Usai berpamitan mereka berdua berpisah ditemani angin malam yang semakin dingin.

"Huaaaah"
Si Beruang menguap. Rasa kantuk mulai menghinggapinya dengan lembut. Iya, Si Beruang sepertinya mulai memahami banyak hal. Pertemuannya dengan burung hantu adalah pertemuan yang telah ditakdirkan. Teryata bukan hanya Si Beruang saja yang bisa mengalami rasa sedih. Sang Burung Hantu, Kelinci, Monyet dan Kera, semuanya juga bisa di hinggapi perasaan berduka.

Sarang Si Beruang sudah terlihat. Pintu dibukanya dengan perlahan. Sudah lama sekali Si Beruang tidak memperhatikan kalau sarang dan tempat tidurnya seindah itu. Si Beruang merebahkan tubuhnya. Dia mengingat Sang Burung Hantu, Burung murai berkicau, Gerombolan kelinci , Monyet dan kera yang menari. Hari ini Si Beruang mengalami banyak hal.

Apakah setelah pertemuan dengan Sang Burung Hantu malam itu Si Beruang masih bersedih? Iya. Dia masih bersedih. Akhirnya dia memahami bahwa bersedihpun tidak apa-apa. Ketika Si Beruang bersedih, dia belajar untuk memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Dia juga yakin suatu saat rasa sedih itu akan berganti dengan perasaan riang gembira. Hanya satu hal yang perlu Si Beruang lakukan malam ini, dia harus segera tidur agar besok bisa berbagi banyak cerita kepada teman-temannya yang selalu setia menemaninya ketika bersedih.

Mujix
Seseorang yang
sedang curhat sebagai
beruang dan burung hantu.
Simo, 25 Desember 2015

Kamis, 17 Desember 2015

Lebai Amat Luh!

"Lebai Amat Luh!"
Aku sedikit tercenung membaca sebuah komentar yang muncul di blogku. Itu adalah komentar negatif pertama yang pernah aku baca. 'Lebai', beberapa detik aku memikirkan peryataan itu dengan serius.

Yah, kalau dipikir-pikir lagi blog ini isinya emang lebai semua sih. Yah, Enggak jadi tersinggung deh. Biar aku beritahu kepada kalian apa itu 'lebai'.

Lebai itu adalah keadaan dimana komputermu tiba-tiba rusak padahal belum bikin materi presentasi untuk workshop. Gila. Aku pusing tujuh keliling! Noh! Itu tuh keadaan yang pantas dilabeli dengan kata 'lebai'. Spekulasiku soal Windows dan program kena virus terbantahkan oleh fakta 'mainboard dan prossesor' yang katanya sekarat.

Bahkan tanpa lelucon 'komputer rusak' dan semua omong kosong itu, hidupku sudah sangat lebai. Apalagi coba, memperbincangkan karir komikusku yang perlahan-lahan mulai bersinar!? Gak usah!! Pasti bakalan lebai! Oke, gimana kalo curhat tentang kisah cinta yang terhalang agama dan rasa cinta akan pacar lama.Jangan!! Aku yakin itu juga bakalan  'super duper lebai'.

Bah. Siapapun kamu, percayalah blog ini memang gudangnya cerita lebai. Kalo gak suka, silahkan membuat 'blog impian' yang menurutmu tidak lebai.  Beberapa masalah di dunia ini memang lebai-nya minta ampun. Untuk itulah blog ini tercipta untuk menampung emosiku yang berlebihan, agar aku terlihat seperti 'orang normal' seperti kamu yang dengan enteng-nya me-lebai-kan blog milik orang lain.

Percayalah. Aku benar-benar iri sama ksmu, duhai 'komentator anonim'. Pengecut ah, komen tidak menampilkan nama. Urusanku sudah selesai, maaf, aku harus segera pergi ke 'dunia nyata' di luar sana untuk menyelesaikan berbagai masalah lebaiku.

Ahh. Lebai amat lu Jix!

Mujix
Oh, pusing gara-gara tertimpa
Masalah tuh rasanya seperti ini.
Simo,17 Desember 2015.

Jumat, 11 Desember 2015

Bangun (dan) Tidur

Pagi ini terulang lagi. Bahkan lebih buruk. Aku memandang ke semua penjuru kamar tidurku. Brengsek. Pagi hari yang aku idam-idamkan telah lewat sekali lagi. Mataku melirik ke jendela, melihat rona dan raut muka semesta di luar sana, kurasa saat ini sudah jam 8 pagi. Aku membalik selimut tebal itu perlahan, tangan ini tiba-tiba menyenggol benda keras yang berlapis kaca. Benda itu smartphone. Smartphone-ku yang seharusnya tergeletak di meja samping pintu kamar. Kenapa bisa ada di tempat tidur!? Untung enggak pecah gara-gara kedudukan pantat!?

Samar-sama aku mulai bisa mengingat sesuatu. Oh iya, sepertinya tadi aku sempat bangun jam 5 dan berjalan gontai menuju meja untuk mematikan alarm dari  smartphone. Bisa dibilang aku benar-benar telah bangun pagi walaupun hanya beberapa detik.

Aku menghela nafas panjang. Sepertinya aku harus segera wudhu dan sholat shubuh dengan waktu yang sangat terlambat. Sepertinya aku harus merelakan harga diri untuk menyebut sholat shubuh-ku kali ini dengan nama ‘sholat dua rekaat di jam delapan pagi’.

Jadi secara garis besarnya, kali ini aku sedang memperjuangkan hal yang bernama ‘bangun pagi’. Iya bangun pagi. Pagi yang aku maksud benar-benar pagi, sekitar jam 5.00 WIB. Beberapa hari di pertengahan bulan Desember ini sudah aku habiskan untuk mengatur strategi memperbaiki kualitas hidup. Kualitas hidup yang mana? Ya kualitas hidupku sebagai komikus lhah!? Oh. Jadi sekarang udah benar-benar niat jadi komikus?

Beneran. Aku semakin berniat menjadi komikus yang memiliki kualitas hidup seperti para orang-orang besar di luar sana. Bukan rahasia umum lagi, beberapa komikus memiliki pola hidup yang random. Sepertinya terlalu spesifik jika aku menyempitkan permasalahan tersebut hanya di profesi yang bernama komikus. Untuk sementara aku akan mengganti kata ‘komikus’ menjadi ‘orang biasa’.
Bukan rahasia umum lagi, beberapa orang biasa (khususnya aku) memiliki pola hidup yang random. Aku ambil contoh yang sederhana, bangun tidur. Aku adalah sosok-sosok manusia yang suka bangun tidur dengan seenaknya. 

Terkadang ada hari dimana aku bisa bangun jam 4.30 WIB, bisa sholat shubuh tepat waktu, menyempatkan diri untuk jogging memutari kampung, bahkan bantuin nenek memasak di dapur. Bangun di waktu seperti itu sangat menyenangkan. Tantangannya hanya satu, kalahkan nafsu tidurmu dan segeralah pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Di saat-saat seperti itu aku merasa menjadi manusia yang benar-benar manusiawi. Aku merasa bangga telah berhasil mepecundangi matahari yang bangun terlambat di ujung timur sana.

Namun percayalah, terkadang datang pula hari dimana nafsu tidur tidak bisa dikalahkan oleh apapun. Misalnya pagi ini, nafsu tidur itu mebelengguku dengan sangat nikmat. Terlambat bangun tidur membuatku belajar banyak hal.  Aku memahami beberapa ilmu baru, tubuh dan pikiran tidak pernah bisa dibohongi. Rata-rata manusia tidur membutuhkan waktu 7 sampai 8 Jam perhari. Seandainya aku tidur jam 11.00 WIB, waktu yang ideal untuk bangun sekitar tidur adalah jam  8.00 WIB. 

Beberapa penelitian mengungkapkan waktu yang tepat untuk tidur adalah jam 22.00 WIB. Aku malas mencari sumber penelitian tersebut. Googling sendiri ya. Tadi malam aku pergi ke kamar  tidur jam 02.00 WIB, tertidur beberapa puluh menit setelah capek  menemani pikiran nglayap kemana-mana.

Akibat tidur terlalu malam adalah badan yang capek dan tidak memiliki daya konsentrasi tinggi untuk bekerja. Hari ini aku bangun jam 08.00 WIB, aku benar-benar mulai bisa bekerja sekita jam 10.00 WIB. Dua jam aku habiskan untuk menata berbagai agenda di kepala dan mengaplikasikannya di ruang kerja. Dan pola ini terus terulang di beberapa bulan terakhir, dengan berbagai alasan yang sangat mudah untuk dibenarkan oleh diri sendiri.

Aku meyakini kalau polaku dalam beristirahat sangat payah. Makanya sudah dua minggu ini aku berjuang untuk bisa bangun pagi.

Beberapa cara yang bisa kulakukan agar bisa bagun pagi adalah tidur lebih awal. Jam 22.00 WIB harus wajib sudah tergeletak dikamar tidur. Apakah berhasil? Tergeletaknya sih sudah berhasil. Tidurnya yang belum. Kendala yang paling jelas adalah payahnya dalam mengontrol pikiran untuk segera rileks agar bisa segera tertidur. Memikirkan ide komik baru lah, gebetan, mbak mantan, kegelisahan mengenai hidup yang belum kelar, dan lain sebagainya.

Pikiran manusia itu seperti pisau bermata dua. Aku bisa membuatnya menjadi sangat berguna atau mengubahnya menjadi sumber bencana. Untuk kasus kali ini, mungkin lebih tepat disebut ‘sumber bencana’ yang tidak bisa membuatku tidur.

Percayalah. Kendala yang satu ini sudah aku temui sejak aku mengenal cinta pertama. Kabar baiknya aku sudah memiliki cara untuk mengakali problematika ini. Beberapa tahun yang  lalu aku menemukan solusi sederhana. Cara yang paling jitu untuk menangkal carut marutnya pikiran adalah alihkan pikiranmu ke satu hal yang monoton. Semisal menghitung domba. Hitung saja sampai 1000. Levelku baru sampai angka 200-an. Kalau enggak tertidur biasanya lupa sampai angka berapa. Tips ini sangat efektif untuk membuatku bisa tertidur dengan cepat. Walau tidak menjamin bisa bangun pagi sih. 

Hahaha

Nah, untuk cara yang satu ini baru aku temukan beberapa bulan yang lalu. Tips ini lebih simpel dan tidak melibatkan domba manapun. Tips ini bernama ‘pemasrahan diri’.

Iya. Pasrah aja. Katakan pada pikiran dan tubuhmu yang intinya ‘kalau memang belum bisa tidur juga tidak apa-apa kok’, ‘pergi aja kemanapun kamu mau’, ‘jika kamu sudah siap untuk tidur, aku akan berada di sini untuk menemanimu’. Dan percaya atau tidak, cara ini adalah cara yang paling ampuh untuk bisa tidur. 

Tidak perlu ribet memikirkan soal domba, hanya berbicara lirih di batin. Tubuh dan pikiran tidak pernah bisa bohong.  Jika kau mempercayainya, niscaya mereka akan mempercayaimu.

Pagi ini mungkin memang akan terulang lagi. 
Tapi aku yakin suatu saat akan datang hari dimana pagi yang payah ini hanya menjadi mimpi untuk diri sendiri. Selamat Tidur.

Mujix
Pikiran lirih yang selalu berbunyi
sesaat sebelum aku akan
memasuki dunia mimpi
adalah aku harus membahagiakan
nenek, ibu, dan ayahku.
Hey, aku sayang kalian.
Simo, 11 Desember 2015.


Minggu, 06 Desember 2015

Curhatan sebelum tidur.

Postingan ini adalah postingan yang tidak aku rencanakan. Sebenarnya aku sedang enggan untuk menceritakan apapun. Namun entah kenapa, ada suara kecil yang bergema di hatiku yang paling dalam. Suara lirih nan pelan itu menyuruhku menulis tentang keadaanku malam ini. Keadaan di sekitarku yang seperti seharusnya terdokumentasikan dengan baik melalui tulisan. Aku akan menceritakan tentang diriku terlebih dahulu.

Hari ini sangat melelahkan. Benar-benar capek lahir batin. Seharian aku muter-muter kota Solo mencari scanner dan berbelanja. Harap dicatat. Aku berkeliling dari satu tempat ke tempat lain menggunakan angkutan umum. Apabila ada tempat yang tidak bisa aku jangkau dengan angkutan umum, aku akan menempuhnya dengan berjalan kaki. Capek sih. Tapi seneng juga bisa berkelana dengan kaki sendiri. Di saat seperti itu terkadang aku merasa sangat hidup. 

Tiga hari ini aku memang berada di Kota Solo untuk mengurusi beberapa kerjaan. Mulai dari mengambil materi buat majalah Kreasi, berbelanja banyak benda, hingga memanjakan diri dengan menonton film The Good Dinosaur di Solo Square. Materi majalah Kreasi sudah di tangan. Rencananya besok pagi akan mulai mengeditnya. Untuk urusan berbelanja, ada kali satu jutaan aku habiskan untuk membeli sesuatu. 

Benda paling mahal yang aku beli adalah Scanner merk Cannon. Aku menemukan benda itu di EL'S Computer dengan Harga Rp.805.000, lebih murah Rp.20.000 dari toko di kecamatan sebelah. Ternyata membeli Scanner tanpa menggunakan sepeda motor itu repotnya minta ampun. Belum lagi permasalahan angkutan umum yang ramainya minta ampun. Perjalanan dari Jamsaren menuju Grandmall adalah siksaan terberat hari ini. Aku dengan seluruh benda dibadan ini harus berdiri di dalam Batik Solo Trans yang berjubel penumpang. Anjrit. Badan mau patah rasanya. Apalagi ketika sang supir suka nge-gas dan nge-rem mendadak. Rasanya pengen aku jitak kepalanya. Di saat seperti itu biasanya nasihat dari buku-buku yang aku baca biasanya berguna. Kutipan yang paling kuingat adalah 'ada harga yang pantas untuk setiap hal yang kau dapatkan'. Okey. Mungkin penderitaan dalam memperjuangkan untuk membeli scanner, adalah harga yang harus aku bayar untuk kesuksesan di masa depan. Semoga.

Harusnya aku bercerita tentang perasaanku dan curhat sesuatu,kenapa malah ngobrolin scanner sih. Ah terserahlah. Sekarang kita akan ngobrolin yang lain. Selain Scanner, aku membeli beberapa buku baru untuk up grade ilmu. Buku yang aku beli kali ini tentang manajemen waktu dan perencanaan karir jangka panjang. Mungkin semacam buku pengembangan diri. Sempat terbesit pikiran untuk tidak membeli buku apapun, dan uangnya bisa aku gunakan untuk makan. Namun pemikiran purba itu aku ubah di detik-detik terakhir. Aku harus membeli buku agar kualitas diriku sebagai manusia bisa semakin berkembang. Hey, apa bedanya sama kambing dan ayam jika yang ada di otakku isinya cuman makan, tidur dan kawin. Untuk kata yang terakhir rasanya terlalu berlebihan. Apa yang mau dikawin kalo belum nikah, bwahahahaha.

Jadi, kebiasaanku untuk berbelanja buku saat gajian tidak akan berubah. Aku berjanji. Ilmu itu sangat penting. Ngobrolin soal ilmu, aku jadi ingat khotbah jumat di masjid kemarin. Salah satu potongan kalimat khotbah yang membuatku mengeryitkan dahi adalah:


" Seni membuat kehidupan manusia menjadi hina, ilmu membuat kehidupan manusia menjadi mudah, dan agama membuat kehidupan manusia menjadi........" 

Aku lupa kata terakhirnya. Mungkin 'bahagia dunia akhirat', entahlah. Aku terlanjur shock saat mendengar kalimat pertama yang katanya 'seni' bisa membuat manusia menjadi hina. Aku sedikit tersinggung. Aku tahu satu hal, Pak Khotib di depan mimbar itu pasti bukan seorang komikus. Aku paling benci dengan khotbah-khotbah semacam ini. Khotbah egois yang menggunakan sudut pandang kolot. Ayo pak, dadi komikus wae. Rasa tenggang rasa dan tepo sliromu pasti bakal muncul setelah anda mengetahui apa hakikat seni yang sebenarnya.

Udah. Aku lewati saja pergulatan antara dunia seni dan eklusifitas agama yang memang selayaknya tidak dicampuradukkan, Bapak khotib itu terlalu lucu untuk masuk di postingan ini. 

Selain buku dan scanner, aku membeli boneka Lightning McQueen buat Gantar. Aku tahu dia sedang tergila-gila dengan tokoh utama film Cars tersebut. Rencananya aku ingin membelikan boneka itu di Grand Mall, yang ukurannya cukup geda. Sudah memantapkan diri dan bercerita saja dengan Pak Iyok. Beliau menyarankan untuk menengok sebuah ruko di belakang Solo Squere, katanya di sana ada sebuah grosir boneka dengan harga yang miring. Gitu deh. Aku dapat Lightning McQueen. Aku ingat ekspresi Gantar saat melihat boneka tersebut. Kelihatannya dia sangat gembira, walau sedikit jaim dengan senyum yang dikulum.

Benar-benar capek lahir batin. Tapi sedikit bahagia juga sih.
Semuanya terjadi begitu saja. Perasaanku mulai memburuk. Sepertinya aku butuh istirahat.
Permasalahan dan berbagai hal yang mengganggu di pikiranku ini sebaiknya segera aku selesaikan.
Cepat atau lambat. Aku tidak ingin perasaan 'gamang' ini mengganggu perfomaku sebagai manusia pembelajar. Jika semuanya sudah membaik, aku akan menuliskannya di blog ini.
Sudah, Segitu dulu. Yuk menuju ke kamar tidur.  Istirahat yang cukup agar esok hari bisa berjuang lagi menjadi orang sukses.  
Met istirahat ya.


Mujix
Percayalah,
andaikata kamu menjadi orang
yang berhasil, apa yang kamu harapkan
akan datang dan menjadi 
milikmu dengan semestinya. Sangat lega
saat mengetahui di dunia ini ada yang namanya
'Hukum Karma'.
Simo, 6 Desember 2015.

Selasa, 01 Desember 2015

A Slowly Morning with My Heart

Baiklah. Permasalahanku dengan otak yang tumpul sudah berakhir. Tidak ada lagi yang namanya kebuntuan mencari ide ataupun brainstorming tentang gagasan brilian.  Pikiranku sudah sangat segar. Aku sudah siap bertempur dengan dunia dan seisinya, lagi pula separuh tengkorakku yang tadi berada di depan kamar mandi sudah aku pasang kembali. Semuanya sudah beres. Aku sudah kembali lagi ke meja kerjaku. (Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini: A Slowly Morning with My Brain.)

Semuanya berjalan lancar. 
Hingga aku menyadari satu hal bahwa beberapa menit yang terlewati ini berlalu dengan sangat lambat. Ada apa lagi ini!? Tiba-tiba seluruh badanku terasa berat. Pandangan mataku mendadak kabur. Seluruh tubuh mendadak tenggelan seakan-akan ditimbun lumpur berwarna hitam pekat. Sial. Aku terjebak lagi di situasi ini. Situasi dimana aku benar-benar bosan dengan semua hal. Aku menoleh ke arah sumber dimana semua itu berawal. Kurasakan energi gelap dari bagian dadaku. Benar saja. Lubang itu masih menganga dengan ganasnya menyebarkan energi negatif ke seluruh kehidupanku.

Lubang itu adalah tempat dimana setiap manusia mengisi bahan bakar untuk menjalani hidupnya masing-masing, dan harus kau isi dengan sesuatu agar kau tetap hidup. Tanda-tanda memburuknya lubang itu sebenarnya sudah aku rasakan sejak lama. Saat ini lubang itu aku isi dengan hati yang telah patah dengan berbagai tambalan di sana-sini.

Namun pagi ini, hati dengan penuh tambalan itu telah hilang entah kemana. Aku beranjak pergi ke kamar mandi, menengok ke pispot atau saluran pembuangan. Berharap hati penuh tambalan itu ada disana. Namun tidak ada apapun. Menjalani kehidupan tanpa hati itu sangat menyebalkan. Aku bergegas keluar rumah dan terus berdoa agar benda itu segera bisa aku temukan. 

Aku berjalan dengan langkah tertatih-tatIh menuju pusat kota. Berbagai manusia aku temukan di sana. Orang tua, anak kecil, perempuan, laki-laki paruh baya, bahkan sepasang kekasih yang sepertinya sangat bahagia. Setiap kali aku bertemu mereka, tidak ada lubang yang masih kosong. Lubang di dada mereka telah terisi oleh sesuatu. 

Para orang tua mengisi lubang di dadanya dengan harapan akan kebahagiaan anak-anak mereka. Harapan tersebut membuat mereka tetap hidup. Sekejam apapun kehidupan, tidak akan bisa melumpuhkan hati para orang tua ini. Aku melihat sosok orang tuaku di raut wajah mereka. Raut wajah yang akan kau sering temukan saat memandang ayah dan ibumu. 

Lain orang lain pula isi lubang di dadanya. Anak-anak kecil mengisi lubang di dada mereka dengan kegembiraan dalam mempelajari kehidupan. Selalu ada alasan untuk menyikapi segala sesuatu dengan hati senang, mereka bisa menangis ketika beberapa hal tidak sesuai harapan. Sesederhana itu. Terkadang aku suka iri melihat mereka. Mereka adalah masa lalu yang terlewati dalam satu kedipan mata saja. 

Apalagi yang ingin kau ketahui? Isi dada sepasang sejoli itu? Tak usah aku jelaskanpun kalian sudah tahu. Lubang di dada mereka sudah pasti tertutup kebahagiaan dan harapan agar mereka bisa terus bersama dan berbagi cinta. 

Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa aku terlalu bersikukuh untuk mendapatkan hati lecek penuh tambalan itu. Perlu kalian tahu, hati itu adalah hati paling berharga yang pernah kumiliki. Bentuknya mungkin memang tidak karuan, namun percayalah hati itu adalah benda yang pas untuk mengisi lubang yang menganga di dadaku. 

Dulu bentuk hati itu tidak separah sekarang. Ada masa dimana hati itu terlihat mulus bersih dan sedap dipandang. Beberapa kejadian memaksa hati itu untuk patah. Kisah cinta yang gagal, pekerjaan yang payah, dan hubungan dengan banyak manusia yang rumit membuat hati itu remuk untuk kesekian kalinya.

Pilihannya hanya ada dua macam. Kau membuangnya ke tempat sampah atau mencoba menambalnya dengan banyak hal. Aku pernah membuang benda itu ke tempat sampah. Ya. Efeknya sangat kuat, tidak ada lagi rasa sakit akibat penolakan. saat itu rasa sedih hanya menjadi mitos bagiku. Tidak ada yang bisa membuatku menderita. dan tidak ada pula yang bisa membuatku bahagia. Saat aku membuang hatiku ke tempat sampah, adalah saat dimana aku menjadi manusia yang tidak ada bedanya dengan batu kerikil di tengah jalan.  Apa lagi yang bisa diharapkan dari manusia yang tidak memiliki hati!?

Akhirnya suatu hari kupungut lagi hati itu dari tempat sampah. Tentu saja masih pecah dan bahkan berdebu. Permukaannya aku gosok dengan perhatian. Aku mencoba menyayangi hati itu dengan susah payah. Beberapa tempat yang pecah aku tambal dengan lem. 

Lem sederhana semacam keinginan untuk menyelesaikan kuliah ataupun berpergian untuk bertemu dengan banyak orang yang baru. Komik adalah benda yang paling berjasa dalam proses pemulihan hati yang rusak tersebut. Entah sudah berapa kali hati itu merasa sangat hidup saat bersentuhan dunia komik. Walau masih sakit, hati yang remuk redam itu terkadang merasa cukup bahagia. 

Gerombolan manusia itu aku lewati saja dengan acuh tak acuh. Hatiku sepertinya tidak dicuri oleh mereka. Aku berjalan lagi menembus keramaian. Semoga hati itu segera ketemu, agar aku tidak terendam di lumpur hitam pekat ini terlalu lama. Entah dibawa oleh siapa, Aku yakin hati yang rusak dan penuh tambalan itu menungguku di suatu tempat.


Mujix
Udah bulan
Desember lagi nih.
Masih enggak percaya
kalau 'waktu itu cepat berlalu'!?
Simo, 1 Desember 2015

Senin, 30 November 2015

Kembali ke masa depan

Tumpukan awan berwarna putih itu masih diam ketika aku tiba di sini, di sebuah sekolah menengah kejuruan. Tempat dimana aku belajar seni rupa dan menggambar komik. Iya. Sekarang aku berada di sekolahku yang dulu. Sepuluh tahun telah berlalu sejak saat itu. Tempat ini sudah banyak yang berubah. 

Gerbang yang dulu hanya tralis dari besi berkarat,  sekarang berganti menjadi gerbang besar dengan ukiran patung Dewaruci sedang bertarung dengan Naga. Lebai dan norak banget gerbangnya. Tapi gak papa sih, namanya juga sekolah seni.  Gerbang sekolah ini benar-benar terlihat berbeda apabila dibandingkan dengan gerbang yang sama di sepuluh tahun yang lalu.

Hari ini adalah jam pulang sekolah. Para siswa bergerombol dan membludak untuk segera bergegas ke rumahnya masing-masing. Aku clingak-clinguk mencari seseorang. Cewek? Bukan. Kali ini aku sedang berkepentingan dengan seorang cowok. 

Seorang cowok jurusan seni rupa yang kukenal hanya melalui ingatan. Beberapa menit sudah aku berada di gerbang. Namun cowok yang aku cari tidak segera muncul. Mataku yang jelalatan ke segala arah itu tidak bisa menemukan dia. Aku menghela nafas panjang.

“Brengsek… kemana bocah itu pergi” aku segera berjalan menuju ke dalam sekolah. Sejuta kenangan menyambut dan menikam dada tanpa ampun. Jeruji besi berwarna hitam yang memisahkan area parkiran dan lingkungan sekolah itu masih berdiri di sana. 

Aku memasuki pintu jeruji besi itu seperti tahanan yang keluar dari penjara. Lantai dari perpaduan tegel dan keramik juga masih terasa kasar di ujung kakiku. Mading itu, taman kecil itu, dan papan penanda itu, wah, Semuanya sangat akrab walau terlihat berbeda.

Dari kejauhan terdengar suara riuh rendah. Beberapa siswa sepertinya masih beraktivitas dengan banyak hal. Seingatku dulu, siswa-siswa yang masih berkeliaran setelah pulang sekolah adalah anggota OSIS, Bantara, atau organisasi ekstrakulikuler lain. Mereka yang berada di sekolah di waktu seperti ini adalah mereka yang aktif di kegiatan organisasi sekolah, mereka yang haus akan eksistensi dan mereka  yang kelebihan energi untuk disalurkan.

“Dung… Dung..  Dung…” bunyi bola basket yang di-dribel mengisyaratkan bahwa seseorang yang aku cari ternyata ada di sini. Sesosok anak laki-laki sedang berlari membawa bola basket berwarna kuning. Anak laki-laki itu berambut keriting pendek, mengingatkanku pada tokoh ‘Laskar Pelangi’ yang bernama Ikal. Seragam SMA yang ia pakai terlihat kusut dan sedikit basah karena keringat. Wajahnya terlihat lelah namun bersemangat. Sebuah lompatan pendek dilakukannya ketika dia sampai di samping ring.

“Uoooh!!” dia berteriak sambil mengulurkan bolanya ke arah ring. Sejurus kemudian bola itu menabrak ring dan memantul kena papan.

“Sraaak” bunyi bola tersebut ketika masuk ke ring.

Dia tersenyum kecil dan kembali berlari mengambil bola. Sepertinya bocah itu sudah cukup kelelahan untuk melanjutkan permainan basket tersebut. Aktivitas yang tolol. Hanya orang tolol yang bermain basket sendirian jam 2 siang di lapangan basket.

Aku berjalan menuju ke arah bocah tersebut. Dia menyenderkan tubuhnya dan memandang jauh ke arah para anggota OSIS yang tengah berlatih baris-berbaris. Pandangannya tertuju ke sosok perempuan dengan rambut pendek di barisan paling belakang. Bocah itu tersenyum kecil. Aku kemudian duduk di sampingnya. Dia agak kaget dengan kedatanganku.

“Boleh pinjam bolanya?” aku mengulurkan tangan ke arahnya.

Dia memandangku sesaat.

“Nih!” bocah ini melemparkan bola tersebut dengan perlahan. Kedua tanganku memegang bola itu dengan sangat berhati-hati. Aku segera membawa bola itu ke tengah lapangan. Hanya orang tolol yang bermain basket di jam 2 siang. Aku sepertinya termasuk gerombolan orang tolol tersebut. Hahaha.

Bola itu aku pantulkan ke lantai lapangan.

“Dung… Dung.. Dung” bunyi bola yang terpantul di lantai itu kesannya ‘sesuatu’ banget. Entah sudah berapa tahun aku tidak memegang bola basket. Terakhir kali tahun 2007 saat ikut UKM basket di kampus. Aku mencoba berlari sambil me-dribel bola. Agak canggung. Ketahuan sekali kalau udah jarang berolahraga. Dengan sekali hentakan aku melempar bola itu ke ring.

“Dung!!” bola memantul dan terpental ke luar lapangan. Fail. Gagal total. Itu lay up terburuk semenjak aku kuliah. Bocah itu tertawa terkekeh-kekeh dengan muka tengiknya.

“Bolamu jelek! Apaan! Masak ada bola benjol gituh?!!” aku mencari alasan untuk menutupi kesalahan lay up payah tersebut.

“Bukan salah bolanya mas! Kontrolmu aja yang payah” bocah itu terus aja tertawa sambil menerima bola yang aku ulurkan.

“Cih!! Iya deh! Iya!” kumakan saja semua caci maki gak jelas itu.

Suasana lapangan basket sangat berbeda apabila dibandingkan tempat di mana kami beristirahat. Di tengah lapangan panas bagai berjemur di jalan raya. Di pinggir lapangan ini lebih baik. Pohon-pohon rindang itu membuat semuanya menjadi sejuk. Belum lagi angin sepoi-sepoi yang mengusap wajah basah setelah berkeringat. Kurasa inilah yang disebut surga oleh para pemuka agama.

Kami berdua duduk dengan memandang ke lapangan basket di sekolah. Tidak ada obrolan lagi. Aku sibuk dengan lamunanku, dan bocah itu sibuk dengan komik yang dia baca.

Heh? Dia baca komik? Mataku melirik buku komik tersebut. Sepertinya aku kenal. Slam Dunk! Karya Takehiko Inoue. Jilid 15. Uoooh. Komik legendaris yang menjadi salah satu inspirasiku.

“Dek, kamu suka baca komik?” aku tidak tahan untuk bertanya.

Dia diam sejenak, kemudian melanjutkan aktivitas membacanya.

“Suka.” Aku memperhatikan ekspresinya saat membaca komik itu. Lucu. Terkadang dia tersenyum. Namun terkadang bermuka serius dengan muka terkejut. Ketika sampai di lembar terakhir, dia menghela nafas panjang.

“Kenapa?” aku bertanya lagi.

“Bersambung, Mas! Harus nungguin jilid berikutnya.”
 Hahaha. Bocah itu sepertinya sudah tidak sabar untuk mengetahui kelanjutannya.

“Aku juga suka baca komik! Saat ini aku sedang mengikuti komik One Piece dan One Puch Man.”
Bocah itu menoleh dengan mata berbinar-binar.

“Masnya juga baca komik? Mana-mana pinjam dong!” tiba-tiba saja dia berada di depanku.

“Enggak aku bawa. Aku bacanya manga-scan di internet kok!” aku mencoba memberi penjelasan. Sepertinya dia bingung dengan apa yang aku ucapkan. Bocah itu kecewa.

“Yah! Gimana sih Mas. padahal aku udah seneng lhooh. Kirain aku bisa baca komik baru tanpa pergi ke rental komik!”

“Rental komik?”

“Iya, Rental Komik. Karena uang sakuku terbatas, maklum anak kost. aku cuman bisa baca komik lewat rental komik.”

Iya sih. Harga komik memang mahal. Apalagi untuk siswa seusianya. Harga sewa komik biasanya 10% dari harga yang dijual. Jika suatu komik harganya Rp.20.000, maka harga untuk menyewanya di rental pasti hanya Rp.2.000. Cukup murah jika mengingat pengalaman baca yang ditawarkan. Aku dulu juga seperti itu, menyewa banyak komik untuk bahan pembelajaran. Namun untuk komik yang benar-benar aku sukai, aku pasti akan membelinya.

“Komik yang sedang kamu baca bagus mas? sama Slam Dunk bagus mana?” Bocah itu bertanya lagi mengenai komik yang sedang aku baca.

“Setahuku sih komik One Piece membosankan. Kalo One Puch Man, aku malah baru tahu!” dia menyambung pertanyaan yang belum sempat aku jawab.

Aku berpikir sejenak memilih jawaban yang pas untuk pertanyaan itu.

“One Piece bagus kok. Mungkin kamu baca versi bajakannya. Jadi terjemahannya agak ngawur. Tapi kalau dibandingkan dengan Slam Dunk, aku akan tetap memilih Slam Dunk. Aku ngefans sama Hanamichi Sakuragi soalnya. Itu soal selera genre komik sih. ”

“Aku juga ngefans sama Hanamichi Sakuragi Mas. Keren ya tokohnya. ” bocah itu tersenyum penuh arti kemudian kembali melirik kearah para anggota OSIS yang masih berlatih baris-berbaris. Sejak tadi, mata bocah itu selalu tertuju ke arah perempuan dengan rambut pendek di barisan paling belakang .

“Selain baca komik, aku juga bikin komik dek! Ini komik buatanku!” Saatnya untuk pamer! Aku mengeluarkan beberapa komik buatanku. Kebetulan aku membawa komik yang berjudul ‘Negara ½ Gila’, ‘Proposal Untuk Presiden’, ‘Komisi Empat Penjuru’ dan ‘Si Amed’. Buku-buku komik kebanggaan tersebut langsung aku jejer di depannya. Bocah itu ternganga dan sangat terkejut. Tangannya dengan sedikit gemetar mulai memegang komik buatanku.

“Masnya seorang Komikus?! Kereeeeen!!” Dia dengan sangat bernafsu mulai membuka lembar demi lembar komik yang aku buat.

“Ini cara bikinnya gimana mas?” pertanyaan tentang proses pembuatan adalah pertanyaan yang sering aku temui ketika bertemu pembaca baru.

“Ya gituh dek. Kamu gambar dulu manual, terus dipindah pake scanner, lalu di edit deh pake Adobe Photohoshop!” ujarku sambil tersenyum bangga.

“Kayaknya susah ya mas?!” tukas bocah itu sambil mengambil sesuatu dari tas rangselnya.
Dia mengeluarkan beberapa buku dan berlembar-lembar kertas hvs yang penuh dengan gambar. Ternyata bocah itu juga menggambar komik! Aku kaget.

“Ini komik karya saya mas. Judulnya ‘Panca Semesta’! ” uoooh. Tebel abis komiknya. Aku mengambil komik itu dengan penuh antusias. Gokil. Komiknya unik banget.

Komik berjudul ‘Panca Semesta’ itu berupa lembaran-lembaran komik yang distaples menjadi sebuah buku. Covernya udah diedit pake  Adobe Photohoshop. Coloringnya kasar. Tapi untuk sekelas anak SMA, itu udah keren banget. 

“Gokiiiil!!! Ceritanya tentang apa nih!?” jeritku sambil membuka komik itu lembar demi lembar.

“Ceritanya tentang pendekar tangguh bernama ‘Joko Pangestu’ mas, terus dia terlempar ke masa depan dengan misi mengembalikan pusaka perguruannya yang bernama ‘Panca Semesta’!”

“Terus!!? Terus!!?” aku mendesak dia agar untuk menjelaskannya dengan lebih detail. Obrolan apapun tentang komik sangat menyenangkan.

“Terus? Baca aja sendiri. Tapi maap. Komik itu aku bikin langsung loncat ke jilid 32.”

“Whaaaat!!! Udah jilid 32!!! Gokiiiil” aku tak bisa menahan rasa terkejut melihat kenyataan ini.

Permukaan kasar khas kertas HVS ini benar-benar nyata. Buku ini pasti dihasilkan dengan segenap curahan jiwanya. Goresan yang dia buat sangat ekpresif, terlepas dari proporsi dan anatominya yang salah. Beberapa gambar latar belakang terlihat berantakan. Namun aku tidak berharap lebih. Aku hanya ingin membaca buku ini sampai selesai.

“seru! Terus jild 1 sampai 31 mana Dek?” tanyaku dengan penuh harap.

“Anu… masih didalam otak sih Mas. Aku emang bikinnya langsung loncat ke jilid 32… hahaha” bocah itu tertawa dengan muka agak dipaksakan seakan ketahuan kebohongannya.

“Dasar! Jangan suka melompat-lompat gitu dong. Suatu saat kalau kamu jadi komikus professional sifat itu harus dihilangkan yaa, kasihan sama pembacamu” ujarku memberi nasihat kepadanya.

“Hahahaha siap Mas!!!” teriaknya sambil tersenyum lebar.

Di jilid ini ternyata memiliki cerita yang cukup seru. Tokoh utama yang bernama ‘Joko Pangestu’ bersekolah di SMA, memiliki teman yang baik, dan tentu saja memiliki kisah cinta. Secara garis besar, jilid ini bercerita tentang sepak terjang Joko dalam merebut pusaka yang dimanfaatkan oleh penjahat. Adegan aksi dari panel ke panel cukup absurd. Terkadang ada pertempuran energi ala-ala komik Dragonball.

“Bagus. Komikmu bagus dek. Hanya saja cerita cinta yang terselip di komik ini malah sedikit mengganggu.” Aku memberi saran sotoy kepada bocah itu.

“Oh. Gitu ya mas. Sebenarnya itu curhat sih.” Tukas bocah tersebut sambil tertawa.

“Yaelah, curhat. Yah. Bagus. Teruskan aja dek bikin komiknya.” Aku memberikan kalimat penutup agar obrolan ini segera berakhir.

“Gimana mas? Ada masukan lagi buat aku?” Tanyanya sambil memasukkan buku itu ke dalam tas.

“Hmm… gimana ya?” aku berpikir sebentar sambil memegang janggutku. Biar kelihatan keren gituh.

“Oh. Aku paling suka sama karakter ceweknya. Namanya siapa tadi?”

“Ari! Namanya Ari Irianti mas” ujarnya sambil tersenyum.

“Oh. Ari Irianti. Gambarnya bagus. Entah kenapa aku merasakan kalau karakter ini benar-benar ada di dunia nyata. Gimana ya? Aku seperti melihat ada perasaan yang muncul dari karakter itu.” Aku langsung saja bercuap-cuap memberikan kesanku.

“Hehehehe iya mas. Karakter itu aku gambar dari temen sekelasku kok! Nooh! Itu lhoo mas! Embaknya yang sedang latihan baris di sana” bocah itu berkata sambil menunjuk seorang perempuan berambut pendek yang sedang kepanasan.

“Ciyeeeeee!!! Pacarnya ciyeeeeee!!!” aku menggodanya tampa ampun. Dia langsung tergagap dengan muka memerah dan berkeringat. Aku sudah tahu apa yang terjadi saat ini.

Bocah itu kaget dengan muka merah padam. Sepertinya aku langsung meng-counter-nya dengan pertanyaan yang menohok.

“Euuh!! Engg..Enggak kook!!!” Bocah itu mencoba untuk menutupi rasa panik dengan berbohong. Aku cukup yakin kalau dia berbohong, terlihat sekali kalau pertanyaanku cukup mengagetkan dia.

“Ciyeee… Ciyeee… beneran enggak naksir? Aku bilangin ke dia ya?” aku berdiri seolah ingin menghampiri perempuan tersebut. Bocah itu kemudian menarik jaketku sambil terus meracau tentang apa yang dia rasakan.

“Jangan Mas!! udah!! Aku ngaku deh!! Iya iya!! Aku naksir dia kok” kata bocah tersebut dengan wajah memerah. Hihihi. Lucu deh. Aku kembali ke tempatku semula, menepuk punggungnya sambil berkata penuh canda.

“Terus gimana? Kamu udah jadian sama dia?”

“Jadian apanya mas? aku ditolaknya minggu lalu!” dia berkata lirih sambil memeluk lututnya. Sebersit kesedihan terpancar dari raut wajah bocah tersebut. Aku tidak tahu harus berkata apa. Dia tiba-tiba saja bercerita tentang perempuan itu.

“Aku jatuh cinta sama dia sejak kelas 1 Mas. Dia adalah alasan terbesarku untuk datang ke sekolah. ” Alasan terbesar? Sok dramatis banget tuh bocah.

“Hahahaha… kenapa kamu masih senyam-senyum gitu? Padahal kamu habis patah hati lho dek” Bocah itu menoleh ke arahku, memandang tajam mataku lalu berkata tentang satu hal yang membuatku kaget.

“Masnya malah lebih parah, enggak patah hati tapi enggak bisa senyam-senyum” Eng… Ing… Eng… Terucaplah kata-kata keren yang tiba-tiba membuatku merinding. Suasana di sekitar kami berubah menjadi sendu. Gila, anak kecil sekarang benar-benar cepat dewasa ya.

Bocah itu tiba-tiba berdiri.

“Mau kemana?” tanyaku dengan sedikit bingung.

“Sholat Ashar. Udah mau jam tiga. Mau ikut?”

Aku berjalan mengekor di belakangnya. Benar saja, suara adzan terdengar dari mushola sekolah. Tidak ada obrolan sama sekali. Aku juga enggan untuk bertanya.  Adzan bagiku adalah waktu yang tepat untuk mengistirahatkan apapun. Waktu untuk makan siang, ataupun waktu untuk sekedar membuat teh panas agar makin bersemangat dalam bekerja.

Kami akhirnya sholat berjamaah. untukku saat ini, sholat hanya sekedar formalitas. Maaf.  Formalitas eksklusif seorang manusia, sebuah ritual yang kulakukan untuk menandai waktu. Aku tidak mau membebani hidupku dengan surga dan neraka. Andaikata saat sholat aku bisa khusyuk dan berbincang dengan tuhan, itu adalah sebuah bonus. Namun pendapatku itu sepertinya berbeda dengan bocah tersebut.

Sehabis sholat aku berdoa seperlunya dan langsung nongkrong saja di pelataran masjid. Ketika aku meninggalkannya, bocah itu masih berdoa dengan khidmat. Mulutnya berkomat-kamit membaca sesuatu dengan muka serius. Entah dia meminta apa kepada Tuhan, aku juga tidak terlalu berani untuk menebak.

Pelataran masjid adalah tempat paling damai di sekolah ini. Tidak ada tempat lain sehangat tempat ini. Apalagi suasana sore yang cerah menemaniku untuk bernostalgia dengan apapun. Sudah lama sekali aku tidak duduk-duduk di  tempat pelataran ini.

Aku bisa mengingat banyak hal. Ujian hafalan surat Al Quran saat UAS, kaca tempatku berdandan saat jumatan, hingga perasaan lega saat aku berhasil menyatakan cintaku untuk seseorang. Saat itu aku bahkan mengguyur kepalaku dengan air keran agar kepalaku bisa berpikir dengan normal. Ah. Aku benar-benar ingat muka kucek dan segala kecerobohanku saat itu. 

Hahaha masa muda yang benar-benar menyebalkan.

Bocah keriting itu sepertinya sudah selesai dengan ritual berdoanya. Dia agak terkejut karena masih melihatku di tempat ini.

“Belum pulang mas? Nungguin siapa” tanyanya sambil mengikat tali sepatu.

“Nungguin temen. Tapi kayaknya dia gak jadi ke sini. Terus, kamu mau ke mana?” aku menjawabnya dengan santai dan terus memperhatikan apa yang dia lakukan.

“Pulang dong! Aku mau bikin acara buka bersama mas. Ntar sore.” Ujarnya sembari merapikan baju dan menenteng bola basket.

Kami berdua berjalan bersama keluar area sekolah. Sebentar lagi memang waktu untuk berbuka puasa. Di perempatan bocah keriting itu berjalan kea rah timur. Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk berpisah.

“Mas, aku cabut dulu. Udah ke sorean nih” Dia mencolek tanganku sambil berpamitan.

“Oke! Salam buat teman-temanmu ya” sebuah kata perpisahan yang konyol.

“Oke, Mas!” Bocah itu berjalan pelan dengan tubuh sedikit membungkuk.
Sepertinya dia sedang mengalami hari-hari yang berat. Aku merasakan semua tawa dan keceriaannya tadi hanyalah topeng belaka. Semuanya terbaca saat melihat punggung dan cara berjalannya dari belakang. Seperti terlihat sedih. Aku tidak tahan untuk menegurnya sekali lagi.

“Dek!” aku berteriak cukup keras. Bocah itu menoleh dengan wajah penuh tanda tanya.

“Apa lagi mas?” dia bertanya dengan wajahnya yang seakan dibuat ceria.

Suasana hening sejenak. Kami hanya terpisah beberapa meter di ujung jalan. Dan aku tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membuatnya terhibur.

“Dek, Bertahanlah! Jangan menyerah untuk apa yang kau cita-citakan” dia tersenyum sambil melambaikan tangannya. 

Aku yakin dia akan baik-baik saja. 
Seperti aku yakin akan kehidupanku saat ini yang nyatanya berjalan dengan baik.

Mujix
Ciyeee yang
udah pake smartphone
terus bikin instagram tapi
bingung mau di isi apaa
Simo, 30 November 2015.

Selasa, 24 November 2015

Aku dan Josephira 2

'Aku dan Josephira' adalah postingan kedua yang paling sering dicari oleh para netizen di blog ini. Aku berani berspekulasi, kamu yang membaca tulisan ini juga tersangkut tak sengaja di blog ini gara-gara menggunakan kata kunci 'Josephira' di mesin pencari bernama Google. Enggak papa. Lanjut baca saja. Beberapa kata kunci yang tersimpan di riwayat penjelajahan sangat beragam, mulai dari 'Siapa sebenarnya tokoh bernama Josephira' hingga 'Joane Josephira istri Bimbim Slank'. Baiklah. Aku akan Googling sebentar. Aku sendiri juga kurang siapa sebenarnya tokoh 'Josephira' yang muncul sebagai judul lagu tersebut.

Here we go!

Joane Joshephira adalah Slankers (sebutan untuk para penggemar grup band Slank) yang berasal dari Manado. Bisa dibilang sosok ini merupakan sosok yang pendiam apabila dibandingkan dengan teman-temannya yang katanya datang ke Gang Potlot. Gadis ini sempat menjadi rebutan, atau setidaknya menjadi incaran para anggota Slankers yang lain. Namun dengan kharismanya yang sangat keren, Bimbim Slank-lah yang menjadi pemenangnya. Perempuan blasteran Amerika dan Manado ini akhirnya menjadi istri dari pentolan band rock ini. Mereka melangsukan pernikahan di Sukabumi, 6 Juni 1993. Joane Joshephira diabadikan di beberapa lagu Slank seperti 'Josephira', 'Lagi Sedih' dan 'Seksi Melanie'. 

Aku juga memiliki kisah tentang Josephira. Kisah dimana aku menandai masa muda dengan sebuah keikhlasan untuk melepas seseorang. Seseorang yang saat itu benar-benar aku cintai sampai mati. Tanda tersebut berwujud menjadi sebuah komik. Aku membuatnya untuk submisi pameran generasi biru di GKS pada tahun 2010, detail event lengkapnya bisa dibaca di postingan ini: Aku dan Josephira. Baiklah. demi kalian, aku akan mengunggah komik berjudul Josephira di blog ini. Siap-siap yah. Ceritanya bakal galau abis.





















Komik ini murni komik curhat. Aku menggambarkan apa yang ingin aku gambarkan.  Begitulah. aku memang bercerita tentang proses pencarian cinta sejati. Ini adalah karya paling gelap, paling sakit, dan paling nge-art yang pernah aku bikin. Jika menikah adalah hasil akhir untuk sebuah hubungan percintaan, maka pernikahan antara Bimbim Slank dan Josephira adalah akhir yang membahagiakan.

Aku mempercayai bahwa untuk mendapatkan cinta yang sebenarnya, ada pengorbanan yang benar-benar besar untuk mendapatkannya. Mungkin mirip kisah Bimbim yang berdarah-darah berjuang untuk memiliki hati Josephira. 

Kurasa seperti itu. Jika kalian benar-benar Slankers Sejati, sebarkan kisah ini ke teman-teman kalian. Siapa tahu kelak Bimbim dan Josephira benar-benar bisa membaca kisah ini. Bukankah itu sangat menyenangkan, ketika karya kalian diapresiasi oleh inspiratornya langsung. Gituh Gaes. 

Mujix
Komikus kribo
yang suka curhat melalui
blog. Saat ini doi sedang berjuang
untuk menemukan cinta sejati.
Simo, 24 November 2015.