Selasa, 23 Juni 2015

Sirius Black

Aku menatap keyboard komputerku dengan seksama. Kedua tanganku sebenarnya sudah stand by dengan ganteng (yah anggap saja kedua tanganku memiliki wajah), tapi entah kenapa tidak ada kata-kata yang terketik. Andaikata ada sesuatu yang terketikpun, beberapa detik kemudian aku delete dengan helaan nafas menggerutu. Begitulah, kalimat-kalimat yang sekarang kalian baca adalah kalimat-kalimat yang paling jujur hari ini. Kalimat-kalimat yang tercipta setalah aku menekan rasa malasku untuk nge-blog lagi, setelah entah beberapa minggu aku terjebak di dunia antah berantah bernama kesepian. Ceileeh. Serius amat milih kalimatnya.

Serius. Beberapa jam yang lalu aku terhenti dari aktivitasku menggambar komik. Berhenti sejenak mengambil rehat sambil memandang ke luar jendela. Sepertinya aku terlalu serius hari ini. Ada saja hal-hal yang membuatku pusing. Masalah dompet, masalah grup komikus, dan masalah-masalah sepele lainnya. Aku menganggapnya sepele karena aku dulu pernah mengalami hal-hal yang lebih berat dan menuntut banyak komitmen. Misalnya menyelesaikan studi S1ku.  Aku sadar, Sepertinya aku terlalu serius hari ini. Kurasa bukan hanya hari ini, disepanjang aku hidup di dunia yang fana ini, aku telah menjadi sosok orang yang sangat serius.

Oke. Aku sudah mengetik postingan ini sampai di paragraph kedua. Apakah perlu aku save?

Gak usah di-save dulu deh, andaikata ilang ya udah. Anggap saja postingan ini terlalu serius untuk dilanjutkan.

Apabila dikatagorikan, banyal sekali hal yang kuanggap cukup serius. Enggak punya uang itu serius, enggak punya pacar itu cukup serius, enggak punya pacar sekaligus enggak punya uang itu super-duper serius. Sebenarnya kalau mau jujur, sumber penderitaan manusia yang paling abadi ialah ketika mereka terjebak dalam lubang nista dalam memenuhi kebutuhan. Permasalahan yang abadi nan pelik. Namun untuk postingan kali ini, aku hanya membicarakan hal-hal yang fun semacam membersihkan ruang kerja.

Ruang kerjaku berada di belakang televisi, bahkan berada disatu meja panjang berwarna coklat. Beberapa bulan sebelumnya ruangan kecil itu tidak terpakai. Hanya ruang kosong tempat pemberhentian barang-barang semacam cucian kotor, tumpukan buku tidak terpakai, hingga lukisan gagal dari proyek yang juga gagal. Bukan hal yang aneh jika ada sempak nangkring yang bergumul dengan kuas lukis diatas meja. Bukan hal yang aneh. Baru setelah aku memutuskan untuk serius mengerjakan skripsi, ruangan itu aku benahi menjadi tempat pribadi.

Di meja kerja yang menjadi satu dengan televisi, terdapat banyak komik Indonesia tersusun rapi. Komik-komik itu adalah koleksi berhargaku. Cukup banyak, seakan-akan menjadi benteng kecil untuk mengabadikan waktu dan pencapaian. Gimana enggak, setiap aku membeli komik (baik itu yang lokal maupun interlokal) selalu ada tanggal pembelian dan terkadang ada pengingat bagaimana aku mendapatkan buku tersebut. Kira kira seperti ini formatnya:

“Mujix, tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian. Uang dari pembelian buku ini didapat dari honor juri dikampus anu. ” Terus sret-sret-sret, kasih tanda tangan deh.

Begituh. Bisa dibilang semua gajiku habis hanya untuk makan dan beli buku. Kecuali untuk yang satu ini. KOMPUTER. Kapan-kapan di postingan lain akan aku ceritakan asal muasal komputer ini.

Tempat pribadi yang dulu berdiam banyak barang, sekarang sudah berevolusi menjadi ruang kerja yang sederhana. Tinggal beberapa langkah lagi untuk mewujudkan studio komik impianku. Hari-hari datang dan pergi, meninggalkan banyak sisa-sisa pencapaian. Berlembar-lembar kertas skripsi yang tidak berguna bertumpuk di sembarang tempat. Serpihan-serpihan penghapus hasil proyek komik membuat kotor seluruh lantai. Rumah rayap yang hancur menjadi tanah membuat ruangan tersebut makin berdebu. Baiklah, kurasa ini saatnya untuk membersihkan ruang pribadiku.

Proses membersihkan ruang kerja terkadang aku gunakan sebagai terapi stress. Hal-hal semacam buku yang berantakan aku andaikan sebagai beban pikiran. Tugasku sederhana, aku hanya perlu memindahkan buku itu ditempat yang semestinya, dan mengasosiasikan pemindahan buku itu sebagai pelepasan beban pikiran. Jadi semacam ada perjanjian sakral yang berbunyi:

“bersihkan ruang kerjamu seperti kamu membersihkan pikiranmu”.

Jadi, apabila ruang kerjaku sudah tertata rapi secara otomatis alam bawah sadarku mengatakan bahwa ‘semua hal dipikiranku juga sudah tertata rapi’. Ketika semuanya rapi, bukankah sangat menyenangkan untuk memulai sesuatu yang baru.

Baiklah. Sepertinya postingan ini aku harus save.

Selain menata buku, pekerjaan lain saat aku membereskan ruang kerja adalah meyapu lantai. Di tempat ini sangat rawan rayap. Aku harus sesering mungkin memastikan tidak ada rayap yang membuat sarang di berbagai sudut. Tahun lalu komik-komikku menjadi korban karena aku lalai memperhatikan. Dulu semua komik aku letakkan di kardus besar. Kardus-kardus itu aku tumpuk di samping tembok. Terlupakan beberapa bulan dan tersadarkan oleh bunyi suara tikus.

Terlenakan beberapa bulan karena urusan skripsi dan rasa malasku yang membabi buta, Kardus-kardus itu ternyata menjadi sarang tikus dan dimakan rayap sekaligus. Perasaanku dulu nggondok dan pengen teriak ‘Kampreeeeet!!!”. Sebel banget. 

Nasi sudah menjadi bubur, bubur dipake buat sarapan.
Semua komik sudah hancur, saatnya hal itu menjadi pelajaran. Ciyee pantun

Serius. Buku-buku komik favorit menjadi sarapan tikus dan rayap itu ternyata bagiku adalah peristiwa yang cukup serius. Dari peristiwa itu aku belajar untuk lebih peka terhadap lingkungan, belajar lebih sering melongok sudut-sudut yang tak terlihat. Bukankah manusia  memang tidak bisa terlepas dari hal-hal yang tak terlihat. Seberapa sering aku harus berpura-pura happy dihadapan orang lain. Sepertinya bukan hanya aku yang terlalu serius hari ini? 


Mujix
abis ngasih tanda tangan
di komik debut untuk
beberapa teman yang telah membantu.
berasa jadi artis semalem gaes.
Simo, 23 Juni 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar