Selasa, 25 Agustus 2015

Joy

Aku sedang merasa sangat bersemangat. 
Semuanya baik-baik saja. Komik yang baru saja rilis dan nongol di toko buku, Komputer baru, Keluarga yang baik dan sehat wal afiat, beberapa mantan yang bisa terlupakan, dan tentu saja isi dompet yang cukup tebal ini sering membuatku tersenyum-senyum sendiri. Aku siap untuk menghadapi hidupku yang sangat Random ini. 

Yah, mungkin aku juga akan sering bertemu dengan hari-hari yang berat, namun percayalah, hidupku terlalu besar untuk sekedar digagalkan oleh batu sandungan bernama 'satu hari yang berat'. Aku juga siap untuk jatuh cinta dengan seseorang lagi. Seseorang yang saat ini mungkin juga sedang mencari keberadaanku.  

Hihihihihi, intinya sih Aku bersyukur memiliki hidup yang sangat menyenangkan.
Semoga kebahagiaanku ini bisa memberi hari yang cerah untuk orang lain.

Happy Tuesday Friends.  


Mujix
Seseorang yang sedang 
doyan ngemil Tomat
gara-gara kekurangan
vitamin C.
Simo, 25 Agustus 2015.

Rabu, 12 Agustus 2015

Tujuh Poin

Baiklah, aku akan mencoba mendaftar apapun yang ingin aku lakukan abis lebaran ini. 
Here we go!

1. Aku akan jadi komikus yang keren. Bikin komik yang bagus, belajar anatomi, proporsi dan semua hal yang bisa membuat komikku makin bagus. beberapa project yang tertunda harus segera dikelarin. Beberapa project yang masih 'nggantung' harus segera dipastikan. Beberapa hal yang bisa memaksaku untuk menjadi komikus keren adalah membuat komik. Ayo kelarin Lemon Tea! Ayo kelarin komik duet sama Om Fachmy dan Suryo. Ayo up date yang rutin buat komik Si Amed. Usiamu sudah mendekati 27 tahun lhoooh. Gak malu sama John Lennon, Sid Vicious, dan Kurt Cobain. Ayo segera bertindak untuk menjadi komikus yang keren.

2. Belajar 'Stand Up Comedy'. baiklah ini adalah salah satu cara agar aku bisa terus berinteraksi dengan umat manusia. Belum dimulai sih, namun aku berjanji untuk segera menulis naskah/materi Stand Up Comedy, minimal buat satu show lah. Sepertinya aku harus belajar banyak soal seni melawak yang satu ini. Kata Bang Arum sih jalan termudah belajar Stand Up Comedy adalah melalui open mic, enggak tau arti open mic apaan? Tanya Mbah Google!

3. Lebih disiplin. Poin ini berkaitan dengan banyak aktivitas sih. Tapi yang paling diutamakan adalah disiplin dalam membagi waktu. Ntar nanti aku akan coba atur semua waktuku yang random ini agar muat dengan banyak aktivitas. Misalnya: Olahraga, makan-makan sayuran, belajar Al-Quran lagi, belajar bahasa inggris, oh iya dan satu lagi, banyakin Piknik!

4. Cari pacar. Beuuh. Poin yang ini antara bisa dipaksain dan enggak bisa dipaksain. Gimana ya? kalau memang belum berjodoh ya gitu deh. Tapi setidaknya aku tulis di daftar inilah, sekedar mengingatkan aja sih, kalau suatu saat nemu momen-momen dimana harus tancap gas, ya harus segera tancap gas. Basi kalo cuman sok-sok-an jaim yang ending-endingnya saling nge-modus gak jelas, Gituh yah.

5. Bikin Website! Masih galau mau ngebikin website buat Si Amed atau buat aku sendiri. Namun yang pasti ketika website ini lahir, aku bakal terjebak di sebuah aktivitas yang bernama menulis artikel. Syukur-syukur bisa kedaftar AdSense. Rencananya sih mau aku bikin kayak Si Juki atau Sapi Perjaka. Ini adalah project jangka panjang. Perlahan namun pasti harus segera dimulai.

6. Artworks! Iya! Harus segera membuat karya seni yang bukan komik. Bisa desain, ilustrasi, ataupun gambar fan art. Aku terkadang suka heran sama karya-karya ilustrasi teman-teman yang sangat awesome, aku harus mencuri kemampuan mereka, sesegera mungkin. Langkah sederhana ini bisa dimulai dengan me-download karya mereka, terus di-save di folder Referensi. Beneran, aku cowok yang terlalu pede dengan style sendiri dan terkadang suka mengacuhkan referensi. Target manusia yang harus segera aku kepo adalah Sweta Kartika dan K Jati. Gambar-gambar mereka 'kancut' abis!

7. Meditasi tingkat tinggi. Spiritualku harus di-upgrade, Intinya sih gitu. Beribadah, dzikir, tafakur, dan sholat. Aku enggak ingin kalau beribadah  hanya menjadi rutinitas dan formalitas. Enggak papa sih, tapi kalo terus-terusan rasanya kok gimana gitu ya. Kalau dipersentase, keadaan dimana aku sangat enjoy saat sholat hanya terjadi tidak terlalu sering. Terkadang sholat shubuhnya bisa khusyuk, tapi sholat maghribnya pikirannya kemana-mana. Terkadang sebaliknya. Pokoknya harus belajar untuk lebih berdamai dengan diri dan Tuhan Pencipta Semesta Alam.

kurasa tujuh poin itu sudah cukup menantang untuk dilakukan tahun ini. Semoga lebaran tahun depan tujuh poin ini benar-benar terealisasikan.
hmmmm..... (mengambil nafas panjang)
Baiklah, aku sudah mendaftar apapun yang ingin aku lakukan abis lebaran ini. 
Saatnya bergerak. Here we go!

Mujix
beberapa hari ini aku
sedang ngefans sama
lagu-lagu yang mellow semacam
'Payung Teduh' dan 'Bassanova Java'
Simo, 12 Agustus 2015.

Wipiiiii….Wipiiiii….

“Wipiiiii….”
“Wipiiiii….”

Suara bernada kecil aneh itu perlahan semakin mendekat ke arahku yang sedang berkutat mengedit komik dengan Adobe Photoshop. Aku sangat hapal siapa pemilik suara kecil tersebut, aku sangat paham sekali apa maksud suara kecil tersebut.

Pemilik suara kecil itu akhirnya muncul dari balik lemari. Aku menoleh dengan sedikit memincingkan mata, ya, tuyul tengil itu muncul lagi. Tuyul tengil tersebut adalah Gantar, keponakan semata wayang yang saat ini sedang belajar berjalan.

“Wipiii…”

Kaki kecilnya membawa tubuhnya perlahan mendekati kursi tempatku duduk. Kedua tangannya diangkat dengan sedikit oleng kesana kemari bagai pemain sirkus yang sedang menjaga keseimbangan di seutas tali. Wajah gantar selalu berseri-seri, apalagi  jika mengetahui kalau aku sedang mengerjakan sesuatu di depan komputer.

Iya. komputer.

Gantar mengartikan ‘komputer’ sebagai ‘televisi’.  Kata ‘televisi’ ternyata menjadi ‘Wipiii…’ apabila diucapkan oleh seorang ‘bayi doyan ngiler yang sedang belajar berjalan’.

Hahaha. Lucu sekali bukan. Selain kata ‘Wipiii…’ gantar sudah bisa mengucapkan banyak kata  yang lain. Nih aku lampirkan beberapa  yang sering dia ucapkan:

‘nono’:  mrono (ke sana)
‘nenek’: reneng (tidak ada)
‘ndak’: tindak (pergi)
‘uwik’: duwit (uang)

Dan masih banyak yang lainnya, males ah kalau harus nulis semuanya di postingan ini. Beneran males. Jangankan untuk nulis postingan, untuk bangun agak pagi agar bisa mengerjakan komik ‘Lemon Tea’ aja malesnya minta ampun.

Gantar sangat senang apabila aku ajak nongkrong di depan komputer. Kode untuk ‘aktivitas yang menyenangkan’  baginya sangat sederhana.  Kalau dia udah ‘nongol’ sambil berusaha memanjat kursi, sudah dapat dipastikan dia akan ‘mengambil alih’ computer ini dengan paksa.

Terkadang harga diriku serasa tercabik-cabik kala proses ‘sabotase’Gantar terhadap komputer itu berhasil. Rasanya seperti gebetan kamu ditikung sahabat sendiri. Sakit men.

Rasa sakit saat komputer di-sabotase Gantar biasanya terobati saat melihat wajahnya yang berseri-seri ketika aku pertontonkan video wildlife. Kalian tahu video wildlife? Itu lhoooh video yang isinya hewan liar, biasanya berada di libraries-nya program Windows. Apabila Gantar sudah duduk manis di pangkuanku dengan video wildlife yang diputar berulang-ulang mengunakan Gom Player, maka lenyap sudah kabut gelap bernama ‘rasa kusut’ di hidupku pagi itu.

Salah satu cara mengatasi  ‘rasa kusut’ adalah dengan mandi. Mandi keramas ala mbak-mbak seperti iklan shampoo di tipi-tipi itu tuuuh. Semenjak rambutku kribo lagi, waktu mandi adalah waktu dimana prosesi sakral bernama ‘keramas rambut’  itu berlangsung.

Aku berani bertaruh, menunggu  prosesi ‘keramas rambut’ kribo itu selesai, sama lamanya dengan menunggu cewek mandi saat akan berangkat nge-date. Lamaaa banget, sangking lamanya cewek yang mau nge-date itu sudah nikah, punya dua anak, terus anak yang kedua ternyata berambut kribo dan sedang melakukan prosesi ‘keramas rambut’.
Enggak kebayang ya gimana lamanya.

Gantar sangat senang apabila aku ajak nongkrong di depan komputer. Prosesi ‘keramas rambut’ juga menyenangkan, namun masih kalah dengan kebahagiaan Gantar saat berhasil ‘menduduki’ singgasana kursi kerjaku. Aku yakin 100%, sumber kebahagiaan Gantar saat ini salah satunya adalah ‘mengambil alih’ komputerku. 

Enak ya jadi anak kecil. Nemu komputer aja bisa bahagia gituh. Sementara manusia-manusia dewasa di luar sana, berjuang mati-matian untuk bisa sedikit berbahagia. Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya aku adalah salah satu  dari ‘manusia-manusia dewasa yang berada di luar sana’.

Buku bacaan terakhir yang aku baca adalah buku berjudul ‘(Why? Edu Comic Book-Social Science) Philosophy’. Buku itu berwujud komik full warna. Sinopsis Back cover buku ini dibuka dengan pertanyaan  “Mengapa manusia harus hidup?” “Kesenangan dan kesedihan itu apa?”, “Mengapa manusia harus percaya adanya Tuhan?”. 

Ajegile! Bener-bener buku tentang filsafat. Isinya random tapi seru, pembaca diajak untuk belajar berfilsafat dengan cara yang ‘menyenangkan’ melalui media komik.

Iya beneran, menyenangkan dengan tanda kutip. Kalau boleh jujur, dibuat semenyenangkan apapun yang namanya ‘ilmu filsafat’ tetep aja ending-endingnya bikin cekot-cekot kepala. Aku sudah tiga kali membaca buku bertema filsafat dengan media komik, dan hanya ada satu yang cukup nyanthol di pikiran. Sisanya? Sisanya membuatku ‘sinting pusing pala berbie’.
Aw.. Aw.. Aw..

‘(Why? Edu Comic Book-Social Science) Philospohy’ setidaknya lebih baik, komik penuh warna itu sudah aku baca hingga selesai, dari komik tersebut aku belajar cukup banyak tentang hal-hal baru mengenai gagasan besar bernama kebahagiaan. 

Hampir semua filsuf itu  kerjaannya cuman mikir dan mikir gaes.  Di buku ‘Filsuf Jagoan’ karya Fred van Lante dan Ryan Dunlavey, Plato berkesimpulan bahwa kebenaran sejati bersifat abstrak, dan seperti angka yang tidak pernah berubah, kebenaran itu abadi. Seabadi pencarianku akan  ‘sumber kebahagiaan’ yang enggak kelar-kelar.

Pada waktu SD, saat aku berumur 7 tahun, aku sangat menantikan hari minggu. Benar-benar menantikan hari minggu. Bagi aku saat itu, hari minggu adalah sumber kebahagiaan yang tak terkira. Gimana enggak? Dari pagi ampe siang hari isinya film kartun semua. Aku cukup berbangga terlahir sebagai anak 90’an. 

Tahun dimana kamu bisa galau dilemma karena harus memilih untuk menonton serial kartun Dragon Ball atau Crayon Shinchan. Bagiku saat itu, hari minggu adalah sumber kebahagiaan.

Saat ini aku hampir berusia 27 tahun. Jarak 20 tahun dari saat aku duduk di SD ternyata mengubah banyak hal. Hari mingguku saat ini tidak seceria yang dulu. Hari minggu hanya sekedar hari minggu. Di televisi sudah tidak ada lagi serial kartun Dragon Ball ataupun Crayon Shinchan. Hari mingguku saat ini sudah basi, nothing special.  

Hari ini bukan hari minggu. Hari ini adalah hari selasa yang seperti biasanya di tahun 2015. Beneran sekarang sudah jauh dari zaman 90’an.

Sumber kebahagiaanku saat ini sudah bergeser beberapa meter apabila dibandingkan saat aku kecil dulu. Beberapa menit yang lalu aku menonton anime Dragon Ball Super, namun atmosphere-nya beda banget. Bagus sih, tapi enggak se-greget yang dulu. 

Apakah karena usiaku saat ini yang udah hampir 27 tahun? 
Apakah karena aku menontonnya di hari selasa? 
Atau mungkin apakah kerena pemikiranku sudah mulai tergradasi oleh doktrin-doktrin kejam para filsuf? 
Who knows?

“Wipiiiii….”
“Wipiiiii….”


Suara bernada kecil aneh itu lagi-lagi mendekat ke arahku yang sedang menyelesaikan postingan ini. Hmm… Gimana yah, Kurasa aku harus cerdas mengambil potongan-potongan kebahagiaan di sekitar kehidupanku. Nemenin Gantar nongkrong di depan computer juga seru kok. Bahagia? Yah, lumayanlah, dapet mainan imyut yang suka ngilerin tangan. Kalo ilernya udah banyak dan belepotan ditangan, terus mandi deh. Pake prosesi ‘keramas rambut’? iya dong.

Punya rambut kribo tapi enggak dikramasin itu kayak punya pacar tapi enggak diapelin. Sesangar itu? Iya sesangar itu. 

Mujix
Ortuku besok mau balik
ke Bogor buat merantau.
Perasaanku rumit.
Apalagi jika mengingat kalau
aku belum membahagiakan mereka.
Simo, 12 Agustus 2015.

Jumat, 07 Agustus 2015

Letters To You

Hei, Kamu yang ada di situ, apa kabar? Kalau aku enggak salah saat ini kamu pasti sedang berusaha menyelesaikan studi S-1. Aku enggak tahu progressmu udah nyampe mana, tapi yang pasti kita udah lama banget tidak ketemu.

Kalau enggak salah pertemuan terakhir kita adalah di gedung rektorat, aku sedang sok sibuk ngurus ijazah sarjana (yeeeeah, tepuk tangan duluuuh!) dan saat itu kamu sedang mengurus…. Euh… Saat itu kamu sedang mengurus apa sih? Aku ampe lupa nanya. 

Di pertemuan itu ucapan ‘selamat wisuda’ yang kudengar darimu adalah sinyal dari Tuhan bahwa itu momen terakhir kalinya aku melihat kamu. Ternyata memang bener. Semenjak saat itu kita tidak lagi dipertemukan oleh takdir. 

Sedikitpun. Sempurna dan tanpa celah.
Gimana enggak? Setelah itu, beberapa kali aku ke kampus tidak terlihat satupun batang hidungmu.
Beberapa kali sengaja lewat depan rumahmu tak nampak secuilpun ekormu.

Kok enggak SMS atau telfon?

Maaf nomer handphone-mu sudah aku hapus semenjak beberapa tahun yang lalu. Beneran sudah hilang. Kurasa itu cara terbaik agar aku tidak menghubungimu lagi, cara termanis biar aku bisa segera move on dari kamu, dan cara paling kasar supaya aku bisa menjadi kuat karena melepasmu sebagai batu pijakan. 

Nomer handphone-mu seperti pisau bermata dua. Terkadang bisa membuatku bahagia, terkadang bisa membuatku terluka dan tewas seketika. Lebai.

Ketok pintu rumah dong!

Ketok pintu rumah!? Kamu sudah gila!!? aku yang bukan ‘siapa-siapa’ ini sepertinya bakal terlihat ‘konyol’ sekali apabila nekat mengetok pintu rumahmu dengan sembrono. Enggak mungkin aku mengetok pintu rumahmu. Hal paling berani yang sekarang aku lakukan adalah melewati depan rumahmu dengan menggunakan sepeda motor pada kecepatan 30 km/jam. Yah, selambat itu sambil berharap di waktu sepersekian detik itu aku dan kamu bisa bertemu dalam imaji semu yang kian sendu. Ceileh.

Terakhir kali saat kita bertemu, rambutmu makin panjang. Aku sedikit takjub. Enggak nyangka kamu memanjangkan rambut. Sejak pertama kali kita berkenalan, rambutmu selalu sepundak, terkadang malah lebih pendek. Sepundak, sebahu atau sepunggung, buatku yang saat itu sedang dimabuk cinta hal-hal tersebut hanyalah butiran debu di semesta yang luas ini. Ajegile sekali sih.

Sudah satu tahun lebih semenjak pertemuan kita di gedung rektorat. 
Kamu kangen aku gak sih? What!? 
Pertanyaanku terlalu sensitif? 
Ya udah aku ganti deh.

Kamu pernah enggak sih sekilas saja mengingatku? 
Tau durasi 'sekilas' gak? Sekilas itu kira-kira durasinya sama kayak saat terpapar sinar mentari pagi yang datang mendadak menyilaukan mata, lalu kamu menutup mata dengan cepat. 

Ya kira-kira durasinya satu sampai tiga detik. Aku enggak berharap kalau kamu memikirkanku sih. Tapi perlu kamu tahu, aku memikirkanmu setiap hari.

Setiap hari, kamu tahu maksud dari kata ‘setiap hari’? iya, dari senin sampai senin lagi. Tentu saja dengan syarat dan ketentuan berlaku. Hanya saja, akhir-akhir ini ‘syarat dan ketentuan’ itu tidak berlaku lagi. Sejak kapan sih ‘cinta gila’ mau tertib mengikuti ketentuan dan aturan yang terlalu bersyarat. 

Pokoknya, Aku memikirkanmu setiap hari, titik.

Saat ini aku benar-benar ingin bertemu kamu. Aku ingin pamer komik debutku. Gimana enggak ingin pamer, aku tahu kamu juga ingin jadi komikus. Sejak dulu kita berdua ingin jadi komikus. Aku ingat saat kamu berdiri di depan kelas saat berkata dengan tersenyum-senyum bahwa kamu ingin jadi kartunis.

Saat itu harusnya aku meralat ucapanmu kalau ‘kartunis’ yang kamu maksud pasti ‘komikus’. 

Namun apa daya, pemahamanku tentang komik saat itu masih sangat payah. Namun kalau dipikir-pikir lagi, aku rasa tidak ada yang perlu diralat. Biarkan saja semuanya mengalir begitu saja.

Iya, komikku udah jadi nih, satu buku, dan ada nama ‘Mujix’ nongol sebagai nama pengarangnya. Sialan, aku beneran pengen pamer sama kamu. Kamu masih bikin komik? Aku tentu saja masih membuat komik. Hanya saja saat ini aku sedang terjebak dalam titik jenuh yang paling klimaks. 

Semenjak komik debutku kelar, aku benar-benar kehilangan alasan untuk membuat komik lagi. Hari ini entah sudah hari yang keberapa dimana aku hanya bengong di depan meja gambar dan tidak melakukan apapun.

Tidak melakukan apapun, Tidur lebih sore, bangun lebih siang, kemudian berpindah ke meja komputer untuk membaca komik Detective Conan atau sekedar memutar lagu-lagu kesayangan. Hari-hariku akhir-akhir ini seperti itu.  Aku sering terbangun ditengah malam, menyeduh teh pahit di mug kesayangan kemudian duduk di beranda hanya untuk bengong. 

Kehilangan alasan itu seperti kehilangan jiwa. Kehilangan alasan itu seperti menunggu balasan pesan singkat dari kamu. Tidak melakukan apapun namun capek  sendiri.

Menurutmu apa yang harus aku lakukan?
Aku terkadang berharap ada pesan singkat dari kamu masuk ke handphone-ku. Sekedar menanyakan kabarpun tidak masalah. Asalkan itu dari kamu.
Bukan dari Indosat.

Benar-benar berharap ada pesan singkat dari kamu. Dan hingga hari ini pesan singkat itu tidak pernah datang. Sepertinya aku salah berharap akan ada pesan singkat dari nomer handphone yang telah aku hapus semenjak beberapa tahun yang lalu. 

Seperti aku salah berharap bahwa bahagia itu bisa diciptakan dalam sekejap mata asalkan aku mau mempercayainya.

Hei, Kamu yang ada di situ, apa kabar? 
Kamu belum menjawab pertanyaanku. Keadaanku saat ini sangat payah.
Alasan-alasan yang kuharapkan datang agar aku bisa terus melangkah itu belum juga muncul. 
Saat ini yang bisa aku lakukan hanya menunggu, setidaknya sampai sang takdir memaksaku dengan kasar seperti saat Dia memaksaku untuk jatuh cinta kepadamu.  
Memaksaku dengan kasar seperti saat dia memaksamu untuk hadir di hidupku.

Kira-kira seperti itu. Kapan-kapan aku akan menulis surat lagi buat kamu. Semacam surat cinta berisi curhatan oleh 'komikus berambut kribo' ini agar dia tidak gila.
Empat kali empat enam belas, sempat tidak sempat harus dibalas. 
Euuuh... tapi enggak sempet membalas juga gak papa sih.
Bagimu, aku mah apa atuh. Sampai jumpa.


Mujix
Aku bohong.
Aku tahu kok kalau
Kamu udah sampai
Di tahap ujian pendadaran.
Selamat ya. Miss you.

Simo, 7 Agustus 2O15