Jumat, 07 Agustus 2015

Letters To You

Hei, Kamu yang ada di situ, apa kabar? Kalau aku enggak salah saat ini kamu pasti sedang berusaha menyelesaikan studi S-1. Aku enggak tahu progressmu udah nyampe mana, tapi yang pasti kita udah lama banget tidak ketemu.

Kalau enggak salah pertemuan terakhir kita adalah di gedung rektorat, aku sedang sok sibuk ngurus ijazah sarjana (yeeeeah, tepuk tangan duluuuh!) dan saat itu kamu sedang mengurus…. Euh… Saat itu kamu sedang mengurus apa sih? Aku ampe lupa nanya. 

Di pertemuan itu ucapan ‘selamat wisuda’ yang kudengar darimu adalah sinyal dari Tuhan bahwa itu momen terakhir kalinya aku melihat kamu. Ternyata memang bener. Semenjak saat itu kita tidak lagi dipertemukan oleh takdir. 

Sedikitpun. Sempurna dan tanpa celah.
Gimana enggak? Setelah itu, beberapa kali aku ke kampus tidak terlihat satupun batang hidungmu.
Beberapa kali sengaja lewat depan rumahmu tak nampak secuilpun ekormu.

Kok enggak SMS atau telfon?

Maaf nomer handphone-mu sudah aku hapus semenjak beberapa tahun yang lalu. Beneran sudah hilang. Kurasa itu cara terbaik agar aku tidak menghubungimu lagi, cara termanis biar aku bisa segera move on dari kamu, dan cara paling kasar supaya aku bisa menjadi kuat karena melepasmu sebagai batu pijakan. 

Nomer handphone-mu seperti pisau bermata dua. Terkadang bisa membuatku bahagia, terkadang bisa membuatku terluka dan tewas seketika. Lebai.

Ketok pintu rumah dong!

Ketok pintu rumah!? Kamu sudah gila!!? aku yang bukan ‘siapa-siapa’ ini sepertinya bakal terlihat ‘konyol’ sekali apabila nekat mengetok pintu rumahmu dengan sembrono. Enggak mungkin aku mengetok pintu rumahmu. Hal paling berani yang sekarang aku lakukan adalah melewati depan rumahmu dengan menggunakan sepeda motor pada kecepatan 30 km/jam. Yah, selambat itu sambil berharap di waktu sepersekian detik itu aku dan kamu bisa bertemu dalam imaji semu yang kian sendu. Ceileh.

Terakhir kali saat kita bertemu, rambutmu makin panjang. Aku sedikit takjub. Enggak nyangka kamu memanjangkan rambut. Sejak pertama kali kita berkenalan, rambutmu selalu sepundak, terkadang malah lebih pendek. Sepundak, sebahu atau sepunggung, buatku yang saat itu sedang dimabuk cinta hal-hal tersebut hanyalah butiran debu di semesta yang luas ini. Ajegile sekali sih.

Sudah satu tahun lebih semenjak pertemuan kita di gedung rektorat. 
Kamu kangen aku gak sih? What!? 
Pertanyaanku terlalu sensitif? 
Ya udah aku ganti deh.

Kamu pernah enggak sih sekilas saja mengingatku? 
Tau durasi 'sekilas' gak? Sekilas itu kira-kira durasinya sama kayak saat terpapar sinar mentari pagi yang datang mendadak menyilaukan mata, lalu kamu menutup mata dengan cepat. 

Ya kira-kira durasinya satu sampai tiga detik. Aku enggak berharap kalau kamu memikirkanku sih. Tapi perlu kamu tahu, aku memikirkanmu setiap hari.

Setiap hari, kamu tahu maksud dari kata ‘setiap hari’? iya, dari senin sampai senin lagi. Tentu saja dengan syarat dan ketentuan berlaku. Hanya saja, akhir-akhir ini ‘syarat dan ketentuan’ itu tidak berlaku lagi. Sejak kapan sih ‘cinta gila’ mau tertib mengikuti ketentuan dan aturan yang terlalu bersyarat. 

Pokoknya, Aku memikirkanmu setiap hari, titik.

Saat ini aku benar-benar ingin bertemu kamu. Aku ingin pamer komik debutku. Gimana enggak ingin pamer, aku tahu kamu juga ingin jadi komikus. Sejak dulu kita berdua ingin jadi komikus. Aku ingat saat kamu berdiri di depan kelas saat berkata dengan tersenyum-senyum bahwa kamu ingin jadi kartunis.

Saat itu harusnya aku meralat ucapanmu kalau ‘kartunis’ yang kamu maksud pasti ‘komikus’. 

Namun apa daya, pemahamanku tentang komik saat itu masih sangat payah. Namun kalau dipikir-pikir lagi, aku rasa tidak ada yang perlu diralat. Biarkan saja semuanya mengalir begitu saja.

Iya, komikku udah jadi nih, satu buku, dan ada nama ‘Mujix’ nongol sebagai nama pengarangnya. Sialan, aku beneran pengen pamer sama kamu. Kamu masih bikin komik? Aku tentu saja masih membuat komik. Hanya saja saat ini aku sedang terjebak dalam titik jenuh yang paling klimaks. 

Semenjak komik debutku kelar, aku benar-benar kehilangan alasan untuk membuat komik lagi. Hari ini entah sudah hari yang keberapa dimana aku hanya bengong di depan meja gambar dan tidak melakukan apapun.

Tidak melakukan apapun, Tidur lebih sore, bangun lebih siang, kemudian berpindah ke meja komputer untuk membaca komik Detective Conan atau sekedar memutar lagu-lagu kesayangan. Hari-hariku akhir-akhir ini seperti itu.  Aku sering terbangun ditengah malam, menyeduh teh pahit di mug kesayangan kemudian duduk di beranda hanya untuk bengong. 

Kehilangan alasan itu seperti kehilangan jiwa. Kehilangan alasan itu seperti menunggu balasan pesan singkat dari kamu. Tidak melakukan apapun namun capek  sendiri.

Menurutmu apa yang harus aku lakukan?
Aku terkadang berharap ada pesan singkat dari kamu masuk ke handphone-ku. Sekedar menanyakan kabarpun tidak masalah. Asalkan itu dari kamu.
Bukan dari Indosat.

Benar-benar berharap ada pesan singkat dari kamu. Dan hingga hari ini pesan singkat itu tidak pernah datang. Sepertinya aku salah berharap akan ada pesan singkat dari nomer handphone yang telah aku hapus semenjak beberapa tahun yang lalu. 

Seperti aku salah berharap bahwa bahagia itu bisa diciptakan dalam sekejap mata asalkan aku mau mempercayainya.

Hei, Kamu yang ada di situ, apa kabar? 
Kamu belum menjawab pertanyaanku. Keadaanku saat ini sangat payah.
Alasan-alasan yang kuharapkan datang agar aku bisa terus melangkah itu belum juga muncul. 
Saat ini yang bisa aku lakukan hanya menunggu, setidaknya sampai sang takdir memaksaku dengan kasar seperti saat Dia memaksaku untuk jatuh cinta kepadamu.  
Memaksaku dengan kasar seperti saat dia memaksamu untuk hadir di hidupku.

Kira-kira seperti itu. Kapan-kapan aku akan menulis surat lagi buat kamu. Semacam surat cinta berisi curhatan oleh 'komikus berambut kribo' ini agar dia tidak gila.
Empat kali empat enam belas, sempat tidak sempat harus dibalas. 
Euuuh... tapi enggak sempet membalas juga gak papa sih.
Bagimu, aku mah apa atuh. Sampai jumpa.


Mujix
Aku bohong.
Aku tahu kok kalau
Kamu udah sampai
Di tahap ujian pendadaran.
Selamat ya. Miss you.

Simo, 7 Agustus 2O15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar