Minggu, 11 Oktober 2015

Ksatria Saiya Super Dalam Legenda. Part I

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan (nasib) suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan (nasib) yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S.Ar-Ra’du, 11)

***
Kutipan dari Al Quran itu aku temui di sebuah buku motivasi. Aku yang sore itu kehabisan buku baru untuk dibaca, terpaksa mengobrak-abrik rak buku di ruang kerja. Aku menemukan buku itu setelah berjibaku dengan debu dan kotoran lainnya. Buku yang berjudul ‘The 21 Principles To Build and Develop Fighting Spirit’ itu sudah lama terpajang di rak. 

Ini dia buku yang aku baca kemarin.
Bagus kok sebagai pengisi waktu luang.
(Sumber: www.wuryanano.com)


Sepertinya buku ini sumbangan untuk perpustakaan Tumpi, yang entah bagaimana bisa nyasar dan nyelip di ruang kerjaku. Ah. Ya udah deh. Aku sedang senggang. Aku akhirnya mulai membaca halaman demi halaman. Beneran. Momen paling bahlul hari itu aku mencoba sok serius membaca buku motivasi.

Hari-hari kemarin berlalu begitu saja. Ada beberapa lubang di hatiku yang belum bisa ditambal dengan apapun. Beneran apapun. Memutuskan Move On dari masa lalu ternyata memang mengakibatkan beberapa sumber daya di sanubari menghilang. Pemuda harapan bangsa adalah pemuda yang gampang Move On, itu yang selalu aku pikirkan ketika melihat teman-teman FB berfoto dengan pacar-pacar barunya.

Beneran. Mereka sudah bergonta-ganti pacar bahkan ampe mau merid segala, sedangkan aku masih di sini, membenahi hati yang berserakan untuk kuberikan pada calon istriku nanti. Hati-hati yang tinggal serpihan ini harus aku susun lagi. Sialan, Beberapa lubang ini harus segera aku tambal. Sebelum isinya bocor dan luber kemana-mana.

Caranya gimana ya? Sebenarnya aku agak bingung. Ada masa-masa di mana aku menambal hati ini dengan cara yang salah. Ketika masa-masa itu tiba, produktifitas dalam berkarya menurun. Jadi jarang menggambar, malas menulis, Tidak melakukan apapun hanya diam menunggu perubahan itu datang.

Hari-hari seperti itu adalah hari-hari di mana manusia bergerak layaknya sebuah robot yang diprogram. Ketika keinginan untuk berubah itu belum muncul, manusia tersebut hanya akan menjadi mayat hidup tanpa ambisi. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hari-hari tanpa ambisi tersebut.

Niat kecil itu sepertinya di-amini oleh alam semesta.  

Alam semesta memang aneh. Ketika keinginan itu terpancar lewat hati, jawaban entah dari mana itu akan datang tiba-tiba. Siapa sangka solusi itu datang dari prakata buku motivasi yang sudah lama teronggok di rak buku.

Aku enggak akan mereview buku karya Mas Wuryanano, sang mindset motivator tersebut. Baru sampai baca di halaman prakata, langsung dihantam dengan kedahsyatan kutipan Al Quran. Ampuuun deh!  Ini buku Motivasi atau kitab suci sih!? Buku motivasi itu kemudian aku tutup, enggak ada yang perlu dibaca lagi. Semua pertanyaanku beberapa hari ini terjawab sudah oleh kutipan tersebut.

Maaf Mas Wuryanano, aku enggak baca sampai selesai. Mungkin aku rapel lain kali. Namun yang pasti bukumu keren Mas. Soalnya aku belum pernah bikin buku motivasi kayak njenengan. Udah keren terus best seller lagi. Ampun deh.

Kutipan dari ayat Al Quran itu menegaskan tentang substansi dari perubahan.

Perubahan. Perubahan paling epic yang paling aku ingat di sepanjang hidupku adalah transformasi Songoku saat menjadi manusia saiya super. Iya. Obrolan kita melenceng sedikit ke buku komik Dragon Ball karya Akira Toriyama. Setting adegan tersebut berada di planet Namec yang tengah dilanda konflik. Pertempuran final antara tokoh utama dengan tokoh penjahat keji bernama Frieza tengah memasuki tahap akhir. 

Frieza dan perubahannya
(Sumber: www.mangatherapy.com)


Ah. Secara karakter aku sangat menyukai Frieza. Jahat. Kejam. Sadis. Dan tentu saja sombong. Karakter antagonis paling keren di sepanjang komik ini dibuat.

Perubahan wujud Songoku menjadi ‘Ksatria Saiya Super Dalam Legenda’ (begitu yang sering diucapkan oleh Frieza), merupakan manifestasi (artine opo ki?) dari sifat manusia yang ingin melampaui batas kemampuannya. Seorang manusia biasanya bisa berubah dikarenakan dua faktor.

Faktor pertama, keadaan yang akan merubah manusia tersebut. Faktor kedua, manusia yang merubah keadaan tersebut. Pilihannya cuman antara ‘merubah’ atau ‘dirubah’.

Kasus dari perubahan Songoku menjadi Saiya Super, secara umum sebenarnya cenderung dekat dengan faktor pertama, 'keadaan'-lah yang merubahnya menjadi Saiya Super (terlepas dari fakta yang lain bahwa dia berlatih terus menerus untuk menjadi lebih kuat).

Drama demi drama bergulir, Pikkoro tertembak tenaga dalam tepat di jantung, Kuririn tewas diledakkan Frieza tak lama kemudian. Amarah Songoku memuncak dan tak terbendung lagi. Manusia saat terdesak, akan ada kekuatan tersembunyi yang ia keluarkan, dan saat itulah ‘Ksatria Saiya Super Dalam Legenda’ muncul.

Dragonball: Frieza Saga
(Sumber: https://www.tumblr.com/search/frieza-saga)



Bercermin dari babak Frieza saga, aku mendadak menjadi filsuf amatir (yang ganteng). Apakah manusia yang ingin menjadi kuat, harus dirubah dengan drama-drama yang menyedihkan? Bukankah itu sangat mengenaskan, ketika semesta bermain-main dengan hati nurani demi perubahan yang baik untuk masa depan nanti? Aku jadi berpikir ulang mengenai seberapa kuat diriku sendiri saat aku menjalani 'hari-hari di mana manusia bergerak layaknya sebuah robot'.

Hari-hari kemarin berlalu begitu saja. Beberapa lubang di hatiku yang belum bisa ditambal ini harus segera diisi oleh sesuatu. Di saat-saat seperti itu aku terkadang berharap ada drama yang menyedihkan datang dan mengubah hidupku untuk selamanya.

Namun, drama yang aku inginkan itu tidak pernah datang. Sepertinya aku harus berharap pada hal lain. Hal-hal yang aku mimpikan siang dan malam. hal-hal yang selama ini menopangku saat kesusahan. Mungkin impian. Atau cita-cita yang belum terlaksana. Atau cinta yang entah ada dimana. Semua hal yang berkecamuk di pikiran itu mengingatkan aku akan faktor kedua dari suatu perubahan.

Faktor kedua, manusia yang merubah keadaan tersebut. Aku harus merubah keadaan ini. Aku memutuskan untuk mencoba menjadi sosok ‘moto picek, kuping budhek’ terhadap apapun yang ada di hati. Salah satu cara untuk merubah keadaan tersebut adalah merapikan agenda. Di ruang kerjaku sekarang tertempel  Styrofoam warna merah untuk menempel apapun. Baik itu daftar kegiatan, atau hal-hal yang kurasa penting untuk dilakukan.

Perlahan namun pasti perubahan demi perubahan sudah aku lakukan. Total ada 15 list yang harus aku selesaikan. Dan udah tercentang 5 poin. Lumayan. Styrofoam warna merah itu aku jadikan pemicu untuk terus berubah. Media pengingat tentang mimpi-mimpi yang belum selesai. Tokoh antagonisku saat ini adalah diri sendiri. Rasa malas dan enggan terkadang sama kejamnya dengan Frieza. Tenaga dalamnya yang sangar bisa dengan mudahnya menghancurkan impianmu. Hari-hari kemarin berlalu begitu saja. 

Biarlah yang kemarin tetap menjadi hari kemarin. Aku akan menjalani hari-hariku sekarang dengan berusaha menjadi ‘Ksatria Saiya Super Dalam Legenda’. Hahaha. Enggak bisa ngebayangin ada cowok kribo berubah menjadi Saiya Super. Cerita ini akan berlanjut di postingan selanjutnya.

Mujix
Nulis, nulis, nulis
dan terus menulis.
Gokil ternyata nulis itu
sangat susah! Argghh!!
Simo, 11 Oktober 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar