Sabtu, 26 Desember 2015

Balada Telur yang Berpindah

Yon! Kowe wingi nggoreng ndog’e sopo?” Tanya simbahku siang ini.

Heh. Aku sedikit bingung. Bentar-bentar. Telur!? Ingatanku kembali ke hari dimana aku terakhir kali menggoreng telur. Hmm... Kapan ya? Oh... Iya... Kemarin malam. 

“Ndog? Wingi aku nggoreng ndog sing tak tuku neng nggone Mbokde Marni, Mbah!” jawabku setelah benar-benar memastikan apa yang sudah terjadi. Kemarin malam memang aku menggoreng telur. Nah. Pertanyaan berikutnya, ada apa dengan telur? kenapa harus telur? duluan mana, ayam atau telur? Terus, kenapa para pria di dunia hanya memiliki dua 'telur'? 

“Ngopo to mbah!? Kok takon soal ndog” Akhirnya aku menanyakan tentang apa yang terjadi kepada simbah.

Siang itu simbah mengeluhkan ‘perilaku kurang terpuji’ anggota baru keluarga kami. Perilaku kurang terpuji  itu sebenarnya hanya 'menyembunyikan makanan'. Iya. Hanya menyembunyikan makanan, agar aku (atau simbah) tidak ikut mengambil bagian makanan tersebut. Perilaku kurang terpuji itu sebenarnya bagiku gak buruk-buruk amat, tapi bagi simbah, perilaku kurang terpuji  itu mempunyai banyak sekali arti. Bukan perilaku yang buruk bukan? Walaupun kita satu keluarga. Nah. Entah sejak kapan keadaan per-lauk pauk-an keluarga kami sangat absurd sekali. 

Sebenarnya aku agak ragu untuk menulis postingan ini. Mau ditulis, kok kasusnya sepele banget. Enggak ditulis, namun kok rasanya ada yang kurang. Aku kembali mengingat apa tujuan saat membuat blog ini. Oke, apabila fungsi blog ini adalah menyimpan serpihan kenangan penting di seluruh hidupku, maka aku harus menulis postingan ini. Catat, aku menulis postingan ini dengan sadar. Tentu saja setelah mempertimbangkan banyak hal. Oke, kita kembali ke permasalahan ‘telur’, kenapa para pria di dunia hanya memiliki dua 'telur'? Ups sorry.

Sudah sejak lama keluarga kami selalu meletakkan telur di bagian rak atas 'benda mirip lemari yang bisa membuat dingin banyak hal di dalamnya', untuk memudahkan pengucapan kita sebut saja benda itu dengan nama 'kulkas'. Kurasa sejak pertama kali memiliki kulkas. Siapapun yang memiliki telur mentah, otomatis akan diletakkan di tempat itu. Keluarga kami tak selalu membeli telur, kadang kami sering mengambil benda itu dari ayam-ayam peliharaan simbah. Seumur hidup di keluarga kami sepertinya belum pernah ada masalah yang serius tentang makanan.

Ah. Paling sesekali aku bosan sama menu yang bernama 'Jangan Gori'. Kalian tahu Jangan Gori? 'Jangan' artinya 'Sayur'. Kalau 'Gori' adalah istilah untuk menyebut buah Nangka muda. Ah. Simbah sangat suka membuat Jangan Gori. Soalnya sekali memasak sayur ini, seminggu lebih jangan harap ada pergantian menu untuk sayur, Sekali dimasak, akan dihangatkan setiap hari. Kenapa aku malah bercerita soal Jangan Gori sih!? kembali ke topik telur.

Keberadaan telur di keluarga kami sejak dulu sangat sederhana. Kalau ada ya digoreng, telur habis ya beli lagi. Kalau ingin beli tapi enggak punya uang, ya udah kita nungguin ayam jantan tetangga horny, terus bersenggama dengan ayam nenek, hamil, terus bertelur deh. Selalu seperti itu. Intinya sih, telur hanya sebuah ‘telur’. Titik.

“Ngene Yon, ndog sing eneng kulkas mau kok reneng!? Opo dipindah maneh yo!?” ujar simbah sambil memasang muka serius.

Duh. Kenapa permasalahan sekecil ini harus merisaukan simbah sih. Aku memperhatikan raut wajah simbah yang sudah keriput. Rambutnya yang sudah memutih,  kerutan-kerutan di sekujur tubuhnya. Sial. Hingga hari ini aku belum bisa membahagiakan beliau.

Jika beliau berada di sebuah keadaan ekonomi yang mapan, pastilah simbahku tidak memikirkan benda bernama 'telur yang berpindah'. Keadaan ‘ekonomi mapan’ yang kumaksud di postingan ini benar-benar mapan, kalo Anthony Robbins, bilang sih ‘bebas secara finansial’, yaitu suatu kondisi keuangan dengan pencapaian investasi yang cukup banyak, relatif aman, dan hasilnya mencukupi kebutuhan kita untuk hidup dengan gaya hidup yang kita inginkan.

Jadi, motivasi simbah curhat padaku siang ini dikarenakan telur yang berpindah. Pindah kemana? yang jelas bukan pindah ke hatimu. Awalnya telur tersebut pindah ke laci di kulkas bagian bawah. Sejak anggota baru di keluargaku itu datang, banyak hal yang berubah. Banyak banget. Ada yang berubah menjadi lebih baik, dan ada juga yang berubah menjadi lebih buruk. Aku tidak akan menuliskan semuanya, di postingan ini aku hanya membicarakan telur yang menjadi momokku hari ini. 

Aku tidak sadar saat pertama kali tempat telur itu berpindah. Beneran. Setahuku, kalau rak kulkas tidak ada telur, berarti telurnya telah habis. Fakta kalau telur itu pindah tempat aku ketahui dari simbah. Daripada dipindah, mungkin kosa kata yang lebih tepat untuk menggambarkan keadaan itu adalah ‘disembunyikan’. Benar, telur itu disembunyikan agar aku (dan nenek) tidak bisa ikut memakannya. Duh. Semoga saja ini hanya asumsi pikiran burukku.

Beberapa waktu berlalu semenjak perpindahan pertama lokasi telur. Ternyata perpindahan itu memang disengaja. Lokasi dari rak atas berpindah ke laci kulkas bagian bawah, dan biasanya ditutup dengan sesuatu. Entah itu plastik hitam, sayur mayur, atau apapun. Perpindahan itu adalah sinyal sederhana yang mudah untuk aku pahami. 

Sinyal itu aku artikan dengan makna 'Heh Kribo!! Ini Telurku aku beli dengan uang kerja keras!! kamu tidak aku ijinkan untuk makan telur ini!! Aku enggak rela!! aku akan menguasai dunia dengan telur ajaib ini!!! Gyahahahahaha!!!!!"

Maaf. Sepertinya memang terlalu berlebihan. Pantaslah kalo kemarin ada seseorang anonim yang memberi komen 'lebai amat luh' di blog ini.

Oke. Sejak saat itu aku hampir tidak pernah mengambil telur yang berada di kulkas. Iya. Hampir. Kecuali kalau di tengah malam buta tiba-tiba ada moster bernama rasa lapar yang mendera. Sesekali aku colong deh telur itu. Anggap saja upah buat aku yang selalu repot menjaga keponakan.

Sejak saat itu aku selalu membeli telurku sendiri. Ingin makan telur, langsung deh meluncur ke warung sebelah. Begitu terus. Aku, Simbah, ortu, dan adik di Bogor sudah hapal perilaku kurang terpuji tersebut. Namun aku mencoba untuk memakluminya. Terkadang, perilaku kurang terpuji tersebut kami jadikan guyonan dan media pengingat untuk diri sendiri.

Seiring berjalannya waktu aku sudah tak terlalu menggubris telur yang berada di kulkas laci bawah. Beneran. Fokusku sudah teralihkan oleh kegiatan dan kerjaan yang sangat bejibun. Kerjaan yang akhir-akhir ini baru kelar adalah workshop komik di acaranya UNS pertengahan desember ini, kerjaan sebelumnya adalah lay out majalah kreasi, dan beberapa kesibukan lain seperti up date komik si Amed. Oh iya. Aku udah bikin akun Instagram juga. Udah Follow belum? Segera deh meluncur ke link ini: Instagramnya Mujix

Hidupku akhir-akhir ini sangat menyenangkan.

Dan hidupku yang sangat menyenangkan ini terusik lagi gara-gara permasalahan telur.

“ Uwis mbah, rasah dipikir. Yen mung endog kan iso tuku maneh” aku mencoba menenangkan simbahku yang sedang risau. Iya. Risau gara-gara telur.

“Yo ora ngono Yon, mosok karo keluarga dewe wae tegel! Ket mbiyen kok kowe disio-sio terus karo dek’e!” ujar simbah sambil memandangku dengan penuh rasa khawatir.

Duh. Sepertinya aku harus meluruskan banyak hal. Beberapa peristiwa (gak penting) di masa lalu sepertinya terlalu berlebihan bagi simbah. Aku terus mencoba memberi pengertian bahwa tidak ada siapapun yang diintimidasi. Lagian itu hanya salah satu masalah bernama telur. Bukan supermie, gulai kambing, lele, ayam, dan semacamnya. Bujubuset! sepertinya peristiwa (gak penting) di masa lalu itu selalu berhubungan dengan makanan! Apa salahku Tuhaaan!!!

Jadi intinya, telur itu lagi-lagi berpindah tempat. Dari rak kulkas bagian atas, menuju laci kulkas bagian bawah, dan sekarang berpindah lagi entah dimana. Simbah bilang, telur itu dipindah lagi gara-gara aku mengambil telur milik anggota keluarga baru tersebut. Yah semacam, tertuduh menjadi pencuri telur gituh. Duh. Semoga saja ini hanya asumsi pikiran buruk simbahku.

Dari peristiwa ini aku memahami satu hal. simbah ternyata sangat sayang kepadaku. Beliau ternyata diberi tawaran untuk tinggal di salah satu rumah milik anaknya yang lain, yaitu tanteku. Sepertinya simbah khawatir insiden telur ini akan merembet ke banyak hal yang lain. Simbahku di masa tuanya masih memegang teguh prinsip,  keluarga yang baik adalah keluarga yang bisa berbagi apapun.

“Yon, suk maneh yen kowe tuku lawuh ojo akeh-akeh. Tukuo terus panganen dewe wae.” Tegas simbah sambil beranjak menuju dapur. Sebuah nasihat yang sangat dramatis. Sepertinya beliau mengingat kalau aku sering membeli lauk pauk dan menaruhnya di meja makan. 

Ya, aku kalau membeli sesuatu entah itu ayam goreng, sate, ataupun bubur kacang hijau, selalu untuk semua anggota keluarga. Catat. SEMUA ANGGOTA KELUARGA. Apakah aku menyembunyikannya di suatu tempat? Tidak! Aku selalu menaruhnya di meja makan dan menawarkannya ke semua orang. Aku juga memegang teguh prinsip, keluarga yang baik adalah keluarga yang bisa berbagi apapun. Apalagi itu cuman makanan.

Nasihat terakhir simbahku tersebut sebenarnya sangat ironis. beliau khawatir, Prinsip yang teguh itu sepertinya  mulai terkikis oleh benda bernama ‘telur yang berpindah tempat’. Aku merasa akhir-akhir ini 'keluarga yang baik' itu hanya omongan muluk-muluk di pelajaran moral saat mengeyam bangku sekolah. Simbah meninggalkanku dengan sedikit kebimbangan. Itu bukan sebuah nasihat yang bijak. Aku termenung beberapa saat mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Telur bagi nenekku mungkin sebuah elemen yang mewakili rasa tenggang rasa dan saling berbagi di sebuah keluarga. Telur bagi anggota keluarga baruku itu mungkin memiliki makna yang lebih rumit. Apa ya? Aku masih belum bisa mendeskripsikan makna telur dari sudut pandang anggota keluarga baruku itu. Mungkin sama berharganya dengan uang. Atau mungkin lebih bernilai lagi, hingga membuat telur itu beberapa kali berpindah tempat.

Apapun itu, telur bagiku tetaplah telur. Sebuah benda bulat yang sangat enak untuk digoreng atau dicampur dengan mie rebus. Hanya saja makna telur untukku hari ini sepertinya sedikit mengalami sedikit pembiasan. Pembiasan untuk membenarkan untuk menuliskan sikap kurang terpuji orang lain.

Maaf. Sepertinya gara-gara telur tersebut aku juga harus segera berkaca. Setidaknya untuk membenahi sikap-sikap kurang terpujiku yang mungkin mengganggu orang lain. Gituh.

Mujix
beberapa menit kemudian
nenek berteriak dari dapur.
Beliau menemukan lokasi
tempat dimana telur itu berada.
Di kaleng roti dibawah meja
dekat kotak bumbu.
Eurekaa, Mbaah!! Eurekaaa!!!
Simo, 26 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar