Jumat, 11 Desember 2015

Bangun (dan) Tidur

Pagi ini terulang lagi. Bahkan lebih buruk. Aku memandang ke semua penjuru kamar tidurku. Brengsek. Pagi hari yang aku idam-idamkan telah lewat sekali lagi. Mataku melirik ke jendela, melihat rona dan raut muka semesta di luar sana, kurasa saat ini sudah jam 8 pagi. Aku membalik selimut tebal itu perlahan, tangan ini tiba-tiba menyenggol benda keras yang berlapis kaca. Benda itu smartphone. Smartphone-ku yang seharusnya tergeletak di meja samping pintu kamar. Kenapa bisa ada di tempat tidur!? Untung enggak pecah gara-gara kedudukan pantat!?

Samar-sama aku mulai bisa mengingat sesuatu. Oh iya, sepertinya tadi aku sempat bangun jam 5 dan berjalan gontai menuju meja untuk mematikan alarm dari  smartphone. Bisa dibilang aku benar-benar telah bangun pagi walaupun hanya beberapa detik.

Aku menghela nafas panjang. Sepertinya aku harus segera wudhu dan sholat shubuh dengan waktu yang sangat terlambat. Sepertinya aku harus merelakan harga diri untuk menyebut sholat shubuh-ku kali ini dengan nama ‘sholat dua rekaat di jam delapan pagi’.

Jadi secara garis besarnya, kali ini aku sedang memperjuangkan hal yang bernama ‘bangun pagi’. Iya bangun pagi. Pagi yang aku maksud benar-benar pagi, sekitar jam 5.00 WIB. Beberapa hari di pertengahan bulan Desember ini sudah aku habiskan untuk mengatur strategi memperbaiki kualitas hidup. Kualitas hidup yang mana? Ya kualitas hidupku sebagai komikus lhah!? Oh. Jadi sekarang udah benar-benar niat jadi komikus?

Beneran. Aku semakin berniat menjadi komikus yang memiliki kualitas hidup seperti para orang-orang besar di luar sana. Bukan rahasia umum lagi, beberapa komikus memiliki pola hidup yang random. Sepertinya terlalu spesifik jika aku menyempitkan permasalahan tersebut hanya di profesi yang bernama komikus. Untuk sementara aku akan mengganti kata ‘komikus’ menjadi ‘orang biasa’.
Bukan rahasia umum lagi, beberapa orang biasa (khususnya aku) memiliki pola hidup yang random. Aku ambil contoh yang sederhana, bangun tidur. Aku adalah sosok-sosok manusia yang suka bangun tidur dengan seenaknya. 

Terkadang ada hari dimana aku bisa bangun jam 4.30 WIB, bisa sholat shubuh tepat waktu, menyempatkan diri untuk jogging memutari kampung, bahkan bantuin nenek memasak di dapur. Bangun di waktu seperti itu sangat menyenangkan. Tantangannya hanya satu, kalahkan nafsu tidurmu dan segeralah pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Di saat-saat seperti itu aku merasa menjadi manusia yang benar-benar manusiawi. Aku merasa bangga telah berhasil mepecundangi matahari yang bangun terlambat di ujung timur sana.

Namun percayalah, terkadang datang pula hari dimana nafsu tidur tidak bisa dikalahkan oleh apapun. Misalnya pagi ini, nafsu tidur itu mebelengguku dengan sangat nikmat. Terlambat bangun tidur membuatku belajar banyak hal.  Aku memahami beberapa ilmu baru, tubuh dan pikiran tidak pernah bisa dibohongi. Rata-rata manusia tidur membutuhkan waktu 7 sampai 8 Jam perhari. Seandainya aku tidur jam 11.00 WIB, waktu yang ideal untuk bangun sekitar tidur adalah jam  8.00 WIB. 

Beberapa penelitian mengungkapkan waktu yang tepat untuk tidur adalah jam 22.00 WIB. Aku malas mencari sumber penelitian tersebut. Googling sendiri ya. Tadi malam aku pergi ke kamar  tidur jam 02.00 WIB, tertidur beberapa puluh menit setelah capek  menemani pikiran nglayap kemana-mana.

Akibat tidur terlalu malam adalah badan yang capek dan tidak memiliki daya konsentrasi tinggi untuk bekerja. Hari ini aku bangun jam 08.00 WIB, aku benar-benar mulai bisa bekerja sekita jam 10.00 WIB. Dua jam aku habiskan untuk menata berbagai agenda di kepala dan mengaplikasikannya di ruang kerja. Dan pola ini terus terulang di beberapa bulan terakhir, dengan berbagai alasan yang sangat mudah untuk dibenarkan oleh diri sendiri.

Aku meyakini kalau polaku dalam beristirahat sangat payah. Makanya sudah dua minggu ini aku berjuang untuk bisa bangun pagi.

Beberapa cara yang bisa kulakukan agar bisa bagun pagi adalah tidur lebih awal. Jam 22.00 WIB harus wajib sudah tergeletak dikamar tidur. Apakah berhasil? Tergeletaknya sih sudah berhasil. Tidurnya yang belum. Kendala yang paling jelas adalah payahnya dalam mengontrol pikiran untuk segera rileks agar bisa segera tertidur. Memikirkan ide komik baru lah, gebetan, mbak mantan, kegelisahan mengenai hidup yang belum kelar, dan lain sebagainya.

Pikiran manusia itu seperti pisau bermata dua. Aku bisa membuatnya menjadi sangat berguna atau mengubahnya menjadi sumber bencana. Untuk kasus kali ini, mungkin lebih tepat disebut ‘sumber bencana’ yang tidak bisa membuatku tidur.

Percayalah. Kendala yang satu ini sudah aku temui sejak aku mengenal cinta pertama. Kabar baiknya aku sudah memiliki cara untuk mengakali problematika ini. Beberapa tahun yang  lalu aku menemukan solusi sederhana. Cara yang paling jitu untuk menangkal carut marutnya pikiran adalah alihkan pikiranmu ke satu hal yang monoton. Semisal menghitung domba. Hitung saja sampai 1000. Levelku baru sampai angka 200-an. Kalau enggak tertidur biasanya lupa sampai angka berapa. Tips ini sangat efektif untuk membuatku bisa tertidur dengan cepat. Walau tidak menjamin bisa bangun pagi sih. 

Hahaha

Nah, untuk cara yang satu ini baru aku temukan beberapa bulan yang lalu. Tips ini lebih simpel dan tidak melibatkan domba manapun. Tips ini bernama ‘pemasrahan diri’.

Iya. Pasrah aja. Katakan pada pikiran dan tubuhmu yang intinya ‘kalau memang belum bisa tidur juga tidak apa-apa kok’, ‘pergi aja kemanapun kamu mau’, ‘jika kamu sudah siap untuk tidur, aku akan berada di sini untuk menemanimu’. Dan percaya atau tidak, cara ini adalah cara yang paling ampuh untuk bisa tidur. 

Tidak perlu ribet memikirkan soal domba, hanya berbicara lirih di batin. Tubuh dan pikiran tidak pernah bisa bohong.  Jika kau mempercayainya, niscaya mereka akan mempercayaimu.

Pagi ini mungkin memang akan terulang lagi. 
Tapi aku yakin suatu saat akan datang hari dimana pagi yang payah ini hanya menjadi mimpi untuk diri sendiri. Selamat Tidur.

Mujix
Pikiran lirih yang selalu berbunyi
sesaat sebelum aku akan
memasuki dunia mimpi
adalah aku harus membahagiakan
nenek, ibu, dan ayahku.
Hey, aku sayang kalian.
Simo, 11 Desember 2015.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar