Minggu, 06 Desember 2015

Curhatan sebelum tidur.

Postingan ini adalah postingan yang tidak aku rencanakan. Sebenarnya aku sedang enggan untuk menceritakan apapun. Namun entah kenapa, ada suara kecil yang bergema di hatiku yang paling dalam. Suara lirih nan pelan itu menyuruhku menulis tentang keadaanku malam ini. Keadaan di sekitarku yang seperti seharusnya terdokumentasikan dengan baik melalui tulisan. Aku akan menceritakan tentang diriku terlebih dahulu.

Hari ini sangat melelahkan. Benar-benar capek lahir batin. Seharian aku muter-muter kota Solo mencari scanner dan berbelanja. Harap dicatat. Aku berkeliling dari satu tempat ke tempat lain menggunakan angkutan umum. Apabila ada tempat yang tidak bisa aku jangkau dengan angkutan umum, aku akan menempuhnya dengan berjalan kaki. Capek sih. Tapi seneng juga bisa berkelana dengan kaki sendiri. Di saat seperti itu terkadang aku merasa sangat hidup. 

Tiga hari ini aku memang berada di Kota Solo untuk mengurusi beberapa kerjaan. Mulai dari mengambil materi buat majalah Kreasi, berbelanja banyak benda, hingga memanjakan diri dengan menonton film The Good Dinosaur di Solo Square. Materi majalah Kreasi sudah di tangan. Rencananya besok pagi akan mulai mengeditnya. Untuk urusan berbelanja, ada kali satu jutaan aku habiskan untuk membeli sesuatu. 

Benda paling mahal yang aku beli adalah Scanner merk Cannon. Aku menemukan benda itu di EL'S Computer dengan Harga Rp.805.000, lebih murah Rp.20.000 dari toko di kecamatan sebelah. Ternyata membeli Scanner tanpa menggunakan sepeda motor itu repotnya minta ampun. Belum lagi permasalahan angkutan umum yang ramainya minta ampun. Perjalanan dari Jamsaren menuju Grandmall adalah siksaan terberat hari ini. Aku dengan seluruh benda dibadan ini harus berdiri di dalam Batik Solo Trans yang berjubel penumpang. Anjrit. Badan mau patah rasanya. Apalagi ketika sang supir suka nge-gas dan nge-rem mendadak. Rasanya pengen aku jitak kepalanya. Di saat seperti itu biasanya nasihat dari buku-buku yang aku baca biasanya berguna. Kutipan yang paling kuingat adalah 'ada harga yang pantas untuk setiap hal yang kau dapatkan'. Okey. Mungkin penderitaan dalam memperjuangkan untuk membeli scanner, adalah harga yang harus aku bayar untuk kesuksesan di masa depan. Semoga.

Harusnya aku bercerita tentang perasaanku dan curhat sesuatu,kenapa malah ngobrolin scanner sih. Ah terserahlah. Sekarang kita akan ngobrolin yang lain. Selain Scanner, aku membeli beberapa buku baru untuk up grade ilmu. Buku yang aku beli kali ini tentang manajemen waktu dan perencanaan karir jangka panjang. Mungkin semacam buku pengembangan diri. Sempat terbesit pikiran untuk tidak membeli buku apapun, dan uangnya bisa aku gunakan untuk makan. Namun pemikiran purba itu aku ubah di detik-detik terakhir. Aku harus membeli buku agar kualitas diriku sebagai manusia bisa semakin berkembang. Hey, apa bedanya sama kambing dan ayam jika yang ada di otakku isinya cuman makan, tidur dan kawin. Untuk kata yang terakhir rasanya terlalu berlebihan. Apa yang mau dikawin kalo belum nikah, bwahahahaha.

Jadi, kebiasaanku untuk berbelanja buku saat gajian tidak akan berubah. Aku berjanji. Ilmu itu sangat penting. Ngobrolin soal ilmu, aku jadi ingat khotbah jumat di masjid kemarin. Salah satu potongan kalimat khotbah yang membuatku mengeryitkan dahi adalah:


" Seni membuat kehidupan manusia menjadi hina, ilmu membuat kehidupan manusia menjadi mudah, dan agama membuat kehidupan manusia menjadi........" 

Aku lupa kata terakhirnya. Mungkin 'bahagia dunia akhirat', entahlah. Aku terlanjur shock saat mendengar kalimat pertama yang katanya 'seni' bisa membuat manusia menjadi hina. Aku sedikit tersinggung. Aku tahu satu hal, Pak Khotib di depan mimbar itu pasti bukan seorang komikus. Aku paling benci dengan khotbah-khotbah semacam ini. Khotbah egois yang menggunakan sudut pandang kolot. Ayo pak, dadi komikus wae. Rasa tenggang rasa dan tepo sliromu pasti bakal muncul setelah anda mengetahui apa hakikat seni yang sebenarnya.

Udah. Aku lewati saja pergulatan antara dunia seni dan eklusifitas agama yang memang selayaknya tidak dicampuradukkan, Bapak khotib itu terlalu lucu untuk masuk di postingan ini. 

Selain buku dan scanner, aku membeli boneka Lightning McQueen buat Gantar. Aku tahu dia sedang tergila-gila dengan tokoh utama film Cars tersebut. Rencananya aku ingin membelikan boneka itu di Grand Mall, yang ukurannya cukup geda. Sudah memantapkan diri dan bercerita saja dengan Pak Iyok. Beliau menyarankan untuk menengok sebuah ruko di belakang Solo Squere, katanya di sana ada sebuah grosir boneka dengan harga yang miring. Gitu deh. Aku dapat Lightning McQueen. Aku ingat ekspresi Gantar saat melihat boneka tersebut. Kelihatannya dia sangat gembira, walau sedikit jaim dengan senyum yang dikulum.

Benar-benar capek lahir batin. Tapi sedikit bahagia juga sih.
Semuanya terjadi begitu saja. Perasaanku mulai memburuk. Sepertinya aku butuh istirahat.
Permasalahan dan berbagai hal yang mengganggu di pikiranku ini sebaiknya segera aku selesaikan.
Cepat atau lambat. Aku tidak ingin perasaan 'gamang' ini mengganggu perfomaku sebagai manusia pembelajar. Jika semuanya sudah membaik, aku akan menuliskannya di blog ini.
Sudah, Segitu dulu. Yuk menuju ke kamar tidur.  Istirahat yang cukup agar esok hari bisa berjuang lagi menjadi orang sukses.  
Met istirahat ya.


Mujix
Percayalah,
andaikata kamu menjadi orang
yang berhasil, apa yang kamu harapkan
akan datang dan menjadi 
milikmu dengan semestinya. Sangat lega
saat mengetahui di dunia ini ada yang namanya
'Hukum Karma'.
Simo, 6 Desember 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar