Rabu, 23 Desember 2015

Beruang dan Burung Hantu

Dahulu kala hiduplah seekor beruang yang selalu bersedih. Satu persatu hewan penghuni hutan menghampirinya agar dia berbahagia.

Burung murai berkicau dengan merdu. Si Beruang hanya diam.

Gerombolan kelinci membawakannya wortel dan bayam. Si Beruang hanya cemberut.

Monyet dan kera menari-menari mengelilinginya dengan riang. Si Beruang hanya menghela napas panjang dan bersedih.

Seluruh penghuni hutan telah mencoba untuk berbagai cara agarSi Beruang dapat gembira, namun semuanya gagal.

Si Beruang  masih bersedih. Malam sebentar lagi datang. Seluruh penghuni hutan pergi ke rumahnya masing-masing. Mereka meninggalkan Si Beruang sendirian yang masih bersedih.

"Kruyuuuuk" perut Si Beruang itu berbunyi. Dia lapar. Si Beruang sebenarnya masih ingin bersedih di tempat itu, namun apa daya, rasa lapar memaksanya untuk segera beranjak.

Si beruang berjalan dengan gontai memasuki hutan. Walau bersedih dia terus berjalan dan mengais-ngais makanan. Sesekali beruang ini berhenti untuk meratapi nasibnya. Pelan tapi pasti dia terus berjalan untuk mengatasi rasa laparnya.

Keadaan hutan malam ini terang tersinari cahaya bulan. Si Beruang berjalan sambil memakan buah yang telah dia temukan di sepanjang jalan. Malam ini Si Beruang berjalan lebih jauh dari biasanya. Tidak terdengar lagi suara perut yang kelaparan. Si Beruang ini telah kenyang dan siap-siap kembali ke sarangnya untuk bersedih.

"Hoooo... Hoooo... Hoooo...."
Belum terlalu jauh Si Beruang meninggalkan tempat tersebut tiba-tiba saja terdengar suara yang menyayat hati. Si Beruang berjalan pelan mengikuti arah suara sedih itu. Cahaya bulan menerangi jalannya malam ini. Sesekali Si Beruang ini memandang ke langit memperhatikan bulan dan bintang yang selalu setia menemani malam-malamnya. Sudah lama dia tidak menjelajah hutan sejauh ini. Di lubuk hatinya yang paling dalam, Si Beruang sebenarnya merasa cukup berdebar-debar. Si Beruang dihinggapi sebuah kekhawatiran yang cukup serius. Apakah selamanya dia akan bersedih?
Hingga malam ini Si Beruang masih belum menemukan jawabannya.

Si beruang yang bersedih ini akhirnya menemukan sumber suara pilu tersebut. Di atas ranting pohon jati itu bertengger seekor burung hantu. Burung hantu ini berbulu cukup tebal dan sedang sibuk menyanyikan lagu sedih dengan wajah gembira. Si Beruang berjalan pelan menuju ke arah burung hantu tersebut. Berhati-hati sekali sambil sesekali memperhatikan sosok burung hantu itu dari bawah pohon.

Si beruang dengan sedikit ragu akhirnya mulai bertanya kepada burung hantu.
"Wahai burung hantu, mengapa kamu menyanyikan lagu sedih dengan wajah gembira?"

Sang burung hantu menoleh. Matanya berkilat memantulkan cahaya bulan. Wajahnya yang teduh lambat laun mulai terlihat. Dilihat dari raut wajahnya, burung hantu ini sepertinya telah berusia cukup tua.

"Hallo, Nak"
Sang Burung Hantu sepertinya sudah menyadari kehadiran Si Beruang. Tanpa menoleh Sang Burung Hantu kembali bernyanyi sambil memperhatikan bulan.

Mereka berdua terdiam dengan jeda waktu yang cukup lama. Suasana hutan yang gelap dan sepi semakin hening dibumbui lagu pilu Sang Burung Hantu.

"Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku menyanyikan lagu sedih dengan wajah gembira?"
Ujar sang burung hantu sambil berpaling lagi ke Si Beruang.

Si Beruang sedikit terkejut. Tidak biasanya ada hewan penghuni hutan yang memberikan pertanyaan serumit itu.

"Maaf!" ucapan permintaan maaf itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut Si Beruang.

"Hoo... Hoo..  Mengapa kamu harus minta maaf, Nak!?" tukas sang burung hantu

" Tidak ada yang perlu dimaafkan"
Mereka terdiam sejenak memandang bulan di atas langit. Suasana sangat syahdu. Desau angin dan aroma hutan menggamit suara serangga membuat masa seperti enggan beranjak.

"Nak, sebenarnya aku menyanyikan lagu gembira dengan berwajah sedih" sedikit bergetar saat Sang Burung Hantu ini mengutarakan perasaannya.

Si Beruang sedikit bingung. Rasa penasarannya tiba-tiba saja menenggelamkan gundah gulananya. Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Belum sempat si beruang akan bertanya, sang burung hantu melanjutkan ceritanya.

"Aku sedang merindukan istriku."
ujar Sang Burung Hantu dengan sedikit tersenyum simpul.

"Istri?"
Si Beruang bertanya sambil mencoba memanjat pohon tersebut agar bisa duduk di dahan dekat Sang Burung Hantu bertengger. Tak perlu waktu yang cukup lama Si Beruang telah berhasil duduk di samping Sang Burung Hantu. Dia mungkin payah dalam urusan bergembira ria, namun dia sangat pandai dalam urusan memanjat.

"Iya Nak, Saat ini dia berada di bulan"
jawab Sang Burung Hantu.

"Dia ada di bulan untuk waktu yang sangat lama. Namun aku percaya suatu saat dia akan kembali. Karena aku percaya cinta kami akan menyatukan segalanya"

Lagu sedih yang dia nyanyikan ternyata ditujukan untuk Istri Sang Burung Hantu. Sang Burung Hantu terus bernyanyi di tengah malam agar istrinya mengetahui bahwa dia masih setia untuk menunggu. Sedangkan sang istri terus saja membuat bulan terus bersinar agar rasa cintanya tersampaikan untuk Sang Burung Hantu.  Entah bagaimana Sang Istri Burung Hantu bisa ada di sana. Mungkin suatu saat Si Beruang akan mengetahuinya.

Malam itu Sang Burung Hantu bercerita banyak hal. Kisah demi kisah Sang Burung Hantu tuturkan di sela-sela nyanyiannya. Si Beruang sedikit demi sedikit bisa memahami kesedihannya. Waktu beranjak semakin larut. Si Beruang memutuskan untuk segera pulang. Usai berpamitan mereka berdua berpisah ditemani angin malam yang semakin dingin.

"Huaaaah"
Si Beruang menguap. Rasa kantuk mulai menghinggapinya dengan lembut. Iya, Si Beruang sepertinya mulai memahami banyak hal. Pertemuannya dengan burung hantu adalah pertemuan yang telah ditakdirkan. Teryata bukan hanya Si Beruang saja yang bisa mengalami rasa sedih. Sang Burung Hantu, Kelinci, Monyet dan Kera, semuanya juga bisa di hinggapi perasaan berduka.

Sarang Si Beruang sudah terlihat. Pintu dibukanya dengan perlahan. Sudah lama sekali Si Beruang tidak memperhatikan kalau sarang dan tempat tidurnya seindah itu. Si Beruang merebahkan tubuhnya. Dia mengingat Sang Burung Hantu, Burung murai berkicau, Gerombolan kelinci , Monyet dan kera yang menari. Hari ini Si Beruang mengalami banyak hal.

Apakah setelah pertemuan dengan Sang Burung Hantu malam itu Si Beruang masih bersedih? Iya. Dia masih bersedih. Akhirnya dia memahami bahwa bersedihpun tidak apa-apa. Ketika Si Beruang bersedih, dia belajar untuk memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Dia juga yakin suatu saat rasa sedih itu akan berganti dengan perasaan riang gembira. Hanya satu hal yang perlu Si Beruang lakukan malam ini, dia harus segera tidur agar besok bisa berbagi banyak cerita kepada teman-temannya yang selalu setia menemaninya ketika bersedih.

Mujix
Seseorang yang
sedang curhat sebagai
beruang dan burung hantu.
Simo, 25 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar