Minggu, 27 November 2016

27.11.2016

Duck face. Sempat menjadi sebuah tren di kalangan muda-mudi beberapa tahun yang lalu. Caranya mudah, kamu cukup berfoto dengan me-monyong-kan bibir agar terlihat seperti paruh bebek. Cara berfoto yang konyol,  pikirku saat pertama kali melihat tren tersebut. Dasar bego! Mau-maunya bergaya seperti 'binatang' demi mempertahankan eksistensi diri. Aku enggak akan berfoto dengan gaya parah seperti itu.

Berbagai foto duck face sempat hilir mudik di beranda Facebook-ku. Terkadang nongol di postingan paling atas, iya yang suka mepet 'kolom untuk membuat status' itu. Melihat banyak penampakan 'foto muka bebek' itu akhirnya menjadi rutinitas saat berselancar di jejaring sosial.

Kalau yang berfoto cewek yang  wajahnya 'wagu', biasanya aku hanya terkekeh sambil membatin 'ora patut! Nyemplung laut wae!'. Kalau yang berfoto cewek lumayan bohay, paling mendengus sambil membatin 'hmmm, lumayan'. Nah, kalau yang berfoto duck face itu seorang cowok, aku langsung meng-shut down komputer dan langsung tayamum berharap wajah 'najis' para cowok itu hilang dari kepala.

Begitulah, intinya berfoto narsis bergaya muka bebek adalah pertanda sebuah disorientasi eksistensi terhadap diri sendiri. Uaah. Sepertinya aku mengetik sesuatu yang ilmiah (dan enggak paham apa artinya. Oke, lupakan). Pendapat negatifku soal duck face bertahan cukup lama. Begitu kolot, keukeh dan tentu saja tidak bisa dirubah lagi oleh apapun. Hingga akhirnya hari yang ditakdirkan itu tiba. Hari dimana para 'dewa duck face' datang dan memberi pencerahan kepadaku melalui perasaan paling most wanted di alam semesta. Perasaan itu bernama cinta.

Saat itu aku sedang jatuh cinta (atau memaksa jatuh cinta. Atau pura-pura cinta. Atau apapun itu namanya) dengan seseorang. Dan seperti biasa, aku melakukan hal-hal semacam stalking dan menginvestigasi para teman dekatnya demi kelangsungan kisah cintaku. Kisah cinta yang mana lagi nih!? (Buru-buru ambil tisu dan nangis di pojokan).

Euforia dan kemeriahan perasaan saat mencari seluk beluk informasi mengenai mbak gebetan itu sangat menggairahkan. Tanya sana-sini bagai sales MLM yang tengah memprospek targetnya. Bisa mendapatkan berbagai akun media sosialnya adalah pencapaian hakiki yang tidak bisa ditukar apapun. Oh iya. Kecuali akun tersebut di-private. Kalau yang itu ditukar dengan masa aktif pulsapun aku rela.

Untungnya akun mbak gebetan tidak 'digembok'. Langsung tangan beraksi mengobok-obok album foto dari pertama kali mbak gebetan masih jaman alay hingga doi ikutan manequien challange. Dan mengacuhkan hati nurani yang berteriak lantang, 'ngerjain laporan magang sana, Begook!!!!'

Aku beritahu kalian, membuka album foto seorang cewek dari pertama kali dia upload hingga berita terbaru adalah kesempatan emas untuk mempelajari metamorphosa seekor 'ulat' yang berubah menjadi 'kupu-kupu'. Atau sebaliknya. Ehh!!?? Ada!!?? Ada dong!

Klik sana klik sini dengan berwajah merah padam dan hati berdegup kencang. Hingga akhirnya terpampanglah sebuah foto mbak gebetan sedang me-monyongkan bibir seakan mau men-cipok jidatku.

Aku kaget. Aku terhenyak.
Apa-apaan ini!!??? Kenapa kamu harus berfoto seperti itu sih!??
Jadinya kan...
Jadinya kan...
Jadinya kan kamu tambah imut banget...
Kyaaaa...
*sambil tutup muka

Foto itu aku pandang lekat-lekat.

Kang Tibi

Di desaku ada orang gila. Orang-orang memanggilnya Kang Tibi. Nama tersebut sering 'dicatut' oleh ibu-ibu di lingkunganku untuk menakut-nakuti anak-anaknya yang nakal.

Aku sebenarnya iba terhadap Kang Tibi, sudah gila dijadikan momok pula. Kasihan juga anak-anak di lingkunganku itu, tanpa tahu Kang Tibi itu 'apa' atau 'siapa',  tiba-tiba ibunya menciptakan sosok seseorang yang harus ia takuti.

Ibu dari anak-anak yang berada di lingkunganku itu juga lebih kasihan. Entah karena sudah hilang rasa, hilang logika, atau memang sudah kebelet pengen boker, hingga mereka dengan entengnya mencatut harkat martabat seseorang untuk dijadikan pelampiasan.

Tapi sebenarnya ada yang lebih patut dikasihani daripada Kang Tibi, anak-anak itu, atau ibu dari anak-anak di lingkunganku. Memang siapa yang lebih patut dikasihani lagi?

Aku. Penulis tulisan ini yang hanya bisa mengeluh mengenai orang gila yang dijadikan momok oleh para ibu untuk anak-anaknya. Jadi, siapa sebenarnya yang lebih gila?

*ide tulisan ini didapat saat kerja bakti di kampung bersama Kang Tibi. Mungkin dia memang gila, tapi dia rajin bekerja dan selalu riang gembira.

Mujix
Semua orang mendadak gila.
Semua orang mendadak jadi momok. Termasuk aku, kamu, dia, mereka yang membaca tulisan ini.
Kerten, 27 November 2016

Minggu, 20 November 2016

Anak Kecil

Aku capek. Beneran. Liburan singkat ke Pantai Sadranan Jogja kemarin seakan-akan menjadi titik puncak rasa lelahku. Pantai. Iya pantai. Pantai Sadranan dan teman-temannya adalah pantai terbagus yang pernah aku temui. Pemandangannya komplit. Pantai, laut, bukit, batu karang, hingga langit yang luas semua ada di sana.
  
Cuman kurang satu. Enggak ada cewek blonde pake bikini. Adanya ibuk-ibuk paruh baya yang menyewakan tempat berteduh (di bawah pohon entah apa namanya, semacam nanas gituh) seharga 20K.

Aku dan beberapa teman berangkat dari Solo pukul 08.00 WIB. Kami mengambil rute dari Klaten, Cawas, Semin, lalu ke Wonosari (tolong maafkan kalau aku salah nulis rute atau nama daerahnya) sebelum akhirnya sampai di Pantai Sadranan. Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu 4 jam. Plus nyasar beberapa kali. Setelah tanya sana-sini sampailah kita di Pantai Sadranan.

Silau abis. Itu yang kurasakan pertama kali saat memandang lautan lepas di siang hari. Bau amis dan angin berasa asin bercampur menjadi satu di mukaku. Gila. Tinggal dikasih tepung terigu, mukaku udah bisa jadi ulekan bumbu ikan goreng nih. Kami segera mencari tempat berteduh untuk melepas rasa lelah.

Siang itu benar-benar terang benderang. Apa memang pantai se-menyilaukan ini!? Perasaanku mengatakan kalau aku harus menikmati momen tersebut. Langsung deh, kulepas sepatu dan kaos kaki. Mengambil napas panjang. Menata hati yang hampir berantakan gara-gara kerjaan yang amburadul. Oke. Saatnya ke Pantai.

Pasir pantai di sini cukup bagus. Berjalan bertelanjang kaki di sepanjang pantai merupakan aktivitas yang menyenangkan. Mataku memandang ke segala arah. Langit biru dan laut biru berpadu menjadi satu di dalam kalbu. Aku merasa hidup kembali.

Suasana di sepanjang pantai masih cukup sepi. Hanya terlihat beberapa orang dan anak-anak berlalu lalang. Langkahku terhenti sejenak menatap seorang anak kecil yang sedang sangat girang.

Anak kecil itu mungkin berusia sekitar 2 tahun. Dia menggamit tangan (mungkin) ayah-ayah muda yang sepertinya seumuran denganku. Atau mungkin agak sedikit jauh di bawahku (Iya deh, iya, usiaku memang sudah cukup matang untun punya bini). Pemandangan saat itu sebenarnya cukup sederhana. Seorang ayah yang mengajak anaknya bermain di pantai.

Aku rasa anak kecil itu baru pertama kali pergi ke pantai dan melihat ombak. Setiap kali ada ombak yang datang dan menenggelamkan kakinya, anak kecil itu tertawa bahagia dengan sedikit histeris. Sesekali sang ayah ikut terkekeh melihat tingkah polah anaknya. Terlihat bahagia sekali.

Lama aku berdiri mematung di tempat itu. Diam dan mencoba larut ke dunia mereka. Hatiku sedikit bergetar melihat anak itu terpekik saat ombak laut menenggelamkan kakinya.

Berkali-kali ia terpekik dan histeris bercengkrama dengan ombak, berkali-kali pula hatiku didera perasaan hangat yang entah datang dari mana.

Lihat, anak kecil itu tertawa lagi. Matanya berbinar-binar seperti laut yang menyilaukan mataku.

"Pffftt... Hahaha..."
Tiba-tiba saja perasaan hangat di dadaku ini membuncah menjadi tawa kecil. Aku dan anak itu terbahak-bahak bersama. Lucuu. Senang. Happy. Ini mungkin yang sering disebut dengan 'bahagia itu sederhana'.

Aku masih capek. Beneran. Walau enggak ada cewek blonde berbikini, semuanya aku yakin akan baik-baik saja. Walau masih menyilaukan, Pantai Sadranan yang terang benderang itu perlahan-lahan mulai ramah di penglihatanku.

Entah mataku yang sudah bisa beradaptasi, atau  memang laut yang akhirnya mengalah untuk mengerti isi hati ini.

Mujix
Sudah ngantuk! Harus segera tidur!
Udah hampir jam 2 pagi lhoh. Btw semua list akhrnya sudah kelar.
Kerten, 27 November 3016.

Selasa, 15 November 2016

Jarene Pakne Thole

Dadi wong apik kui angel.
Salah sithik iso kepleset dadi wong elek. Ati kui koyo koco. Gampang pecah lan kudu ati-ati nggowone.

Urip kui nek iso koyo'o rayap neng tembok kamarku. Mbangun  omah munggah terus sak kuate sak tekane. Nek omah'e dirusak tangane uwong, gaweo omah maneh. Ojo nyerah. Nek kowe nyerah, kowe kalah karo rayap.

Jeno kalah yo gak popo sih, soale rayap kancane akeh. Lha kowe mung dhewekan. Nek bejo yo paling diewangi karo Gusti Sing Ngecet Lombok. Nek bejo. Nek ora bejo yo urusono dewe, Le!

Mujix
Ikan Lele-nya ada di termos.
Dia taruh di situ biar aku (sama simbah, mungkin) enggak ikutan makan. Sial. Lelucon semacam ini yang harus aku temui sepanjang hari.
Simo, 14 November 2016

Selasa, 08 November 2016

08.11.2016

Sedang berada di masa sulit, dan ingatanku kembali ke masa saat aku belajar berenang di sebuah sungai pinggiran desa, dan maaf aku lupa nama sungainya.

Bagi para orang tua, sungai itu adalah salah satu tempat yang tidak boleh didatangi. Karena orang tuaku berada di Bogor, maka kau tahu sendirilah.

Aku pergi ke sungai itu dengan niat ingin berenang, atau lebih tepatnya ingin main air. Tentu saja aku memilih di pinggir sungai yang dangkal. Lepas baju dan sotoy bergaya seolah telah menjadi perenang handal.

Secara umum kelompok anak-anak dibagi menjadi dua. Ada yang berenang di pinggiran sungai dan ada yang berenang di tengah sungai. Mereka yang berada di tengah sungai adalah perenang kelas wahid. Selain areanya yang lebih luas, wilayah di tengah sungai memiliki dua batu agak tinggi mirip bukit yang bisa digunakan untuk melompat.

Ya, melompat ke tengah udara dan meluncur langsung ke tengah sungai. Terkadang muncul rasa iri karena tidak bisa ikut bergabung untuk meluncur dari dua batu tersebut. Aku hanya bisa memandang mereka semua saat melompat dan terbang sesaat dengan latar belakang langit biru. Sepertinya menyenangkan.

Entah karena rasa iri yang telah menumpuk dan tak tertahan atau karena didorong rasa penasaran akan sensasi dunia yang baru, siang itu aku memutuskan mencoba melompat dari salah satu batu tersebut. Apakah ilmu berenangku sudah mumpuni? Tentu saja belum.

Berdiri di tebing itu dengan hamparan air sungai yang meluap tentu memiliki sensasi yang berbeda dengan berendam di pinggiran sungai. Atmosfirnya sama saat aku belajar menurunkan sepeda motor di pelataran depan rumah saat selesai hujan. Mungkin itu yang sering disebut 'memicu adrenalin'.

Aku melompat! Detik-detik menakjubkan itu hanya berlangsung sesaat. Tubuhku yang mungil itu melayang sesaat dan langsung diterkam gravitasi bumi.

Byuuur!!!!
Rasanya cukup perih saat kulit bersentuhan dengan air sungai.

Kakiku mencoba mencari pijakan, namun tidak ada apapun. Tanganku mencoba menggapai apapun, namun tidak ada apapun. Hanya ada air. Air dimana-mana. Warnanya agak keruh yang kadang berganti dengan langit biru.

Air masuk tanpa permisi melalui hidung, mata, mulut, dan telinga. Ternyata tenggelam itu rasanya sangat buruk. Sama seperti keadaan sulitku saat ini. Bergerak kemanapun hanya ada air. Bergerak kemanapun hanya ada ego.

Pilihannya hanya ada dua, mengambang mengikuti arus atau menanti tangan seseorang yang menarikmu ke pinggir sungai.

Mujix
Hail Vagito! Enggak sabar nunggu DBS minggu ini.
Simo, 08 November 2016

Jumat, 04 November 2016

Tangan Kanan.

Aku mengetik tulisan ini dengan tangan kanan, itu adalah sebuah kenyataan yang paling dekat di kehidupanku detik ini. Selain mengetik terkadang aku menyambar gelas berisi teh untuk mengobati rasa haus, dengan tangan kanan, tentu saja.

Menggambar komik.
Mengendarai motor (pinjaman).
Menuntun Gantar menuju ke warung untuk membeli entah apa. Dan aku masih bisa menyebutkan ratusan aktivitas lain yang harus menggunakan tangan kanan.

Namun untuk dua menit sebelumnya aku terpaku memandang tangan kanan orang lain. Orang yang tidak sengaja aku temui di wedangan di depan Gramedia Solo.

Beberapa hari ini hidupku sangat menyebalkan. Semua sebab sudah aku hapal di luar kepala. Kasih ujian dadakanpun aku berani. Beberapa permasalahan pekerjaan, perasaan dan kondisi tubuh yang kurang bugar akhirnya berhasil 'mengalahkan' aku. Dengan telak!

Dan seperti manusia pada umumnya, akhir-akhir ini aku selalu bermuka masam seperti Squitward dan selalu mengeluh seperti Smurf Gerutu.

Semuanya tampak begitu buruk. Aku malas menggambar. Aku malas melakukan apapun. Hanya diam di sofa dengan terus mengguman dengan kepala yang terus berpikir keras entah tentang apa.

Hati nuraniku masih sedikit 'waras', berkali-kali ia berteriak 'Sudahlah! Kamu hanya kelelahan!'. Seperti orang gila aku menanggapi teriakan itu dengan ucapan 'lalu apa yang harus kulakukan!!??'.

'Apa kek! Ganti suasana gituh. Ke Gramedia nyari obralan komik bagus!'

Aku tercenung. Sepertinya ide yang bagus. Begitulah. Setidaknya kalian sudah tahu alasan mengapa detik ini aku berada di sini. Di wedangan ini dan terus memperhatikan tangan kanan bapak paruh baya itu dengan tatapan nanar.

Ujung tangan kanan tersebut aku pandangi dengan seksama. Sekilas terlihat seperti buah sawo bulat berwarna coklat. Kalau mau sedikit 'berlebihan', benda itu sebenarnya lebih mirip 'Penis' yang belum disunat.

Namun sayang, benda itu bukanlah buah sawo ataupun penis yang belum disunat.

Benda itu adalah 'sikut' seseorang yang telah kehilangan tangannya.

Ketika aku malas menggambar dan terus berkeluh kesah mengenai hidupku yang memuakkan ini, akhirnya Tuhan mempertemukanku dengan orang tua paruh baya yang (maaf) buntung tangan kanannya. It's the dramatic scene of the day.

Hatiku bergejolak. Biasanya ketika bertemu dengan seseorang yang 'spesial' atau 'berkebutuhan khusus', aku selalu memalingkan muka. Alasannya sederhana, rasa iba yang berada di dalam dada.

Namun tidak untuk saat ini. Aku mengacuhkan rasa iba tersebut. Aku memandangi benda itu dengan akal sehat. Mengukirnya dengan tajam di dalam ingatan, bahwa ada seseorang di luar sana yang terus berusaha untuk terus hidup tanpa tangan kanan.

Iya. Tangan kanan seperti punyaku yang beberapa hari lalu tidak aku gunakan untuk menggambar. Dan seperti itulah Tuhan menjawab permasalahan hamba-Nya yang galau dan berambut kribo.

Mujix
Bentar lagi ganti tahun. Beberapa target kacau balau. Beberapa target terpenuhi tanpa disangka. Namun sayang jodoh masih entah berada dimana. Biarlah tidak apa-apa.
Sriwedari, 3 November 2016

Minggu, 30 Oktober 2016

Roda di Kandang Hamster.

Jika ada yang bilang kalau 'urip kui mung mampir ngombe', bisa diartikan kalau dia seorang pemabuk. Jika dia tidak mabuk minuman keras, setidaknya dia mabuk keadaan (mendem kahanan), mabuk wanita (mendem wedokan), atau setidaknya mabuk cairan printer saat dikejar deadline setor revisi skripsi. Nah. Itu. Aku banget.

'Urip kui mung mampir nggambar!'. Ya, 'menggambar'! Bukan 'minum'! Kata 'minum' memiliki sebuah premis atau motivasi yang jelas, yaitu 'haus'. Satu kata penting yang tidak dituruti maka kematian adalah jawabannya.

Padahal, semua manusia hidup di dunia ini berawal dari ketidaktahuan. Yak, mereka datang tiba-tiba tanpa tujuan yang jelas dan diprogram untuk selalu 'haus' akan sesuatu.

Mungkin itulah sebabnya pepatah yang beredar selalu memakai kata 'ngombe'! Bukan 'ngantor', 'ngomong',  apalagi 'nggambar'. Kenapa? Karena menggambar adalah sebuah aktivitas yang sulit.

Jangan pernah menyuruh 'orang yang tidak bisa menggambar' untuk menggambar. Karena buatnya aktivitas tersebut merupakan mimpi buruk.

Kecuali 'orang yang tidak bisa menggambar' itu memiliki keinginan untuk menggambar. Yah. Keinginan saja sudah cukup. Skill bisa diperoleh dengan kerja keras, namun keinginan hanya bisa didapatkan oleh hati yang mawas diri.

Beberapa orang mengartikan 'keinginan' dengan kata 'passion', 'alasan', 'panggilan jiwa' atau setidaknya 'motif'. Tanpa hal tersebut, seorang seniman besar hanya akan menjadi pecundang untuk dirinya sendiri. Apalagi jika kamu belum menjadi seorang 'seniman besar'. Meeeehhhh.

Kehidupan seseorang yang kehilangan passion bisa diibaratkan hamster yang tengah berlari di lingkaran besinya. Monoton. Hanya ada rasa lapar dan sebuah pelarian tiada henti.

Nah apa yang akan terjadi jika hamster itu kamu?

Mujix
Sedang berada di Sriwedari.
Nonton Koes Plus dan mencoba meluruskan banyak hal.
Mujix, 3 November 2016

Kamis, 27 Oktober 2016

Charger

Akhirnya gak jadi nonton The Mudub. Hujan dari sore itu memporak-porandakan rencanaku hari ini. Kecewa dan sedikit menyesal karena harus mengorbankan waktu dua hari selama di Solo.

Harusnya aku di rumah.
Harusnya aku bisa menyelesaikan pekerjaan.
Harusnya...
Harusnya...

Aku harus melakukan 'sesuatu' agar kata 'harusnya...' itu tidak muncul terus di kepala yang mulai kelelahan ini.

Nah, sesuatu yang kulakukan adalah.... Ke Solo Square menonton Dr.Strange 3D. Filmnya bagus. Visualnya top! Cerita dan alurnya standar. Tapi banyak jokes yang berhasil membuatku tertawa.

Perasaanku membaik dengan perlahan. Setidaknya tidak seburuk beberapa jam sebelumnya. Di sepanjang jalan pulang menuju kontrakan aku terus saja berpikir dan mempertanyakan banyak hal.

Keadaanku saat ini bagai smartphone yang sedang lowbat. Yah masih bisa beroprasi seperti biasa namun harus menggunakan energi listrik dengan bijak agar tidak mati mendadak.

Dan kamu tau apa yang lebih buruk dari 'smartphone lowbat'?

Kelupaan bawa charger dan tidak tahu harus pinjam siapa. Yah intinya sih, tinggal nungguin smartphone mati atau secepat mungkin nemu charger untuk mengisi daya.

Mujix
Kalau kata seorang teman sih 'bahagiakan dirimu sendiri sebelum kamu membahagiakan orang lain'
Simo, 27 Oktober 2016

Rabu, 26 Oktober 2016

Dilema

Akan ada masa dimana kamu ingin kerja saat sedang liburan, dan pengen liburan saat sedang kerja. Perasaan itu sangat rumit. Semua pilihan terlihat brilian, semua pilihan tampak lebih baik.

Namun dari pengalaman yang sudah-sudah. Ketika suatu keputusan telah diambil ada kalanya keputusan tersebut berjalan tidak sesuai rencana. Semacam mengalami variasi yang begitu dinamis, atau berakhir dengan begitu buruk karena satu dan lain hal.

Jadi yang terjadi saat ini adalah: aku galau diantara dua pilihan, ingin pulang ke rumah untuk mengerjakan komik atau nonton The Mudub nanti malam di Muara Market. Btw aku udah di Solo dari hari Sabtu kemarin (dan postingan ini ditulis hari Rabu minggu berikutnya.)

Sebenarnya sudah ada tindakan alternatif untuk menjembatani dua pilihan tersebut. Aku bisa di Solo untuk menonton The Mudub asal kerjaanku bisa selesai dikerjakan di sini (tentu saja tanpa ruang kerja kesayangan dan tambahan biaya hidup sehari-hari.)

Tentu saja aku memilih keputusan tersebut. Hanya saja pekerjaan yang aku maksud baru terlaksana separuhnya saja. Kampreeet!

Mujix
Mau nonton Dr.Strange.
Sedikit belagu gara-gara dapat rejeki dadakan dari kerjaan storyboard iklan toko emas. Wkwkwkw
Kerten, 26 Oktober 2016

Senin, 24 Oktober 2016

Ketika Tidak Bisa Memeluk Angin

Ketika tidak bisa memeluk angin, genggamlah udara yang masih bisa kau hirup.

Ketika tidak ada tangan yang digenggam, cobalah bertumpu dengan kayu yang kau temukan tadi pagi.

Ketika matahari datang terlambat, tetaplah kau bangun dan menanak nasi untuk hari ini.

Mujix
Laper. Lalu aku memesan nasi goreng dan memakannya dengan sejuta tanya di kepala.
Kerten, 24 Oktober 2016

Sabtu, 22 Oktober 2016

Tiga Jam Laknat

Membosankan. Itu kata kedua yang muncul di kepalaku pagi ini. Kata pertama hanya sebuah pengingat kalau aku harus mewarnai komik Si Amed untuk edisi besok, btw udah sampai episode 80. Banyak sekali.

Jangan abaikan postingan ini!!! Ada sebuah fakta baru yang mencengangkan!!! dibutuhkan waktu hampir 3 jam untuk mewarnai dan mengedit komik Si Amed!!!!

Bagaimana? Caption-nya udah kayak postingan yang viral di FB belum!? Yah, Info yang sangat menarik bukan?! Atau malah membosankan!?

Begitulah. Apabila kamu memandang dari posisi seorang fans yang peduli dan cinta mati sama Si Amed, fakta tersebut sangat menyenangkan. Semacam 'wah gitu ya?' momen.

Lain ceritanya kalau kamu melihat fakta tersebut dari sudut pandang sang kreator. Informasi semacam itu tidak terlalu penting. Apaan!? Toh ketika komik gratisan itu kelar, masih ada kerjaan komik lain yang harus digambar.

Kurasa itu sebuah contoh sederhana yang tepat untuk menggambarkan kehidupanku pagi ini. Yah, anggap saja aku sedang sedikit bosan dengan semua hal di kehidupanku.

Kenapa membosankan? Tidak akan aku beritahu, namun jika kalian menanyakan kabar, akan kujawab 'semuanya baik-baik saja'!

Tiga jam untuk mewarnai komik Si Amed, mungkin hanya butuh waktu tak lebih dari 30 detik untuk membacanya. Kalau dipikir-pikir menyebalkan sekali.

Makanya gak usah dipikir. Digambar dan dibaca aja. Mikir isi ATM yang limit aja udah mengeluh pusing, ini lagi mikirin fun fact tentang Si Amed.

Baiklah, balik ke topik soal 'membosankan'. Harus aku akui, terjebak di sebuah pekerjaan memang terkadang membosankan, apalagi jika pekerjaan itu memakan banyak waktu serta tenaga (dan juga perasaan cintah. Ea). Nah yang jadi pertanyaan 'kenapa harus tiga jam'? Bukankah bisa hanya 30 menit saja kalau aku mau?

Dan ternyata aku tidak mau. Mungkin ini adalah latar belakang yang menjadi rahasia dibalik proses pengerjaan komik Si Amed. Sebuah alasan yang mungkin sedikit sentimentil. Udah siap?

Aku sedang membuat karya besar! Itu adalah pondasi awal yang aku pijak setiap membuat sesuatu.

Komik Si Amed reguler yang tayang setiap minggu buatku bagai 'Master Roshi' yang sedang membimbing Goku dan Krilin di komik Dragon Ball-nya Akira Toriyama.

Jika Master Roshi menyuruh Goku dan Krilin mengantar susu setiap pagi, maka komik reguler Si Amed menyuruhku membuat komik rutin setiap minggunya.

Serupa namun tak sama.

Proses mewarnai komik Si Amed agak memakan waktu lama dikarenakan gambarnya yang ruwet.

Tiba-tiba ada Raisa nyeletuk, 'Kenapa harus ruwet, Kak Mujix yang unyu?'

Kenapa? Soalnya aku sedang berusaha membangun dunia komik yang kompleks. Aku terinspirasi komik-komik Eropa yang sangat pandai merekam 'kehidupan' di tiap panelnya.

Mereka menggambar jalan.
Mereka menggambar rumah.
Mereka menggambar jalanan yang macet gara-gara para manusia kebelet pengen membangun rumah.

Namun sayang mereka tidak menggambar siapa jodohku kelak di masa depan. Eleuuuh... Elehuuuh.

Nah, aku juga ingin seperti mereka.
Di komik reguler minggu lalu, aku menggambar kebun binatang. Berulang kali mentok cari referensi gambar Tapir hanya untuk sebuah komik tentang kerukunan umat beragama.

Tapir! Aku menggambar TAPIR, sodara-sodara!! Komikus lain udah naik level membuat comic motion dan diunggah mingguan, aku masih diribetkan dengan hal yang bernama 'menggambar Tapir'!!!

Aku skip sejenak urusan si Tapir. Nah, kenapa aku harus repot-repot seperti itu? Dan tentu saja jawabanku masih sama seperti kalimat di atas.

Karena aku sedang membuat karya besar.

Dan aku enggak rela kalau Si Amed harus hidup di dunia tanpa kehidupan. Seperti itu. Dan level ini harus aku naikkan agar dunia 'Si Maniak Bakso Bakar' itu makin tertata rapi.

Kurasa itu harga yang harus aku bayar. Untuk membuat komik yang kelak menjadi 'karya besar' aku harus bertarung dengan tiga jam laknat itu. Bwahahaha.

Tiga jam laknat!? Kejam sekali aku saat membuat istilah. Yah, gak selebai itu sih. Enggak semua waktu tiga jam itu menyebalkan. Ada berbagai 'celah kecil' yang sebenarnya moment berharga serta menyenangkan.

Celah kecil itu sudah aku ketahui sejak lama. Lama sekali, terlalu lama sendiri, hingga berbagai celah itu datang dan membuatku bertahan di setiap proses berkarya.

Mungkin berbagai celah itu terlihat sepele di mata orang lain. Namun percayalah, segala hal besar di dunia ini tercipta dari hal-hal yang sepele.

Musik. Mendengarkan musik adalah aktivitas yang mengubah segalanya. Andaikata menemukan daftar lagu yang tepat, niscaya tidak ada kata bad mood ataupun artblock.

Playlistku akhir-akhir ini adalah Bruno Mars berjudul 'When I was Your Man' dan Orkes Melayu New Scorpio berjudul 'Aku dikiro Preman'.  Perpaduan yang awesome sekali. Hokya.

Pendapat pribadi sih, namun bagiku, musik adalah media penjaga mood yang paling ampuh. Yah ambil sebuah pekerjaan, buka folder music, ikuti jeritan hatimu yang tengah kehausan, lalu play. Terus kerjain.

Bosen satu lagu, segera ganti lagu yang lain. Gitu terus ampe dunia bisa bersatu dalam damai dan tidak ada penderitaan.

Dan tiga jam laknat itu yang mulanya sangat membosankan bisa berubah menjadi sangat menyenangkan. Itu baru satu celah kecil yang bernama 'musik'. Masih ada celah-celah lain yang sebenarnya asik untuk aku ceritakan kepada kalian. Namun kurasa lebih baik di lain kesempatan.

Banyak kesempatan yang muncul saat aku terjebak di komik reguler Si Amed bersama tiga jam laknat tersebut. Bisa saja aku bosan dengan semua hal tersebut dan memutuskan untuk berhenti sama sekali.

Ya, semacam menutup tab close saat kamu browsing internet atau meng-klik tombol stop saat kamu memutar film donlotan.

Namun aku tidak melakukannya. Sepertinya ada sesuatu nun jauh di sana memberitahu kalau semuanya akan baik-baik saja. Toh, andaikata berakhir burukpun sebenarnya tidak apa-apa. Anggap saja semacam 'menelan pil pahit kekalahan'.

Baru terjebak di sebuah aktivitas membuat komik selama tiga jam saja sudah 'sok drama' membuat postingan sepanjang ini, bagaimana rasanya jika terjebak di sebuah kehidupan selama 28 tahun!!??

Apalagi jika kehidupan selama 28 tahun itu berjalan tidak terlalu sesuai dengan master plan yang sudah dirancang.

Kesal? Tentu saja.
Sedih? Pastinya.
Bosan? Absolutly yes!

Apakah aku ingin berhenti semacam memencet tombol shut down saat komputer error? Tidak!

Karena aku sedang membuat karya besar. Hidupku mungkin mirip komik Reguler Si Amed yang tayang setiap minggu. Hanya saja, Master Roshi-nya adalah diriku sendiri.

Mungkin kata 'membosankan' yang muncul saat bangun tidur pagi ini semacam pertanda kalau hidupku sedang sangat artblock gara-gara  bad mood yang berkepanjangan.

Aku harus menemukan 'celah kecil' tersebut atau aku akan berada di tempat ini selamanya. Nah, sekarang pertanyaan yang paling penting.

Apakah 'celah kecil' itu sudah ketemu?

Mungkin sudah. Atau mungkin belum. Sepertinya aku masih bingun menemukan 'lagu yang pas' di folder kehidupanku.

Kurasa aku membutuhkan waktu beberapa saat untuk menjawab pertanyaan ini. Sampai kapan?

Tidak akan aku beritahu, namun jika kalian menanyakan kabar, akan kujawab 'semuanya baik-baik saja'!

Mujix
Sedang ulang tahun dan sedang mencuri waktu untuk menulis curhatan berjudul 'tiga jam laknat' di wedangan Jln.Slamet Riyadi.
Solo, 22 Oktober 2016

Jumat, 21 Oktober 2016

Kenangan yang Menyenangkan

Aku enggak tahu harus bercerita apa lagi di postingan ini. Beneran, beberapa hal yang penting sudah aku tulis via twitter. Beberapa sudah ter-dokumentasikan di FB. Sisanya aku biarkan menggumpal di pikiran.

Entah kenapa akhir-akhir ini aku agak susah untuk mendongeng tentang apapun. Buat yang ingin bertanya kabar, intinya keadaanku baik-baik saja. Punggung sedikit ngilu gara-gara kerja bakti kemarin. Kurasa mengangkat adukan semen dan pasir dengan tubuhku yang rapuh ini bukan pilihan bijak saat kerjaan mulai menggila.

Aku masih sibuk dengan banyak hal. Beberapa hal sangat penting, dan beberapa hal lainnya mungkin terlihat  useless di mata orang lain. Dan seperti biasa, aku tidak perduli.

Semakin ke sini, semakin banyak hal yang berubah di sekitarku. Satu hal yang paling mencolok terlihat adalah usia. Hari ini adalah hari terakhirku di usia 27 tahun. Tinggal dua tahun lagi menuju usia kepala tiga. Mengkhawatirkan.

Aku mungkin salah satu dari sekian pria yang mengkhawatirkan hal yang keliru. Pria-pria di luar sana mungkin gelisah mengenai pasangan, uang yang belum lancar, atau status sosial yang tak kunjung membaik.

Aku juga mengkhawatirkan hal-hal seperti itu. Namun ada satu topik lagi yang menggangguku akhir-akhir ini. Tema sensitif itu bernama 'kenangan'.

Tadi malam aku terus terjaga dengan pikiran kemana-mana. Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya aku tidak memiliki kenangan menyenangkan yang terlalu banyak. Apalagi jika ditanyakan secara jujur kepada diri sendiri. Ada beberapa namun tidak terlalu banyak.

Sial. Nulis postingan melalui gawai memang praktis tapi rawan salah ketik.

Mujix
Semoga dilancarkan dan diberi yang terbaik. Gusti Allah (kalau beneran ada) ora sare. Amieeen!
Simo, 21 Oktober 2016

Senin, 17 Oktober 2016

Kisah angin dan Tukang Kebun yang tak memiliki Pohon.

Jadi. Pertengahan bulan Oktober ini, dia mau nikah. Yah, memang sudah seharusnya gitu sih.

Beberapa hal yang berkecamuk di dada mengenai dia sudah aku padamkan sejak lama. Api yang membakar kayu itu sudah menjadi abu. Abu itu kini aku pandangi dengan seksama sebelum hilang tertiup angin.

Kisah cintaku dengan dia memang salayaknya angin yang meniup keningmu saat panas terik. Datang tiba-tiba, mengusap lembut dengan segala kesalahpahaman dan pergi begitu saja meninggalkan sejejak rasa nyaman di dalam dada.

Penyesalan mungkin memang ada. Bohong jika kubilang aku baik-baik saja tanpanya. Sedikit luka itu masih ada. Kecil seperti sayatan kertas saat   fokusmu teralihkan oleh yang lain.

Teralihkan oleh yang lain, teralihkan oleh cinta yang lain, yang lebih dingin dan lebih tinggi namun tak teraih. Jangan salahkan siapapun ketika ikatan yang mulai kencang itu perlahan memudar.

Kemudian terlepas dan singgah di lelaki yang lebih tepat. Dan mungkin lebih baik.

Sudah saatnya membuka lembaran baru. Lembaran yang saat ini entah ada dimana itu mungkin juga sedang menungguku dengan risaunya.

Sudah cukup. Abu itu akan kubuang di kebun depan rumah. Beberapa benih impian memerlukan pupuk agar mereka tumbuh subur dan menjadi pohon yang besar.

Dan saat aku memiliki pohon yang besar, aku bisa menikmati angin sepoi yang bertiup perlahan itu kapanpun. Terimakasih untuk banyak hal.

Mujix
Sebuah ruang kosong yang menunggu pemiliknya kembali.
Simo, 17 Oktober 2016

Kamis, 06 Oktober 2016

Atmosfer Awal Oktober

Sudah bulan Oktober lagi. Tinggal 16 hari lagi aku berada di usia 27 tahun. Itu artinya aku makin jauh meninggalkan masa muda yang menggelora. Perjalanan menuju usia yang ke 28 ini sedikit menakutkan. Berbagai hal yang membuatku cemas datang dan pergi silih berganti. Atmosfer negatif di sekitarku ini semakin pekat semenjak permasalahan komputer yang rusak beberapa bulan yang lalu. Sekarang sudah waras sih, hanya saja peristiwa itu meninggalkan banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab hingga hari ini.

Keadaanku sekarang cukup rumit. Entah sudah beberapa kali aku tersandung dan terjatuh hingga harus terpaksa berhenti. Yah. Pastinya fase berhenti adalah fase yang tepat untuk beristirahat. Makanya hari ini aku enggak ngapa-ngapain. Baca komik, makan, tidur, dan bikin sesuatu yang enak seperti mie rebus pake telor. Entah sampai kapan. Mungkun besok pagi aku akan memulai rutinitas itu kembali.
Selamat beristirahat ya gaes. Doakan aku baik-baik saja. Masih banyak impian yang belum terwujud soalnya.

Mujix
Submisi untuk Silent Manga Audition-nya udah selesai lhooo. Semoga aja menang. Kalo juarakan bisa punya tabungan buat nikah. Nikah sama siapa? *kemudian hening.
Simo, 6 Oktober 2016

Kopi hitam dan Televisi Nenek

Kopi hitam oleh-oleh dari Bogor kemarin tinggal dua bungkus. Kuseduh beberapa jam yang lalu dan sekarang sudah menjadi dingin. Kopi itu menemani petang ini yang  kuhabiskan bersama nenek. Kami berdua menyaksikan dagelan Kirun CS di Youtube. Hal itu aku lakukan semata-mata ingin membuat hati nenekku senang.

Sudah beberapa hari ini televisi rusak. Sebenarnya masih bisa menyala sih, cuman kampret-nya hanya ada dua stasiun televisi yang bisa disaksikan, TVRI Jawa Tengah dan Indosiar. Itupun kemresek dan banyak 'semut'-nya. Televisi rusak sedikit banyak kurasa mempengaruhi kebahagiaan nenekku. Aku sedikit yakin, tayangan di Youtube itu membuat nenekku bahagia. Semoga saja.

Mujix
Sedang kehilangan sesuatu yang sangat penting. Rasanya sangat perih. Semoga saja Baju hijau kesayangan itu tidak merindukanku.
Simo, 6 Oktober 2016

Sabtu, 17 September 2016

Tembok Putih

Nyeri menjalar di dalam kepala
Perih dan bosan terus aku makan
Keadaan mulai berbahaya
Semua tahu itu, semua rasakan juga

Hatiku masih ditempat yang sama
Menatap surga pesakitan pujangga
Tempat segala imajinasi bermula
Yang biasanya berakhir jadi semesta

Mujix
Sedang berbenah
Mungkin ini sebuah fase yang sering disebut 'turning point'
Simo, 17 September 2016

Jumat, 09 September 2016

16.09.2016

Pertemuan dengan Sanasuke kemarin berdampak besar untuk hidupku akhir-akhir ini. Satu hal yang pasti, aku bertekad untuk menyelesaikan komik 'Lemon Tea'.

Aku sadar, aku udah mulai tua. Dua bulan lagi aku akan berusia 28 tahun. Dan sudah tinggal hitungan jari lagi akan datang masa dimana aku harus  naik ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu menikah.

Tentu saja tolong JANGAN tanya soal siapa wanita yang kelak khilaf berhasil aku prospek. Aku sendiri belum tahu. Jangankan soal pasangan hidup, kaos hijau hadiah dari Feri We aja sampai hari ini belum ketemu.

Ya ampun, nyelip di mana sih. Enggak kaos, enggak jodoh, kok sama saja hobinya.

Namun kabar baiknya ( atau buruk!?), Sanasuke sudah menemukan seseorang yang tepat. Sebentar, aku pamit ke belakang buat 'nangis bombay ala sinetron' dulu.

Atau semacam itulah. Soalnya kabar tersebut belum aku tanyakan langsung. Kalian pasti berpikir kalau aku belum sempat bertanya karena alasan topik itu terlalu personal dan menyangkut privasi.

Bukan....
Bukan soal itu....

Aku tidak bertanya karena aku TIDAK BERANI. Sederhana sekali bukan.

Intinya sih, aku ingin komik 'Lemon Tea' selesai sebelum satu diantara kita jadi manten, entah dengan siapa. Hidup itu lucu ya.

Tekadku ini muncul tiba-tiba saat pertemuan kemarin, ketika aku di sana berbincang dan memandang Sanasuke. Memandang dengan sangat lekat, hingga ada secercah cahaya yang bersuara pelan di dalam  dadaku.

"Adalah dia, sumber kebahagiaan yang selama ini kamu pertanyakan!"
Sial. Kenapa jadi melankolis gini, umpatku.

"Dia adalah Sanasuke, bukankah 'Sanasuke' adalah nama karakter di komik 'Lemon Tea'!? " aku terdiam sesaat mencoba mendengar isi hati lebih dalam.

Aku paham. Ada jutaan hal yang dulu ingin aku sampaikan padanya. Kurasa dia hanya mengetahui beberapa patah kata saja, yang tentu saja belum tentu benar. Atau mungkin 'benar' menurutnya dan 'salah' menurutku. Atau mungkin sebaliknya. Ruwet amat sih jadi orang, Jix!!?

Begitulah. Banyak yang ingin aku sampaikan. Semua hal yang aku ingin dia tahu (entah berguna atau tidak untuknya) terkumpul di sebuah benda bernama komik 'Lemon Tea'.

Komik itu masih berserakan di tumpukan kertas-kertas kerjaan. Datanya masih tersimpan random di komputer. Lebih tepatnya di beberapa komputer, karena komputerku suka step mendadak.
Hahaha parah ya.

Kabar terbaru komik ini cukup sedikit, beberapa halaman tambahan tengah aku kerjakan. Ada tokoh baru (terpaksa) nongol. Namanya Vita. Dia harus muncul dan nyelip di bab pertama demi kontinuitas cerita. Judul chapter enam akhirnya aku ganti jadi "A head full of dreams", bakal fokus sama imajinasi dan masa lalu Bung Kribo. Mantep. Deh pokoknya, kalau jadi.

Terlepas dari keriuhan komik Lemon Tea, aku sedang getol mengikuti beberapa kompetisi. Efek 'menang juara harapan' di Lomba Komik Sanitasi itu ternyata mendorongku untuk terus berkarya. Aku sudah mengirim berkas untuk Lomba Komik Gizi dan Pangan. Entah lolos atau enggak. Ceritanya norak banget, aku kerjakan dalam hitungan menit. Aku juga sudah mengirim submisi kompetisi komik dan kartun UNWOMEN 2016. Moga-moga menang. Hihihihi

Yah, pokoknya gituh. Kutipan ngenes minggu ini dipersembahkan oleh 'kebahagiaan yang udah diketahui namun tidak dapat diraih'. Poor Mujix. Aku syeedih. Hiks. Ya udah muter lagu Living in the Moment-nya Jason Mraz deh. Cocok buat kehidupanku saat ini. See you in my next post. Semangat!

Mujix
Nah abis ini nyari ide buat kompetisi Silent Manga. Kalo menang hadiahnya sekitar 60an Juta. Gua bakal bisa kawin cepat Mak!!!!! *lebai
Simo, 16 September 2016

Minggu, 04 September 2016

1% Kemungkinan Yang Mustahil

Aku beberapa kali mencorat-coret sketchbook kumal itu untuk mencari ide. Malam ini aku sendirian saja menunggu Mbak Yuni, seorang teman lama dari persewaan Bharata, dan Deni, kawan dekat satu angkatan saat di SMSR dulu. Karena ‘menunggu’ adalah pekerjaan paling boring sedunia, alhasil beberapa menit ini aku manfaatkan untuk brainstorming projek terbaru. Ceileh projek terbaru. Bukannya semingguan kemarin luntang-lantung gak jelas kayak cucian. Hwakakak

Waktu berjalan begitu saja. Menit demi menit berlalu seperti mimpi tadi malam. Aku paling suka situasi seperti ini. Hanya ada diriku sendiri, dan pencarian ide brilian yang tak kunjung datang. Sesekali saat pikiran buntu, tanganku menyambar roti bakar berlapis coklat Kitkat. Memakannya perlahan, mencoret lagi dan apabila terlalu enek, segera saja aku minum jeruk hangat ala café ‘Roti Bakar Up Size’. Aktivitas itu terus menerus berulang dengan harapan bisa mempersingkat waktu sambil menunggu kedatangan Mbak Yuni dan Deni. Beberapa menit kemudian tiba-tiba dari terdengar suara seseorang menyapaku dari arah pintu masuk.

“Jix! Mbak Yuni udah datang?”
Aku menoleh dan memerlukan waktu sepersekian detik untuk memahami darimana suara itu berasal. 

Dheg!! Dadaku berdetak kencang. Seluruh badanku bergetar hebat. 
Aku menelan ludah dengan sedikit panik untuk menyembunyikan rasa terkejut.

“Sanasuke! Kamu datang?!!” ucapku bergetar menatap wanita yang membuatku gila selama ini. Dia berada di depanku. Sebuah pertemuan yang menurutku pertemuan paling dramatis dari sekian banyak pertemuan yang kutemui akhir-akhir ini. Di otakku berkecamuk banyak hal, namun yang paling mendominasi adalah sebuah kalimat sederhana, kalimat itu berbunyi:
 ‘1% (Satu persen)!!, kemungkinanku untuk bertemu dengan Sanasuke di pertemuan ini hanya  1%!!!’.

***

Beberapa jam sebelumnya. Malam ini cuaca di daerah Kerten tidak terlalu cerah. Aku berjalan di trotoar menuju tempat pertemuan yang belum aku tahu namanya. Beberapa kali perjalananku terhenti untuk sekedar menunggu jalan agak sepi agar bisa menyebrang. Yah, malam itu aku enggak mau ada adegan konyol 'hampir terserempet kendaraan bermotor' seperti tadi pagi. Dasar pengemudi gila, ternyata bukan hanya ‘cinta’ saja yang bisa menghilangkan akal sehat. Entah sejak kapan di daerah ini mulai makin ramai. Mobil, motor dan terkadang becak lampu mewarnai pemandangan. Trotoar yang aku lalui cukup gelap, terkadang malah bukan trotoar, hanya sebidang tanah kosong dengan banyak daun berguguran atau kerikil-kerikil kecil tergeletak tak beraturan.

Aku berjalan pelan. Dan mencoba memperkirakan apa yang akan terjadi di pertemuan nanti. Intinya sih ketemuan, makan-makan, joget poco-poco, curhat dan reunian. Dan yang pasti, pesertanya cuman tiga orang. Aku, Mbak Yuni, dan Deni. Tidak kurang dan tidak lebih. Kami berjanji untuk bertemu di sebuah café di daerah Manahan.

”Yah, pokoknya kita ngobrol, makan terus pulang dan kembali ke dunia nyata!” begitu pikirku. Emang mau berharap apa lagi sih? Bertemu dengan Sanasuke? It’s Mission Immposiblle, dude! Baiklah sebelum semuanya makin rancu, aku akan menceritakan sedikit tentang motif kenapa tiba-tiba muncul pemikiran ‘Bertemu dengan Sanasuke’ di pertemuan ini. Here we go!

Kemarin malam aku nge-chat via Whatsapp dengan Mbak Yuni, berbincang kesana-kemari buat mengatur pertemuan ini. Obrolan ngelantur kemana-mana, hingga sampailah pada sebuah chat dimana Mbak Yani menanyakan kontak HP-nya Sanasuke. Emangnya gua punya!!! Dan kalian tahu apa yang terjadi? Tiba-tiba saja dengan ajaibnya nomer HP Sanasuke masih ada di smarpthone-ku. Tertimbun di tumpukan pesan singkat, jangan tanya alasan kenapa ada nomer itu di sana. Nomer HP itu aku kirim dari handphone ibuku. Sepertinya nomer tersebut ‘nekat’ aku simpan dengan harapan kali aja suatu saat aku pakai untuk keperluan  yang darurat. Keperluan yang darurat!? Keperluan darurat apaan!! Bilang aja masih ngarep. Hihihihi

Gituh, terus aku kasih deh kontak itu ke Mbak Yani. Dan entah kenapa juga harus aku kasih. Terserah elu deh. Sedikit gurauan tantang ‘seberapa aku berharap dia datang’ mewarnai chat kami. Namun aku yakin, melihat karakter Sanasuke, dan melihat seberapa penting acara pertemuan ini bagi dia, aku sangat yakin Sanasuke tidak akan datang. Buat apa!? Ketemuan sama aku, ohh man!! Are you kidding me, God!? seorang loser yang sering kali mengacaukan hari-harinya. Apalagi setelah farewell messages beberapa bulan yang lalu. Ketemuan sama Mujix!? Nonsense!! Seberapa yakin? 100% aku yakin sanasuke tidak bakal datang!

Di sepanjang jalan aku tertawa miris. Antara senang dan sedih. Iya benar seratus persen itu angka yang mutlak. Seratus persen itu angka yang absolute. Begitu pikirku.

Setelah mengambil uang di ATM aku menyebrang jalan. Di seberang jalan itu ada masjid tempat dimana aku dan penghuni ‘Kontrakan Sudi Mampir’ melaksanakan ibadah haji kecil setiap hari Jum’at. Aku memandang sekilas bangunan itu. Masjid itu rumah Tuhan. Oh iya benar masih ada Tuhan. 'Sesuatu ' memberitahu tentang siapa sih aku hingga berani menjamin 100 persen untuk sebuah peristiwa yang belum terjadi. Sepertinya aku terlalu sombong. Sepertinya aku terlalu tinggi hati. Baiklah aku meralat ucapanku.

99% Sanasuke tidak bakal ada di pertemuan ini. 
1% sisanya aku menyebutnya 'kemungkinan yang mustahil, kuasa Tuhan, keajaiban, mukjizat atau apalah kalian semua menyebutnya'. Sepertinya aku masih terlalu sombong dan terlalu tinggi hati.

***

Semua acara brainstorming untuk komik aku hentikan seketika. Mengapa? Karena  dia berdiri di depanku,  Sanasuke yang aku kagumi, hadir dengan penuh keajaiban nan mustahil. Brengsek!!  Alam semesta berhasil mempermainkanku dengan 1 % kemungkinan takdir-Nya. Aku mengambil nafas panjang untuk menenangkan diri dan mencoba berbincang dengan Sanasuke.

“Huaaaah!! Sanasuke Bagaimana kabarmu!! Sini salaman dulu!!” Saking bego-nya, aku tidak mempersilahkan dia duduk terlebih dahulu.

Sanasuke tersenyum dan kami saling bersalaman. Jabat tangan terakhirku dengannya kira-kira dua tahun yang lalu, di kampus saat aku mengurus kelulusan. Sanasuke segera duduk dan terlibat obrolan ringan denganku. It’s Amazing! Kami berdua betemu di sini! Seberapa sering aku berdoa kepada Tuhan untuk mempertemukan kami. 
Segitunya? 
Iya segitunya.

Aku memandang dia dengan seksama dengan satu niat yang jelas. Memuaskan rasa rindu yang menyiksa. Tidak ada yang berubah. Dia masih Sanasuke yang aku kagumi selama ini. Sebenarnya Aku memang ada rencana untuk menemuinya, namun tidak untuk saat ini. Rambutnya jadi sedikit lebih panjang. Dia mengikat dan menjepitnya agar terlihat lebih pendek. Tidak ada sweater berwarna kuning jeruk. Jaket krem dengan kaos adalah pakaian kebesarannya malam ini. Sepatunya masih warrior, namun kali ini berwarna krem hijau muda.

1% yang mustahil itu adalah sebuah pertemuan berdurasi 1 jam dimana aku mengenal Sanasuke lebih dekat. Kurasa ini adalah 1 jam paling berkesan, di mana dia bercerita tentang banyak hal kepadaku. Dan pertemuan ini akhirnya mengajarkanku banyak hal. Namun yang paling penting dan terus berkecamuk di pikiranku adalah, kenapa hanya 1% kemungkinan yang aku percayakan kepada Tuhan. Kenapa bukan 2%, 17%, atau malah mungkin 100%! 

Saat itu aku mulai sadar. Seberapa payah aku karena meremehkan kehidupan yang besar nan kompleks ini.

Sepertinya benar apa yang dikatakan para pemikir di masa lalu. Di dunia ini tidak ada yang mustahil. Baiklah aku akan menata ulang lagi semua pola pikir dan persepsiku tentang hidup. 

Mujix
Beberapa menit kemudian Mbak Yani dan Deni datang.
Terimakasih sudah membantu menciptakan kemungkinan 1 % yang mustahil.
Aku akan mencoba untuk menjadi orang yang lebih baik.
Kerten, 04 September 2016.

Jumat, 26 Agustus 2016

Ranting Kopi

Kesepian itu pekat seperti kopi hitam yang kuseduh tadi sore. Pahit? Tentu saja. Namun bisa membuatku terjaga sampai malam membuka mata. Terus aku minum. Terus aku kulum.

Kesepian itu rapuh seperti ranting kering yang nyaris kuinjak tadi pagi. Sepele? Tentu saja. Namun jika dikumpulkan dan bertemu api, ranting itu bisa membakar semuanya tanpa sisa.

Kecuali kesepian, tentu saja.
Hanya itu yang tidak bisa dibakar oleh api dan dilarutkan oleh kopi.

Mujix
Habis nonton film 'Secret Life of Pet'. Menghibur. Cuman kacamata 3D-nya useless abis.
Kerten, 25 Agustus 2016

Senin, 22 Agustus 2016

Tersesat dan Tenggelam

Aku sedang tersesat di hutan. Berjalan kemari mencari tujuan. Tak kutemukan, tak kudapatkan.

Aku sedang tenggelam di lautan. Berenang kesana mencari sampan. Tak kutemukan, tak kudapatkan.

Maaf Tuhan, karena aku sedang tersesat dan tenggelam, tunggulah sebentar lagi.

Mujix
Komputerku masih error.
Dan belum kembali ke rutinitas.
Simo, 22 Agustus 2016.

Minggu, 21 Agustus 2016

Ada Samudra

Ada samudra yang bergejolak di dalam dada. Petir dan guntur menyambar memekakkan telinga. Kukira badai, kukira akhir dunia.

Ada gunung yang meletus di dalam kepala. Tanah dan batu berjatuhan menghancurkan rupa. Tanpa sisa untuk dibagikan tetangga.

Tangan itu mengepal meninju langit. Namun hujan tetap tak mau turun.
Kaki itu mengeras menendang bumi.
Namun matahari masih acuh.

Jangan bertanya bagaimana. Namun bertanyalah mengapa.
Jangan bertanya siapa.
Namun bertanyalah apa.

Ada samudra yang bergejolak di dalam dada. Petir dan guntur menyambar memekakkan telinga. Kukira badai, kukira akhir dunia.

Mujix
Kata-kata favorit akhir-akhir ini.
'Terserah'!
Simo, 21 Agustus 2016

Rabu, 17 Agustus 2016

Penerbangan Yang Gagal

"Perhatian penumpang Laiyon Air untuk segera kembali ke tempat duduk dan mengenakan sabuk pengaman anda di karenakan cuaca kurang baik untuk penerbangan. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih."

Aku bergidik ngeri saat mendengar pengumuman itu. Cuaca kurang bersahabat!? Jangan bercanda! Sekejap saja sholat asharku kacau. Entah ruku, sujud atau tahiyat semuanya sama saja.

Ternyata beribadah dengan khusuk di pesawat terbang di ketinggian entah berapa ribu kaki itu sangat mustahil untuk seorang komikus berambut kribo seperti aku.

Sholatku buyar, aku memandang ke arah luar jendela pesawat. Terlihat awan bergumpal bagai gula kapas. Sebagian berwarna putih, sebagian berwarna abu-abu.

Hal yang paling menyita perhatianku saat ini adalah sayap pesawat. Benda itu terlihat sangat rapuh, beneran, bergetar-getar dan berbunyi mendencit mengerikan. Di saat dramatis itu aku tiba-tiba mendapat satu pencerahan.

Mungkin sholatku kali ini adalah sholat gagal dan tidak sempurna.

Namun sholatku kali adalah sholat dimana aku benar-benar dekat dengan Tuhan, Allah, Dewa, atau apapun kalian menyebutnya.

"Hfffffttt...." aku mengambil nafas panjang dan menata sholat tersebut dengan seksama. Entah ibadah itu gagal atau cacat aku tidak perduli.

Aku melanjutkannya dengan perlahan, sambil sesekali melirik ke luar jendela. Kacau. Aku mencoba menenangkan diri dengan sebuah nasihat dari Pak Iyok.

"Numpak pesawat kui sing iso mbok lakoni mung siji. Pasrah."

Petuah nan bijak itu aku terima beberapa minggu yang lalu sesaat sebelum pergi ke Jakarta menaiki pesawat terbang.

Bepergian dengan benda logam yang melayang di atas cakrawala itu sesuatu yang baru untukku. Sangat baru malah. Untuk sesuatu yang baru dan belum pernah kujamah, mempelajari seluk beluk mengenai teknis adalah wajib. Nah, makanya deh sebelum berangkat aku banyak googling  dan curhat.

Salah satu curhatnya adalah dengan Pak Iyok. Veteran aktivis komik yang sudah berkali-kali naik pesawat terbang.

"Pak, nek ono 'opo-opo' pas numpak pesawat kudu piye? Padahal posisi wis neng angkoso kono."

Pak Iyok memandangku dengan datar sambil berkata satu kalimat pamungkas.

"Yo wis noh" ucapnya yang kemudian dilanjutkan dengan obrolan tentang 'pasrah'. Mau bagaimana lagi, sepertinya memang itu solusi untuk menghadapi apapun situasi tersebut.

Kecuali kamu seorang Superman atau One Punch Man. Hahaha

Pesawat yang aku tumpangi masih berada di awang-awang. Sholatku juga sudah sampai pada gerakan salam.

Semuanya serba dramatis. Aku menengok dua pramugari yang duduk di sampingku. Mereka masih mengenakan sabuk pengaman. Mataku melirik raut wajah pramugari itu.

Tak terlihat wajah panik ataupun takut. Mereka sepertinya sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Dan yang paling penting....

Dua pramugari ini lebih cantik dibandingkan pramugari sebelumnya saat aku berangkat. Astagfirullah. Sepertinya darah kelaki-lakianku tidak memikirkan situasi genting tersebut. Susunan DNA dan molekul di dalam tubuhku berteriak dengan lantang bahwa keadaan tidak seburuk itu.

"Mau mati kek! Mau pesawat meledak kek! Terserah!!" guman sesuatu nun jauh di dalam pikiranku.

Iya juga ya, mati hidup seseorang siapa yang tahu.

Akhirnya aku mencoba menikmati sisa penerbangan dengan perasaan yang sedikit lebih baik.

Pats. Lampu tanda 'mengenakan sabuk pengaman' sudah padam. Sepertinya daerah dengan cuaca yang kurang baik telah terlewati. Mbak-mbak pramugari juga beranjak dari kursinya sambil mencium pipiku.
Euhh... Sepertinya aku mulai berhalusinasi, acuhkan saja mulut besarku.

Aku memandang ke luar jendela. Di hadapanku terbentang pemandangan yang menakjubkan. Ada hamparan kotak-kotak kecil tertata secara acak. Ya, kotak-kotak kecil itu adalah pemukiman serta gedung-gedung megah yang kamu temui setiap hari.

Bentuknya beragam. Semua bangunan itu terlihat sangat kecil dan terlihat rumit. Sesekali terlihat sebuah garis panjang berwarna coklat membelah daratan.

"Itu pasti jalan tol yang sedang dibangun" begitu pikirku.

Kalau diperhatikan lebih seksama, nampak kumpulan butiran kecil bergerak pelan. Aku yakin benda-benda itu kendaraan yang tengah melintas di jalan raya. Wuiiiih. Bisa lucu gitu ya.

Semuanya ter-komposisi se-dekemikian rupa hingga membuatku berdecak kagum. Apalagi ketika sesekali matahari sore mengradasi semua pemandangan berwarna jingga yang lembut. Nikmat apa lagi yang kamu dustakan, Jix!!!

Gila, enggak menyangka gara-gara komik aku bisa naik pesawat dan melihat pemandangan seindah ini. Aku melupakan semua rasa takut dan resah. Entah sejak kapan hatiku mendadak penuh haru. Semua kenangan menyeruak tanpa permisi. Baik, buruk, semua bercampur aduk.

Jika kali ini aku masih hidup, aku ingin hidup dengan lebih baik.

Aku teringat kedua orang tuaku di Bogor. Aku yakin kedatanganku beberapa hari di sana, membuat mereka bahagia. Namun itu belum cukup.

Jika aku masih dibiarkan hidup oleh Tuhan, Allah, Dewa atau apapun kalian menyebutnya, aku ingin bisa lebih... Lebih... Lebih membuat mereka bahagia.

Beneran, Jika kali ini aku masih hidup, aku ingin hidup dengan lebih baik. Aku berjanji dengan sepenuh hati.

Mujix
Dan postingan ini diketik sesaat setelah turun dari pesawat dan dilanjutkan di rumah saat perasaanku sedang sangat baik.
Simo, 30 Agustus 2016

Sabtu, 13 Agustus 2016

Farewell Messages

Hey kamu, Thanks ya udah hadir di kehidupanku yang besar ini. Move on dari kamu itu susaaah banget. Tapi aku yakin tidak ada yang kebetulan dalam ikatan takdir.

Semoga kedepannya kita menemukan kebahagiaan masing-masing. Bye. Hihihi

Mujix
Orang yang selalu memanggil namamu dan berteriak tak tahu waktu.
Bogor, 13 Agustus 2016

Cerita Senja

Melihat banyak manusia yang berlalu lalang dengan mata sedikit minus saat petang itu membuatku pusing. Dari peristiwa kali ini aku mempelajari beberapa hal:

Jujur itu penting. Sesulit apapun keadaanmu. Jangan pernah menggampangkan sesuatu hal. Prasangka yang gegabah bisa merusak kebahagiaan kecil di masa depan.

Oh iya, satu lagi. Andaikata melirik cewek cantik jangan lama-lama, takut naksir atau ditaksir.

Semoga semuanya baik-baik saja. Soalnya aku belum menemukan apa yang aku cari dan apa yang membuatku bahagia. Maaf.

Mujix
Sedang menikmati suasana setelah hujan di kementrian entah apa namanya aku lupa. Berdoa lagi
Ahh agar semua baik-baik saja. Amiien. Jangan lupa mawas diri.
Jakarta, 8 Agustus 2016

Minggu, 07 Agustus 2016

Mati

Mati. Beberapa orang baik yang aku kenal telah mati, atau bahasa sopannya 'meninggal'. Tapi aku lebih suka menyebutnya dengan kata 'mati'.

Lebih dramatis dan lebih meninggalkan kesan yang mendalam.

Di blog ini berulang kali aku membuat tulisan yang bertema kematian. Berulang kali berwacana dan berakhir dengan omong kosong semata. Mau bagaimana lagi, aku tidak mengetahui banyak info tentang hal-hal yang berkaitan dengan 'dunia misterius' tersebut.

Rasanya menakutkan. Semacam pergi ke suatu tempat yang belum pernah kau datangi. Terlalu banyak kekhawatiran.

Kekhawatiran akan pergi ke suatu tempat yang asing juga kurasakan akhir-akhir ini. Pekan depan, tepatnya hari minggu tanggal 7 Agustus 2016 aku harus berangkat ke Jakarta. Ngapain ke sana? Mencari kebahagiaan, tentu saja.

Hahaha, 'mencari kebahagiaan'!? Epic sekali. Jadi ginih, karya komikku yang berjudul ' Si Amed dan Bahaya Buang Air Besar Sembarangan' menyabet juara keempat di lomba komik sanitasi 2016.

Iya juara keempat.
Padahal kukira bisa juara pertama.
Soalnya berhadiah sepuluh juta.
Kalo menang kan udah gak usah pusing mikirin biaya nikah. Emang mau nikah sama siapa?

Anu...
Ah intinya aku harus ke Jakarta pada tanggal tersebut untuk penyerahan hadiah.

Senang? Tentu saja.
Pusing? Tentu saja. Tabunganku ludes buat beli tiket pesawat.

Dan sekarang aku udah sampai Jakarta. Sedang bengong di warteg DJ depan Akademi Samali. Masih memikirkan kematian? Tentu saja.

Kematian bisa datang kapan saja. Tak tentu waktu bisa terjadi dimanapun. Hampir setiap hari aku mengingat hal tersebut. Kadang sadar, kadang cuek bebek. Ah, namanya juga hidup.

Ini adalah sebuah pengakuan, pengakuan yang konyol, aku sempat berpikir mati saat naik pesawat dalam rangka memenangi lomba komik adalah suatu kematian yang keren. Walaupun juara harapan, keren ya tetap keren.

Beberapa hari setelah memesan tiket, pikiranku memang terjun bebas dengan imajinasi yang paling buruk (dan paling baik, tentu saja).

Pesawat menabrak gunung!
Pesawat nyemplung laut!
Pesawat dibajak teroris!
Pesawat meledak entah karena apa!
Dan lain sebagainya, intinya berakhir mati begitu saja.

Nyatanya, beberapa orang yang aku kenal mati dengan cara yang lebih manusiawi.

Dek Vinda meninggal karena kangker. Mas Reza meninggal terseret ombak saat bermain di pantai. Bang E'ed meninggal karena sakit paru-paru. Dan lain sebagainya.

Tidak ada yang mati disandra teroris saat naik kapal selam!

Mereka meninggalkan pesan tentang kematian dengan sangat lugas, mati bisa datang kapanpun.

Dan bisa datang tanpa disangka-sangka.

Beberapa minggu yang lalu, aku menemukan analogi yang tepat untuk menggambarkan kematian.

Kematian itu seperti perjalanan dari tempat kerja menuju rumah dengan mengendarai sepeda motor.

Kematian itu rumah yang sangat kalian rindukan untuk segera beristirahat.

Mujix
Harus segera beristirahat.
Capek seharian muter-muter naik busway.
Jakarta, 7 Agustus 2016

Naik Pesawat

Pencapaian terkerenku kali ini adalah bisa naik pesawat terbang karena menang lomba komik. Rasanya sangat menyenangkan memiliki pengalaman baru ini. Kesan yang bisa aku katakan tentang naik pesawat hanya ada dua kata.

Mendebarkan dan menakjubkan.

Perasaan berdebar dipersembahkan oleh berbagai peristiwa kecelakaan yang diberitakan oleh berbagai media. Ngeri juga membayangkan benda besi sebesar itu bisa terbang ke langit. Aku jadi ingin mempelajari teori gravitasi dan massa benda lagi.

Sensasi saat pesawat berbelok sangat dirasakan oleh tubuh. Berasa ngambang dan sedikit membuat telinga berdenging. Apalagi dengan pemandangan langit biru tiada batas di luar jendela. Keren.

Gumpalan awan putih yang menggunung bagai gula-gula kapas tak henti-hentinya membuatku kagum. Kalo bisa sih aku pengen melompat dan mendarat di awan yang kayaknya empuk itu.

Iya, kayaknya sih empuk. Tapi nyatanya gumpalan awan itu tidak seempuk yang aku kira. Ada saat dimana pesawat yang aku tumpangi, Lion Air, iya yang harganya murah dan katanya raja delay itu, menerobos awan dengan gagah berani.

Daripada disebut mirip kapas, awan dan mega-mega berarak yang sering aku kagumi dari bawah itu lebih mirip kabut. Bisa ditembus begitu saja meninggalkan getaran-getaran yang membuatku memikirkan apa hakikat manusia hidup di dunia. Njiiiirrrrr!!!!

Perjalanan dari Solo ke Jakarta ditempuh kurang lebih satu jam. Agar tidak telat aku harus berangkat dari rumahku di Boyolali pukul empat pagi. Berdua dengan kakakku, Mas Jack, jalanan sepi Solo Simo, kami terobos sembari bercerita banyak hal.

Dari banyak hal yang terlontar, yang paling aku ingat adalah obrolan tentang kematian. Selama seorang manusia bisa atau telah meninggalkan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, kematian bukanlah sesuatu yang buruk. Dan selama di dalam pesawat di ketinggian entah berapa ribu meter di atas sana, aku memikirkan hal-hal itu berulang kali.

Apakah aku puas dengan hidupku?

Apakah hidupku sudah bermanfaat untuk orang lain?

Dan yang paling penting, mengapa aku masih berada di dunia yang serba berisik ini?

Mujix
Siapa bilang semua pramugari itu cantik? Yang tadi malah tembem dan ghinuk-ghinuk :p
Jakarta, 7 Agustus 2016

Senin, 01 Agustus 2016

Hujan

Hujan turun lagi
Jatuh membasahi pipi
Menenggelamkan ego di hati
Sendu sedan seperti bernyanyi

Awan kelabu di atas kepalaku
Memeluk cinta yang tengah pilu
Karena masa berlalu bagai lagu
Senandung rindu di ujung waktu

Jangan bertanya soal sang surya
Karena dia pergi entah dimana
Membiarkan manusia meratapi duka
Namun sayang hanya menggumpal di dada saja

Hujan telah pergi
Air mengalir membawa mimpi
Menuju esok yang tentu tak sama dengan hari ini

Mujix
Aku enggak nyangka kalo
video klipnya Band Armada
sangat emosional.
Simo 1 Agustus 2016

Sempak

'Sempak' adalah istilah untuk menyebut celana dalam seorang laki-laki. Baru-baru ini seorang kawanku suka menggunakan kata 'sempak' tersebut untuk mengumpat. Ketika kutanya mengapa, dia menjawab.

" Lebih sopan daripada 'asu' dan lebih mantap karena ada huruh 'a' yang panjang'

Pikirku, perasaan semua kata umpatan memiliki  huruf vokal yang panjang. Kata umpatan 'sempak' nan mantap itu terdengar beberapa hari yang lalu. Saat dia sedang galau gara-gara urusan dinas yang mengharuskannya membeli tiket kereta api.

Kira-kira umpatannya seperti ini.
"SYEEMPAAAAAAKKK!!!"
Temanku berteriak sambil melemparkan tubuhnya ke kursi.

'Piye...piye...piye...?" tanyaku dengan tampang datar.

"Aku mau beli tiket tapi duit mepet! Nek ngene carane aku kudu piye maneh!?"  dia mengeluh sambil memegang kepala.

"Turu wae!"
Kataku acuh tak acuh sambil menjawab balasan chat di handphone.

"NDASE! Acara iki penting yo nggo aku!  Akhirnya semua pencapaianku diakui oleh publik" ujarnya sembari mematikan netbook.

"Lha piye maneh? Aku yo ora duwe duit! Hahaha" aku menjawab sambil tertawa untuk mencairkan suasana.

Suasana hening sejenak. Aku paham betul apa yang dia rasakan. Rasa kecewa karena sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi itu menyakitkan. Dan untuk beberapa orang, kejadian 'Kampret' itu terkadang terjadi berulang kali tanpa permisi.

"Aku mumet Jix, aku wis bingung kudu piye maneh. Sempak tenan kok!!"  ucapnya sambil menyembunyikan muka yang perlahan-lahan makin kusut.

Terkadang ada keadaan yang tidak bisa diubah. Berjuang sampai mampus-pun belum semuanya akan beres.  Tiba-tiba waktu telah berlalu. Tak mau berkompromi.

"Kui Lelakonmu, Coy! Nek iso nglewati koe bakal mundak level."  ujarku pelan. Aku sudah tidak tahu harus menasihati apa lagi.

Level yang mana? Entah. Aku sendiri juga hampir lupa. Terkadang hidup itu tidak melulu sebagaimana keras kita berjuang. Terkadang ada secuil 'pil pahit' kekalahan yang harus kecap agar suatu hari bisa merasakan 'permen manis' kehidupan.

Permen manis yang disembunyikan Sang Maha Pembuat Kisah yang membuat temanku mengumpat kata 'Sempak'.

Mujix
semua akar permasalahan adalah rasa lapar. Namun kabar baiknya,
Akar permasalahan dewasa ini bukan hanya rasa lapar, namun juga ego yang minta diisi oleh apresiasi.
SEMPAAAAAKKK!!!
Simo, 1 Agustus 2016

Jumat, 29 Juli 2016

Mendapati Dirinya

Diluar hujan tak terlalu lebat. Airnya membuat udara siang ini menjadi dingin, hingga selimut tak akan kulepaskan dari kakiku. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan. Aku mengerjakannya dengan sangat pelan. Bunyi rintik hujan dan musik dari handphone beriringan masuk ke telinga. Walau masih banyak persoalan yang belum selesai, entah kenapa aku merasa sedikit bahagia. Pagi yang cerah entah kapan sudah terlewat, seperti beberapa wanita yang hadir di hidupku. Mereka ada dengan ceritanya masing-masing. Sedikit penyesalan terkadang ikut hadir. Sedikit kesedihan tak jarang muncul. Suka atau tidak suka aku harus terus menjalani hari ini sampai terlelap di malam nanti.

"Tuhan, jangan-jangan Kau berniat mengalahkan aku?"

Tuhan menjawab samar-samar.
"Aku bukan hendak mengalahkan kau! Tapi Aku ingin membuatmu menjadi berkeping-keping!"

Mujix
Sedang bingung.
Simo, 26 Juli 2016

Aku dan Kamu

Aku
Aku sedang bosan menjadi aku
Aku ingin menjadi sesuatu
Aku ingin menjadi kamu

Kamu
Kamu yang selalu di pikiranku
Kamu yang selalu di hatiku
Kamu yang selalu di aku rindu

Aku dan kamu adalah satu
Aku sedang bosan menjadi aku?
Bagaimana dengan kamu?
Apakah bosan dan ingin menjadi aku?

Mujix
Menjadi juara harapan pertama komik sanitasi 2016. Tapi entah kenapa tidak terlalu bergembira.
Malah kusut. Malah bingung.
Dasar manusia calon filusuf.
Simo, 29 Juli 2016

Kamis, 21 Juli 2016

Beton Berwarna Pucat

Matahari bersembunyi dibalik pojokan. Malu-malu menyebarkan benalu. Hari yang penuh ketegangan hampir berakhir. Menyisakan keringat basah di sekujur badan. Bau cairan dari tubuh yang menempel di baju terkadang mengganggu ibuku. Beliau bilang bahwa aku harus rajin ganti baju. Kebersihan sangat penting, katanya.

Baju berganti artinya banyak benda yang harus dicuci. Aku bukanlah seorang pemalas, aku hanya orang besar yang belum terbiasa hidup terlalu cepat. Beberapa orang mengartikan 'hidup' seperti berkendara. Harus cepat. Harus segera sampai. Ternyata bukan hanya alat kelamin saja yang berharap bersegera untuk cepat.

Benda yang memiliki sedikit 'persamaan' dengan alat kelamin adalah motor matic. Sama-sama digemari oleh semua kalangan. Maaf untuk para pionir pencetus motor matic. Ini hanya bentuk pengekspresian kekaguman, tidak kurang dan tidak lebih.

Satu hal pasti yang kurasakan dari motor matic. Ayahku tidak lagi mengencangkan kakinya saat berkendara. Trauma akan nyawa yang menghilangkan nyawa para saudaranya membuat beliau sedikit takut ketika berkendara.

'Tidak usah takut', seperti itu semesta berbicara padaku melalui wajah tua ayahku. Beliau mempercayakan hidupnya padaku beberapa jam yang lalu. Saat mengantar kepergiannya untuk merantau.

Aku selalu sedih ketika melepas ayah dan ibuku merantau. Sedih tanpa air mata. Sekejap rasa kelu menyeruak di dalam dada. Selogis apapun pikiranku mengartikan mereka, hidup ini tidak ada tanpa kuasanya.

Mujix
Sedang berada di Pendopo Sriwedari.
Memantapkan banyak hal.
Semoga semua berjalan dengan semestinya. Terima kasih Tuhan
21 Juli 2016

Selasa, 19 Juli 2016

Daur Ulang

Merindukanmu dengan sangat, berkelana kemana-mana namun tak ada apapun. Perih hati tak pernah dirasakan oleh kaki, sama saja seperti perihnya rindu yang tidak pernah dimengerti oleh empedu.

Bagaimana agar semuanya baik-baik saja? Matikan saja nyawa ini walau hanya sementara!

Merindukanmu akan segera usai. Karena mimpi ada hanya untuk mempertemukan aku dengan kamu.
Tidak perlu berkelana kemana-mana.

Karena kamu ada dipikiranku. Karena merindukanmu adalah candu untuk empeduku.

Mujix
Smartphone-ku abis error.
Aplikasi ilang, kontak ilang, histori percakapan ilang, nomer doi ilang, cuman rindu aja yang masih tersisa dan terus menebal :'(
Simo, 20 Juli 2016

Selasa, 28 Juni 2016

Perempuan Berjilbab Hitam

Perempuan berjilbab hitam itu duduk dikursi. Wajahnya tetap cantik jelita walaupun tak memancarkan cinta. Tak terlalu jauh untuk diraih, namun tak terlalu dekat untuk diacuhkan. Sekeping rasa iri ia berikan padaku. Kehidupan yang sempurna ada di depan matanya. Waktu berlalu begitu saja. Tidak ada seorangpun yang peduli lagi. kerena ada ego yang harus diisi dengan mimpi.

Perempuan berjilbab hitam itu beranjak meninggalkan kursi. Terburu-buru tanpa menegur terlebih dahulu. Kepingan rasa iri yang ia berikan padaku berubah menjadi tanda tanya. Kehidupan yang sempurna di hadapannya akankah berlangsung selamanya?

Perempuan berjilbab hitam itu berjalan cepat menuju pintu. Dia menoleh sesaat dan tersenyum penuh arti. Wajahnya kini biasa saja tapi memancarkan banyak cinta. Dia menghilang ditelan cahaya menyilaukan saat saat keluar pintu. Begitu tiba-tiba dan raib begitu saja.

Semuanya kembali seperti semula. Bias kilauan warna putih perlahan mulai memudar. Perempuan berjilbab hitam itu kini berada di luar sana dan bercengkrama dengan kehidupan yang benar-benar sempurna.

Semoga perjalananmu menyenangkan. Kursi kosong yang kamu tinggalkan, akan aku pindahkan ke samping pintu agar aku bisa mengingatmu.

Mujix
Buat Dek Vanda.
Terimakasih sudah memuji kalau aku lebih cakep kalau potong rambut. Terimakasih sudah mengajarkan aku kalau kematian bisa datang kapan saja dan tak bisa disangka. Salam buat Tuhan.
Simo, 28 Juni 2016

Jarak Terjauh

Ada seraut wajah yang tertinggal di mimpiku semalam. Binar dan tatapan sendu itu tak sengaja menusuk kalbuku lagi. Menyiksa hati dengan perlahan, mengobatinya lagi dengan pelan.

Berbahagialah kamu yang saat ini tak terkurung oleh sangkar rindu. Tak perlu takut diterkam rasa sepi karena selalu ada hati di sisi. Selalu menemanimu, selalu memelukmu.

Ada seraut wajah yang tertinggal di mimpiku semalam. Wajah yang tertunduk menatap tanah, tempat dimana aku selalu menunggu genggaman tanganmu. Tangan yang tak kunjung datang.

Mujix
Bukunya udah sampai.
Mengesankan sekali.
Simo, 28 Juni 2016

Jumat, 24 Juni 2016

Pertanyaan Besar

Pagi ini aku terbangun dengan satu pertanyaan besar, 'apakah aku sudah hidup sebaik-baiknya sebagai seorang manusia?'

'Belum!' tiba-tiba saja diriku yang lain berteriak di suatu sudut pikiran. Aku tersadar ternyata masih banyak yang menyita hidupku hingga tidak ada waktu untuk memikirkan orang lain.

Orang lain? Ya, orang lain! Aku sangat mempercayai, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna bagi manusia lain.

Pematik pertanyaan besar pagi ini mungkin disebabkan oleh postingan kawan di sebuah halaman Facebook. Sebuah gambar perempuan berjilbab yang dibuat pake pensil dengan caption 'my power',  yang entah kenapa aku bisa melihat 'harapan' dari sang kreator di sana.

Harapan yang membuatnya untuk terus berjuang dengan gigih tanpa meninggalkan kebanggaan terhadap diri sendiri. Sebuah kekuatan besar yang kurasa sudah sangat cukup untuk menggulingkan congkaknya dunia.

Jujur saja, dari hati yang paling dalam walau sangat tipis, aku sebenarnya sedikit iri. Kenapa aku tidak (atau belum) bisa seperti itu?

Iri hati? Bagaimana mungkin bisa menjadi 'sebaik-baiknya manusia' jika masih menebar bibit buruk seperti itu!

Untuk itulah aku menyibukkan diri dengan banyak hal agar bibit itu bisa layu dan mungkin gagal tumbuh agar hidupku jadi lebih baik.

Bersyukurlah jika kalian yang membaca postingan ini masih memiliki alasan yang kuat untuk bisa tetap hidup menantang dunia. Percayalah, untuk golongan 'para manusia patah arang', mencari alasan untuk sekedar bangun tidur saja susahnya minta ampun.

Nah buat kalian yang baca postingan ini, pikirkan baik-baik pertanyaan ini,
'apakah kalian sudah hidup sebaik-baiknya sebagai seorang manusia?'

Mujix
Kok paketanku belum datang ya?
Ternyata bukan hanya perasaan saja yang berbakat untuk datang terlambat.
Simo, 24 Juni 2016

Selasa, 21 Juni 2016

Senjata Baru


Yeeea! Akhirnya kesampaian juga membeli Wacom Intuos. Semoga karirku sebagai komikus semakin bersinar. Beneran, aku benar-benar berharap agar karirku semakin bersinar tahun-tahun ke depan. Ah, balik lagi ke topik Wacom. Benda sakral ini aku beli dari Rochmat yang sangat beruntung memenangkan kompetisi komik Kitkat. Pemenangnya mendapatkan Wacom Intuos, dan kebetulan doi udah punya pen tablet di rumah, terus doi posting di grup Watsap, Pen Tablet ini aku beli dari honor komik Si Amed di bukunya Letter to Habibie, iya, Si Maniak Bakso Bakar itu berhasil mewujudkan mimpiku untuk memiliki Pen tablet. Tenang aja Med, kamu kebagian jatah bakso bakar kok. Hehehehe

Setelah Googling, aku mengetahui kalau harga pen tablet itu berkisar Rp.1.290.000. Entah dengan alasan kedekatan atau memang baik hati aku bisa mendapatkan pen tablet tersebut dengan harga Rp.1.000.000. Langsung deh aku kuras semua uangku di ATM, dan sepertinya lebaran tahun ini aku bakalan bokek lagi. Semoga saja dengan datangnya alat ini semangatku untuk berkomik bisa tumbuh dan bermekaran menjadi benih-benih yang baik di masa depan. Btw, gambar diatas adalah percobaan pertamaku menggunakan pen tablet ini. Latihan sederhana semacam menggaris dan menggores harus aku biasakan. Yah kurasa seperti itu dulu, bentar lagi waktu berbukapuasa. aku harus membuat teh hangat yang sedap. Percaya atau enggak memiliki benda ini sangat menyenangkan sekali.

Mujix
Kok buku 'Coloring Book' dari
penerbit belum nyampe ya!?
Padahal aku penasaran banget
bagaimana bentuk fisiknya.
hehehe
Simo, 21 Juni 2016

Kamis, 16 Juni 2016

16.06.2016

Malam adalah sebaik-baiknya kawan
Tak pernah mengusikmu
Tak pernah membebanimu

Diri sendiri adalah sebaik-baiknya teman
Selalu mendampingimu
Selalu membimbingmu

Mujix
Sedang marathon menonton anime 'Hikaru No Go', adegan favorit adalah saat Hikaru melawan Mitani, Kaga dan Megane senpai secara bersamaan di klub igo
Simo, 16 Juni 2016

Minggu, 12 Juni 2016

Bus

Entah sudah beberapa jam aku berada di tempat ini. Kendaraan yang aku tunggu belum juga kunjung tiba.

Sinar matahari sore memancar terik membuat tenggorokan semakin kering. Asap rokok menyelimuti percakapan orang asing di depan angkringan tak jauh dari tempatku duduk. Semuanya berlalu begitu saja.
Perasaan campur aduk karena bahagia beberapa tahun silam kini melumer dilindas perkasanya waktu. Penantianku terhadap angkutan umum ini tak jauh berbeda dengan penantianku terhadap rasa yang bernama suka cita.

Keduanya seperti bintang  yang tak kunjung berpindah saat aku memandanginya dengan seksama. Aku tidak tahu akan sampai jam berapa penantian ini berlanjut.

Apakah aku bisa segera pulang ke rumah? Atau kembali ke belantara kota asing yang penuh gemerlap pesona dunia khayalan? Siapa yang tahu.

Namun yang pasti angkutan umum yang aku tunggu sudah nampak di ujung jalan.

Mujix
Waktu berbuka kurang dua jam lagi.
Kartosuro, 12 Juni 2016

Sabtu, 11 Juni 2016

Mimisan

Malam ini aku menatap darah yang mengering di tangan dengan tatapan gamang.  Jalanan arah pulang ke kontrakan Bang Arum Kerten cukup lengang. Aku sengaja berjalan lambat, di belakang teman-teman yang berbincang apapun.

Alasanku tertinggal beberapa langkah dari mereka karena ingin  menganalisa apa penyebab keluarnya darah dari hidung beberapa saat yang lalu.

Semuanya terjadi begitu saja. Saat perbincangan kami mulai pekat, tiba-tiba saja aku merasa ada cairan dingin dari hidung yang tidak bisa aku kontrol. Cairan ini sudah pasti bukan ingus cair seperti saat demam beberapa hari yang lalu.

Cairan itu memiliki sensasi tersendiri yang berbeda. Tanganku secara reflek menutup hidung dan dengan cepat kudongakan kepala ke atas. Secepat mungkin aku menatap cairan di tanganku. Saat itu aku berharap cairan itu berwarna bening. Namun apa daya, benda berair yang keluar dari hidungku ternyata berwarna merah darah. Aku sedikit bergidik ngeri.

Obrolan kami terhenti seketika! Jeki panik dan mencoba mencari tisue. Namun sayang tidak ada sesuatu pun yang bisa mengganjal hidung untuk menghentikan mimisan tersebut. Aku mencoba menenangkan mereka, kalau mimisan ini disebabkan oleh aku yang sedang kelelahan. Ya kelelahan.

Aktivitasku beberapa hari ini memang gila-gilaan. Aku mengerjakan beberapa project sekaligus. Komik Si Amed versi Habibie, versi sanitasi, dan versi reguler up load di Facebook.

Udah cukup? Belum. Aku masih meluangkan waktu untuk membuat komik Instagram. Menyelesaikan beberapa list lain seperti illustrasi cover komik dan menjawab list wawancara untuk Virala.id.

Udah? Hampir udah. Jangan lupakan project komik religi dan jadwal ke Solo untuk buka bersama dengan teman-teman Ikatan Komikus Solo. Belum lagi soal urusan pigura untuk studio yang belum usai. Intinya aku terlalu memaksakan diri. Dan postingan inipun hasil pemaksaan selanjutnya setelah insiden mimisan tersebut.

Hari ini sepertinya semua rasa lelah sudah tak kuasa lagi dikandung badan. Beberapa hari ini aku memang bekerja keras dan memaksakan diri. Perubahan pola kerja mendadak itu disebabkan datangnya bulan Ramadhan.

Buat beberapa orang, bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Namun bagiku saat ini, bulan Ramadhan adalah bulan penuh ujian dan siksaan. Kalau boleh jujur, bulan Ramadhan ini adalah Ramadhan paling berat di sepanjang hidupku.

Aku harus me-reset  banyak hal. Jadwal di seluruh tubuhku berubah. Jam tidur kacau, pola makan berantakan. Dan puasa kali ini berhasil membuat produktivitasku menurun dengan sukses.

Suka atau enggak, Ramadhan tahun ini cukup menyebalkan.

Kecuali mengingat beberapa fakta berikut ini. Fakta pertama, bulan ini aku menghasilkan dua buku sekaligus dan dua-duanya nongol di toko buku. Buku pertama adalah Coloring Book for Adult: Nusantara Series.

Iya buku itu sudah selesai cetak. Waktu dipamerin Omm Fachmy di What-sap sih kelihatannya bakal epic abis. Enggak sabar nungguin buku fisiknya sampai di tanganku. Nanti kalau udah sampai bakal aku koar-koar deh.

Buku kedua adalah buku berjudul Letters to Habibie, di buku itu komik Si Amed bakal nongol sebanyak 6 lembar. Menyenangkan sekali, bisa dibilang project ini adalah debut Si Amed di buku cetak. Komik ini aku selesaikan dalam satu minggu tanpa hambatan yang berarti. Pokoknya sudah selesai dan udah nakring di email mas editor.

Fakta kedua adalah kelanjutan nasib komik religi yang aku kerjakan dua tahun lalu. Setelah nggantung beberapa bulan, minggu kemarin aku dikabari kalau naskah tersebut berpindah penerbit. Yah, syukur deh kalau masih ada lanjutannya. Mau tidak mau aku harus bisa menumbuhkan good mood untuk project tersebut. Mulai kapan project ini dikerjakan lagi? Entahlah. Doain saja tahun ini bisa kelar.

Aku lebih suka menyelesaikan pekerjaan daripada memulai pekerjaan. Dan pekerjaan ini sepertinya sempat menyita banyak di otakku.

Ngobrolin soal otak, Jeki bilang keluarnya darah dari hidung dipicu pendarahan yang berlebihan di bagian otak. Kira-kira seperti itu ucapannya tadi saat perjalanan pulang dari wedangan paska peristiwa mimisan. Entah benar atau tidak, namun yang pasti aku memikirkan banyak hak akhir-akhir ini.

Dari berbagai hal yang bersliweran di kepala akhirnya tersimpulkan satu kenyataan kecil namun sangat menakutkan. Kenyataan kecil itu berbunyi ' Aku sedang tidak bahagia dengan kehidupanku saat ini'.

Beberapa kali aku bercerita di blog, sumber kehidupan yang kujalani saat ini adalah dari sisa daya hidupku beberapa tahun silam.

Beneran hanya energi sisa-sisa. Tak terhitung malam dan siang yang terbuang percuma tergilas oleh waktu gara-gara aku kelelahan secara batin.

Hal yang membuatku bertahan hingga hari ini hanya sifat keras kepalaku untuk mengalahkan kelemahanku. Namun aku sangat paham sekali, saat ini adalah saat yang cukup kritis. Manusia tanpa daya hidup itu tak ubahnya seperti batu yang teronggok di pinggir jalan.

Bukan hal yang aneh kalau insiden mimisan malam ini terjadi. Kelelahan fisik dan batin sudah pasti menjadi biang keroknya. Bahkan sebelum ini aku sempat berpikir lebih buruk daripada sekedar mimisan.

Postingan ini aku sambung lagi setelah waktu sahur. Mimisan tadi malam masih berlanjut sesaat sebelum aku istirahat. Bahkan aku sengaja menundukkan kepala untuk mengeluarkan sisa darah dari hidungku. Beberapa masih mengalir. Hingga akhirnya kurasa cukup kering dan kulanjutkan dengan istirahat.

Apakah balada darah mengucur dari hidung ini akan terus berlanjut? Aku harap tidak. Aku benar-benar tidak berharap elegi mimisan ini terulang lagi. Apakah aku belajar sesuatu dari insiden ini? Sangat banyak. Namun tidak perlu aku tulis di sini.

Satu hal yang bisa aku katakan kepada kalian, aku akan mencoba berbahagia sembari mengelola aktivitasku dengan benar.

Mujix
Pertama kalinya buka puasa
tidak semenyenangkan biasanya.
Menu tempe orek dan kerang
itu terlalu pedas di lidah dan di dompet. Sepertinya aku harus mencari tempat tongkrongan lain yang lebih manusiawi. Oh iya, aku udah cerita kalau ngebakar gorengannya pakai kompor gas? Kacau deh pokoknya.
Kerten, 11 Juni 2016

Rabu, 08 Juni 2016

Sore

Bau asap rokok dan kendaraan membisu menutup hidungku

Matahari tinggal setengah, namun panasya tak kunjung hilang diterjang terang

Walau tak hilang namun sosoknya tak juga nampak

Entah bersembunyi, entah melarikan diri, siapa yang peduli

Kuda besi ini perlahan melaju

Meninggalkan aku di masa lalu
Meninggalkan asap rokok dan kendaraan yang membisu di hidungku

Mujix
Akhir pekan. Saatnya berjalan-jalan untuk menemukan secercah jawaban
Pelem, 4 Juni 2016

Sabtu, 04 Juni 2016

Kala Raga Bercerita

Ada kata tak terucap oleh raga karena menunggu asa di balik jendela yang enggan untuk terbuka.

Aku membutuhkan tanganmu untuk sekedar memutar kenop kunci itu.

Kunci berkarat, berwarna coklat, dan perlahan berubah mejadi pucat seperti mayat karena sumpah serapahku.

Tidak terbukapun sebenarnya tidak mengapa, karena bau hutan penuh keceriaan sesekali menelusup dengan dari sudut pintu.

Walau enggan percaya, namun aku selalu memegang erat ucapan bunda bahwa bahagia itu sederhana.

Sesederhana aku menyebut namamu saat merindu, atau sesederhana aku menghujat namamu saat merindu namun tidak ada kamu di sisiku.

Mujix
Sedang berada di fase yang cukup kritis. Please help, it's really suck here!
Simo, 4 Juni 2016

Selasa, 31 Mei 2016

Awal Senja Di Hari Selasa

Gantar sedang menangis di luar rumah. Sudah menjadi kebiasaan di setiap harinya, dia kalau terbangun harus ada mamanya. Dan siang ini, mamanya sedang pergi ke Sambi untuk mengecek warung.

Kakakku, yang sekaligus ayahnya, bersama nenek berlomba-lomba untuk meredakan tangisannya. Namun tidak ada hasilnya sama sekali. Gantar terus menerus menangis dan meraung. Begitulah. Menangis dan meraung adalah cara untuk merespon sesuatu yang tidak sesuai keinginan saat manusia masih  menjadi balita.

Saat ini aku berada di kamar tidur. Berniat untuk tidur siang dan mengacuhkan semua permasalahan di sekitarku. Aki tak begitu perduli dengan Gantar yang menangis, toh diapun tak begitu suka aku ajak saat bangun tidur. Semua manusia sepertinya sangat mudah sensi saat tidur.

Tidur menjadi aktivitas favoritku akhir-akhir ini, apalagi semenjak aku demam beberapa hari yang lalu. Tidur menjadi sarana penyembuhan fisik yang menyenangkan.

Bulan Mei tinggal beberapa jam lagi akan berakhir. Hari-hari di bulan Mei ini banyak aku habiskan untuk menggambar dan menjual komik 'Proposal Untuk Presiden'. Beberapa kardus komik kiriman dari penerbit sudah sebagian isinya aku jual. Promosiku kali ini menggunakan bonus karikatur. Cukup lumayan juga hasil penjualannya, tapi masih belum cukup dipakai untuk nikah. Bwahaha

Aku tidak terlalu terburu-buru soal menikah. Selain belum ada mbak pacar yang merong-rong komitmen, aspek lain seperti mental, finansial, dan spiritual belum ter- build up sempurna. Pekerjaan rumahku ternyata masih banyak.

Pekerjaan rumah yang masih banyak itu sepertinya bakal lama terselesaikan. Energi kehidupanku sudah hampir habis. Aku harus menemukan/ mencari, sesuatu/seseorang yang membuatku hidup kembali.

Saat ini aku berkelana di dunia dengan energi sisa-sisa dan mengandalkan instingku sebagai senjata. Entah akan bertahan seberapa lama aku juga tidak begitu tahu. Benar-benar dunia orang dewasa yang menyebalkan. Apakah aku akan menyerah? Enggak. Aku akan berjalan tegak seperti biasa. Mengerjakan apapun yang bisa aku kerjakan. Dan terus maju ke depan menuju wilayah yang penuh titik buta.

Di saat seperti ini aku benar-benar iri dengan Gantar. Andaisaja harga diriku tidak terlalu tinggi untuk menangis dan meraung, mungkin hidupku tak segamang ini.

Mujix
Yeeey, semua deadline sudah kelar.
Dan sekarang bingung mau ngapain.
Bentar-bentar, Agustus depan mau ke Pop Con di Jakarta lagi!? Horee...
Simo, 31 Mei 2016

Terjebak

Lagi-lagi terjebak di Kota Solo untuk waktu yang cukup lama. Cukup lamanya emang seberapa lama sih? Tiga hari. Tiga hari berkeliaran dan membuat kerjaan berantakan. Harus menyalahkan siapa? Salahkan saja ketidakbecusanku dalam mematuhi list agenda. List agenda yang mana? Ah sudahlah.

Ada waktu dimana semua kegiatan sesuai list, dan itu menyenangkan. Namun ada pula dimana semua kegiatan tidak sesuai list, dan itu menyebalkan. Sepertinya harus lebih tegas lagi mengatur jadwal dan mengambil keputusan.

Mujix
Komik Lucky Luke ternyata bagus
Banget, aku harus mengoleksi beberapa deh kayaknya.
Kerten, Mei 2016

Kamis, 19 Mei 2016

Gerimis

Gerimis malam ini sudah berhenti sama sekali. Dia pergi meninggalkan kilauan mengkilat di jalanan beraspal. Berpuluh-puluh kilauan yang tercipta dari cumbuan lampu merkuri bersama bekas air hujan. Mereka semua mengacuhkan aku yang sedang berdiri kebingungan karena ketidaktahuan akan apapun.

Hujan sudah reda, badai telah berlalu. Namun kenapa air yang mengalir di selokan itu tidak juga menenggelamkan semua bayang tentang dirimu?

Mujix
Film 'Freelance' sudah berhasil ditonton sampai kelar. Tapi kenapa endingnya nggantung gitu sih. Paling suka adegan dimana sang tokoh utama sedang menyaksikan sunset di pantai, dan dia mengakui kalau dia pernah berbahagia. Aku juga pernah seperti itu, sumpah.
Kerten, 19 Mei 2016

Rabu, 18 Mei 2016

Uang

Beberapa minggu ini keuangan cukup lancar. Heran, ada aja uang datang entah darimana. Aku sedikit curiga, jangan-jangan rusaknya komputer dan kasus buku kemarin cuman kong kalikong Tuhan agar aku memahami esensi dari benda yang bernama 'uang'.

Uang adalah benda yang harus selalu kau miliki untuk sekedar bisa aman melalui hari ini. Iya, hari ini yang penuh tanda tanya itu sebagian besar bisa diselamatkan dengan uang.

Boleh percaya atau tidak, akhir-akhir ini aku cukup berkepala dingin saat berurusan dengan uang. Ya, levelku hanya sekedar 'cukup' saja, masih ada beberapa momen dimana aku sangat ngilu gara-gara uang.

Misalnya momen kampret tentang uang parkir di Gramedia. Entah ada dendam apa, sang tukang parkir tiba-tiba saja nodong uang Rp.7.500 untuk parkir tiga jam. Alasannya karena aku ke Gramedia bukan untuk berbelanja. Oh sial. Saat itu aku benar-benar kesal sama tukang parkir botak tersebut, dan bisa ditebak, selama tiga jam, aku uring-uringan gak jelas.

Yoks. Hal itu setidaknya memberiku pencerahan. Suatu saat kalau ke Gramedia gak usah lama-lama. Kalau mau lama, mending parkir di luar saja. Toh kalau di luar malah gratis

Sejak saat itu aku kembali memikirkan esensi dari uang. Kalau dipikir-pikir, benda yang terbuat dari kertas itu sebenarnya bersifat sangat fana. Hari aku pegang, besok berpindah entah kemana. Hilang berubah wujud, atau mengendap menjadi rezeki yang bisa aku unduh suatu hari nanti.

Suatu hari yang masih dalam entah itu sebenarnya bisa diprediksi dari bagaimana aku memandang uang.

Jika hari ini uang telah menjadi hidupku, niscaya suatu saat ia akan membunuhku.

Jika hari ini uang hanya menjadi alatku, niscaya suatu saat ia akan membantuku.

Ah. Alhamdulillah untuk semua rezeki dan semua uang yang kumiliki hari ini. Iya, iya, uang walau fana aku tetap suka kok. Santai saja.

Mujix
Horee storyboard komik lepas Si Amed sudah kelar. Horee surat kontraknya sudah datang. Horeee royaltiku 8% dan potongan pajaknya 30%. Hiks hiks.
Simp, 18 Mei 2016

Rabu, 11 Mei 2016

Hati yang Sepi

Ketika kau lelah setelah bertarung sendiri, dan merasa seperti tenggelam

Tutup matamu, tegakkan kepala Dengar dengan seksama

Sepi, hati yang sepi
Angin akan terus berbisik

Sepi, hati yang sepi
Kamu tidak sendirian

Seseorang di sana mencintaimu
Seseorang di sana mempercayaimu
Seseorang di sana memperhatikanmu

Disuatu tempat
Disuatu tempat

Mujix
Aku enggak nyangka kalo arti lagu endingnya kesatria baja hitam RX itu galau abis. Keren.
Kerten, 11 Mei 2016

Paket

"Alaaah, yen mung loro mbok rasah neng Solo wae!!??" damprat Simbah ketika aku bilang mau ke Solo untuk mengantar paket.

Iya. Paket yang diantar cuman dua ekor. Satu ke Bali dan yang satu lagi ke Jakarta.

Bukannya emosi, aku malah berseloroh memanaskan suasana .

"Iyoooh!!!! Yen mung loro mbok rasah neng Solo wae yo Mbaaah!!!"

Hihihihi
Aku yang saat ini sedang 'disorientasi tujuan hidup' (lagi) hanya bisa menanggapi dampratan itu dengan candaan. Mau bagaimana lagi, tiba-tiba saja aku teringat tauziah pak kyai saat nikahannya Antok, nama anak lelaki tetangga sebelah.

Pak kyai bilang begini.
"Kalau ada yang marah salah satu dari kamu harus gembira dan berkepala dingin."

Yah. Walau nasihat itu awalnya ditujukan untuk pengantin, namun nasihat tersebut ternyata relevan diterapkan untuk siapapun.

Aku mencoba tetap menjaga otak agar tetap waras. Entah sejak kapan untuk beberapa hal aku menjadi sangat dewasa.

Namun kampretnya, untuk beberapa hal aku masih seperti bocah yang semua keinginannya harus terpenuhi.

Dan pergi ke kota Solo hanya untuk mengantarkan 'dua paket' bagi simbah adalah tindakan yang kekanak-kanakan.

Pergi ke Solo adalah perjalanan yang memboroskan uang.  Pengeluaran semacam bensin, makan, minum hingga godaan membeli buku adalah lika-liku yang harus aku temui saat pergi ke kota ini.

Mungkin benar kata Simbah, kalo cuman dua biji ya mbok ndak usah ke Solo. Pemborosan duit.

Setelah puas mendampratku dengan sukses, simbah pergi ke teras menyapu lantai. Aku acuh tak acuh sambil terus menyiapkan perbekalan, dan jangan lupa, paket dua biji.

Aku memasukkan banyak barang ke tas rangsel dengan fokus melayang entah kemana.

Ketika seseorang berpikir tentang 'pemborosan duit', sudah bisa dipastikan keadaaan perekonomiannya sedang sulit.

Mungkin Simbah sedang bokek tingkat dewa. Melihat simbah menyapu lantai di teras, aku jadi sedikit trenyuh.

Segera saja kuperiksa isi dompet. Hanya ada dua lembar uang berwarna ungu dan beberapa lembar uang berwarna abu-abu. Bukan hanya sedikit trenyuh, aku jadi pengen nangis gulung-gulung.

Tak perlu waktu lama semua persiapan sudah beres. Aku pergi ke teras untuk duduk sejenak memantapkan diri untuk berpindah wilayah. Sebelum berpamitan aku terdiam cukup lama di bangku teras.

Menatap simbah yang sedang menyapu dengan tatapan nanar. Tanpa pikir panjang aku mengambil lembaran uang warna ungu dan langsung aku ulurkan ke simbah.

"Nyoh Mbah, nggo tuku tempe!"
Simbah menoleh dengan sedikit kaget. Tangannya yang keriput menerima uangku dengan perlahan.
Wajahnya mendadak cerah setelah menerima uangku yang tidak seberapa itu.

Setelah berpamitan aku segera tancap gas ke Solo untuk mengantarkan dua paket itu.

Dua paket itu adalah sumber rezekiku akhir-akhir ini. Isinya berupa komik 'Proposal Untuk Presiden' plus karikatur wajah pemesan.

Bagi orang lain, atau mungkin bagi simbahku, dua paket itu hanya benda remeh yang tidak terlalu penting. Namun bagiku, paket itu adalah segalanya.

Karena aku yakin setiap rezeki sudah ada yang mengatur, maka tugasku adalah mengetahui aturan tersebut dan segera pergi bergegas untuk menjemputnya.

Mujix
Perjalanan pencarian jati diri ini belum juga usai. Semoga saja aku bisa segera menemukannya sebelum tergilas waktu yang makin beringas. Oh iya, aku benar-benar butuh dorongan dari-Mu.
Kerten, 11 Mei 2016