Selasa, 31 Mei 2016

Awal Senja Di Hari Selasa

Gantar sedang menangis di luar rumah. Sudah menjadi kebiasaan di setiap harinya, dia kalau terbangun harus ada mamanya. Dan siang ini, mamanya sedang pergi ke Sambi untuk mengecek warung.

Kakakku, yang sekaligus ayahnya, bersama nenek berlomba-lomba untuk meredakan tangisannya. Namun tidak ada hasilnya sama sekali. Gantar terus menerus menangis dan meraung. Begitulah. Menangis dan meraung adalah cara untuk merespon sesuatu yang tidak sesuai keinginan saat manusia masih  menjadi balita.

Saat ini aku berada di kamar tidur. Berniat untuk tidur siang dan mengacuhkan semua permasalahan di sekitarku. Aki tak begitu perduli dengan Gantar yang menangis, toh diapun tak begitu suka aku ajak saat bangun tidur. Semua manusia sepertinya sangat mudah sensi saat tidur.

Tidur menjadi aktivitas favoritku akhir-akhir ini, apalagi semenjak aku demam beberapa hari yang lalu. Tidur menjadi sarana penyembuhan fisik yang menyenangkan.

Bulan Mei tinggal beberapa jam lagi akan berakhir. Hari-hari di bulan Mei ini banyak aku habiskan untuk menggambar dan menjual komik 'Proposal Untuk Presiden'. Beberapa kardus komik kiriman dari penerbit sudah sebagian isinya aku jual. Promosiku kali ini menggunakan bonus karikatur. Cukup lumayan juga hasil penjualannya, tapi masih belum cukup dipakai untuk nikah. Bwahaha

Aku tidak terlalu terburu-buru soal menikah. Selain belum ada mbak pacar yang merong-rong komitmen, aspek lain seperti mental, finansial, dan spiritual belum ter- build up sempurna. Pekerjaan rumahku ternyata masih banyak.

Pekerjaan rumah yang masih banyak itu sepertinya bakal lama terselesaikan. Energi kehidupanku sudah hampir habis. Aku harus menemukan/ mencari, sesuatu/seseorang yang membuatku hidup kembali.

Saat ini aku berkelana di dunia dengan energi sisa-sisa dan mengandalkan instingku sebagai senjata. Entah akan bertahan seberapa lama aku juga tidak begitu tahu. Benar-benar dunia orang dewasa yang menyebalkan. Apakah aku akan menyerah? Enggak. Aku akan berjalan tegak seperti biasa. Mengerjakan apapun yang bisa aku kerjakan. Dan terus maju ke depan menuju wilayah yang penuh titik buta.

Di saat seperti ini aku benar-benar iri dengan Gantar. Andaisaja harga diriku tidak terlalu tinggi untuk menangis dan meraung, mungkin hidupku tak segamang ini.

Mujix
Yeeey, semua deadline sudah kelar.
Dan sekarang bingung mau ngapain.
Bentar-bentar, Agustus depan mau ke Pop Con di Jakarta lagi!? Horee...
Simo, 31 Mei 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar