Kamis, 21 Juli 2016

Beton Berwarna Pucat

Matahari bersembunyi dibalik pojokan. Malu-malu menyebarkan benalu. Hari yang penuh ketegangan hampir berakhir. Menyisakan keringat basah di sekujur badan. Bau cairan dari tubuh yang menempel di baju terkadang mengganggu ibuku. Beliau bilang bahwa aku harus rajin ganti baju. Kebersihan sangat penting, katanya.

Baju berganti artinya banyak benda yang harus dicuci. Aku bukanlah seorang pemalas, aku hanya orang besar yang belum terbiasa hidup terlalu cepat. Beberapa orang mengartikan 'hidup' seperti berkendara. Harus cepat. Harus segera sampai. Ternyata bukan hanya alat kelamin saja yang berharap bersegera untuk cepat.

Benda yang memiliki sedikit 'persamaan' dengan alat kelamin adalah motor matic. Sama-sama digemari oleh semua kalangan. Maaf untuk para pionir pencetus motor matic. Ini hanya bentuk pengekspresian kekaguman, tidak kurang dan tidak lebih.

Satu hal pasti yang kurasakan dari motor matic. Ayahku tidak lagi mengencangkan kakinya saat berkendara. Trauma akan nyawa yang menghilangkan nyawa para saudaranya membuat beliau sedikit takut ketika berkendara.

'Tidak usah takut', seperti itu semesta berbicara padaku melalui wajah tua ayahku. Beliau mempercayakan hidupnya padaku beberapa jam yang lalu. Saat mengantar kepergiannya untuk merantau.

Aku selalu sedih ketika melepas ayah dan ibuku merantau. Sedih tanpa air mata. Sekejap rasa kelu menyeruak di dalam dada. Selogis apapun pikiranku mengartikan mereka, hidup ini tidak ada tanpa kuasanya.

Mujix
Sedang berada di Pendopo Sriwedari.
Memantapkan banyak hal.
Semoga semua berjalan dengan semestinya. Terima kasih Tuhan
21 Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar