Minggu, 07 Agustus 2016

Naik Pesawat

Pencapaian terkerenku kali ini adalah bisa naik pesawat terbang karena menang lomba komik. Rasanya sangat menyenangkan memiliki pengalaman baru ini. Kesan yang bisa aku katakan tentang naik pesawat hanya ada dua kata.

Mendebarkan dan menakjubkan.

Perasaan berdebar dipersembahkan oleh berbagai peristiwa kecelakaan yang diberitakan oleh berbagai media. Ngeri juga membayangkan benda besi sebesar itu bisa terbang ke langit. Aku jadi ingin mempelajari teori gravitasi dan massa benda lagi.

Sensasi saat pesawat berbelok sangat dirasakan oleh tubuh. Berasa ngambang dan sedikit membuat telinga berdenging. Apalagi dengan pemandangan langit biru tiada batas di luar jendela. Keren.

Gumpalan awan putih yang menggunung bagai gula-gula kapas tak henti-hentinya membuatku kagum. Kalo bisa sih aku pengen melompat dan mendarat di awan yang kayaknya empuk itu.

Iya, kayaknya sih empuk. Tapi nyatanya gumpalan awan itu tidak seempuk yang aku kira. Ada saat dimana pesawat yang aku tumpangi, Lion Air, iya yang harganya murah dan katanya raja delay itu, menerobos awan dengan gagah berani.

Daripada disebut mirip kapas, awan dan mega-mega berarak yang sering aku kagumi dari bawah itu lebih mirip kabut. Bisa ditembus begitu saja meninggalkan getaran-getaran yang membuatku memikirkan apa hakikat manusia hidup di dunia. Njiiiirrrrr!!!!

Perjalanan dari Solo ke Jakarta ditempuh kurang lebih satu jam. Agar tidak telat aku harus berangkat dari rumahku di Boyolali pukul empat pagi. Berdua dengan kakakku, Mas Jack, jalanan sepi Solo Simo, kami terobos sembari bercerita banyak hal.

Dari banyak hal yang terlontar, yang paling aku ingat adalah obrolan tentang kematian. Selama seorang manusia bisa atau telah meninggalkan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, kematian bukanlah sesuatu yang buruk. Dan selama di dalam pesawat di ketinggian entah berapa ribu meter di atas sana, aku memikirkan hal-hal itu berulang kali.

Apakah aku puas dengan hidupku?

Apakah hidupku sudah bermanfaat untuk orang lain?

Dan yang paling penting, mengapa aku masih berada di dunia yang serba berisik ini?

Mujix
Siapa bilang semua pramugari itu cantik? Yang tadi malah tembem dan ghinuk-ghinuk :p
Jakarta, 7 Agustus 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar