Senin, 01 Agustus 2016

Sempak

'Sempak' adalah istilah untuk menyebut celana dalam seorang laki-laki. Baru-baru ini seorang kawanku suka menggunakan kata 'sempak' tersebut untuk mengumpat. Ketika kutanya mengapa, dia menjawab.

" Lebih sopan daripada 'asu' dan lebih mantap karena ada huruh 'a' yang panjang'

Pikirku, perasaan semua kata umpatan memiliki  huruf vokal yang panjang. Kata umpatan 'sempak' nan mantap itu terdengar beberapa hari yang lalu. Saat dia sedang galau gara-gara urusan dinas yang mengharuskannya membeli tiket kereta api.

Kira-kira umpatannya seperti ini.
"SYEEMPAAAAAAKKK!!!"
Temanku berteriak sambil melemparkan tubuhnya ke kursi.

'Piye...piye...piye...?" tanyaku dengan tampang datar.

"Aku mau beli tiket tapi duit mepet! Nek ngene carane aku kudu piye maneh!?"  dia mengeluh sambil memegang kepala.

"Turu wae!"
Kataku acuh tak acuh sambil menjawab balasan chat di handphone.

"NDASE! Acara iki penting yo nggo aku!  Akhirnya semua pencapaianku diakui oleh publik" ujarnya sembari mematikan netbook.

"Lha piye maneh? Aku yo ora duwe duit! Hahaha" aku menjawab sambil tertawa untuk mencairkan suasana.

Suasana hening sejenak. Aku paham betul apa yang dia rasakan. Rasa kecewa karena sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi itu menyakitkan. Dan untuk beberapa orang, kejadian 'Kampret' itu terkadang terjadi berulang kali tanpa permisi.

"Aku mumet Jix, aku wis bingung kudu piye maneh. Sempak tenan kok!!"  ucapnya sambil menyembunyikan muka yang perlahan-lahan makin kusut.

Terkadang ada keadaan yang tidak bisa diubah. Berjuang sampai mampus-pun belum semuanya akan beres.  Tiba-tiba waktu telah berlalu. Tak mau berkompromi.

"Kui Lelakonmu, Coy! Nek iso nglewati koe bakal mundak level."  ujarku pelan. Aku sudah tidak tahu harus menasihati apa lagi.

Level yang mana? Entah. Aku sendiri juga hampir lupa. Terkadang hidup itu tidak melulu sebagaimana keras kita berjuang. Terkadang ada secuil 'pil pahit' kekalahan yang harus kecap agar suatu hari bisa merasakan 'permen manis' kehidupan.

Permen manis yang disembunyikan Sang Maha Pembuat Kisah yang membuat temanku mengumpat kata 'Sempak'.

Mujix
semua akar permasalahan adalah rasa lapar. Namun kabar baiknya,
Akar permasalahan dewasa ini bukan hanya rasa lapar, namun juga ego yang minta diisi oleh apresiasi.
SEMPAAAAAKKK!!!
Simo, 1 Agustus 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar