Jumat, 09 September 2016

16.09.2016

Pertemuan dengan Sanasuke kemarin berdampak besar untuk hidupku akhir-akhir ini. Satu hal yang pasti, aku bertekad untuk menyelesaikan komik 'Lemon Tea'.

Aku sadar, aku udah mulai tua. Dua bulan lagi aku akan berusia 28 tahun. Dan sudah tinggal hitungan jari lagi akan datang masa dimana aku harus  naik ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu menikah.

Tentu saja tolong JANGAN tanya soal siapa wanita yang kelak khilaf berhasil aku prospek. Aku sendiri belum tahu. Jangankan soal pasangan hidup, kaos hijau hadiah dari Feri We aja sampai hari ini belum ketemu.

Ya ampun, nyelip di mana sih. Enggak kaos, enggak jodoh, kok sama saja hobinya.

Namun kabar baiknya ( atau buruk!?), Sanasuke sudah menemukan seseorang yang tepat. Sebentar, aku pamit ke belakang buat 'nangis bombay ala sinetron' dulu.

Atau semacam itulah. Soalnya kabar tersebut belum aku tanyakan langsung. Kalian pasti berpikir kalau aku belum sempat bertanya karena alasan topik itu terlalu personal dan menyangkut privasi.

Bukan....
Bukan soal itu....

Aku tidak bertanya karena aku TIDAK BERANI. Sederhana sekali bukan.

Intinya sih, aku ingin komik 'Lemon Tea' selesai sebelum satu diantara kita jadi manten, entah dengan siapa. Hidup itu lucu ya.

Tekadku ini muncul tiba-tiba saat pertemuan kemarin, ketika aku di sana berbincang dan memandang Sanasuke. Memandang dengan sangat lekat, hingga ada secercah cahaya yang bersuara pelan di dalam  dadaku.

"Adalah dia, sumber kebahagiaan yang selama ini kamu pertanyakan!"
Sial. Kenapa jadi melankolis gini, umpatku.

"Dia adalah Sanasuke, bukankah 'Sanasuke' adalah nama karakter di komik 'Lemon Tea'!? " aku terdiam sesaat mencoba mendengar isi hati lebih dalam.

Aku paham. Ada jutaan hal yang dulu ingin aku sampaikan padanya. Kurasa dia hanya mengetahui beberapa patah kata saja, yang tentu saja belum tentu benar. Atau mungkin 'benar' menurutnya dan 'salah' menurutku. Atau mungkin sebaliknya. Ruwet amat sih jadi orang, Jix!!?

Begitulah. Banyak yang ingin aku sampaikan. Semua hal yang aku ingin dia tahu (entah berguna atau tidak untuknya) terkumpul di sebuah benda bernama komik 'Lemon Tea'.

Komik itu masih berserakan di tumpukan kertas-kertas kerjaan. Datanya masih tersimpan random di komputer. Lebih tepatnya di beberapa komputer, karena komputerku suka step mendadak.
Hahaha parah ya.

Kabar terbaru komik ini cukup sedikit, beberapa halaman tambahan tengah aku kerjakan. Ada tokoh baru (terpaksa) nongol. Namanya Vita. Dia harus muncul dan nyelip di bab pertama demi kontinuitas cerita. Judul chapter enam akhirnya aku ganti jadi "A head full of dreams", bakal fokus sama imajinasi dan masa lalu Bung Kribo. Mantep. Deh pokoknya, kalau jadi.

Terlepas dari keriuhan komik Lemon Tea, aku sedang getol mengikuti beberapa kompetisi. Efek 'menang juara harapan' di Lomba Komik Sanitasi itu ternyata mendorongku untuk terus berkarya. Aku sudah mengirim berkas untuk Lomba Komik Gizi dan Pangan. Entah lolos atau enggak. Ceritanya norak banget, aku kerjakan dalam hitungan menit. Aku juga sudah mengirim submisi kompetisi komik dan kartun UNWOMEN 2016. Moga-moga menang. Hihihihi

Yah, pokoknya gituh. Kutipan ngenes minggu ini dipersembahkan oleh 'kebahagiaan yang udah diketahui namun tidak dapat diraih'. Poor Mujix. Aku syeedih. Hiks. Ya udah muter lagu Living in the Moment-nya Jason Mraz deh. Cocok buat kehidupanku saat ini. See you in my next post. Semangat!

Mujix
Nah abis ini nyari ide buat kompetisi Silent Manga. Kalo menang hadiahnya sekitar 60an Juta. Gua bakal bisa kawin cepat Mak!!!!! *lebai
Simo, 16 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar