Senin, 17 Oktober 2016

Kisah angin dan Tukang Kebun yang tak memiliki Pohon.

Jadi. Pertengahan bulan Oktober ini, dia mau nikah. Yah, memang sudah seharusnya gitu sih.

Beberapa hal yang berkecamuk di dada mengenai dia sudah aku padamkan sejak lama. Api yang membakar kayu itu sudah menjadi abu. Abu itu kini aku pandangi dengan seksama sebelum hilang tertiup angin.

Kisah cintaku dengan dia memang salayaknya angin yang meniup keningmu saat panas terik. Datang tiba-tiba, mengusap lembut dengan segala kesalahpahaman dan pergi begitu saja meninggalkan sejejak rasa nyaman di dalam dada.

Penyesalan mungkin memang ada. Bohong jika kubilang aku baik-baik saja tanpanya. Sedikit luka itu masih ada. Kecil seperti sayatan kertas saat   fokusmu teralihkan oleh yang lain.

Teralihkan oleh yang lain, teralihkan oleh cinta yang lain, yang lebih dingin dan lebih tinggi namun tak teraih. Jangan salahkan siapapun ketika ikatan yang mulai kencang itu perlahan memudar.

Kemudian terlepas dan singgah di lelaki yang lebih tepat. Dan mungkin lebih baik.

Sudah saatnya membuka lembaran baru. Lembaran yang saat ini entah ada dimana itu mungkin juga sedang menungguku dengan risaunya.

Sudah cukup. Abu itu akan kubuang di kebun depan rumah. Beberapa benih impian memerlukan pupuk agar mereka tumbuh subur dan menjadi pohon yang besar.

Dan saat aku memiliki pohon yang besar, aku bisa menikmati angin sepoi yang bertiup perlahan itu kapanpun. Terimakasih untuk banyak hal.

Mujix
Sebuah ruang kosong yang menunggu pemiliknya kembali.
Simo, 17 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar