Minggu, 27 November 2016

Kang Tibi

Di desaku ada orang gila. Orang-orang memanggilnya Kang Tibi. Nama tersebut sering 'dicatut' oleh ibu-ibu di lingkunganku untuk menakut-nakuti anak-anaknya yang nakal.

Aku sebenarnya iba terhadap Kang Tibi, sudah gila dijadikan momok pula. Kasihan juga anak-anak di lingkunganku itu, tanpa tahu Kang Tibi itu 'apa' atau 'siapa',  tiba-tiba ibunya menciptakan sosok seseorang yang harus ia takuti.

Ibu dari anak-anak yang berada di lingkunganku itu juga lebih kasihan. Entah karena sudah hilang rasa, hilang logika, atau memang sudah kebelet pengen boker, hingga mereka dengan entengnya mencatut harkat martabat seseorang untuk dijadikan pelampiasan.

Tapi sebenarnya ada yang lebih patut dikasihani daripada Kang Tibi, anak-anak itu, atau ibu dari anak-anak di lingkunganku. Memang siapa yang lebih patut dikasihani lagi?

Aku. Penulis tulisan ini yang hanya bisa mengeluh mengenai orang gila yang dijadikan momok oleh para ibu untuk anak-anaknya. Jadi, siapa sebenarnya yang lebih gila?

*ide tulisan ini didapat saat kerja bakti di kampung bersama Kang Tibi. Mungkin dia memang gila, tapi dia rajin bekerja dan selalu riang gembira.

Mujix
Semua orang mendadak gila.
Semua orang mendadak jadi momok. Termasuk aku, kamu, dia, mereka yang membaca tulisan ini.
Kerten, 27 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar