Rabu, 11 Oktober 2017

Guru

"I don't inspire other by being perfect, I inspire them by how I deal with my imperfection." .
.
.
Dulu waktu bersekolah di SMK, pria  rambut kribo berjaket ala Songoku itu berharap ada seorang guru yang datang dan mengajarinya ilmu berkomik. Namun apa daya, tiga tahun berlalu begitu saja. Guru berkomik yang ia dambakan tidak pernah datang menghampirinya.

Aku tidak mengajari seseorang untuk menjadi sempurna, Aku selalu menceritakan mengenai bagaimana aku bernegosiasi dengan segala ketidaksempurnaanku dalam berkarya. Ya, karena setiap manusia sejatinya guru untuk dirinya sendiri.
.
.
Foto diambil saat mengisi Workshop Komik di SMK N 9 Surakarta.

Mujix
Sedang membuat sketsa cover
buat komik detektif yang kedua.
Simo, 11 Oktober 2017

Selasa, 03 Oktober 2017

Latar Belakang Komik

Halaman 60 dari 
Komik Proposal Untuk Presiden
(sumber: Dokumen pribadi)


Dulu aku malas menggambar latar belakang. Paling suka menggambar karakter yang lagi pose keren. Ngapain harus susah-susah menggambar pohon!? Ngapain berpusing ria menggambar sepeda atau kendaraan bermotor di jalan?  Ngapain bergalau ria menggambar rumah-rumah!? Ngapain!!
Makanya komik-komikku dulu sangat 'hening' dan sepi. Lha wong isinya tokoh-tokoh yang semuannya PRIA dengan wajah close up dengan muka-muka sok cool.

Bukan apa-apa, soalnya menggambar wanita dengan proporsi yang benar itu sulit! Karena menggambar 'buah dada' itu susahnya bukan main. Salah menempatkan 'buah dada' saat menggambar, wanita itu bisa saja dikira tokoh makhluk Wewe Gombel oleh pembaca.
Namun setelah membaca buku Making Comic milik Scot McCloud, 
aku tergila-gila mengeksplorasi komik dengan latar belakang.
Beliau intinya bilang, perlakukan latar belakangmu 
sebagaimana kamu memperlakukan karaktermu!

Karena komik yang bagus biasanya memiliki tokoh dan latar belakang yang jelas. Baik itu latar belakang fisik dan non fisik (tentu saja Omm Scott melampirkan beberapa contoh komik yang membuatku terpana terkait pernyataannya).

Dhuarrr!!! Dan sekejap di kepalaku ada ledakan besar!

Saat itulah terjadi sebuah titik balik besar dalam karir berkomikku. Aku memutuskan untuk belajar menggambar latar belakang!

Mau tidak mau aku harus belajar menggambar pohon. Iya Pohon! Googling sana-sini mencontoh gambar orang menaiki sepeda. Bertekad untuk menggambar berbagai macam rumah. Mulai dari rumah joglo, rumah susun, rumah tangga hingga Rumah Iramah (Rhoma Irama, Woy!!).
Karena menggambar latar belakang yang bagus membutuhkan energi dan fokus berlebih, akhirnya aku sering merasa bosan dan lelah. Salah satu cara untuk mengusir 'dua cecunguk' itu adalah berbuat 'iseng' dengan latar belakang yang tengah aku buat.

Salah satu keusilanku bisa kalian temukan di komik 'Proposal Untuk Presiden' halaman 60. Dimana aku dengan 'pede'-nya mencantumkan nomer hape di salah satu sudut papan iklan.

Dan percaya atau tidak, keisenganku itu 'berhasil' menggaet seorang pembaca wanita untuk sekedar memberi testimoni sambil ngegodain komikus tampan ini. Ralat. Yang ngegodain sebenarnya aku. Well, membaca testimoni 'unyu' via SMS itu membuatku tersadar. Sikap malas tidak akan membawamu kemana-mana. Ini dia testimoninya!

Screen Shot dari SMS-Mbaknya.
(Sumber: Dokumen Pribadi)


Andaikata dulu aku malas menggambar latar belakang, mungkin aku tidak akan mendapatkan SMS kejutan dari mbak pembaca wanita unyu tersebut. Andaikata dulu aku malas menggambar latar belakang, mungkin aku tidak akan menjadi seorang komikus.

Dan jika aku tidak menjadi komikus, kurasa aku akan sukses sebagai model dan bersaing ketat dengan Hamish Daud untuk mempersunting Raisa. Karena mimpi adalah kunci. 
Wkwkwkwkw!

Mujix
Pria dewasa yang jarang up date Blog
Dikarenakan profesinya sebagai
komikus sedang lagi rame-ramenya. 
Btw project komik 'Bukan Sembarang Gamers' 
sudah hampir selesai. Horee
Simo, 03 Oktober 2017

Jumat, 30 Juni 2017

Aksi Bela Uang Jajan!



Saatnya mengingat masa lalu! Foto ini diambil pada saat aku duduk di kelas 2 SMP, kalau tidak salah, sepertinya aku yang unyu ini dipotret pada pertengahan tahun 2002. Motivasi pengambilan gambar ini sangat sederhana, aku hanya ingin sekedar  ‘pamer’  jas hujan baru pemberian orang tua. Pamer? Iya Pamer! 

Motivasinya hampir sama dengan ‘Mbak-mbak sosmed yang mengunggah  foto makanan enak yang belum dimakan’ dan ‘mas-mas ambisius yang membagikan  situs abal-abal tentang seberapa benar kaum mereka di mata Tuhan’. Sama.  Tidak ada yang berbeda sama sekali. Jika mereka memiliki ‘makanan enak’ dan ‘situs abal-abal’, aku di masa itu memiliki jas hujan baru berwarna biru pemberian orang tuaku.

Uang saku saat aku bersekolah di SMP adalah  Rp.1000! Benar, uang kertas kucel bergambar Kapiten Pattimura itu adalah segalanya. Pembagiannya sangat jelas sekali, 400 perak buat naik angkot, sisanya 600 perak buat jajan!

Nominal ‘gopek’ lebih satu ‘cepek’ itu benar-benar membuatku capek! Gimana enggak, yang terbeli saat itu hanya ada dua pilihan, jajan soto dengan gorengan tanpa es teh, atau jajan gorengan dengan es teh tapi tanpa soto. Sebuah dillema yang sangat Cherry Belle sekali.

Akhirnya untuk meningkatkan harkat martabatku di dunia perjajanan di bangku SMP, aku harus mengambil langkah tegas! Aku akan memangkas habis uang naik angkot agar mendapatkan uang jajan Rp.1000 penuh dengan  menginisiasi sebuah pergerakan ‘Aksi Bela Uang Jajan!’
...
...
...
Dengan cara... Jalan Kaki!

Enggak perlu menunggu dukungan 7  juta penduduk indonesia yang percaya bahwa ‘Gajah Mada ‘ adalah ‘Gaj Ahmada’!  Aksi itu aku lakukan seorang diri!

Jalan kaki 6 Km penuh pulang pergi! Sebuah pengorbanan yang pantas agar aku bisa menikmati makan Soto, ngemil gorengan, dan minum es teh! Bahkan masih sisa uang 200 Perak untuk ditabung agar bisa membeli poster Dragon Ball (yang harganya kala itu Rp.1500) di Pasar Simo saat pasaran Pahing telah tiba.

Benar, uang atau kekayaan memang mempunyai daya magis yang membuat seseorang berjuang mati-matian. Tim Wesfix didalam bukunya berjudul ‘Kaya itu dipraktekin’ berpendapat jika kekayaan adalah konsekuensi. Artinya ada prinsip yang jelas, bahwa banyaknya uang yang datang menghampiri seseorang berbanding lurus dengan kerasnya ikhtiar. Waktu jaman SMP, pemikiranku sangat sederhana. Ikhtiar yang paling logis dan yang bisa kulakukan saat itu ya hanya jalan kaki.

Jadi begitulah, sejak  memutuskan untuk berjalan 6 Km pulang pergi ke sekolah, aku harus bangun dan berangkat lebih awal dari biasanya. Pada saat ‘Aksi Bela Uang Jajan’ ini dilakukan, aku sering  kali menemui beberapa kendala, misalnya kelelahan dan harus beberapa kali beristirahat di perjalanan (dan menurut beberapa narasumber, aku pernah jatuh pingsan gara-gara kelelahan berjalan. Aku sih enggak ingat, yah namanya juga pingsan.).

Aku ingat kalau terkadang harus berhenti di sebuah teras rumah  yang memiliki pohon rimbun untuk sekedar mengambil nafas sambil meluruskan kaki. Ah iya, saat kelelahan berjalan, aku harus meluruskan kaki, yang kata orang-orang jika tidak diluruskan, maka kakimu akan mengalami penyakit Varises, atau Rabies, atau entahlah, aku agak  kurang  jelas juga. Ternyata sejak  dulu, berita HOAX juga sudah jadi trend.

Kendala lain dari aksi ‘Aksi Bela Uang Jajan!’ selain stamina yang terkuras saat berjalan adalah kehujanan. Benar-benar kehujanan dan harus berteduh disembarang tempat! Kalau tidak menemukan tempat berteduh ya artinya nasibku sedang sial. Pernah suatu hari gara-gara terjebak hujan dari siang sampai sore,  pulang rumah sangat terlambat, dan tentu saja membuat nenekku sangat khawatir. Sepertinya aktivitasku ini sampai di telinga ortu yang saat itu sedang berada di Bogor.

Dan begitulah, di suatu hari yang ceria, kedua ortuku tiba-tiba pulang membawakan oleh-oleh jas hujan baru berwarna biru, dan patung kuda berwarna hijau (yang hingga hari ini aku benar-benar bingung apa fungsi dari patung kuda tersebut).

15 tahun berlalu. Jas hujan berwarna biru itu kini lenyap entah dimana. Patung kuda berwarna hijau itu masih ada, namun kepala binatang tersebut  patah dan membuatku sedikit bergidik saat melihatnya. Yang tersisa dari pergerakan ‘Aksi Bela Uang Jajan!’ itu hanya foto ini. 

Foto yang sudah aku corat-coret dengan bolpoint bertuliskan ‘diamond’. Buat yang belum tahu, kata ‘Diamond’ yang tertulis di foto tersebut adalah nama sekolah imanjiner dari komik buatanku. Sekolah tersebut bernama ‘Diamond High School’ (Ceileeh. Namanya alay amat). Komik yang aku maksud berjudul ‘Panca Semesta’.

Jadi sebelum ada karakter berambut kribo dengan jaket belang-belang bernama ‘Mujix’, dulu aku sering menggambarkanku sebagai author dengan nama ‘MU71Y0NO’, yang ceritanya sedang bersekolah di Diamond High Shool. Btw komik yang aku maksud ini sudah hilang di kontrakan lama di Sukoharjo. Peristiwa lenyapnya komik legendaris itu diresmikan sebagai salah satu hari berkabung nasional di dalam catatan hidupku. Hiks.

Saat ini aku sudah memiliki uang jajanku sendiri. Uang gaji yang aku dapat dari berbagai pekerjaan sudah sangat cukup untuk membayar makan Soto, ngemil gorengan, dan minum es teh! Saat ini aku sudah tidak  membeli poster Dragon Ball lagi namun, aku sedang berusaha melengkapi komik Dragon Ball! Kurang 6 Jilid lagi bakal komplit kayaknya. Semua hal sudah berubah, masa-masa pra remaja dimana aku memakai jas hujan berwarna biru itu sudah lama terlewati. Perlahan aku memasuki dunia orang dewasa.

Saat ini sudah lebih satu dekade sejak masa dimana aku harus berjalan 6 Km pulang pergi ke sekolah. Teryata pergerakan semacam ‘Aksi Bela Uang Jajan!’ kembali populer. Jika aku dulu membela ‘Uang jajan’, orang-orang disekitarku saat ini membela sesuatu yang lebih keren! Lebih religius! Dan tidak hanya dilakukan secara sendirian, namun secara bersama-sama dan sangat dramatis.

Melihat fenomena yang ramai belakangan ini aku teringat dengan celotehan ngawur seorang kawan. Dia bilang bahwa ‘Tuhan adalah apa yang selalu kamu pikirkan’. Akhirnya saat ini aku sedikit memahami perasaan ‘Mbak-mbak sosmed yang mengunggah  foto makanan enak yang belum dimakan’ atau ‘mas-mas ambisius yang membagikan  situs abal-abal tentang seberapa benar kaum mereka di mata Tuhan’. 

Pandangan masyarakat dan ketakutan akan kematian adalah santapan utama setiap orang yang mulai beranjak dewasa. Menjadi dewasa itu rumit. Mungkin sama rumitnya saat aku memutuskan untuk melakukan  ‘Aksi Bela Uang Jajan!’ demi meningkatkan harkat martabatku di dunia perjajanan di bangku SMP. 

Pesan moral yang bisa aku ambil dari peristiwa ‘Aksi Bela Uang Jajan!’ sebenarnya cukup sederhana, ternyata jajan soto dengan gorengan minum es teh sambil memandang Poster Dragon Ball di ruang belajar itu sangat menyenangkan sekali.

Mujix
Sedang digalaukan untuk memilih antara membeli ponsel pintar
atau menabung buat beli motor (dan menabung itu sangat susah sekali)
Simo, 30 Juni 2017 

Jumat, 09 Juni 2017

Negara 1/2 Gila

Siang ini aku dikejutkan oleh kedatangan seorang mas-mas kece dari biro pengantar barang. Ternyata buku yang aku pesan seminggu yang lalu sudah tiba dengan gemilang. Aku sangat bersemangat membuka paket tersebut. Pengemasannya yang baik dan sangat rapi agak membuatku kesulitan saat membongkarnya. Berbekal pisau dapur langsung saja aku sobek kertas pembungkus tersebut lalu jreng... Jreng... Jreng... Tampaklah buku berwarna oranye yang menjadi cinderamata kerja kerasku sejak SMP dahulu. Ya, kalian benar, ini adalah kisah buku komik pertamaku.

Buku ini adalah bukuku pertama yang diedarkan di Toko buku. Sebuah kompilasi komik yang berjudul "Negara 1/2 Gila" ini diramu dengan ganteng oleh Mas Dody YW, Arum Setiadi, dan komikus yang menulis postingan ini.

Aku ingat proses pengerjaan buku ini cukup dramatis karena dikerjakan bersamaan dengan kerja profesi di Kota Bogor pada bulan Ramadhan tahun 2014. Jadi bisa dibayangkan betapa serunya mengatur waktu untuk kerja profesi, bikin komik ini dan beribadah puasa di Bulan Ramadhan.
Hari demi hari berlalu. Untuk pertama kalinya aku membuat komik ditangani oleh seorang editor. Aku ingat kami berempat sering kali rapat melalui surat elektronik untuk memilih cerita dan tema. Hal tersebut kami lakukan agar tidak ada cerita yang sama dan bertabrakan. Alhasil komik yang tersaji di buku ini sangat beragam. Hal tersebut membuktikan bahwa sesuatu yang berbeda bisa bersatu padu membentuk sesuatu yang harmoni.

Sebelum buku ini tercipta, aku sudah membuat komik sejak SMP. Komik pertamaku berupa komik di kertas HVS berpena spidol Snowman yang kalo kena keringat langsung luntur. Komik bersejarah itu berjudul 'Petualangan Dua Bersaudara' dan masih aku simpan hingga kini.

Sejak saat itu aku terus membuat komik. Mata pelajaran kesenian yang isinya 'menyanyi dan bermain gitar' saat SMP tidak meruntuhkan semangatku untuk terus menggambar. Beberapa orang mencibir dan mengatakan padaku bahwa aku tidak berbakat menggambar, namun aku tidak perduli. Kurasa senjataku saat itu bukan bakat menggambar atau referensi segudang, melainkan keegoisan dan sifat keras kepalaku untuk meraih cita-cita sebagai komikus.

Ya, ketika teman-teman SMP-ku ingin jadi dokter, polisi, guru, orang sukses, dan 'manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa', aku diberi mandat oleh dewa untuk menjadi seorang komikus.
Sebelum komik 'Negara 1/2 Gila' ini teralisasikan, aku sempat kebingungan kalau ditanya 'aku bisa beli komik karyamu, dimana Jix?'. Biasanya aku akan bersembunyi dibalik topeng jawaban 'ini hanya hobby, kok' atau pura-pura pingsan dan berharap kiamat kubro segera datang. Bukankah sangat menyakitkan ketika seorang komikus tidak memiliki karya yang sahih untuk dijadikan ajang pembuktian?
Pembuktian itu penting! Orang lain sangat memerlukan pembuktian, sama candunya dengan mabuk keduniawian dan keagamaan.

Setelah sekian minggu berjibaku dengan naskah, akhirnya komik 'Negara 1/2 Gila' rilis di toko buku. Sebuah pembuktian sudah tercipta.

Saat itu kerja profesiku sudah selesai. Aku sudah berada di Solo ketika Mas Editor memberi kabar kalau buku 'Negara 1/2 Gila' sudah tersebar di berbagai toko buku. Langsung saja aku cabut ke Germedia dengan sangat antusias. Setelah aku muter-muter sampai pusing pala berbie, akhirnya nemu tuh komik di rak buku hobi dan humor. Dan mak dheg!

Jantungku hampir copot saking girangnya. Perasaanku sangat rumit saat itu. Senang, bahagia, terharu, bercampur dengan nafsu untuk makan nasi goreng sama kamu. Akhirnya apa yang aku kejar sejak SMP, sedikit banyak sudah tercapai.

Saat itu ketika ada teman yang bertanya 'Karya komikmu bisa di beli dimana, Jix?', bisa jawab aku dengan mantap 'Cari aja di toko buku Germedia atau Togel Mas!'.

Jangan menyerah untuk sesuatu yang kamu cintai.
Saat ini aku sedang mengerjakan bukuku yang ke 5, dan ini sangat menyenangkan.

Mujix
100 halaman dari 100 halaman
sudah dikerjakan! wuhuu!
Siapa yang sudah enggak sabar buat
 baca karya komik terbaruku!?
Simo, 6 Juni 2017

Jumat, 12 Mei 2017

Ayam Betina



“Yooon!!! belehen pitik ikii karo Pakdhe No! (Yoooon!!! Sembelih ayam ini dengan Pakdhe No!)”
Nenekku berteriak di sebuah sore buta. Beliau membawa ayam betina berwarna putih  untuk disembelih. Terus? Terus beliau menyuruhku menyembelih ayam tersebut di rumah pakdhe. Mendadak aku galau tujuh turunan. Aku paling benci untuk urusan bunuh membunuh. 

Dengan nadanya yang tinggi sang nenek berhasil membuatku beranjak sambil membawa ayam malang tersebut. Besok di kampungku ada acara yang bernama ‘sadranan’. Acara ini berupa ritual doa bersama di kuburan sekaligus ungkapan rasa syukur para penghuni kampung dalam rangka menyambut bulan Ramadhan.

“Mbah! Aku ora tego ki mbeleh pitik iki!? (Mbah! Aku tidak tega menyembelih ayam ini!?)”
Aku merengek dan beralasan agar aku bisa lepas dari peristiwa ‘pembunuhan sepihak’ tersebut. Sang Nenek malah pasang wajah keras sambil mencemooh ucapanku.

“Ora tego piye! Mbung kari mbeleh ngono wae kok!! (Tidak tega bagaimana! Cuma tinggal menyembelih begitu saja kok!!)” Ucapnya dengan nada tinggi.

Oke, Fix! Aku tidak bisa menyanggah dan menyangkal. Segera saja dengan perasaan gamang, aku berangkat ke rumah pakdhe. Sepanjang perjalanan, ayam betina itu terus berkeok. Seakan memohon untuk dilepaskan agar ia bisa hidup bebas seperti hari-hari sebelumnya. Jujur saja, aku benar-benar merasa kasihan pada ayam betina itu. Aku sangat suka makan ayam, apalagi kalau dibakar dan diberi sambal bawang goreng. Tapi aku sangat tidak suka melihat adegan penyembelihan ayam. Darah merah yang mengucur, gerakan random dari ayam yang menggelepar, hingga tatapan pilu yang perlahan habis ditelan ajal. Semua adegan itu sangat melemahkan batin. Untuk aku yang cukup mempercayai kepercayaan ‘reingkarnasi’, Adegan penyembelihan ayam adalah ujian berat.

“Keook!! Keoook!! Keoook!” Ayam betina itu masih berteriak di tanganku. Dari kejauhan pakdheku sudah muncul sambil membawa sebilah parang. Aku semakin gundah sambil menelan ludah. Tiba-tiba saja aku mengangkat ayam tersebut. Aku memandang matanya dengan tatapan nanar. Maaf, sepertinya aku memang tidak bisa menyelamatkanmu.

Pakdhe, Aku ora tego ki mbeleh pitik iki!? (Pakdhe! Aku tidak tega menyembelih ayam ini!?)”
Aku merengek dan beralasan agar aku bisa lepas dari peristiwa ‘pembunuhan sepihak’ tersebut. Pakdheku menjawab dengan nada tinggi. 

“Ngopo!? Wedi opo!? (Mengapa!? Takut apa!?)”
Aku menjawab sekenanya. 

Aku wedi karo getih! Ngerti abang-abang mancur soko gulu ngono kui marai mules! (Aku takut dengan darah! Melihat sesuatu yang merah dan mengalir dari leher membuat perutku mual!)”.
Pakdheku diam saja. Lalu dia beranjak ke belakang mengambil tali rafia, kemudian dengan gesit ia mengikat kedua kaki ayam betina. 

“Yowis, tak belehe dewe, mengko tak idake nganggo sikil! (Ya sudah, nanti aku sembelih seorang diri, nanti sayapnya aku injak saja dengan kakiku!)” Ucap pakdheku sambil membawa ayam tersebut ke kebun. Aku menyerahkan ayam tersebut dengan perasaan lega. Segera saja aku melarikan diri dari pertempuran itu. Menunggu di halaman depan sambil berharap upacara penyembelihan itu segera selesai.

Beberapa menit kemudian pakdheku memanggil. Ayam betina itu telah mati. Lehernya menjuntai hampir putus dengan darah yang berhenti mengucur. Aku membayangkan arwah ayam tersebut sudah pergi meninggalkan bumi dan siap bereingkarnasi menjadi makhluk yang lebih baik.  
Selamat jalan ayam. Semoga kepergianmu tidak sia-sia. 

Mujix
Semua data di komputerku hilang gara-gara hardisk rusak.
Separuh jiwaku hilang begitu saja. Benar-benar alasan yang tepat 
untuk bermalas-malasan. Sial. 
Simo, 12 Mei 2017


Senin, 08 Mei 2017

Kuda, Kusir, dan Jalan Raya.

Sore ini aku melihat kuda. Ada dua kuda, tepatnya. Dan dua kuda itu tengah ketakutan di tengah jalan raya. Kuda itu adalah bagian dari sebuah delman yang mencoba menyebrang dari Pasar Kartosuro. Aku entah mengapa tiba-tiba tertarik memperhatikan gelagat dua kuda tersebut. 

Suara ringkikan dan pergerakan penuh ragu-ragu terpancar dari kedua kuda tersebut sore itu. Aku melihatnya seperti itu. Aku kasihan. Kenapa harus selalu seperti itu? Harusnya kuda berada di habitat aslinya. Menjalani kehidupan per-kuda-annya dengan bahagia. Bukan terjebak di jalan raya dengan semua ketidaktahuannya. 

Dua kuda itu benar-benar ketakutan. Untuk itulah dunia ini menciptakan profesi bernama ‘kusir’. Seperti dilagu-lagu anak itu, Pak Kusir duduk di muka. ‘Muka’ di lagu tersebut bukan berarti ‘wajah’ lho ya, muka di lagu tersebut maksudnya ‘depan’, ‘di depan’ sebagai orang nomer satu yang mengendalikan roda paling pen ting dari benda bernama delman, yaitu kuda. Dua kuda yang  hingga detik itu masih saja ketakutan.

Tali kekang itu ditariknya dengan perlahan. Sesekali Pak Kusir menahan dan sesekali melepas kekangannya mengikuti arus lalu lintas yang sangat gila-gilaan. Masih teringat dengan jelas  muka seorang ibu-ibu yang  nggrundel saat melihat para kuda itu menghalangi laju binalnya motor matic yang ia kendarai.

Dengan sekali sentakan, para kuda tersebut berhasil menyebrang jalan! Didalam hati aku ikut bersorak. Aku melihat sebuah momen yang sangat dramatis sore ini. Aku melihat ada dua kuda yang mencoba mengatasi rasa takut! Aku melihat sebuah hubungan yang saling melengkapi antara kuda dan pak kusir. Sore ini aku melihat kuda. Ada dua kuda, tepatnya. Dan dua kuda itu memberi pelajaran kepadaku mengenai keberanian dan kepercayaan.

Mujix
Tanganku agak sedikit sakit
karena tertusuk sesuatu! Asem!
Kartosuro, 08 Mei 2017


Senin, 27 Maret 2017

Akbar dan Agam

Oh. Sibuk tuh rasanya kayak gini ya.

Gak sempat nge-blog, gak sempat up date komik Si Amed, gak sempat bikin karya buat Instagram. 
Gak sempet mikirin kamu. 'Kamu' siapa? 
Sebenarnya bisa nyuri waktu sih, cuman sayangnya aku bego soal mengembalikan atsmosphere. 
Apapun itu. Ini adalah 'kesibukan' yang aku cita-citakan sejak dulu. 
Bukankah heroik sekali, menahan berbagai keinginan demi sebuah impian?
Satu hal yang kupelajari dari berbagai kesibukan kali ini adalah, Berikan yang terbaik! 
Apapun yang sedang kau lakukan saat ini.

Mujix
Targetku adalah
menyelesaikan komik ini
dalam satu bulan. Dan ini
sudah memasuki minggu ke dua.
Progres 10%. Keluh
Simo, 27 Maret 2017

Jumat, 17 Maret 2017

Sukses itu Takdir atau Bakat?

“Ji! Sukses itu takdir atau bakat?”
Pesan WA yang sangat random itu tiba-tiba muncul di hapeku. Aku melirik sejenak, ‘ealah, ngopo maneh bocah iki’ batinku. Siang ini adalah siang dimana aku sedang penuh kegalauan karena terjebak di kontrakan. Padahal aku sudah mengemasi semua barang di tas rangsel, sudah mandi, sudah berpakaian rapi jali, sudah bisa membedakan antara mana skala prioritas atau mana yang hanya keinginan sesaat. Begitulah, keadaan yang sangat canggung ini bisa juga dibilang ‘terjebak’.  Karena harusnya saat ini aku harus pulang ke rumah di Simo. Harusnya. Namun gara-gara ‘hujan bodoh yang tak mau tahu kapan ia mau turun’ akhirnya siang itu aku hanya termenung bingung untuk melakukan apa. Di saat sedang random seperti itulah chat yang sangat filosofis itu muncul.

WA itu berasal dari seorang Feri We, sobat itemku yang hingga saat ini galau terus menerus dan berkelanjutan. Galaunya udah kayak sariawan di bibir yang enggak sembuh-sembuh gara-gara lupa memberi nutrisi vitamin C. Vitamin Cinta. Aku harap kegalauan seorang Feri We adalah drama yang ia sengaja agar teman-teman di sekitarnya memiliki alasan untuk selalu merasa baik-baik saja, rak yo ngono to Fer?
Aku sedang tidak bisa berpikir jernih. Aku jawab saja sekenanya.

Walau mendung masih menggantung hujan perlahan mulai reda. Warna abu-abu mendominasi siang hari ini. Semuanya bertekstur kusam dan menenggelamkan para manusia pemuja asa ke samudra kesedihan. Dengan memantapkan niat aku segera bergegas pulang. Air rintik-rintik turun tanpa ragu membasahi pakaianku. Jalan-jalan yang becek mulai membasahi sepatu. Aku memandang jalanan itu dengan tatapan nanar sambil berpikir apakah aku bisa bertahan di kehidupan yang rumit ini?

Kehidupan yang rumit hingga ia menyisipkan sebuah pertanyaan tentang ‘Sukses’, ‘Takdir’, dan ‘Bakat’ di kepala Feri We. Mau tak mau, perjalanku menuju rumah aku isi dengan hepotesa dan berbagai hal yang pelik untuk menjawab pertanyaan tersebut.


BERSAMBUNG

Cara Review Film dengan Sederhana

Aku sedang suka sekali me-review film. Apapun, yang pasti film tersebut sudah kelar aku tonton. Emangnya ada film yang enggak kelar aku tonton? Ada dan sangat banyak. Contoh film yang belum selesai (dan entah akan aku selesaikan atau enggak) adalah film 'Girls on The Train' dan 'Conjuring 2'. Ah. Mungkin genre-nya yang tidak cocok dengan asupan seleraku kali ya. Berikut adalah teknisku dalam review, karena harus aku sampaikan lewat Twitter. Secara umum terbagi menjadi 5 Tweet.

1. Rate! di tweet ini aku hanya sekedar melapor kalau film tersebut sudah selesai aku tonton. Kemudian aku kasih nilai 1 sampai 10. Film dengan nilai tertinggi di dalam reviewku adalah 'Fantastic Beast and Where to find Them'. Bagiku film ini sangat bagus. Aku menikmatinya dari awal sampai akhir. Berikut contoh tweet ku saat memberi rating. Aapapun yang aku tulis acuhkan saja, pendapat pribadi soalnya. 


2. Bagusnya! Nah untuk tweet kedua, biasanya aku bakal menuliskan hal-hal yang menurutku menjadi poin penting dari film tersebut. Entah ceritanya, entah gambarnya, entah pemainnya yang cakep kayak yang nulis blog ini. Apapun itu. Akhir-akhir ini aku masih sedikit terkagum-kagum dengan jalan ceritanya film animasi 'Sing'. Sangat realistis dan menyenangkan. Sepertinya harus menonton sekali lagi. 


3. Jeleknya! Hal yang buruk-buruk dan menyebalkan harus nongol di tweet ini. Bisa dibilang 'kelemahan' adalah 'kekuatan' yang belum muncul. Dan di berbagai film, aku sering sekali menjumpai hal-hal yang buruk. Entah itu dari alur cerita maupun gambar yang terkesan 'MEH' banget! Salah satunya adalah film 'The Lego Batman Movie'. Walau animasinya ajib, bagiku visualnya terlalu ruwet, bagai dompet akhir bulan namun ada undangan untuk kondangan. 

4. Quotes! Tempat ngumpulnya kata-kata bijak dan motivasi. Tapi enggak juga ding, tidak semua film ada kata-kata indah yang nempel di dalam hati taua otak. Contohnya film 'The passengers'. Hingga detik ini aku benar-benar lupa, apakah di film ini ada kata-kata penuh inspirasi yang bisa mencerdaskan pembacanya. Kayaknya sih enggak ada. Jadi jangan salahkan aku jika kata-kata absurd dan random ini yang nempel di hati. 

Sebenarnya masih banyak cara sih untuk meresensi film. Silahkan Googling aja. Banyak kok. Aku hanya memberikan alternatif yang bisa diterapkan di dunia yang serba cepat ini. Kayaknya perlu ditambahin satu tweet lagi, enaknya apa ya? Sinopsis? Sepertinya menarik.

Begitulah. Aku mengisi waktu kosongku dengan menonton film. Sebagian langsung pergi ke bioskop, sebagian lainnya streaming via internet. Aku memprioritaskan ke bioskop hanya untuk film-film bergenre luar angkasa atau fantasi. Yah kadang animasi juga, tapi kadang nyesel karena ceritanya biasa-biasa saja. Misalnya saja beberapa bulan yang lalu, aku bela-belain nonton 'The Secret Life of Pets' di bioskop.

 Dan pulang dari bioskop cuman dapat capek doang. Makanya, sebelum nonton pikir-pikir dulu. Selain film aku juga sedang gila-gilanya membaca komik baru. Banyak banget. Beberapa judul yang menurutku layak ditunggu adalah 'Rikudo', 'Black Clover' dan 'Dragon Ball Super'. 

Selain membaca komik baru, aku juga membuat komik baru. Aku baru saja mendapatkan pekerjaan komikus Freelance dari sebuah penerbit di Bandung. Pagi ini baru saja dikirim naskahnya. Coba tebak apa genrenya? DETEKTIF, coy!! Semacam Conan tapi dengan kasus yang lebih sederhana gitu. Aku akan sering menceritakan kepada kalian tentang bagaimana proses kreatifnya di blog ini. Proggres saat ini masih sampai di pemahaman naskah yang berjumlah 100 halaman. Yuk. Sampai jumpa di postingan selanjurnya (nek aku ora males ap det yo lur).

Mujix
Yakinlah pada dirimu sendiri.
Jika kamu tidak yakin pada dirimu sendiri,
yakinlah pada Tuhan dan semestamu.
Biarkan mereka yang membimbingmu.
Jangan terlalu sombong, wahai para makhluk fana.
Simo, 17 Maret 2017.


Kamis, 23 Februari 2017

Tersesat

Sudah satu minggu lebih. Dan keadaanku belum begitu banyak berubah. Beberapa kali aku harus menghela napas sambil mengacak-acak rambutku yang makin panjang. ‘Berat sekali’, begitu pikirku. Situasi yang harus aku ubah saat ini sangat berat sekali untuk dikalahkan.

Keadaan ruang kerjaku pagi ini cukup kotor dan berantakan. Debu dan tumpukan tanah sisa rumah rayap masih berserakan dimana-mana. Jika mengubah situasi yang berat memang sulit, mungkin lebih baik aku membersihkan ruang kerja yang kotor ini agar lebih nyaman dipandang dan ditinggali, atau setidaknya untuk dipakai buat bekerja.

Begitulah. Aku segera bergegas  mencari sapu dan pengki.
Sapu bisa aku temukan dengan mudah di samping kulkas, biasanya tergantung bersama payung berwarna putih. Payung legendaris dimana pernah menjadi tempat tinggal binatang Lipan yang segede Gaban. Ah, jadi ingat situasi horror saat aku membunuh Lipan tersebut dengan sepatu sebelah ber-merk Converse.

Nah untuk pengki, aku agaknya sedikit kesulitan mencari benda tersebut. Hilir mudik, kesana kemari, dan pengki itu masih ngumpet dimana. Aku tidak menyangka mencari pengki bisa serumit ini. Ternyata bukan hanya mencari ‘tujuan hidup’ saja yang bisa bikin gila. Pengki juga bisa membuat kepalaku edan separuh. Ini nyariin pengki atau berburu jodoh!?

Ah. Tidak ada gunanya mondar-mandir. Aku berhenti di depan pintu. Diam sambil menenangkan diri. Mata dan otakku akhirnya ‘berdamai’ sejenak untuk memfokuskan mencari benda bernama pengki. Aku harus sedikit kalem. agar bisa memperhatikan dan melihat semuanya lebih pelan.

Dan benar saja. Pengki itu makbedunduk nongol begitu saja. Bukan hanya satu!! Ada dua pengki!!!  Satu yang berwarna hijau berada di teras rumah. Dan pengki satunya tergeletak dengan pasrah di samping pintu dekat jendela. Dua-duanya tidak terlihat gara-gara aku yang sedang tersesat di pikiranku sendiri.
Entah siapa yang salah. Umpatan demi umpatan keluar dari mulutku sembari mengambil pengki di teras rumah. Enggak Pengki, Enggak Tujuan Hidup, Enggak Jodoh, kenapa hobi banget nge-buat orang tersesat sih!!??

Aku sedang tersesat. Nyasar. Lost. Keblasuk.

Tersesat! Ketika aku mengetik kata ‘Tersesat’ di Google, yang muncul adalah tersesat lagunya Rhoma Irama. Ini apaan lagi!? Padahal aku berharap yang muncul adalah definisi kata ‘tersesat’ berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kan ‘keren’ tuh bila catatan ini ada istilah rumit beserta artinya dari sumber yang terpercaya. Sekarangkan sedang musim orang-orang kalo ngomong pake istilah rumit dan sulit. Biar kelihatan berpendidikan dan memiliki status sosial yang tinggi. Terus nyalon deh jadi Gubernur atau wakil rakyat. Namun aku sedikit ragu, Gubernur atau wakil rakyat jenis apa yang akan tercipta jika berangkat dari kepalsuan demi citra diri sendiri?

Namun ya sudahlah, Bang Rhoma Irama juga keren kok. Asal gak nongol di acara debat politik aja. Bukan apa-apa. Aku mengagumi beliau sebagai Musisi dangdut yang legendaris. Kalau sebagai seorang politikus, ah... Ya sudahlah.

“Manusia, banyak manusia tersesat
Banyak yang tersesat
Tak tahu apakah tujuan hidupnya
Di dalam dunia”.

Begitulah. Hidupku kali ini terwakili oleh penggal pertama lagu tersesat karya Bang Rhoma Irama.  Beneran.  Aku bingung harus pergi kemana. Sebelum melanjutkan ceritanya, aku ingin bertanya kepada kalian. Kapan pertama kali kalian tersesat dan tidak tahu arah pulang?

Waktu kecil aku pernah tersesat di sebuah kampung di Kota Bogor. Saat itu aku masih sekolah kelas 4 SD. Masih kecil, keriting, dan imut. Sekarang masih keriting juga sih, kribo malah. Kalo imutnya udah enggak. Kayaknya ke-imut-anku udah ilang gara-gara dibarter sama ‘kejamnya kenyataan hidup’. Nah, saat pertema kali liburan ke Bogor, aku hobi banget nge-layap kemana-mana.

Nge-layap paling awesome adalah ke Mall Jambu Dua buat beli komik Dragon Ball pake duit hasil nyolong punya orang tua. Agh. Masa kecil yang tengil.

Ngelayap itu emacam menemukan dunia baru untuk dijelajahi. Gang demi gang aku masuki, beberapa sangat sempit dan membentuk labirin yang membangkitkan berbagai imajinasi. Jalanan beton berwarna kusam yang menurun tak kuasa menahan gejolakku untuk mengenal tempat dan lingkungan baru. Sangat menyenangkan. Hingga akhirnya aku merasa cukup dan segera menyudahi petualangan.

Aku berbalik dan berjalan menuju arah pulang. Beberapa menit berlalu. Rumahku tidak kunjung ketemu. Aneh. Aku kembali berjalan mengulang rute sebelumnya. Tidak menemukan jalan keluar. Aku bingung. Gang yang aku lewati itu harusnya berakhir di sebuah jalan besar, di mana semestinya ada kontrakan rumah orang tua dipinggirnya.

Namun entah mengapa, berkali-kali aku coba gang itu selalu berakhir di sebuah pemakaman besar yang penuh nisan dan Pohon Kamboja.

Ini gimana!?? Aku mulai panik dan mondar-mandir dengan wajah sedih hampir menangis di gang yang sama. Seorang ibu-ibu paruh baya sepertinya kasihan melihatku bersedih. Dan dia bertanya kepadaku dengan bahasa Sunda mengenai apa yang terjadi. Saat itu aku berharap sudah membawa smartphone agar bisa membuka Google Translate, karena bahasa Sunda bagiku saat itu adalah bahasa asing yang belum bisa aku pahami.

Dan berbekal bahasa Jawa ngoko dan bahasa Indonesia seadanya aku bertanya dan menjelaskan permasalahanku saat itu kepada orang-orang disana. Salah satu dari gerombolan ibu-ibu ternyata mengetahui siapa jati diriku sebenarnya. Akhirnya aku dipertemukan lagi dengan rumahku yang di Bogor. Dari peristiwa itu aku belajar satu hal. Jika aku tersesat, cara termudah untuk menemukan jalan adalah bertanya.
Ya. Bertanya.

Bertanya bagi sebagian banyak orang adalah suatu aktivitas yang sulit. Coba ingat-ingat lagi saat sekolah atau kuliah. Pasti ada adegan semacam ini di kehidupan kalian.

“Nah, Anak-anak sekian kuliah hari ini. Ada yang kurang jelas dan ingin ditanyakan?”

Langsung satu kelas kompak pasang muka bengong dan sok sibuk sambil menghindari tatapan  pengajar. . Aku yakin tuh enggak ada yang masuk di otak tuh ilmu.  Kalo kata bang Raditya Dika, Mereka bakal pasang aksi ‘Pura-Pura Mati’. Kalo kataku sih mending ‘Pura-pura Mati’ daripada ‘Pura-pura Mencintai’.

Sepertinya memang benar kata pepatah ‘Malu bertanya sesat dijalan’. Walau sekarang pepatah itu sedikit terbantahkan oleh kehadiran Mas ‘Google Map’ dan Mbak ‘Google Streetview’. Iya sedikit doang. Untuk urusan nyari orang mah yang paling enak nanya sama orang. Bukan sama ‘benda’ buatan orang. Gituh, jaman emang udah canggih coy! Tapi bukan berarti jaman harus kehilangan sisi kemanusiaannya. Elu mau nikah sama gadget!? Enggak kan!? makanye dengerin lanjutan cerita aye.

Belum lama ini aku juga pernah tersesat.  Belum lama berarti masa dimana aku sudah dewasa dan memegang smartphone agar bisa membuka Google Translate.

Nah saat itu aku ingin pergi ke rumah Mas Fatur di daerah Tipes. Buat yang belum tahu, Mas Fatur adalah seniorku saat indekost di Jebres saat kuliah dulu. Beberapa kali beliau membantu masa-masa sulitku dengan meminjamkan komputernya untuk mengerjakan tugas kampus. Kali ini aku ingin pergi ke rumahnya sekalian silaturohmi dan membawakan buku pesanan istrinya, Mbak Dian. Langsung deh aku pergi meluncur ke rumahnya menggunakan sepeda motor.

Sebenarnya lokasi rumah beliau cukup gampang untuk dicari. Namun karena ada perubahan alur jalan di beberapa titik di kota Solo, maka sukseslah aku harus muter ke sana kemari agar bisa berkendara namun tidak melanggar peraturan, secara saat itu aku belum memiliki SIM. Dan begitulah, adegan hilir mudik, kesana kemari, seperti pencarian pengki itu terulang lagi.

Namun bedanya aku tidak mengamalkan sikap ‘tenang’ dan ‘fokus’. Semuanya serba terburu-buru dan ceroboh. Masuk gang! Keluar Gang! Masuk Jalan kecil! Ketemu jalan buntu! Muter lagi! Dan eng-ing-eng, aku bertemu dengan monumen Bung Karno di perbatasan Solo Baru. Karena sifat ceroboh dan rasa percaya diri yang terlalu tinggi aku nyasar di tempat yang bukan aku tuju. Padahal Solo Baru dan Tipes itu jaraknya sangat jauh. Hal itu disebabkan oleh egoku yang terlalu besar untuk tidak bertanya dan terlalu mempercayai intuisi.

Ya, Intuisi. Sebenarnya tidak ada salahnya mempercayai intuisi. Kecuali intuisi yang kamu percayai sedang lemah dan berkarat.Emang bisa intuisi itu lemah dan berkarat? Bisa banget! Sama seperti skill menggambar dan mencintai, intuisi juga harus sering dilatih agar peka dalam membaca pertanda dari semesta. Sama seperti skill menggambar dan mencintai.

Iya, menggambar dan mencintai. Mencintai. Catet.

Kalo cuman tersesat sampai di Solo Baru mah keciiiil! Aku sudah beberapa kali lewat sini. Selama lewat jalan utama aku pasti bakal sampai lagi di Kota Solo. Segera saja aku putar balik dan memacu motorku dengan binal. Aku yakin kalau perjalananku Bisa sampai ke ke rumah Mas Fatur dengan berbekal ingatan sepanjang jalan yang pernah aku lewati.

Dan tentu saja setelah berkendara beberapa saat aku akhirnya bisa bersua dengan beliau yang sekarang sudah beranak tiga. Yang beranak bukan Mas Fatur. Tapi istrinya. Baca dengan teliti dan dengan hati. Harus kalian perhatikan baik-baik, soalnya anak jaman sekarang suka baca caption doang terus motong kalimat seenaknya. Gantian diperkarakan di muka hukum, langsung bilang kalau tindakan itu ‘kriminalisasi’ atas  hak kebebasan berekspresi umat manusia. 
Elu kira hidup cuman elu doang, tong!  

Aku sedang tersesat. Aku sadar betul. Situasi yang harus aku ubah saat ini sangat berat sekali untuk dikalahkan. Kebingungan yang sama seperti saat aku gagal fokus mencari Pengki. Keputusasaan seperti saat aku tersesat di Bogor, dan menunggu pertolongan seseorang. Dan sebenarnya masih ada sedikit keyakinan untuk kembali ke tujuan yang benar, sama saat seperti aku tersesat di Solo Baru. 

Dari beberapa kejadian tersesat di masa lalu, sebenarnya aku agak yakin mempunyai solusi untuk permasalahanku akhir-akhir ini.

Bertanya kepada seseorang atau pergi menuruti intuisi.

Namun beberapa minggu ini aku tidak melaksanakan dua solusi tersebut. 
Karena bertanya kepada seseorang itu membuatku tampak lemah.
Pergi menuruti intuisi yang tumpul adalah tindakan yang sia-sia.
Maka aku lebih memilih untuk diam, berdiri dan berhenti sambil tenggelam dalam keraguan di pikiranku sendiri. Maaf.  

Mujix
Just reading and doing nothing.
Simo, 23 Februari 2017.

Selasa, 07 Februari 2017

Premis Cinta

Malam ini aku teringat banyak di masa lalu.
Ya. Aku memiliki banyak masa lalu. Umur 28 tahun adalah
usia yang telah melalui banyak cerita hidup.

Suasana detik ini sangat hening.
Suara serangga sayup-sayup diluar sana
berpadu dengan bunyi gemeletuk
keyboard yang bercumbu dengan tanganku.

Sepuluh menit sebelumnya aku masih di tempat tidur.
Pikiranku melesat jauh ke jaman SMP.
Entah kenapa tiba-tiba saja aku teringat dengan Mita.
Gadis manis yang dulu jatuh cinta padaku.
Aku masih ingat wajahnya, namun aku lupa dengan
nama lengkapnya. Itu lucu.

Tidak terlalu penting bagaimana kisah cinta itu berjalan dan berakhir.
Toh setahun kemudian aku sudah jatuh cinta lagi dengan
gadis manis yang lain. Namanya Astini, namun aku
selalu memanggilnya 'Pikachu'.

Entah jatuh cinta, atau hanya terkagum-kagum dengan
kepintarannya, aku tidak juga tidak tahu.
Namun adegan dimana dia berteriak dari jalan
untuk mengejek sikap pengecutku, masih terukir jelas.

"Mujix kie piye tho? Mosok seneng aku isin"
Benar. Kalau dipikir-pikir kembali, saat itu
sepertinya aku masih memiliki kesempatan untuk
menjadikannya dia 'PACAR'. Namun kesempatan
itu lenyap begitu saja tergilas oleh perasaanku
terhadap gadis lain.

Begitulah.
Kebodohan demi kebodohan
terus berulang hingga hari ini.

Sanasuke, Popok, Beberapa gadis yang
enggan aku sebut namanya, mereka datang
dan pergi atas nama cinta.

Datang dan pergi.
Namun tidak ada yang tinggal.

Menurutmu siapa yang salah?
Aku? Dia? Tuhan? Perasaan Cinta?
atau waktu yang membuka segalanya?
Benar-benar pertanyaan yang membuatku
tersiksa malam ini.

Saat ini aku memutuskan untuk
menulis buku harian lagi.
Aku butuh tempat dimana aku bisa
menulis apapun yang aku pikirkan.
Tanpa rasa sungkan, tanpa bermacam-macam beban.

Aku adalah tipe netizen yang 'ingin up date status,
di tulis, kemudian dihapus lagi karena
berbagai pertimbangan', semacam itu.
Kurasa kalian tahu maksudku kan?

Btw ini bukan puisi.
Ini hanya sekedar tulisan pengingat saja
kalau benda yang bernama 'cinta' itu
benar-benar momok untuk siapapun
dengan umur berapapun.

Jadi janganlah kalian bingung jika ada
ibu-ibu paruh baya yang akhirnya selingkuh
dengan pria. Cinta itu relatif.

Sial. Kenapa malah ngomongin
ibu-ibu paruh baya sih?

Jika memiliki
kesempatan mengubah masa lalu,
apa yang akan lakukan?

Itu adalah premis sebuah komik yang aku
pikirkan akhir-akhir ini. Apabila dibuat
satu cerita one shoot sepertinya menarik.
Saat ini aku memang benar-benar gawat.

Memiliki banyak keinginan namun
terlalu capek untuk mewujudkannya.
Makanya akhir-akhir ini aku sering
bermalas-malasan di balik pembenaran
kalimat 'Sakmampune, saktekane'.
Begitu. Gile. Postingan ini random sekali sih.
Perutku jadi mules dan pengen ke toilet.
Yowis. Sambung kapan-kapan lagi aja deh.

Jika kalian merasa 'norak' dan 'empet' saat
membaca postingan ini, ingat kalau Cinta itu relatif.
Hihihihi

Mujix
Sedang diujung tanduk!
Tapi masih berjuang untuk
kembali ke panggung.
Simo, 07 Februari 2017.

Minggu, 29 Januari 2017

Review Dragon Ball Super. Arc Black Goku

Siapa pembaca blog ini yang mengikuti anime Dragon Ball Super? Karya besar guru idolaku ini -Akira Toriyama- perlahan mulai memasuki babak baru, yaitu babak turnamen antar semesta yang diprakarsai Zeno Sama. Buat yang belum tahu, Zen-chan atau Zeno Sama adalah dewa tertinggi dan terkuat di semesta Dragon Ball Super, padahal bentuknya bulet mungil dan cute gituh.

Banyak penggemar Dragon Ball yang kurang puas dengan serial ini. Emang sih beberapa hal semacam animasi dengan gambar yang payah, sering nongol di tiap episode. Meme mengenai topik ini banyak nongol di berbagai situs. Banyak penggemar yang kesal dan meluapkan kekecewaan tersebut di banyak kesempatan. Belum lagi beberapa episode tambahan di luar babak utama, yang menurut mereka mempunyai cerita yang remeh.

Yah. Namanya juga filler Kang. Tapi menurutku pribadi, babak utama di Dragon Ball Super memang tidak se-greget Dragon Ball Z. Misalnya arc Black Goku.

Sebenarnya aku sudah cukup bosan bertemu dengan banyak karakter yang 'Goku Banget'. Kalau dihitung ada kali 5 karakter yang sama persis dengan tokoh utama ini.

Songoku, Songoten, Bardock, Tuffles, dan Black Goku.

Menyebalkan. Namun disatu sisi, konflik ini sangat menarik untuk ditonton.

Harus kuakui, fisik Songoku yang dihuni oleh Zamas ternyata bisa menciptakan sebuah tokoh antagonis yang sangat berkarakter. Aku langsung terpana melihat Songoku versi villain ini.

Plot cerita yang dibangun babak ini sangat menakjubkan. Arc Black Goku adalah babak paling rumit di sepanjang anime legendaris ini muncul. Hal-hal semacam tokoh misterius, perpindahan lini masa tokoh, hingga pertukaran cerita antar semesta membuat babak ini sangat layak ditunggu.

Sejak babak ini dimulai, episode demi episode terpapar dengan sangat menarik. Misteri demi misteri terkuak dengan sangat brilian. Hingga klimaksnya adalah pertarungan antara duo saiya -Goku dan Bejita- dengan duo dewa -Black Goku dan Zamas-.

Mujix
Terus bergerak membuka kesempatan. Dan ternyata kebahagiaan itu berada ditempat yang tidak aku duga.
Simo, 29 Januari 2017

Kamis, 19 Januari 2017

Mujix Comic Universe

Kemarin bongkar-bongkar gudang. Bernostalgia dengan komik-komik yang pernah aku bikin dari SMP hingga hari ini. Nemu banyak benda yang memicu sebuah ide semacam 'gimana ya kalau semua tokoh komik yang pernah aku gambar nongol dalam satu illustrasi yang ajib?'.  Dan mulailah aku memilah dan memilih berbagai tokoh untuk aku gambar di sebuah kertas karton berukuran (Kurang lebih) 80Cm x 25 Cm. 

Dan menggambar mereka satu persatu membuatku sedikit trenyuh. Teryata tangan 'kurus kering yang seperti kayu rapuh ini' telah berdialog dengan berbagai macam semesta yang sangat menakjubkan.Baiklah, Aku akan menyelesaikan sketsa ini agar menjadi gambar yang ajaib. Selain sebagai ajang reuni, proses berkarya kali ini juga menjadi ajang introspeksi terhadap diri sendiri.  Yah. Aku enggak mau ambil pusing sketsa ini bakal jadi gambar yang kayak gimana. Yang pasti aku tahu satu hal, menggambar itu sangat menyenangkan!
 
Sketsa pensil
(Dokumentasi Pribadi. 2017)

Akhirnya kelar juga. Tinggal dikasih warna doang nih. Ada kurang lebih 50an tokoh yang ada di gambar ini.
Menggambar mereka satu persatu berbekal gambar lama.Tidak jarang proses penintaan terhenti karena harus bongkar-bongkar lemari buat nyari referensi. Pelan tapi pasti. Aku mengerjakan setiap tokoh di kertas karton berukuran (Kurang lebih) 80Cm x 25 Cm ini dengan perhatian penuh. Sekarang aku agak bingung untuk memutuskan, gimana ya caranya agar bisa mewarnai gambar ini dengan ajib?



Gambar versi tinta.
(Dokumentasi Pribadi. 2017)

Nah, untuk melihat versi highres dari gambar ini bisa dilihat disini--->>:

Aku sempat dibingungkan dengan teknis pewarnaan untuk gambar ini. Enaknya diwarnai manual atau digital? Yah karepmulah, akhirnya aku mewarnainya dengan pensil warna. Aku akhir-akhir ini malas terlalu lama nongrong di depan komputer. Enggak tahu kenapa. Gambar ini aku warnai dengan perlahan. Rencana awalnya sih aku bakal mewarnai karakternya satu persatu sesuai warna asli karakternya. Dan rencana itu langsung aku ubah. Aku ingin membuat warna yang berbeda dengan karyaku saat ini. Langsung deh aku warnai ngasal dengan pegangan' titik fokusnya berada di kertas'. Semua asal cahaya harus berasal disitu. Lalu Bum! Jadilah gambar ini. Bagaimana menurut kalian? 
 
Gambar versi warna.
(Dokumentasi Pribadi. 2017)

Karena sudah terlanjur dinomeri, oke deh. Aku akan tulis nama setiap karakter, judul komik, dan tahun pembuatan. Sudah siap? 

1. Agus Medi Prakoso | Si Amed | 2010
2. Archieva Devi | Proposal Untuk Presiden | 2015
3. Bu Paryumi  | Si Amed | 2015
4.  .......... | Old Friend | 2016
5. Raisa Nuramdhani | .......... | 2014
6. Arumania | Proposal Untuk Presiden | 2015
7.  .......... | Man Hated God | 2010
8.  .......... |  .......... | 2005
9.  .......... |  .......... | 2005
10. Bento | Si Amed | 2013
11. Si Mpus | Lemon Tea | 2012
12. Ki Demang Sugih Arto| Ki Demang Sugih Arto | 2004
13. Bu Kipli | Si Amed | 2014
15. .......... | Ki Demang Sugih Arto | 2004
16. Acil | Si Amed | 2013
17. Adam | On The Spot | 2005
18. Sutrisno  | Si Amed | 2016
19. Asep  | .......... | 2004
20. Paiman  | .......... | 2004
21. Hari | Smiles Day | 2004
22. Lia  | Smiles Day | 2004
23. Sunan Bonang | Asal Muasal Kota Simo | 2003
24. George | Si Amed | 2013
25. Jemboel | Jamboel & Jemboel | 2003
26. Sanasuke | Lemon Tea | 2012
27. Jamboel | Jamboel & Jemboel | 2003
28. Bocah Tengil | Lemon Tea | 2012
29. Rindi | Hancurnya Masa Depan| 2003
30. Niasty | Hancurnya Masa Depan| 2003
31.  .......... | Old Friend | 2016
32. Tino Wijaya| Hancurnya Masa Depan| 2003
33. BG | Lemon Tea | 2012
34. Popok | Lemon Tea | 2012
35.  .......... | Joko Wojo | 2002
36. Jo | Hancurnya Masa Depan| 2003
37. Edi | Ediot | 2004
38. Joko Wojo | Joko Wojo | 2002
39.  .......... | Joko Wojo | 2002
40.  .......... | Petualangan Dua Bersaudara | 2001
45. Mbak Yani | Negara 1/2 Gila | 2014
42. Brian | Petualangan Dua Bersaudara | 2001
43. Gantar Bumi | Proposal Untuk Presiden | 2015
44. Sean | Petualangan Dua Bersaudara | 2001
45. Pak Kipli | Negara 1/2 Gila | 2014
46. Mujix  |.......... | 2015/2002
47. Kakek Tsunami | Petualangan Dua Bersaudara | 2001
48. Wira Dimeja | Proposal Untuk Presiden | 2015
49. Kunti | Proposal Untuk Presiden | 2015
50. Pak Kepsek  | Si Amed | 2011

Uaaah. Ternyata aku sudah menggambar banyak sekali karakter dan judul komik. Beberapa terselesaikan dengan gemilang, beberapa masih dalam proses pengerjaan, dan sisanya terhenti ditengah jalan karena berbagai alasan. Benar, alasan itu penting. Tidak semua tokoh masuk ke gambar ini. Beberapa hanya aku ambil perwakilan saja. Selain sudah terlalu penuh, sebagian judul komik tidak terlacak karena hilang atau terlupa. Begitulah. Gambar ini aku buat untuk memberi penghargaan untuk diriku sendiri yang terus berjuang untuk meraih mimpi yang belum terpenuhi. Sudah lebih dari 15 tahun aku menggambar. Dan itu bukan waktu yang singkat. Jalan terjal nan panjang itu sebenarnya sudah terlihat sedikit ujungnya. Namun masih samar. Oke. Perjalananku belum berakhir. Semang-ART! (pakai 'ART' Biar kelihatan seniman). 

Mujix
Kunci lemariku hilang. 
Beberapa hari ini masih bingung
harus diapain. Apakah perlu dijebol atau 
mencoba mencari dimana letak kunci tersebut. 
Simo, 19 Januari 2017 



Minggu, 08 Januari 2017

lelaki bodoh

"Mas Mujix, dimana?"
"Mas Mujix kamu masih di Gramed? Aku tak ndisik yoo"
"Btw makasih banget ya gambarnya hehe"
Aku tertegun membaca chat tersebut.

Mataku segera menyapu seantero ruangan toko buku di Gramedia.
Tidak ada!

Perempuan bergincu merah muda itu tidak ada dimanapun. 
Penglihatan semu adegan ia berpamitan pulang dan menggenggam tanganku saat berjabat tangan hanya khayalan semata.

Sudahlah.

Langsung saja pesan itu aku balas dengan perbincangan umum nan basa-basi seakan-akan tidak terjadi apapun.
Benar. Tidak terjadi apapun.

Aku menghela napas panjang dengan sedikit berguman lirih.
"Sudah selesai. Dasar lelaki bodoh!"

Dalam sekejap mata, keramaian suasana di ruangan penuh buku itu mendadak sunyi senyap.
Ingatanku melesat beberapa bulan yang lalu.
Ingatan dimana dia hadir pertama kali di dalam kehidupanku.

***

Pertengahan tahun yang lalu.
Aku berada di Gedung Museum Radya Pustaka untuk menggelar Workshop Komik bersama Simon Hureue. Proyek seru kerjasama antara Komisi Solo, LIP Yogyakarta dan Museum Radya Pustaka ini menjadi hari luar biasa untuk hidupku.

Gimana enggak. Tiga hari bersama komikus top Paris Prancis ini memaksaku untuk bercengkrama dengan hal yang bernama live skecth dan bahasa Inggris. Industri komik di Eropa sangat menarik untuk diperbincangkan. Satu hal yang pasti, Prancis memiliki dedikasi tinggi untuk hidup demi dan untuk komik.
Kira-kira seperti itu, saat aku mencoba men-translate ulang omongan Simon. Ah, bahasa Inggris itu sulit! Sama sulitnya melanjutkan tulisan blog ini. Sama sulitnya untuk jatuh cinta ketika sedang patah hati.

Selama berada di depan forum bersama Simon, aku berusaha mengeluarkan semua kemampuan. Walau terkadang bingung dan terhenti mendadak karena bingung mencari arti kosakata, acara tersebut berlangsung dengan sukses. Peserta acara sangat antusias dengan diskusi tersebut. Banyak teman dari berbagai komunitas datang, dan itu sangat menyenangkan. Teman baru, pengalaman baru, dan atsmosfir baru merupakan pelipur lara yang tepat untuk segala rutinitas melelahkan. 

Acara diskusi dengan Simon sudah selesai. Para peserta tumpah ruah memenuhi depan pelataran Museum Radya Pustaka. Aku menyalami semua orang di sana dengan mengucapkan terimakasih karena mereka mau meluangkan untuk datang di acara ini. Satu per satu. Hingga akhirnya sampailah aku di sebuah pertemuan sederhana dengan perempuan tersebut. 

Jilbab hijau yang dikenakan perempuan itu cukup menarik perhatianku. 
Siapa ya? Otakku berpikir dengan keras me-nyortir semua gambar wanita yang pernah nempel di otak. Dan wajah perempuan itu tidak terdaftar di brankas memori. Oh. Oke. Cukup. Aku paham. Saatnya berkenalan.
Perbincangan basa-basi dan formalitas kami berlangsung dengan cepat. Nothing Special. Wajah manisnya sedikit mengingatkanku dengan wajah mantan pacarnya kakakku. Beneran agak mirip, kecuali warna gincunya yang berwarna merah muda. Beberapa bulan kemudian Perempuan itu meluncurkan komik baru. Saat aku ingin membelinya langsung, dia malah menawarkan untuk barter dan COD.

"Uoaah. Ada kesempatan buat kencan bareng cewek!!" Pikirku dengan gembira.
Yah emang sudah lama aku enggak hang out bareng manusia berjenis kelamin wanita. 
Menyedihkan sekali. Kami berjanji untuk bertemu di sebuah kafe di daerah Kota Barat. 
Sepertinya bakal menjadi pertemuan yang menyenangkan.

Aku tiba di kafe bernama Playground sehabis adzan Maghrib. Senja sebelumnya aku habiskan di food court Solo Square bersama mas Didik Wahyu Kurniawan, penulis idola kawula muda dari ISI Surakarta. Kami berdua seperti biasa memperbincangkan dunai tulis menulis. Saat ini Mas Didik tengah gencar dengan aktivitas menulisnya. Satu hal yang aku kagumi dari beliau adalah semangat pantang menyerahnya dalam menuangkan kehidupan melalui tulisan. Hingga detik ini sudah 5 buku beliau luncurkan, yang paling baru berjudul Kun Si Dukun. Belilah jika memiliki rezeki, apresiasi kalian adalah sumber semangat bagi penulis-penulis seperti kami. Setelah selesai bercurhat ria mengenai dunia tulis menulis (dan dunia percintaanku yang masih entah) aku menodong beliau untuk mengantarkan komikus yang papa ini menuju Playground.

Dan begitulah. Aku dan perempuan bergincu merah muda itu bertemu kembali.
Bertemu kembali di sebuah kafe yang menurutku 'mahal' buat kantong komikus berambut kribo ini.

Suasana kafe Playground petang ini cukup lengang. Tidak terlalu ramai seperti malam-malam dimana aku biasa nongkrong di sana. Yah. Suasana yang menyenangkan. Kami berdua berjalan pelan menuju ke meja dimana banyak makanan dan cemilan menggoda untuk disantap. Lampu menyala berwarna coklat yang berpadu dengan tembok warna-warni itu semakin membuatku yakin kalau terkadang ada hari dimana kita harus terlihat bego saat bersama wanita.

Beneran, sore itu aku tidak ada ganteng-gantengnya sama sekali. Adegan tolol semacam 'bingung cari sendok' hingga 'muka mengeryit ketakutan melihat daftar harga' menghiasi tingkah polahku yang canggung. Sial. Aku tidak akan menyerah. batinku sambil pasang muka 'sok cool' saat mengambil sate usus. Kami segera saja mencari tempat yang asik untuk ngobrol. 

"Maaf Mas Telat! Tadi aku harus ke rumah dulu setelah dari Jogja! Enggak nunggu lama kan?" katanya sambil tersenyum. 

"Enggak, aku juga baru sampai kok!" ujarku sembari pasang muka ganteng tapi penuh debu dan keringetan gara-gara mendung yang enggak jadi hujan. 

"Hehehe, iya tadikan kita berpapasan di depan" dia tertawa kecil dengan meletakkan tasnya ke bangku.

"Jadi, bagaimana kabarmu? Sibuk apa nih?" Langsung saja aku keluarkan pertanyaan pamungkas!
Kenapa pertanyaan tersebut aku sebut 'pertanyaan pamungkas'!? Soalnya ada kata 'Bagaimana'. Dan apabila seseorang dipertemukan dengan pertanyaan yang ada kata 'Bagaimana'-nya, seseorang tersebut diharuskan menjawab dengan uraian yang panjang. Begitulah,  beberapa menit kedepan, aku memiliki waktu untuk sekedar menenangkan diri agar pertemuan ini tidak kacau balau. 

***


***
Mas Mujix, dimana?"
"Mas Mujix kamu masih di Gramed? Aku tak ndisik yoo"
"Btw makasih banget ya gambarnya hehe"
Aku tertegun membaca chat tersebut. Langsung saja pesan itu aku balas dengan perbincangan umum nan basa-basi seakan-akan tidak terjadi apapun.

"Iyok. Sip sama-samaa. Ati-ati neng ndalan"
Yah. Pesan tersebut bermakna ganda, untuk mendoakan untuk keselamatan perempuan bergincu merah muda dan petuah untuk diriku sendiri agat berhati-hati.

Karena jalan yang harus dilalui oleh seorang lelaki bodoh untuk memahami wanita sangatlah terjal, membingungkan dan tentu saja penuh liku-liku.

Mujix
Jeda tersebut sebenarnya bisa dipersempit 
atau mungkin akan hilang jika
aku sudah menjadi 'orang besar'.
Purwosari, 9 Januari 2017