Jumat, 30 Juni 2017

Aksi Bela Uang Jajan!



Saatnya mengingat masa lalu! Foto ini diambil pada saat aku duduk di kelas 2 SMP, kalau tidak salah, sepertinya aku yang unyu ini dipotret pada pertengahan tahun 2002. Motivasi pengambilan gambar ini sangat sederhana, aku hanya ingin sekedar  ‘pamer’  jas hujan baru pemberian orang tua. Pamer? Iya Pamer! 

Motivasinya hampir sama dengan ‘Mbak-mbak sosmed yang mengunggah  foto makanan enak yang belum dimakan’ dan ‘mas-mas ambisius yang membagikan  situs abal-abal tentang seberapa benar kaum mereka di mata Tuhan’. Sama.  Tidak ada yang berbeda sama sekali. Jika mereka memiliki ‘makanan enak’ dan ‘situs abal-abal’, aku di masa itu memiliki jas hujan baru berwarna biru pemberian orang tuaku.

Uang saku saat aku bersekolah di SMP adalah  Rp.1000! Benar, uang kertas kucel bergambar Kapiten Pattimura itu adalah segalanya. Pembagiannya sangat jelas sekali, 400 perak buat naik angkot, sisanya 600 perak buat jajan!

Nominal ‘gopek’ lebih satu ‘cepek’ itu benar-benar membuatku capek! Gimana enggak, yang terbeli saat itu hanya ada dua pilihan, jajan soto dengan gorengan tanpa es teh, atau jajan gorengan dengan es teh tapi tanpa soto. Sebuah dillema yang sangat Cherry Belle sekali.

Akhirnya untuk meningkatkan harkat martabatku di dunia perjajanan di bangku SMP, aku harus mengambil langkah tegas! Aku akan memangkas habis uang naik angkot agar mendapatkan uang jajan Rp.1000 penuh dengan  menginisiasi sebuah pergerakan ‘Aksi Bela Uang Jajan!’
...
...
...
Dengan cara... Jalan Kaki!

Enggak perlu menunggu dukungan 7  juta penduduk indonesia yang percaya bahwa ‘Gajah Mada ‘ adalah ‘Gaj Ahmada’!  Aksi itu aku lakukan seorang diri!

Jalan kaki 6 Km penuh pulang pergi! Sebuah pengorbanan yang pantas agar aku bisa menikmati makan Soto, ngemil gorengan, dan minum es teh! Bahkan masih sisa uang 200 Perak untuk ditabung agar bisa membeli poster Dragon Ball (yang harganya kala itu Rp.1500) di Pasar Simo saat pasaran Pahing telah tiba.

Benar, uang atau kekayaan memang mempunyai daya magis yang membuat seseorang berjuang mati-matian. Tim Wesfix didalam bukunya berjudul ‘Kaya itu dipraktekin’ berpendapat jika kekayaan adalah konsekuensi. Artinya ada prinsip yang jelas, bahwa banyaknya uang yang datang menghampiri seseorang berbanding lurus dengan kerasnya ikhtiar. Waktu jaman SMP, pemikiranku sangat sederhana. Ikhtiar yang paling logis dan yang bisa kulakukan saat itu ya hanya jalan kaki.

Jadi begitulah, sejak  memutuskan untuk berjalan 6 Km pulang pergi ke sekolah, aku harus bangun dan berangkat lebih awal dari biasanya. Pada saat ‘Aksi Bela Uang Jajan’ ini dilakukan, aku sering  kali menemui beberapa kendala, misalnya kelelahan dan harus beberapa kali beristirahat di perjalanan (dan menurut beberapa narasumber, aku pernah jatuh pingsan gara-gara kelelahan berjalan. Aku sih enggak ingat, yah namanya juga pingsan.).

Aku ingat kalau terkadang harus berhenti di sebuah teras rumah  yang memiliki pohon rimbun untuk sekedar mengambil nafas sambil meluruskan kaki. Ah iya, saat kelelahan berjalan, aku harus meluruskan kaki, yang kata orang-orang jika tidak diluruskan, maka kakimu akan mengalami penyakit Varises, atau Rabies, atau entahlah, aku agak  kurang  jelas juga. Ternyata sejak  dulu, berita HOAX juga sudah jadi trend.

Kendala lain dari aksi ‘Aksi Bela Uang Jajan!’ selain stamina yang terkuras saat berjalan adalah kehujanan. Benar-benar kehujanan dan harus berteduh disembarang tempat! Kalau tidak menemukan tempat berteduh ya artinya nasibku sedang sial. Pernah suatu hari gara-gara terjebak hujan dari siang sampai sore,  pulang rumah sangat terlambat, dan tentu saja membuat nenekku sangat khawatir. Sepertinya aktivitasku ini sampai di telinga ortu yang saat itu sedang berada di Bogor.

Dan begitulah, di suatu hari yang ceria, kedua ortuku tiba-tiba pulang membawakan oleh-oleh jas hujan baru berwarna biru, dan patung kuda berwarna hijau (yang hingga hari ini aku benar-benar bingung apa fungsi dari patung kuda tersebut).

15 tahun berlalu. Jas hujan berwarna biru itu kini lenyap entah dimana. Patung kuda berwarna hijau itu masih ada, namun kepala binatang tersebut  patah dan membuatku sedikit bergidik saat melihatnya. Yang tersisa dari pergerakan ‘Aksi Bela Uang Jajan!’ itu hanya foto ini. 

Foto yang sudah aku corat-coret dengan bolpoint bertuliskan ‘diamond’. Buat yang belum tahu, kata ‘Diamond’ yang tertulis di foto tersebut adalah nama sekolah imanjiner dari komik buatanku. Sekolah tersebut bernama ‘Diamond High School’ (Ceileeh. Namanya alay amat). Komik yang aku maksud berjudul ‘Panca Semesta’.

Jadi sebelum ada karakter berambut kribo dengan jaket belang-belang bernama ‘Mujix’, dulu aku sering menggambarkanku sebagai author dengan nama ‘MU71Y0NO’, yang ceritanya sedang bersekolah di Diamond High Shool. Btw komik yang aku maksud ini sudah hilang di kontrakan lama di Sukoharjo. Peristiwa lenyapnya komik legendaris itu diresmikan sebagai salah satu hari berkabung nasional di dalam catatan hidupku. Hiks.

Saat ini aku sudah memiliki uang jajanku sendiri. Uang gaji yang aku dapat dari berbagai pekerjaan sudah sangat cukup untuk membayar makan Soto, ngemil gorengan, dan minum es teh! Saat ini aku sudah tidak  membeli poster Dragon Ball lagi namun, aku sedang berusaha melengkapi komik Dragon Ball! Kurang 6 Jilid lagi bakal komplit kayaknya. Semua hal sudah berubah, masa-masa pra remaja dimana aku memakai jas hujan berwarna biru itu sudah lama terlewati. Perlahan aku memasuki dunia orang dewasa.

Saat ini sudah lebih satu dekade sejak masa dimana aku harus berjalan 6 Km pulang pergi ke sekolah. Teryata pergerakan semacam ‘Aksi Bela Uang Jajan!’ kembali populer. Jika aku dulu membela ‘Uang jajan’, orang-orang disekitarku saat ini membela sesuatu yang lebih keren! Lebih religius! Dan tidak hanya dilakukan secara sendirian, namun secara bersama-sama dan sangat dramatis.

Melihat fenomena yang ramai belakangan ini aku teringat dengan celotehan ngawur seorang kawan. Dia bilang bahwa ‘Tuhan adalah apa yang selalu kamu pikirkan’. Akhirnya saat ini aku sedikit memahami perasaan ‘Mbak-mbak sosmed yang mengunggah  foto makanan enak yang belum dimakan’ atau ‘mas-mas ambisius yang membagikan  situs abal-abal tentang seberapa benar kaum mereka di mata Tuhan’. 

Pandangan masyarakat dan ketakutan akan kematian adalah santapan utama setiap orang yang mulai beranjak dewasa. Menjadi dewasa itu rumit. Mungkin sama rumitnya saat aku memutuskan untuk melakukan  ‘Aksi Bela Uang Jajan!’ demi meningkatkan harkat martabatku di dunia perjajanan di bangku SMP. 

Pesan moral yang bisa aku ambil dari peristiwa ‘Aksi Bela Uang Jajan!’ sebenarnya cukup sederhana, ternyata jajan soto dengan gorengan minum es teh sambil memandang Poster Dragon Ball di ruang belajar itu sangat menyenangkan sekali.

Mujix
Sedang digalaukan untuk memilih antara membeli ponsel pintar
atau menabung buat beli motor (dan menabung itu sangat susah sekali)
Simo, 30 Juni 2017 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar