megamendungkelabu

Sabtu, 04 November 2017

Presiden dan Pendidikan di Daerah Tertinggal

Saat itu sedang ada sosialisasi program pemerintah di kantor Kabupaten Boyolali. Aku yang iseng nylonong masuk ke kantor untuk riset mengenai arti maskot kabupaten dikejutkan oleh suara cempreng bapak-bapak paruh baya. Suara cempeng nan khas itu ternyata suara Pak Jokowi. Beliau sedang mengadakan blusukan ke kantor kabupaten dalam rangka memantau kinerja pejabat pemerintah.

"Sini-sini..." Panggil Pak Jokowi sambil melambaikan tangannya padaku.

Mak dheg! Aku kaget!
Dengan muka pucat dan agak sedikit panik aku bergegas menuju tempat beliau berdiri. Beberapa Paspanpres menghampiriku, satu orang memeriksa isi tas dipinggungku sambil berbicara melalui earphonne-nya. Benar-benar pengamanan kelas satu untuk orang nomer satu di Indonesia.

Pemeriksaan singkat itu telah usai. Langkah demi langkah kulalui untuk menjawab panggilan pak Presiden.
Dengan wajah sumringah beliau menjabat tanganku dengan erat seraya berkata banyak hal.

"Saya tahu kamu lhooo! Karyamu bagus penuh dengan nilai-nilai moral yang patut dicontoh oleh masyarakat Indonesia!" Ucapnya sambil menepuk punggungku. Sementara disamping Pak Jokowi ada Pak Jusuf Kalla yang tersenyum teduh sambil mengacungkan jempolnya kepadaku.

Sebuah pencapaian baru telah tercapai. Aku tidak menyangkan kalau momen ini akan segera tiba. Aku berkali-kali menundukkan kepala sambil mengucapkan terimakasih. Dadaku terasa penuh dengan perasaan hangat yang sepertinya mengaktifkan tombol air mata di kepala. Ya tiba-tiba aku menangis sesenggukan. Mungkin ini yang dinamakan tangis kebahagiaan. Sebuah tangis dimana seseorang telah mengakui keberhasilanmu.

Setelah bersalaman tanda perpisahan, kedua orang hebat itu beranjak meninggalkan aku. Sedetik kemudian aku mengingat bahwa di tas punggungku terdapat buku komik 'Proposal Untuk Presiden'. Langsung aku berteriak panik.

"Pak! Tunggu! Saya ingin menyerahkan sesuatu!"

Dengan tergopoh-gopoh sambil berlari ke arah Pak Presiden, aku mengeluarkan dua buku komik tersebut.

"Maaf Pak, mungkin karya saya tidak terlalu bagus. Namun di komik ini saya menyampaikan aspirasi dan keprihatinanku mengenai sarana dan prasarana pendididikan di daerah tertinggal!" Ucapku dengan wajah berkeringat dan sedikit panik.

"Mohon diterima, Pak!"
Pintaku dengan sangat.

"Hahahaha, bagus sekali! Saya sangat menyukai komik! Apalagi komik buatan anak negeri sendiri" Pak Jokowi tertawa dengan khasnya sambil menerima buku komik tersebut.

Beliau langsung mengucapkan terimakasih dan bergegas pergi meninggalkan lokasi. Aku diam menikmati momen paling bersejarah di dalam hidup. Saat itu matipun aku rela. Apalagi jika mengingat perjuanganku dalam menjadi seorang komikus. Semua usahaku selama ini telah terbayarkan.

"Kok kamu gak minta foto bareng dengan Pak Presiden bersama karyamu sih?" Tanya seorang teman penggiat komik yang memandang peristiwa tersebut dari kejauhan.

Aku menjelaskan, bahwa aku tidak sampai hati untuk meminta hal tersebut. Kurasa bukan permintaan yang pantas untuk aku pinta dari seorang nomer satu di negeri ini. Karya sudah diapresiasi saja sudah merupakan kehormatan bagi seorang seniman.

Yah mungkin foto saat karyaku dipegang orang hebat adalah pencitraan yang ampuh untuk diunggah di medsos.  Aku yakin akan banjir komentar, like, dan tentu saja menaikkan kebanggaanku sebai seorang komikus.

Namun apa daya, hatiku tidak sampai. Ya sudahlah. Daripada berfoto, aku lebih berharap beliau merespon konflik yang aku uraikan di komik 'Proposal Untuk Presiden'. Semoga saja setelah komik ini di tangan beliau, permasalahan mengenai sarana dan prasarana pendidikan di daerah tertinggal menjadi sedikit berkurang.

Bukankah melihat anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan yang layak adalah sebuah langkah tepat menuju Indonesia Hebat?

Mujix
Yah, postingan ini ditulis dari mimpi semalam pada pukul 03.00 WIB.
Mimpi yang aneh namun kurasa penting untuk didokumentasikan.
Bogor, 04 November 2017